Misi Abadi Fatih Sultan Mehmet Untuk Jakarta

” Keahlian yang sesungguhnya ditunjukkan dengan membangun sebuah kota
dan membangun kembali hati masyarakat kota itu ”
Fatih Sultan Mehmed

fetih-sultan-mehmetSemalaman sebelum pilgub DKI Jakarta 2017, saya menghabiskan berjam-jam waktu yang terbentang lepas isya hingga tengah malam untuk menenggelamkan diri dalam buku yang ditulis oleh seorang sejarawan Turki, Mustafa Armağan. Mustafa Armağan menulis sebuah buku mengenai epos dari Fatih Sultan Mehmet baik sisi biografi hingga dentuman-dentuman bersejarah yang menghiasi peradaban dunia tatkala sang Sultan Timur dan Barat, begitu Mustafa menggelari nya, masih hidup dan membangun jejak peradaban baru lepas penaklukan Konstantinopel. Buku yang berjudul Ufukların Sultanı atau dalam versi bahasa nya, Sultan Muhammad Al Fatih menyajikan kepingan dan mozaik yang tidak biasa penyajian nya kepada para penikmat sejarah dan peradaban Islam seperti yang selama ini banyak ditulis sejarah mengenai Fatih Sultan Mehmet dari sudut pandang narasi dunia Arab. Penaklukan demi penaklukan, panji demi panji nan dibanggakan, demikian seterus nya.
Mustafa Armağan yang juga seorang cendikiawan nan ligat menguliti lapisan demi lapisan sejarah Utsmaniyah sukses membongkar akan banyak kejahilan pembaca mainstream tentang sisi Fatih Sultan Mehmet yang selama ini tidak banyak orang mengetahui nya. terlebih di Indonesia, kita sudah sering membaca kisah epos Sultan Muhammad Al Fatih dengan penggambaran mendekati kenabian kalau tidak mau disebut hiperbola dan bombastis. terutama kalangan Hizbut Tahrir yang concern dengan persoalan khilafah seakan-akan sedemikian sempurna nya Khilafah Utsmaniyah itu. yang menjadi penyelenggara pemerintahan mendekati derajat manusia setengah dewa, nyaris tanpa cacat, narasi nya pun dipoles sedemikian mengagumkan untuk membuat semua orang yang baru belajar islam mendadak bisa menjadi seorang sejarawan.

Baca lebih lanjut

Rezim Anarki Datang,Mengadulah Kepada Badiuzzaman

bediuzzamanMenteri Dalam Negeri, Tjahyo Kumolo, melalui berbagai lansiran media mainstream di tanah air akhir nya menunda untuk menonaktifkan Basuki Tjahya Purnama sebagai Gubernur DKI Jakarta. Basuki Tjahya Purnama atau yang kerap dipanggil sebagai Ahok sudah menjadi terdakwa atas kasus penghinaan ayat Al Qur’an, Surah Al Maidah 51, dan masih menjalani persidangan sampai pekan ini. Sikap Mendagri dinilai oleh banyak pakar hukum di tanah air sebagai tindakan yang inkontitusional serta berpotensi apapun kebijakan yang dikeluarkan oleh Basuki Tjahya Purnama menjadi ilegal di mata hukum. Romli Atmasasmita menyebutnya gaya chauvinistic marxisme dalam hukum. Mahfud MD yang mantan ketua MK pun keberatan serta mengingatkan Presiden bisa menabrak Undang-Undang yang berlaku di negeri ini.

Pengaktifan kembali Basuki Tjahya Purnama atau Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta itu bersamaan dengan gerakan ummat Islam di Ibukota dibawah naungan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia melakukan aksi 112 atau 11 Februari 2017 di Masjid Istiqlal. saya percaya tidak pernah ada yang kebetulan. seperti tidak kebetulan nya pemanggilan satu per satu pemimpin GNPF oleh Bareskrim Polri seperti hal nya Ustadz Bachtiar Nasir dan Habieb Rizieq Shihab.
Ustadz Bachtiar Nasir yang memiliki Lembaga Al Qur’an Learning Centre dan kajian Al Qur’an nya selalu menjadi favorite di kalangan anak-anak muda yang baru belajar Islam dipanggil Bareskrim Polri atas dugaan kasus pencucian uang. sementara Habieb Rizieq Shihab dipanggil dari mulai laporan melecehkan konsep ketuhanan kristen dalam ceramah nya di penngajian dan diunggah ke laman youtube hingga penghinaan terhadap Pancasila yang menjadikan tesis nya ketika masih menimba ilmu di Saudi sebagai dasar laporan nya. terlepas dari ketidak tahuan Kapolda Jabar, sebagai pihak yang memproses laporan, mengetahui atau tidak perdebatan tentang dasar negara Pancasila.

Baca lebih lanjut

Quo Vadis Islam Nusantara

Meskipun dari Timur, matahari memancar. menampakkan diri lantang dan terang, tanpa cadar,namun baru kemudian ia menyala dan berkobar dengan api dalam diri nya,ialah ketika ia melepaskan diri dari belenggu-belenggu Timur dan Barat mengikatnya. Fitrah nya tak mengenal Barat maupun Timur,meskipun menurut nisbah nya, benar ia sang Timur
Mohammad Iqbal.

islamnusantaraAdalah Jack Shaheen, seorang proffesor komunikasi massa di Universitas Ilinois Selatan yang pernah membabarkan seberapa dalam nya kebencian rasial telah menjadi komoditas dan bahan becandaan di televisi dan film kartun. sebagaimana yang dilansir sebuah majalah terbitan perusahaan minyak milik Arab Saudi, Aramco World, Jack Shaheen memulai rintisan nya untuk menemukan seberapa dalam kebencian rasial yang terlanjur menjadi bahan tontonan,komedi hingga film kartun untuk anak-anak ketika menemukan anak nya yang bernama Bernice Shaheen di musim semi tahun 1974 mengajak nya untuk menonton sebuah program kartun di salah satu stasiun televisi dan yang mengagetkan bagi Jack Shaheen, karakter di program kartun tersebut kebanyakan orang Arab ditempatkan sebagai tokoh antagonis.
Semenjak itu Jack Shaheen dan kawan-kawan nya mulai berinisiasi untuk membuat sebuah proyek besar yang bertujuan mengkoleksi dan mendokumentasikan semua arsip dari mulai catatan pinggir sebuah buku bertemakan orientalisme, iklan, film drama, film komedi, acara kartun, hingga segala sesuatu yang masih berhubungan atau sangkut paut nya dengan Arab. Keseluruhan hasil koleksi Jack Shaheen dan kawan-kawan mencapai 3000 judul acara televisi hingga film drama di Amerika Serikat mendekati tahun 2009an.
“you learn how easy it is to vilify a people, and how difficut it is to unlearn one’s prejudice regadless of your race,your color, your creed,that’s the value of this collection it’s not only about Arab and Muslims, it’s about people. “ demikian pungkas Jack Shaheen yang menjadi motivasi ideologis nya

Baca lebih lanjut

Bhinekka Tinggal Luka

Resep untuk benua besar yang bernasib buruk,untuk sebuah negara luhur yang tampil buruk dan untuk bangsa mulia yang tiada memiliki pelindung atau pun kawan, adalah Persatuan Islam
Imam Badiuzzaman Said Nursi rah

merah-putih-1Salah seorang redaktur Republika, Nashihin Masha, pernah menulis sebanyak lima kali tulisan berturut-turut di kolom Resonansi yang bertajukkan Revolusi Putih. mengambil pejaka pasca gerakan Dua Desember 2016. ia tidak hanya seorang. bagi banyak orang, ya bagi banyak orang terutama seorang muslim yang fikiran nya masih bersih dan selalu shalat lima waktu gerakan Dua Desember itu sangat monumental. aksi #SuperDamai, dan juga berkesan mendalam ke lubuk manusia bagi siapapun yang menyaksikan Jakarta sudah bagaikan padang Arafah. manusia yang berwarnakan putih sebanyak 7,5 Juta orang menurut lansiran Republika memadati sepanjang Monas dan membentang hingga Kwitang. seorang kawan memprediksi malahan lebih dari itu, sampai ke Jalan Saharjo dan Cempaka Putih.

 
Apa yang terjadi di balik gerakan 2 Desember sudah banyak yang membahas, mencuit di twitter hingga menganalisa bahwa sekali lagi ummat Islam memiliki kekuatan sosial ekonomi politik yang diperhitungkan dan tidak dapat dianggap sebelah mata. bagaimana pabrik roti yang dimiliki oleh pengusaha Taipan seperti Sari Roti yang hanya karena seperti tidak rela brand Sari Roti beredar dan dibagikan secara cuma-cuma, setelah sebelum nya diborong oleh salah satu jamaah gerakan 2 Desember, dan menerbitkan klarifikasi di situs nya, seketika itu juga dengan skala massive melalui sosial media, netizen menyerukan boikot terhadap Sari Roti. sekali orang mencuit di twitter nya dengan seruan boikot, seketika diretweet ratusan hingga ribuan kali lalu menjelma bola salju yang menggelinding ke dunia nyata. Imbas nya Alfamart hingga Indomart menjadi saksi bagaimana roti bertrademark Sari Roti dibiarkan menganggur di rak nya selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan menumpuk begitu saja.

Baca lebih lanjut

Jihad Maknawi

jihad-maknawiDemikianlah Imam Badiuzzaman Said Nursi, seorang Mujadid dan sang pembaharu spritual Muslim Turki mengakhiri setiap ungkapan yang berhubungan dengan gagasan nya tentang keimanan dan hakikat Al Qur’an dengan akhiran Maknawi. Imam Badiuzzaman Said Nursi yang diabadikan kisah hidup dan perjalanan nya oleh Habiburahman El Shirazy hidup ketika dunia Islam mengalami kegelapan. Keruntuhan Daulah Khilafah Utsmaniyah, Perang Dunia I, dominasi dan menapaki nya kaki-kaki imperialis dan kolonialis Eropa berikut missi Gold, Gospel,Glory nya ke pekarangan rumah dunia Islam dan diantara nya negara-negara yang pernah menjadi provinsi Utsmani seperti Libya dianeksasi Italia, Aljazaair dimasuki Perancis, Mesir diserbu Inggris dan Hejjaz menjadi garapan kaum Wahabi yang bekerja sama dengan agen badan intelejen Inggris.
melarung ke dalam tanah air yang didirikan oleh Osman Gazi Bey, dan ditangisi keruntuhan nya oleh Khalifah terakhir, Sultan Abdul Majid II, seorang lelaki berwajah teduh dan berpakaian bak sufi kurdi bahkan menolak melepaskan jubah hitam dan serban di atas kepala nya khas pakaian warga Utsmani saat ditetapkan nya Undang-Undang Pakaian oleh rezim Mustafa Kemal Attaturk. terlahir dengan nama Muhammad Said Nursi dari tiga bersaudara, dan seumur hidup nya dihabiskan dari medan Jihad, penjara ke penjara hingga menulis karya tafsir Al Qur’an yang menjadi masterpiece nya; Risale-i Nur.
Imam Badiuzzaman Said Nursi hidup sezaman dengan Imam Syahid Hasan Al Banna, mungkin karena mereka berdua memerankan patron yang sama lalu membawa misi yang agung di zaman nya penuh kegelapan sebagai ” Ihya Ulumuddin ” menghidupkan kembali nilai-nilai agama, orang Turki modern tidak asing dengan sosok Hasan Al Banna yang ajaran nya mulai masuk ke Turki sejak era imigrasi besar-besaran kader Ikhwan di rezim Gamal Abdul Nasser. Necmettin Erbakan juga terinspirasi dari Imam Syahid Hasan Al Banna dengan gerakan Ikhwan nya, bahkan sebuah foto beredar dari akun twitter nya Raghib As Sirjani, seorang sejarawan dunia Islam, foto yang menggambarkan kedekatan antara Recep Tayyip Erdogan muda dengan DR Syaikh Yusuf Al Qardhawi. wabilkhusus kalangan Islamis Turki yang sudah welcome dengan gerakan Ikhwan terlebih pasca terjadi nya kudeta atas Muhammad Mursi di Mesir, Turki nyaris menjadi rumah besar bagi semua gerakan Islam yang tidak berhaluan Daesh.

Baca lebih lanjut

Film Muhteşem Yüzyıl dan Distorsi Daulah Utsmaniyah

Bizi Yükselten Dınımeze karsı duyduğumuz büyük aşktir

Cinta yang mendalam terhadap agama kami,yang membuat kami naik derajat
Sultan Abdul Hamit II Han

29477324-ottoman-empire-coat-of-arms-symbol-carved-on-wall-stock-photoFilm Muhteşem Yüzyıl walaupun sudah beberapa tahun berlalu penayangan nya di salah satu televisi swasta Indonesia, sampai kini masih dikenang oleh banyak orang Indonesia yang mungkin tidak tahu banyak mengenai sejarah Daulah Utsmaniyah sebagai salah satu tontonan yang direkomendasikan sekaligus menarik karena di dalam nya memiliki banyak intrik dan politik. di beberapa blog hingga sejumlah komentar di facebook, seperti misal nya di di laman facebook Sahabat Erdogan, ketika admin Sahabat Erdogan menurunkan berita mengenai akan ditayangkan nya film mengenai kehidupan Sultan Abdul Hamid II berjudul Filinta di sebuah stasiun televisi pemerintah TRT, seseorang netizen berkomentar, semoga film nya mirip dengan Muhteşem Yüzyıl yang penuh dengan kehidupan Sultan dan wanita-wanita seksi.
di beberapa kanal di youtube juga banyak yang mengiyakan atau setidak nya membenarkan, seperti itulah Daulah Khilafah Utsmaniyah pernah menjadi kekhalifahan dunia Islam terbesar sekaligus juga terpanjang dalam sejarah peradaban Islam. ternyata di dalam nya banyak menyimpan kebobrokan dan praktis despotisme. seperti juga yang banyak ditulis oleh para penulis di Barat. buku karya Denise A Spellberg yang berjudul Thomas Jefferson’s Qur’an; Islam dan The Founders, di bagian awal buku nya cendekiawan Amerika Serikat dalam bidang sejarah sekaligus seorang Proffesor bidang Sejarah dan Timur Tengah di Universitas Texas membeberkan bagaimana mispersepsi dan distorsi tentang Islam menjadi pemahaman global yang dianut warga Barat ketika pertama kali Amerika Serikat berdiri.
pada buku setebal 464 halaman termasuk bibliografi itu, Prof Denise menyoroti bahwa Turk atau etnis Turki identik dengan Islam dan Turki Utsmani atau Daulah Khilafah Utsmaniyah menjadi salah satu simbol Antikristus di samping Puas Katolik. bukan saja Daulah Khilafah Utsmaniyah atau bahasa Turki nya Osmanlı Imparatorluğu mewakili spiritualisme Islam yang membekas dan tertanam di negeri-negeri bekas taklukan nya namun juga kekuasaan Daulah Khilafah Utsmaniyah yang kekuatan militer nya mengancam kekaisaran Roma Habsburg. Pembaharu Protestan dari Jerman, Martin Luther yang hidup dari tahun 1483-1546 menggambarkan jiwa antikristus adalah Paus Katolik sementara daging nya adalah Turki Utsmaniyah, walaupun secara keliru Martin Luther menyamakan Osmanlı Padişah atau Sultan Turki Utsmaniyah bukanlah pemimpin agama tertinggi sebagaimana Katolik memiliki Paus. beberapa tahun setelah Martin Luther, dari Inggris seorang pemikir John Foxe ( 1516-1587) menulis kronik delapan seri tentang sejarah militer Daulah Khilafah Utsmaniyah dengan gaya berlebihan. John Foxe menggambarkan prajurit Janissary Daulah Khilafah Utsmaniyah memaksa prajurit yang dikalahkan nya dipaksa untuk memeluk Islam, berbanding terbalik dari yang diajarkan dalam Al Qur’an sebagaimana yang dianut pula oleh para Sultan Utsmaniyah bahwa La Ikraaha Fid diin, tidak ada paksaan dalam Islam.

Baca lebih lanjut

Mengambil Ibrah Dari Semar Mbangun Kahyangan

semarmbangunkahyanganSebagai orang Indonesia, saya termasuk di antara mereka betapapun canggih nya teknologi visual dan audio visual yang diberikan oleh manajemen Bioskop memanjakan penonton nya namun menonton wayang hampir menjadi kesenangan tersendiri yang tak pernah terlewatkan. dulu sekali, setiap hari minggu, tempat menonton wayang bagi saya yang favorite adalah di museum wayang, kota Tua, Jakarta Barat. dan pertama kali lakon wayang yang saya saksikan wayang kulit gagrak Yogyakarta dengan lakon Semar Mbangun Kahyangan.
Lakon Semar Mbangun Kahyangan ini sangat populer walaupun berangkat dari karangan para dalang wayang. lakon ini juga yang lebih mudah dihafal dan kerap dipentaskan di setiap pagelarangan wayang karena mengandung pelajaran dan ibrah yang istilah nya menempel sekaligus mendidik akan peran umara atau pemimpin bangsa dengan ulama yang mengayomi rakyat. ketika sedang jalan-jalan ke Yogyakarta, dan berbincang-bincang dengan seorang penjual wayang, ternyata langsung klop ketika mengingat tokoh Semar berarti ingat juga lakon Semar Mbangun Kahyangan. terlebih kalau lakon tadi dan para wayang-wayang nya dipegang oleh dalang kenamaan Yogyakarta seperti Ki Hadi Sugito atau Ki Entus Dahsyat.

Baca lebih lanjut