Jelaslah bahwa kemewahan hidup merupakan salah satu faktor penghambat bagi suatu kabilah untuk mencapai kekuasaan. Allah melimpahkan kekuasaanNya kepada siapa yang dikehendakiNya. Ibnu Khaldun, Mukadimmah

Ibn_Khaldun_Economy-2_9di sebuah benteng Ibnu Salamah, Lelaki itu menggoreskan pena nya di atas sebuah kertas. Lelaki itu di balik temaram rembulan yang menyinari wajahnya menarikan pena nya seperti mengaliri berhelai-helai kertas dengan kata-kata indah dan inspirasi indah . Lelaki itu bukan lagi meramal tentang kejatuhan khilafah namun di atas semua nya Lelaki bernama lengkap Abdurahman Ibnu Khaldun Al Maghribi Al Maliki menyusun sebuah teori yang dikemudian hari dikenal di Barat disebut Cylodinamical. Semua aspek kehidupan manusia yang menjadi sendi-sendi dan pilar peradaban manusia ia sentuh. Dari mulai Astronomi, Geografi, Ekonomi, Politik, Hadharah, Fiqh, Ushul Fiqh, hingga tentu nya yang ia bahas dalam berjilid-jilid Al Ibar; Sejarah.

Tetapi Abdurahman Ibnu Khaldun Al Maghribi, demikian nama lelaki yang wafat di Kairo  bulan Ramadhan tanggal 25 808 H bukan saja menjadi seorang filosof yang merangkaikan ide-ide nya di menara gading. Di atas benteng seorang penguasa kekhalifahan Andalusia. bukan, Abdurahman Ibnu Khaldun Al Maghribi di zaman nya juga seorang politisi ulung sama halnya dengan Ibnu Hazm di masa kekhalifahan Bani Jahur, Andalusia. itu sebabnya seorang Anis Matta pernah mengungkapkan di twitternya kalau pekerjaan seorang politisi ialah hakikatnya menjadi pemikir. Karena dimensi yang lebih luas dan agung dari politik adalah soal seni mengelola urusan publik kepada tujuan yang diinginkan dalam ideologi sebuah bangsa.
Di masa Ibnu Khaldun masih hidup, kekhalifahan masih tegak berdiri walau menjelang akhir hayatnya tetapi itu segera digantikan oleh kekhalifahan lain sepanjang sejarah Andalusia. begitu juga dengan Ibnu Sinna yang merumuskan teori ekonomi politik nya juga hidup di masa kekhalifahan yang rebah dan bangun. Maka seperti ungkapan DR Raghib As Sirjani, Khilafah betapapun lemahnya menjadi vital bagi ummat islam di masa itu. setelah kejatuhan khilafah yang terakhir, Khilafah Usmani, perdebatan di atas meja politisi dan negarawan baik di dunia islam atau Barat mengenal lagi terminologi politik Islam. karena entitas politik di dunia islam yakni khilafah sudah tidak ada walhasil dunia islam berdiri sendiri menjadi negara bangsa atau nation state dan politik islam pun definisi nya menjadi seni mengelola urusan publik agar manusia merasa indah beribadah dan menjadikan setiap urusan mereka menjadi bagian dalam ibadah, demikian Ustadz Salim Fillah pernah menyimpulkan dalam satu bab yang ia beri judul Rabbani.

Namun yang menarik sebuah pertanyaan yang diajukan oleh seorang teman saya di facebooknya, mengapa Ibnu Khaldun yang selama ini kalangan penggiat ekonomi syariah ketika membahas masalah ekonomi, bahasan nya melebar hingga kemana-mana ? baru kemudian belakangan teman saya itu menyadari di Barat pun kajian ekonomi tidak bisa dilepaskan dari politik. Itu sebabnya dalam salah satu disiplin ilmu ekonomi ada subject yang disebut ekonomi politik. Posisi nya bukan hanya menyentuh dimensi Makroekonomi tetapi rahasia rebah dan bangun nya sebuah entitas politik. Ashabiyah, Fanatisme, Zuhud dari dunia, adalah segelintir dari rahasia yang didedahkan oleh Ibnu Khaldun dalam Mukadimmahnya. Kita yang terbiasa mencerca fanatisme dan ashabiyah ternyata menurut Ibnu Khaldun sebuah kekuasaan takkan lama langgeng dari tampuk nya jika tidak memelihara fanatisme dan Ashabiyah. Tentu Fanatisme disini menurut Ibnu Khaldun dalam dimensi dan skup yang luas. Ada militansi menjadi nyawa nya, ada harapan yang berakumulasi menjadi kekuatan dan itulah hakikatnya fanatisme yang dimaksudkan oleh Ibnu Khaldun.
Selanjutnya oleh Ibnu Khaldun keseluruhan sebab dan syarat itu ia rangkaikan dalam teori yang dikemudian hari dikenal dengan nama Model Dinamika, walhasil sebuah gagasan Ekonomi Islam menjadi sebuah gagasan yang utuh karena menyentuh semua ruangan dalam hidup umat manusia. Politik, Ekonomi, Birokrasi, Ilmu Pengetahuan, Kebudayaan, hingga Fiqh menjadi  saling berhubungan. Oleh karena itu lucu kalau seorang akademisi Ekonomi Islam atas nama ilmiah, mengabaikan gejolak politik yang akhir-akhir ini terjadi menerpa salah satu partai politik Islam. namun di saat yang sama semangat kalau mengkritik dan menghujatnya. Padahal Politik juga memakan proses yang tidak sembarangan. Ada proses yang rumit dan complicated untuk mengambil dan memutuskan sebuah kebijakan strategis. Seorang Politisi harus berdiri seimbang antara riak-riak populisme yang menyebabkannya dielu-elu kan oleh banyak orang namun juga memegang tongkat kompetensi dan narasi ide besar bahwa ia melakukan yang tidak banyak orang bisa lakukan. Ia melakukan yang tak biasa dilakukan pengamat politik dan dari balik hingar bingar media massa.
Salah satu teori Ibnu Khaldun buat saya sangat penting dan tak dilewatkan oleh dunia mana pun saat ini adalah tentang pergantian satu dinasti ke dinasti lain nya. kita persilahkan lelaki kelahiran Tunisia ini menuliskan nya.

Kemudian, kedudukan atau kehormatan suatu keturunan biasanya hanya bertahan sampai empat generasi saja. Sebab para pendiri sebuah kedudukan atau kehormatan mengetahui segala sesuatu yang dibutuhkan dalam membangun kebesaran tersebut dan dapat menjaga karakter yang merupakan rahasia di balik eksistensi dan kelanggengan nya.

Kemudian Ibnu Khaldun kembali melanjutkan ada empat generasi yang melanjutkan tongkat estafet generasi pertama. Generasi kedua, Generasi sang Putra yang datang hanya melanjutkan kebesaran yang telah dibangun ayahnya dengan bermodalkan pendidikan yang didengar dan diterima langsung dari sang Ayah. Generasi ketiga, hanya berdiri sebagai pengikuti dan menapaki jejak yang telah ditinggalkan dari generasi pertama dan kedua, generasi keempat menjadi generasi penikmat atas kebesaran dinasti dan kekuasaan yang ditinggalkan dan disinilah Ibnu Khaldun mengingatkan dentang kehancuran telah nyaring terdengar.

Kekhalifahan Usmaniyah selama berabad-abad berhasil menjadi Kekhalifahan yang ditakuti di Timur sekaligus diwaspadai di Barat. Penaklukan Konstantinopel oleh Mehmet Al Fatih atau Muhammad Al Fatih menurut sejarawan Tamim Ansary dalam buku nya Dari Puncak Baghdad (2009) melibatkan meriam basilica dan meriam-meriam yang lebih kecil dan terbilang modern di masa nya. belum ketika mencapai era Sulaiman Al Qanuni yang disebut oleh Barat sebagai Sulaiman The Magnificent, kekalahan armada Usmani pada pertempuran Lepanto dan kegagalan merebut Wina bukan apa-apa sebab dalam enam bulan berikutnya dari kekalahan pertempuran Lepanto dan Wina, Kekaisaran Usmani mengganti seluruh armada yang hilang dengan armada yang lebih besar dan modern serta melanjutkan ekspansi nya ke Siprus dan Sisilia.
Lantas dimana kejatuhan Usmani dimulai, masih merujuk pada Tamim Ansary ( 2009) Kekaisaran Usmani mulai menjadi Kekaisaran yang tidak lagi ditakuti di Barat ketika pedagang dari Barat memasuki sistem manufaktur dan produksi yang tadinya erat dengan serikat dan tarekat sufi. Pedagang dari Eropa datang dan membeli bahan-bahan mentah di pasar Usmani untuk memproduksi barang dengan insentif yang didapatkan dari Amerika Serikat. Sedangkan Serikat hanya membeli bahan-bahan mentah dari hasil profit bisnis. Akibatnya rakyat di Kekaisaran Usmani tidak berdaya di negeri sendiri, emas pun mengalir keluar dari Usmani menuju Eropa. Produksi dalam negeri semakin menurun dan dan keuangan negara defisit.

Kekaisaran Usmaniyah yang sadar dengan penyakit ini bergegas untuk melarang ekspor bahan baku strategis yang dibutuhkan dalam negeri. Namun yang terjadi malah penyelundupan dan selanjutnya penyakit lain nya berkembang biak di Istana Kekaisaran Usmani, Suap dan korupsi. Disinilah awal kejatuhan kekaisaran Usmani sampai akhirnya Mustafa Kamal dengan agen Zionisme di belakang nya mengubah menjadi Republik setelah perang dunia I. ditambah keadaan Istana Usmani di masa itu menjadi semakin berat dengan lingkungan tempat tinggal harem atau selir yang melahirkan pangeran-pangeran dengan kualitas rendah dan Harem berjuang agar Pangeran yang dilahirkan dari rahimnya menjadi Sultan yang berkuasa dengan membunuh sultan sebelumnya.

Analisis Ibnu Khaldun semakin relevan ketika dikembalikan ke konteks bangsa ini. Komisi Pemberantasan Korupsi yang mendapatkan dukungan luar biasa dari masyarakat mengembalikan kepercayaan publik itu dengan pincang. Seolah-olah KPK gigih memberantas korupsi dan operasi tangkap tangan yang menjadi andalan nya membentuk citra, pimpinan-pimpinan KPK malah menjadi aktor generasi ketiga dan keempat yang menjadikan peradilan rusak sekalipun tuntutan jaksa KPK atas kasus kuota suap impor daging dibantah dengan fakta-fakta yang nyata di persidangan. Kita dengarkan sekali lagi nasihat Ibnu Khaldun “ Peradilan yang rusak membawa kehancuran sebuah bangsa “  subhanallah ….

Jakarta
12 Safar 1435 H