Tag

Sejak dua hari kemarin, Pemerintah Arab Saudi meluncurkan penyerbuan militer melalui udara terhadap pangkalan sekaligus basis pemberontak Syiah Houthi. Penyerbuan ini dilatar belakangi oleh aksi kudeta yang dilakukan oleh pemberontak Syiah Houthi terhadap Presiden Yaman yakni Abd Rabbu Mansour Al Hadi. Abd Rabbu Mansour Al Hadi digulingkan oleh pemberontak Syiah Houthi setelah mengepung Istana dan kediaman nya di Sana’a dan bahkan lebih lanjut kalangan Syiah Houthi ini mulai berancang-ancang untuk menguasai Mekkah dan Madinah.Dan hari ini seperti yang dilansir oleh Al Jazeera, operasi Badai Gurun Lanjutan yang merupakan koalisi negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Kuwait, Qatar, dan bahkan terakhir Mesir dinyatakan menuai keberhasilan dalam menekan pemberontak Syiah Houthi di Yaman.

Pemerintah Arab Saudi berkomitmen akan terus melanjutkan operasi Badai Gurun Lanjutan hingga pemberontak Syiah Houthi menyerah dan menyerahkan nasib kepemimpinan Yaman pasca dikudeta nya Abd Rabbou Mansour Al Hadi. Akan tetapi apa penyebab terbesar diduduki nya Yaman oleh pemberontak Syiah Houthi dan digulingkan nya Presiden Yaman yang legal, Abd Rabbou Mansour Al Hadi dari tahta nya ? inilah yang menarik untuk kita simak dan kita lihat dampak domino nya terhadap issue-issue domestik di Tanah Air.

Setelah terjadinya peristiwa Musim Semi Arab tahun 2011, dunia Barat Tengah, meminjam ungkapan Tamim Ansary dalam buku nya Destiny Disrupted : A History of The World Through Islamic Eyes, terbelah menjadi dua kawasan regional, kawasan pertama disebut sebagai Syuyukhul Manthiqah atau para aktor status quo yang terdiri dari negara-negara GCC seperti Arab Saudi, Kuwait,Bahrain, Uni Emirat Arab, Kawasan Ikhwan yang terdiri dari Mesir, Qatar, Turki dan Tunisia dan yang terakhir Blok Syiah seperti Iran dan Suriah. Saat terjadi nya gerakan kudeta yang didalangi oleh aktor-aktor militer di Mesir menggulingkan Muhammad Mursi, Presiden Mesir yang dalam sejarah bangsanya pertama kali terpilih secara demokratis maka secara perlahan kawasan Syuyukhul Manthiqah berhasil meraup kembali Mesir sebagai sekutu dan partner yang setia mengingat Arab Saudi berperan besar dalam menggelontorkan dana milliaran dollar AS kepada pemerintahan pasca kudeta yang baru terbentuk. Sementara itu gerakan Ikhwan di Qatar tidak dapat berbuat banyak karena para aktivis Ikhwan yang berada di Qatar adalah mereka yang sejak era Gamal Abdun Nasher berkuasa di Mesir menjadi pelarian atau beremigrasi demi menghindari represifitas pemerintahan yang juga dibentuk dari Dewan Militer setelah Revolusi.

Dan hari ini peta Timur Tengah atau Barat Tengah benar-benar berubah, terlebih pasca wafat nya Raja Arab Saudi, Raja Abdullah dan naiknya ke tampuk kepemimpinan kerajaan Arab Saudi, Pangeran Salman Ibn Abdul Aziz, para pengamat ekonomi Internasional mulai memperkirakan naiknya kembali harga minyak dunia dari sebelumnya menyentuh titik paling rendah 50 US$/barrel ( The Economist ) namun dari sumber pemerintahan Arab Saudi sendiri, Raja Salman Ibn Abdul Aziz berkomitmen tidak akan mengurangi produksi minyak dalam negeri nya selain itu Kanada dan Amerika Serikat juga lebih banyak mengeksplorasi persediaan minyak dalam negeri nya untuk memenuhi permintaan dunia. Poros Sunni yang merupakan aktor status quo seperti Kuwait, Arab Saudi, Bahrain, dan Uni Emirat Arab telah membuka diri dan membuka berbagai kemungkinan dengan Poros Ikhwan, setelah naik nya Raja Salman di tampuk kepemimpinan Arab Saudi, Raja Salman dengan seketika itu juga memecat dua orang yang sangat berpengaruh di pemerintah Arab Saudi dalam menyetir kebijakan-kebijakan Polugri terhadap regional GCC dan Timur Tengah Umum nya. Mereka adalah Khalid At Tuwaijiri dan Bandar Ibn Sultan.

Dua orang yang merupakan aktor berpengaruh ketika terjadi nya gerakan anti Ikhwan di Timur Tengah dan kontra Musim Semi Arab bekerja sama Sheikh Uni Emirat Arab, Muhammad Ibn Zayyed Ibn Nahyan menggelontorkan dana Milliaran Dollar dan bahkan menjadi tulang punggung Bashar Asad di Suriah untuk tetap menindas kelompok-kelompok oposisi di tengah perang yang masih berkecamuk hingga lima tahun ini Arab Saudi yang berkoalisi dengan negara-negara Sunni Status Quo melanjutkan operasi gerakan kontra Arab Spring hingga ke Libya, Tunisia, dan Yaman. Di Tunisia walaupun dalam pemilu terakhir partai Islam berbasis Ikhwan yaitu An Nahdhah tidak menang namun seorang pengamat gerakan Islam yang juga peneliti di Doha Brooklyn Center, Shadi Hamid, dalam siaran nya di Al Jazeera menyebutkan bahwa Partai An Nahdhah relatif berbeda pada pengalaman nya dalam berdemokrasi di Tunisia dibandingkan dengan partai Al Adalah Al Hurriyah besutan Ikhwanul Muslimin di Mesir, Rasyid Ghanousi, pemimpin partai An Nahdhah lebih menerima banyak masukan dan kritik sekaligus menampung konsesi atas konstitusi Tunisia baik dari kalangan Sekuler maupun Islamist Sunni. Di Yaman, Arab Saudi bekerja sama dengan Ali Abdullah Saleh yang tadinya digulingkan dalam revolusi rakyat Yaman semusim dengan Musim Semi Arab kembali diplot oleh Arab Saudi untuk duduk kembali sebagai Presiden Yaman, untuk mengembalikan kembali posisi Ali Abdullah Saleh, Arab Saudi bekerja sama dengan Syiah Houthi, Jadilah sebuah kolaborasi pragmatis sekaligus tragis Sunni yang status quo bekerja sama dengan Syiah yang berambisi menjadikan San’a sebagai ibukota nya yang kelima.

Kalangan Ikhwan di Yaman lebih memilih untuk bersikap wait and see, sebagai sebuah gerakan Islam yang berkali-kali ditindas dan diberangus oleh pemerintahan Diktator dari zaman ke zaman, Ikhwan di Yaman menjadikan peristiwa digulingkannya Muhammad Mursi dari tampuk kepemimpinan nya sebagai sebuah pelajaran berharga, lebih dari sekedar pelajaran Keimanan tetapi juga kezaliman hanya akan dikalahkan oleh kesabaran yang bernafas panjang. Dan ternyata Ikhwan di Yaman yaitu partai Al Islah menyaksikan sendiri Presiden pilihan Arab Saudi ditendang dari Yaman dan Abd Rabbou Mansour Al Hadi digulingkan oleh Syiah Houthi, Arab Saudi pun menjadi berang, serangan dilakukan besar-besaran dan imbas nya secara ekonomi, harga minyak dunia kembali merangkak naik.

Di Indonesia, Pemerintah pun seketika latah dan seakan bergembira dengan kenaikan harga minyak dunia ini. Bahkan Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla, mengatakan di Media Mainstream bahwa kenaikan harga BBM merupakan efek dari melemahnya rupiah, padahal sebelum nya di awal February saat BBM diwacanakan naik oleh pemerintah sudah santer bahwa pengurangan subsidi BBM yang membengkak pada APBN berfungsi menjaga kestabilan nilai tukar Rupiah, arti nya secara moral pemerintah menyampaikan kepada rakyat dalam demokrasi rakyat boleh mengusulkan apa saja, berbicara apa saja tetapi Pemerintah pun berhak untuk bebas tidak mendengarkan, bebas untuk mengabaikan, dan bebas menganggap lalu.
Lebih parah lagi jika di media massa mainstream sekaliber Jawa Pos masih mempropagandakan bahwa dengan kebijakan subsidi mengambang yang ditetapkan oleh Pemerintah merupakan kebijakan yang menguntungkan, karena selama Pemerintah untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri masih membeli dari tambang migas yang masih dimiliki oleh asing maka selama itu juga wajib hukum nya untuk memenuhi hukum satu harga atau The Law of One Price. Inilah satu-satu nya alasan yang masih logis di balik kebijakan pemerintah mengurangi subsidi atas harga bahan bakar minyak, sekaligus menegaskan bahwa dalam sektor energi betapapun jargon Pancasila yang digaungkan oleh Pemerintah namun realitas nya kita tidak benar-benar merdeka. selebih nya issue politis yang digoreng demi kepuasan pejabat dan kroni nya. Lucu kan ? Itulah Indonesia………
Jakarta

10 Jummadil Akhir 1436 H