osmanliOsmanli adalah sebuah segenggam sejarah. Segenggam sejarah yang menandai fase lain perputaran dunia islam dan persentuhan nya dengan modernisasi dan demokrasi. Osmani juga sebuah bukti tentang bangkit dan runtuhnya peradaban manusia diantara patron-patron sejarah yang menjadi sebuah sunnatullah sekaligus aturan kehidupan. Bila di dunia islam ada sosok seperti Ibnu Khaldun yang hidup di era kegemilangan Andalusia dengan segala gemerlapnya maka di segenggam sejarah bernama Osmani ada sosok seperti Katip Celebi,Kocu Bey, hingga Cemal Kafadar.mereka memang tidak banyak dikenang di dunia Islam khusus nya dunia ilmu ekonomi Islam tetapi karya-karya nya lebih berkontribusi menjelaskan kontribusi usmani dalm membawa dunia Islam menuju tahapan dan gerbang modernisasi.

Tidak berlebihan akhirnya apabila para sejarawan Barat yang menulis sejarah Osmani dari perspektif Europenses nya harus mengakui bahwa bangsa Turki yang mengangkat tinggi-tinggi panji Osmani berjasa besar dalam menopang dunia Islam. Tidak hanya penaklukan demi penaklukan tetapi juga pembangunan tradisi keilmuan yang menakjubkan dari mulai seni Politik, Ekonomi, Akuntansi, Kedokteran, Arsitektur,seni lukis dan semacamnya. Bahkan seorang sejarawan Muslim, Tamim Ansari dalam bukunya yang berjudul “ Destiny Disrupted: A History of World through Islamic Eyes “ melukiskan bahwa dimensi peradaban yang dibawa Osmani dari mulai sisi birokratik, antara Syaikhul Islam yang mengeluarkan fatwa,Millet,Dergahi,Hakim,Pengacara bersentuhan dengan administrasi,perpajakan,hubungan antara kelas,hubungan antara Millet memiliki kompleksitas dan kerumitan luar biasa.


Hatta, dalam seperangkat sistem Ekonomi yang dibangun nya memiliki sejumlah instrumen fiskal dan moneter yang keunikkan nya setara dengan instrumen fiskal dan moneter yang digunakan dalam perekonomian modern, bahkan bila dirunut dari sudut pandang ini, Osmani adalah sebuah etape dari sejarah peradaban Islam yang menapak tegap menuju gerbang modernisasi dan puncaknya di masa Sultan Mahmud II membuat banyak inovasi dari sistem birokrasi Usmani yang rumit dan tradisional menuju seperangkat birokrasi modern yang efisien. Instrumen fiskal yang sebelumnya terpusat di Istanbul berubah serta diambil alih oleh sekelompok masyarakat di vassal yang dikuasai oleh Osmani beralih kepemilikan ekonomi dan sumber daya alam atau disebut sebagai ayan.
Kalangan Ayan inilah yang kelak berkembang menjadi semi Gubernur yang disebut juga Sanjak Bey akan tetapi permasalahan yang dihadapi oleh Osmani ternyata jauh lebih rumit dam kompleks dibandingkan niatan besar memperbaiki struktur birokrasi dan instrumen perekonomian yang banyak menopang Usmani sebagai sebuah negara terbesar dan terkuat yang pernah ada di dunia. Dari mulai era Sultan Selim III, konflik antar pemegang kebijakan di pusat dengan provinsi, merajalela nya pasukan Janissary, kekalahan demi kekalahan yang diterima oleh Osmani di setiap pertempuran bahkan terbunuhnya Sultan Selim III pun menjadi biaya yang harus dibayar oleh Osmani di sebuah perubahan radikal tersebut.
Di tangan Sultan Mahmud II yang pertama kali mengganti mahkota Sultan yang dibalut dengan Serban menjadi Kopiah Merah atau disebut Fez, melegalkan kepemilikan ayan dan dapat diwarisi ke anak dan cucu nya, menghapus sistem Timar, membubarkan Janissary, menumpas pemberontakan Wahabi di Hejjaz, sekaligus memulai sebuah periode baru yang mengubah dunia Usmani: Tanzimat. Putra Sultan Mahmud II, Sahezade Abdul Mecid baru mulai menanamkan gerakan tanzimat setelah duduk sebagai Sultan Usmani periode berikutnya, Tanzimat sukses membuat landscape dunia Osmani berubah seratus delapan puluh derajat sekaligus menciptakan pertentangan kelas baru.

Tanzimat, dari sudut pandang analisa ekonomi justru sekali lagi membuktikan kepada dunia Barat bahwa Osmani mampu beradaptasi dan belajar banyak hal disaat Barat mulai bergeliat. Sistem konstitusi yang dianut oleh Osmani disamping keberadaan perangkat hukum syariah dengan madzhab Hanefi sebagai madzhab resmi Kesultanan Osmani juga mulai mengadopsi konstitusi sekuler, sekuler disini dalam arti bahwa produk dari seperangkat hukum atau undang-undang dibuat oleh manusia, namun menurut Tamim Ansary (2010) Maklumat Imperial atau Tanzimat telah memicu ketidakseimbangan dalam tubuh internal dunia Usmani, posisi Syaikhul Islam digantikan oleh seperangkat kodifikasi sipil yang meniru model Perancis. Maka Sultan Abdul Mecit membuktikan tujuan dari Tanzimat itu bagi kalangan sekuler modernis yang telah menyerbu masuk ke dunia Osmani dengan kalangan Mufti dan Syaikhul Islam dalam peristiwa pemberian hibah sebesar 1000 lira terhadap korban bencana kelaparan di Irlandia pada tahun 1853. Sultan Abdul Mecit juga menghapuskan eksekusi mati tanpa pengadilan dan penerbitan sebuah proto bank pertama kali dalam sejarah dunia Osmani juga dunia Islam yang disebut sebagai Gallata Sharaf.

Namun disisi lain, menjaga keseimbangan kebijakan pemerintah dalam hal pembangunan dengan memelihara kearifan negara adalah tidak mudah, dan itulah yang terjadi di Kesultanan Usmani setelah periode Tanzimat hingga keruntuhan institusi khilafah islamiyah pada tahun 1923. Permasalahan nya disini bukan lagi pertentangan antar kelas di Kesultanan Usmani terlebih lagi konflik blok-blok Harem seperti yang banyak digambarkan oleh sejarawan Barat tetapi perubahan pasar secara geopolitik telah mendorong para pengusaha Usmani dalam situasi yang tidak diuntungkan.bila sebelumnya,beberapa dekade ke belakang, Sultan Suleyman Al Qanuni berhasil mendorong pengusaha Usmani bersaing kompetitif dengan pengusaha dari Venesia, di era Sultan Abdul Mecid hingga Sultan Usmani terakhir, Wahidudin, Usmani dipaksa menanda tangani perjanjian dagang dengan para pengusaha dan elit kerajaan Eropa untuk membantuk Usmani mengatasi pemberontakan Bey Muhammad Ali di Mesir, Osmani dipaksa mengenakan tarif yang rendah pada produk Eropa yang beredar di pasar Osmani sebalik nya mengenakan tarif yang mahal bagi produk buatan pengusaha Osmani ke dieksport ke Eropa. Inilah yang disebut sebagai kapitulasi dagang. Emas lebih banyak mengalir ke luar negeri dan cadangan devisa pun semakin menyusut.
Bila Osmanli Imparatorlugu atau Daulah Usmani adalah segenggam sejarah. Segenggam sejarah itu kita taburkan ke jalan yang kita lalui dalam kehidupan, akan nampak bahwa situasi dunia islam hari ini pun mengulangi jejak yang sama. Bila Osmanli pernah berjaya dengan sosok Suleyman Al Qanuni nya yang memiliki wilayah taklukan terbentang dari mulai tepi sungai Danube, melintasi Hongaria, Bosnia, mengancam Vatikan, menyapu bersih Afrika Utara hingga menguasai Damaskus dan mengatur trafik lalu lintas haji di Mekkah dan Madinah dan menanamkan rasa cinta di hati para Sultan Kesultanan Nusantara pada Istanbul, maka kini pengaruh pemerintahan Turki di bawah Presiden Recep Tayyip Erdogan dan perdana Menteri nya Ahmet Davutoglu memperluas politik luar negeri yang asertif dan memiliki pengaruh ke seluruh penjuru dunia Muslim.

Saya semakin yakin bahwa sejarah selalu berulang dengan kemasan yang berbeda tapi membawa pesan spritual yang sama di setiap tempat dan waktu. Seperti hal nya melihat fenomena ISIS yang di tanah air sudah mulai hingar bingar penolakan terhadapnya. Gerakan Wahabi yang sudah mulai muncul di era Sultan Mahmud II sama-sama dibentuk oleh agen Inggris untuk melumpuhkan Daulah Usmani. Dan kini ISIS juga skenario yang sama untuk melontarkan manjaniq ke Istanbul agar menggoyang pemerintahan Recep Tayyip Erdogan. Setelah melalui “konspirasi paralel “ melalui sosok Fethullah Gulen, seorang Hoca yang dihormati rakyat Turki, dari Amerika Serikat tidak berhasil kini Presiden Recep Tayyip Erdogan dihadapkan pada logika yang sama tatkala George W Bush menyerbu Irak “ anda bersama kami atau anda bersama terorist “

Barangkali dalam benak para “konspirator “ itu ada yang tidak disadari bahwa setiap rencana mereka, pada kemudaratan nya berbalik pada diri mereka sendiri. Amerika Serikat yang baru saja mengalami pemulihan ekonomi dan memangkas stimulus fiskal nya bisa saja harus kembali mengulangi krisis kalau ikut campur dalam urusan geopolitik Syam dan sekitarnya. Begitu juga dengan Uni Eropa yang hingga kini terbenam dalam tinggi nya angka pengangguran dan drama terancam keluar nya Drachma Yunani dari zona Eropa berfikir hal yang sama. Rusia yang menjadi partner setia Suriah pun sedang dilanda kemelut politik internal nya terlebih santer terdengar Vladimir Putin telah dikudeta. Jadi daripada bertungkus lumus dengan darah dan uang sendiri, gunakan tangan musuh untuk membunuh diri nya sendiri.

“dan demikianlah pada setiap negeri Kami jadikan pembesar-pembesar yang jahat agar melakukan tipu daya di negeri itu. Tapi mereka hanya menipu diri sendiri tanpa menyadari nya “ Surah Al An’aam :123 “

Jakarta
12 Jummadil Awal 1436H