Tag

,

Lerena Mangan Sadurunge Wareg

tjokroJauh sebelum diangkat ke layar lebar dan berjudul Guru Bangsa HOS Tjokroaminoto, nama sang guru sekaligus Murabbi para tiga arus besar pemikir kebangsaan Indonesia nyaris tenggelam di balik hiruk pikuk perdebatan ideologis Bangsa Indonesia. HOS Tjokroaminoto hanya diingat pada selembar uang kertas lima ratus rupiah emisi tahun 1995 di sisi air nya atau hanya nama jalan. Haji Omar Said Tjokroaminoto, nama sesosok pria dengan kopiah hitam dan kumis melintang itu bukanlah satu-satunya peletak batu pertama bangunan kebangsaan bernama Indonesia, bukan juga sesosok yang memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia sebagaimana mimpi nya akan zelfbeestur atau Self Government. akan tetapi, tanpa tangan dingin Haji Omar Said Tjokroaminoto yang menggubah jati diri bangsa Indonesia dari penuh inferioritas terhadap bangsa asing, yang menggubah kemandirian ekonomi bangsa dan membersihkan nya dari kecemburuan dan kedengkian terhadap etnis lain yang lebih makmur.

Dalam film besutan sutradara beken, Garin Nugroho, dengan alur cerita yang bergaya alur balik, penampilan penuh meyakinkan dari sang aktor utama Reza Rahadian,Deva Mahenra, Chelsea Islan, Alex Komang, Alex Abbad, dll, membuat siapapun yang menyukai sejarah dan menggemari dunia pemikiran tak ingin melewatkan satu scene pun dari rangkaian film Guru Bangsa HOS Tjokroaminoto, dengan penuh kegenialan sang Sutradara, film dirangkai pada latar belakang bangsa Indonesia dalam masa transisi di era abad ke 19-20. Abad yang diseluruh dunia tengah terjadi pergolakan sosial politik, perang dunia I, Khilafah Turki Usmani dalam masa yang suram,di Mesir, Hasan Al Banna tampil mengumandangkan jiwa-jiwa muslim menjadi ummah yang satu dalam wadah Ikhwanul Muslimin, di India, para politisi muslim dan hindu membentuk All Indian National Congres dan Moslem League, di Jazirah Arab, gerakan Wahabi yang bekerjasama dengan Inggris mendirikan pemerintahan Arab Saudi setelah menendang Syarif Husein dan Ali, di Libya gerakan perlawanan kalangan tasawuf melawan penjajahan Inggris oleh Muhammad Ali Sanusi, di dataran negeri Kaukasus, kalangan Tasawuf melawan kolonialisme kekaisaran Tsar Rusia oleh Imam Shamil hingga Leo Tolstoy mengabadikan kisah perlawanan kalangan Tasawuf ini dalam novel yang selalu dikenang “Haji Murad “

Ternyata di tengah abad pergolakan sosial politik dan kesadaran berbangsa, bangsa-bangsa di Asia dan Afrika, di Nusantara juga tengah terjadi pertempuran dalam medan yang berbeda. Setiap kali sebuah gerakan islam yang assabiqunal awwalun, membentuk sebuah perhimpunan di seberang sana gerakan berorientasi sekuler juga menciptakan yang sama. Jamiat Khoir yang dibentuk oleh kalangan Sayyid dari negeri Hadramaut dan Timur Tengah dalam ranah pendidikan dan sosial dengan lekas jua diimbangi oleh gerakan Boedi Utomo. Sarekat Dagang Islam yang didirikan oleh Haji Samanhoedi untuk menciptakan kekuatan pasar dan ekonomi bagi pribumi muslim dengan lekas juga didirikan tandingan nya Sarekat Dagang Islamiyah oleh RMT Adhisoeryo dengan bekerja sama dengan pemerintah Kolonial Belanda. Dalam film Guru Bangsa, HOS Tjokroaminoto ditampilkan didatangi tiga orang utusan yang mengaku dari Haji Samanhoedi dan meminta HOS Tjokroaminoto sebagai pimpinan Syarikat Islam. Dan dalam film itu juga ditampilkan represif nya pemerintahan Kolonial Belanda terhadap para petani karet di Priangan dan Garut, pembantaian, penyiksaan, dan kerusuhan massal di sejumlah tempat dikumpulkan oleh pemerintah Kolonial Belanda sebagai bukti untuk menjerat Haji Omar Said Tjokroaminoto ke penjara Kalisosok, Surabaya.

Tetapi yang menjadi pertanyaan nya, apa iya dengan kesibukan dan popularitas nya di kalangan muslim pribumi yang memberikan dukungan terhadap Haji Omar Said Tjokroaminoto bahkan Ahmad Mansyur Suryanegara, sejarawan dari kota Bandung, mencatat, bahkan muslim yang belum bisa membaca Al Qur’an pun ikut memberikan kepada Sarekat Islam. Membuat Haji Omar Said Tjokroaminoto tidak sempat memberikan pendidikan Islam kepada anggota Sarekat Islam hingga memunculkan nama-nama Semaoen,Darsono,Tan Malaka, Alimin Prawirodirjo tergiur dan akhirnya digembleng oleh H.J.F.M Sneevliet, pemikir Sosialis dari Belanda hingga klimaksnya Sarekat Islam terpecah antara kalangan yang masih menjalankan Islam sebagai jiwa dan ruh dari Sarekat Islam dengan kader komunis yang ingin menggantikan Islam menjadi berideologi Marxis.

Salah satu hobby saya di waktu luang adalah berkeliling ke pasar buku bekas maupun pasar buku yang underground, buku-buku yang tidak mungkin dijual di Gramedia atau pun Toko Gunung Agung, buku-buku bergenre Pergerakan, Sastra, Ekonomi, Sejarah, adalam termasuk fields favorite saya sejak masa kuliah. Termasuk diantara nya ketika saya mendapatkan buku yang ditulis oleh Haji Omar Said Tjokroaminoto sendiri yang termasuk karya nya yang monumental dan dikenang oleh banyak orang “ Islam dan Sosialisme “ di pasar buku Palasari, Bandung. Di sebuah buku bersampulkan warna hitam dengan foto Haji Omar Said Tjokroaminoto inilah gagasan nya yang tegas mengenai Islam dan apa yang membuat nya berbeda lagi tak patut disamakan dari gagasan Sosialisme ala Karl Marx.

Dalam bukunya yang berjudul “Islam dan Sosialisme” Haji Omar Said Tjokroaminoto menulis “ Kalau kemashuran dan sinar cahaya Arab itu kejadian nya disebabkan daripada Sosialisme, maka Kemashuran dan sinar cahaya dunia tak lain sebabnya melainkan daripada Islam belaka. Begitulah selanjutnya Islam akan mengobati bukan saja sakit batin yang ada pada manusia tetapi akan mengubati sakit bathin yang menghinggapi segenap peri kemanusiaan, yang akhirnya akan menimbulkan kesehatan lahir dan bathin bagi sekalian manusia. Islamisme adalah dasar dan sumber sosialisme yang sejati, untuk menimbulkan keselamatan dunia dan keselamatan akhirat bagi segenap kemanusiaan” apa yang ditulis oleh Haji Omar Said Tjokroaminoto merujuk pada peristiwa demi peristiwa yang berkembang di muka bumi di saat kemunculan nya, Sejarah mencatat, bangsa-bangsa Arab di bawah bendera Persatuan Arab Nasional meliputi bumi Syam (Yordania, Lebanon, Suriah,Palestina ) Irak, dan Mesir dan menjadikan partai Baats yang berhaluan sosialis menjadi pengendali kekuasaan atau The Rulling Party. Michael Aflaq seorang yang beragama Kristen dan juga orang Arab serta berhaluan Sosialis pun mengakui Islam adalah ruh dan jiwa orang Arab maka Nasionalisme Arab yang muncul di saat sekarat nya Daulah Usmani di jazirah Arab dan dekade-dekade setelahnya tak dapat dipisahkan dari pengaruh Islam yang mewarnai.

Dalam tulisannya yang lain Haji Omar Said Tjokroaminoto nampak menolak dengan tegas sudut pandang dan pemahaman yang over simplifikasi dalam membedah Sosialisme Marx dan pelbagai komponen nya mulai dari Materialisme Historis, Dialektika Hegel, atau yang menurut sejarawan ekonomi Barat, Mark Skousen, istilah-istilah baru yang diperkenalkan oleh Karl Marx dalam Das Kapital nya,seperti Nilai Surplus, Teori Nilai Kerja, pertentangan antar kelas,borjuis, proletarian, kapitalisme monopoli, dan sebagainya. Haji Omar Said Tjokroaminoto menulis “ agak nya kita tidak tersesat, kalau kita mengatakan bukan saja Materialisme Historis itu memungkiri ada nya Allah, tetapi Materialisme Historis juga bertuhankan benda, bertuhankan benda disini tidak berarti senang atau cinta kepada benda, tetapi berarti mana perkataan yang sebenarnya benda memang dijadikan Tuhan, tetapi paham ini menerangkan bahwa benda itu asal nya segala sesuatu, asal nya sifat, asal nya perasaan, dan asal nya hidup lebih tinggi, dengan demikian paham ini mungkir kepada Allah dan bertuhankan Benda ! dan ditempat lain Haji Omar Said Tjokroaminoto menulis “maksud uraian ini ialah untuk menunjukkan bahwa kita orang Islam tidak boleh dan tidak dapat menerima segenap wefonschappelik socialisme pelajaran Karl Mark. Sudut pandangnya yang tegas menolak over simplifikasi terhadap Sosialisme dan hubungan nya dengan Islam menjadi salah satu warna pemikirannya tersendiri yang berbeda di antara tokoh-tokoh sezaman yang hidup di masa itu. Haji Mishbah yang menerbitkan koran Medan Muslimin, Dasuki, Datuk Batuah dari Sumatra Thawalib, adalah sederet nama yang hidup sezaman di masa nya yang terjebak pada penyederhanaan mustadh’afin dan seolah-olah sejalan dengan Sosialisme Marxis.

Selain menulis Islam dan Sosialisme, Haji Omar Said Tjokroaminoto juga menulis sejumlah buku mengenai pendidikan Islam yang sebenarnya diperuntukkan bagi anggota Sarekat Islam seperti Reglement Umum Umat Islam yang berisi pedoman hidup umat Muslim dan tentang pendidikan HOS Tjokroaminoto menulis Muslim Nationaal Onderwijs yang berisi tujuan pendidikan Islam yang dicita-cita kan,keberanian yang patriotik, dan hidup sederhana. Dari jatidiri nya dan sudut pandang serta keberanian nya menggubah kedudukan Muslim pribumi yang tadi nya inferior terhadap bangsa asing dan mengusir rasa cemburu ekonomi terhadap etnis lain yang lebih makmur seperti etnis Cina, Haji Omar Said Tjokroaminoto seakan akan menitipkan pesan yang harus diikat kuat-kuat dalam minda generasi muda muslim. Untuk melawan penjajahan baik mental dan fisik selalu dimulai dari alam fikiran dan hati, untuk mengenyahkan penjajah yang represif dan menindas harus mengkonsolidasikan ukhuwwah islamiyah, untuk melawan kebodohan dan kedunguan sebagai akibat dari penjajahan hingga menimbulkan persepsi di alam sadar bahwa dijajah itu takdir, dibodohi itu nikmat, menyerah itu ibadah maka dimulai dari ilmu,seperti yang dikatakan oleh Kanjeng Nabi SAW “ Jika kau inginkan dunia maka hendaklah dengan ilmu, jika kau inginkan akhirat hendaklah dengan Ilmu dan jika kau inginkan kedua-dua nya hendaklah dengan ilmu “

itulah maksud nya semurni-murni Tauhid,Setinggi-tinggi Ilmu, dan sepintar-pintarnya Siasat !

27 Jummadil Akhir 1436 H
Jakarta
Ditemani lagu-lagu nya Haddad Alwi )