Kebangkitan Fatahillah dan Runtuhnya Dinasti Manchu Hok

17992245_10155071977721745_4788035550319509345_nHasil Pilgub DKI Jakarta putaran kedua yang digelar tanggal 19 April menjadi momen yang membelalakan mata semua pengamat dan politisi dan warga Ibukota DKI Jakarta khususnya. Pilgub yang kembali dihelat untuk meneruskan putaran pertama diakui oleh para pengamat politik tidak terkecuali lembaga survey dari mulai LSI, Charta Politika, Vox Populi, hingga Saiful Mujani Research Center sebagai pilgub yang meruntuhkan semua ekspektasi. pada putaran pertama Ahok Djarot unggul 40,5 % suara ketimbang Anies Sandi yang sangat tipis merapat pada angka kisaran 40,2% sementara suara Agus Sylvi 18 %. di dalam markas sang petahana di rumah Lembang, Ahok Djarot sesumbar yang diamini para pendukungnya dengan menyoraki aksi ummat islam 411 dan 212 termasuk ulama yang dianggap bodoh oleh para pendukung Ahok Djarot sebagaimana pengakuan salah satu pendukung Ahok di sosial media.

 
salah satu peneliti Saiful Mujani Research Center, Sirajuddin Abbas dalam interview nya di sebuah acara di Jack TV mengatakan disparitas suara pada pilgub DKI Jakarta yaitu Ahok memperoleh suara 41,20 % dan Anies Sandi mencapai 58,80% menurut quick count yang diselenggarakan oleh Saiful Mujani Research Center mencapai 17 % adalah sebuah kejutan yang sama sekali tidak terduga. hal ini diamini oleh Eva Sundari, seorang politisi PDIP yang berhaluan Marxis mengatakan di acara yang berbeda di Jack TV perolehan suara Anies Sandi yang melambung dan melompati perolehan suara Ahok Djarot dengan disparitas yang cukup besar membuat kalangan internal PDIP sendiri cukup kaget dan tidak pernah ada gambaran disparitas suara sebesar ini dalam survey internal PDIP.

Baca lebih lanjut

Iklan

Perang Besar Turki Neo Ottoman versus Dinasti Terror

” Allah adalah pemilik Islam dan dunia ini, tugasmu adalah bekerja keras di jalan kebenaran, Allah akan menolongmu dan tentu saja orang-orang akan datang berada disisimu mendukungmu,Seorang Muslim yang pantang berdusta dan berjuang bagi kebenaran, maka Allah akan menyukseskan nya. itulah keadilan Allah ”
-Ibnu Arabi, film Diriliş Ertuğrul

 

 

Neo Ottoman MerhametSeseorang netizen menulis di kolom komentar pada salah satu kanal youtube, ” kalau Utsmani masih ada dan bukan akibat kebodohan Inggris beserta sekutu membangkrutkan negara besar itu mungkin ISIS dan rezim-rezim totaliter,despotik, tetapi mudah dikalahkan di Timur Tengah tidak akan pernah ada” yang lain menanggapi, Turki Utsmani memang rezim despot tetapi seandainya masih bertahan hingga saat ini, mungkin rezim Erdogan yang diktator tidak pernah ada ” begitulah komentar netizen di dunia Barat bagaikan tangis pilu sepilu nyerinya seruling bambu ditiup.

 

 
ratapan pilu di Barat sebagai pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban beberapa tahun terakhir mengapa ISIS dan Bashar Assad begitu kuat, sepuluh tahun peperangan, Bashar Assad masih dapat terlihat di layar kaca televisi warga Uni Eropa dan Amerika Serikat dan ISIS masih bisa mengerahkan agen nya ke Eropa untuk meledakkan bom dan melakukan penembakan massal seperti yang terjadi di Paris dan Belgia. tetapi dengan keberadaan serta eksistensi Daesh sendiri, Islamphobia di Barat seolah menemukan pembenaran, pelarangan Masjid, pelarangan Al Qur’an, pengusiran hingga perilaku diskriminatif terhadap imigran Muslim dengan alasan Islam adalah ideologi radikal dan mengancam kebebasan beragama. bukti nya ? lihatlah ISIS. enak banget

Baca lebih lanjut

Industri Islamphobia,Erdogan, dan Kanuni Sultan Suleyman

“Berbagai kebaikan manusiawi dan ketinggian spritualisme yang terlihat pada peradaban kafir merupakan resapan dari peradaban Islam,pantulan dari petunjuk Al Qur’an dan sisa-sisa dari kilau agama samawi ”
Badiuzzaman Said Nursi Hz

thumb-geuzenpenningDua diplomat Turki dengan sarkastik dipaksa hengkang dari Jerman dan Belanda. hari minggu (12/3) salah seorang diplomat Turki berhijab, Fatma Betul Kaya dipaksa untuk diantarkan ke perbatasan Belanda oleh aparat keamanan dan imigran Turki yang mencapai ribuan orang di Belanda melakukan aksi demontrasi mengecam pemulangan Fatma Betul Kaya dari Belanda. sebelum itu, seorang menteri luar negeri Turki, Mevlut Çavuşoğlu, juga dipaksa hengkang dari negeri Jerman. baik Belanda dan Jerman sama-sama berdalih alasan keamanan yang tidak dapat dijadikan jaminan bila kedua nya tetap melakukan misi diplomatik nya untuk mensosialisasikan referendum Turki yang akan di helat bulan April. Denmark pun meminta kepada Perdana Menteri Turki untuk mendelay kunjungan nya lepas krisis hubungan Belanda-Turki

Sikap Belanda dan Jerman ini seperti yang dikatakan oleh Recep Tayyip Erdoğan yang dilansir sejumlah media internasional seperti salah satu nya Sabah Daily, mencerminkan topeng yang terlucuti dan wajah sesungguh nya dari Barat Eropa yang dihinggapi ketakutan yang sudah tidak dapat ditoleransi lagi. pasal nya, pada bulan april, yang hampir bertepatan dengan pilgub DKI Jakarta putaran kedua, Turki akan menggelar referendum dengan pilihan Ya atau Tidak atas perubahan format Republik dari sistem parlementer atau Presidensial. Lalu untuk pertama kalinya juga, jawatan perdana menteri akan dianulir dan Presiden memegang rentang kekuasaan yang lebih luas dan mencakup urusan eksekutif dan pemerintahan.

 

Baca lebih lanjut

Investasi Wahabi di Bumi Islam Nusantara

king-salmanArab Saudi Revitalisasi Kilang Indonesia. begitu judul salah satu headline di segmen Ekonomi koran Republika, hari senin (6/3) Pemerintah Indonesia membuat kesepakatan dengan pemerintah Arab Saudi akan rencana nya melakukan revitalisasi kilang minyak sebanyak empat unit yang antara lain Kilang Balongan, Kilang Cilacap, Kilang Dumai, dan Kilang Balikpapan. I Gde Wiraatmaja Puja, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM menjelaskan sebagaimana yang dilansir oleh Republika, saat ini kebutuhan BBM di Indonesia mencapai 1,6 juta barrel. Sedangkan, kapasitas kilang yang dimiliki Indonesia saat ini hanya 1,1 juta barel dan kilang yang benar-benar beroperasi hanyalah 800 barel

 
Indonesia, menurut I Gde Wiraatmaja Puja, membutuhkan 2,2 juta barel pada tahun 2022 jadi, menurutnya memerlukan ekspansi agar kita juga tidak bergantung pada impor terus menerus. MoU antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Arab Saudi itu berlangsung di hari pertama kedatangan Raja Salman beserta rombongan nya yang sebanyak 1.500 orang ke Indonesia dan langsung disambut oleh Presiden Jokowi di Bandara Halim Perdana Kusuma. total dari investasi Arab Saudi dalam merevitalisasi Kilang Minyak dan juga mengembangankan kilang minyak bersama Aramco, Perusahaan migas asal Saudi menyedot hingga US$ 6 Million.

Baca lebih lanjut

Raja Salman dan Nafas Baru Ekonomi Syariah

 

islamicartAl Malik Salman ibn Abdul Aziz dan Recep Tayyip Erdogan, duet koalisi Sunni yang dahsyat. begitu tulis seorang netizen Nandang Burhanuddin, pengamat Timur Tengah di fanspage facebook nya. kesamaan antara kedua nya, sama-sama pernah menjejakkan kaki di Indonesia. sama-sama menjadi pemimpin yang dicintai oleh rakyatnya. sama-sama keluar dan bertahan dari krisis politik. beda nya Erdoğan yang bernama kecil KasımPaşalı lahir dari rahim demokrasi republik Turki yang notabene sekuler dan masyarakat sufi yang notabene berhaluan liberal dan Al Malik Salman lahir dari keluarga Monarki Dinasti Al Saud dan muncul ke panggung demokrasi hanya selepas kewafatan saudara nya, Raja Abdullah ibn Abdul Aziz.

 
Kedatangan Raja Salman di Indonesia mendapat sambutan hangat dari pemerintah dan rakyat Indonesia. Republika, salah satu media mainstream yang berhaluan Islam menurunkan cover nya bertuliskan berita dalam bahasa Arab tentang rencana kedatangan Raja Salman di Bandara Halim Perdana Kusuma dan agenda nya selama di Indonesia. seorang teman memperlihatkan cover tersebut dengan bangga, sebangga seorang anak yang menemukan bahasa kakek moyang nya yang dulu dekat sekali dengan tulisan Arab Melayu. Aparatur Negara dari mulai eksekutif hingga legislatif mempersiapkan penyambutan yang terbilang royal dan eksklusive. Raja Salman datang membawa puluhan menteri nya, belasan Pangeran Saudi dan keluarga nya, selusin investor dari Timur Tengah untuk Indonesia. sejumlah organisasi massa Islam mainstream seperti Muhammadiyah dan NU menyambut baik kedatangan Raja Salman yang dari besaran rombongan yang dibawa dan mencapai 1.500 orang nampak membawa pesan dan missi penting.

Baca lebih lanjut

Tasawuf, Gerakan Ikhwan,dan Yang tak dapat dibendung

“Kalau doa itu diucapkan dengan tulus, dapat menguasai langit dan bumi
terjadi banyak hal yang tak terduga ”
Syaikh Mehmed Zahid Kotku

teqehalveti3-636x424Sejak tahun 2015, ada sebuah notes yang beredar secara viral di sosial media terutama facebook. notes yang sebenarnya hanya merupakan catatan dari sebuah diskusi di whatsapp group dan dalam skala terbatas dari group whatsapp ke group whatsapp lain. sampai akhirnya menjalar hingga telegram dan seorang sahabat yang membaca nya berkomentar, pada akhirnya datangnya kita pada ulama hanya menginginkan menjadi lebih tawadhu dan rendah hati bukan berbesar kepala sebagai orang yang paling banyak ilmu.

Bermula dari kunjungan Recep Tayyip Erdoğan dan sejumlah menteri nya beserta serombongan investor dari Turki pada tahun 2015 dan diterima oleh Preisden Jokowi di Istana Negara, segelintir oknum dari PBNU menyiarkan (broadcasting) di sejumlah whatsapp group akan ideologi wahabi yang dianut oleh Recep Tayip Erdoğan dan lucu nya broadcasting yang awal nya menyebar cepat di kalangan penggiat Islam Nusantara dibantah dengan telak oleh salah seorang sahabat saya yang memang sejak kuliah sudah jatuh cinta dengan Tasawuf terutama oleh sosok Badiuzzaman Said Nursi rah, sang Mujadid agung dari Turki.

Sejumlah kalangan penggiat Islam Nusantara di Whatsapp Group itu dibuat terperangah tatkala baru menyadari bahwa seorang Recep Tayyip Erdogan yang nama kecil nya KasımPaşalı yang arti nya orang Kasim Pasha, adalah seorang pelaku tarekat Naqsyabandhiyah dan kerap menghadiri majelis zikir nya yang diasuh oleh Syaikh Mehmed Zahid Kotku. menurut Kiai DR H Lukman Hakim yang kerap mengisi di kajian Al Hikam, Masjid BI, dalam satu tulisan nya di sufinews.com, Syaikh Mehmed Zahid Kotku masih keturunan spiritual penyebar ajaran tarekat Naqsyabandhi Khalidiyah di Turki, Syaikh Ahmed Ziauddin Gumushanevi yang juga disebut Padişah Velı karena kedekatan nya dengan Sultan Abdul Hamid II sebagai Sultan Utsmani yang berkuasa ketika itu.
sebuah artikel berbahasa Turki dari sebuah koran lama yang belakangan ini kembali viral di sosial media juga menunjukkan kedekatan seorang Erdogan muda ketika masih muda dengan Necmettin Erbakan, ulama Turki dari tarekat Naqsyabandhi, Hoca Cubbeli Ahmet, dan Mursyid nya Erdogan ketika masih muda, Syaikh Mehmed Zahid Kotku. jadi semua ini memberikan fakta penting kepada kita khusus nya yang terkadang sotoy dan karena ambisi nya dengan apa yang disebut Islam Nusantara lupa untuk bersikap fair. Bahwa Turki memang sejak Kekhalifahan Utsmaniyah kultur nya didominasi tarekat Naqsyabandhiyah.Tarekat Naqsyabandhi dianut oleh sejumlah Sultan Utsmani seperti Sultan Mahmud II, Sultan Abdul Majid II, Sultan Abdul Hamid II dan Sultan Mehmed Resad khusus nya yang berbilang sejak tahun 1800 hingga jelang keruntuhan Utsmaniyah.

Baca lebih lanjut

Menjebol Gerbang Konstantinopel di Sunda Kelapa

” Kalau Islam hanya berarti berdoa, shalat, bertasbih dan membaca Al Qur’an apa arti nya Abu Ayyub Al Anshari di Istanbul ”
Necmettin Erbakan.

1453Hasil dari Pilgub DKI Jakarta 2017 mengejutkan semua kalangan. polling survey yang menggadang-gadang Agus Yudhoyono dan Sylviana Murni mentah seketika. Basuki Tjahya Purnama atau Ahok dengan Djarot masih di atas angin namun secara menghentak dan mengejutkan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno tipis merapat pada angka perolehan pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur. Jokowi skenario kembali terulang atau memang masyarakat Jakarta sudah sepakat untuk melawan kedunguan dan keangkuhan Ahok sebagai Gubernur.

 
bagi timses nya, unggul sementara memang hanya menghembuskan obat panasea di tengah gelombang masalah hukum yang mendera Basuki Tjahya Purnama atas kasus pelecehan agama yang berangkat dari pidato Ahok di kepulauan Seribu, Ruhut Sitompul, yang belakangan publik mempersepsikan nya sebagai aktor nan oportunis mengatakan di Kompas TV bahwa gelombang sudah selesai, namun ucapan Ruhut itu bertolak belakang dengan benak publik Jakarta bahwa hasil pilgub memperlihatkan hampir 53% penduduk Jakarta menginginkan Gubernur baru.
mengapa Agus Yudhoyono elektabilitas suara nya bisa runtuh menjadi sekitar 17 % saat pilgub DKI Jakarta dan mengapa Anies Baswedan & Sandiaga Uno bisa melaju pesat sekitar 40,5% versi Polmark Centre Institute ? Ahok Djarot bisa unggul di putaran pertama bagi banyak pengamat politik, no wonder, no amazing thing occured there ketika seluruh instrumen dikerahkan oleh negara mulai dari Badan Intelejen Negara, Kepolisian Republik Indonesia, fanatisme dan rasisme emosional pemilih beretnik Tionghoa yang terdiri dari pemilih beragama Kristen Protestan, Katolik hingga Buddha dan Hindu hampir 95 % menjadi pemilih Ahok ketimbang etnis lain dan untuk paslon lain plus serangan fajar yang menjanjikan uang Rp 500.000 per orang dengan syarat memilih Ahok dan Djarot serta harus memberikan bukti berupa kertas suara yang telah dicoblos dan dipotret. maka perolehan suara berkisar antara 43% menjadi wajar dan bukan sesuatu yang spesial
selentingan informasi yang beredar pada malam jelang hari H Pilgub DKI Jakarta, kunci nya dimulai ketika seorang Antasari Azhar menyerang SBY atas kasus hukum yang pernah menimpa nya atas dasar intervensi SBY ketika masih menjabat sebagai Presiden. tetapi ucapan Antasari Azhar ibarat panah api yang ditembakkan dari balik dinding tebal Konstantinopel untuk menandai dimulai nya serbuan Fatih Sultan Mehmet. kroco dibawah bekerja hingga ke akar rumput, masuk ke kantong-kantong pendukung Agus Yudhoyono yang notabene masyarakat grassroot dan orang Betawi. suara di beli, elektabillitas Agus Yudhoyono melayang. problem DPT menjadi legalitas dari mulai pemilih siluman yang memaksa memilih hanya bermodal KTP El hingga sekelompok orang berbaju kotak-kotak yang merangsek untuk mendapatkan hak pilih. Inkonstitusional atau bukan urusan belakangan. Agenda Gereja dan Tiongkok harus dimenangkan. Reklamasi Teluk Jakarta di atas segala nya. Baca lebih lanjut