Economist John Maynard Keynes

JM Keyness adalah sebuah sejarah lain dari sekian lika-liku Ekonomi Barat sejak diformulakan dari era Adam Smith dengan Laissez Faire nya.  Bila Adam Smith, dalam perspektif ekonomi Barat dianggap peletak batu pertama, Karl Marx sebagai penghancurnya, maka Keyness sebagai juru selamatnya. Dan ini memang benar diakui oleh seluruh sejarawan Ekonomi Barat. Mark Skousen, misalnya, dalam buku berjudul The Making of Modern Economics, The Lives and Ideas of Great Thinkers (2005) dengan gaya seorang penulis novel menuturkan Keyness telah berjasa besar dalam menyelamatkan bangunan ekonomi kapitalisme. Bukan menghancurkan nya sebagaimana Karl Mark tetapi menyelamatnya dengan mengambil jalan tengah. Bagi Joseph Stiglitz, Ekonom dari Kolombia pemenang hadiah nobel itu, mengatakan Keyness dengan pendekatan intervensionisme negara terhadap pasar membuat kedua ideology, antara invisible hand dengan intervensi negara menjadi saling melengkapi. Namun seberapa ampuh resep Keyness menanggulangi krisis kapitalisme, itulah yang perlu kita kritisi.
Ekonom yang karir nya melesat di tengah depresi besar ( The Great Depression) tahun 1930 ini lahir pada tahun 1883. John Maynard Keyness merupakan anak dari seorang Professor Ekonomi di Universitas Cambridge dan ayahnya adalah kawan dekat dari seorang ekonom yang memulai jejak ekonomi Barat menuju tahap ilmiah. Alfred Marshall. Yang menarik, Mark Skousen mengangkat sebuah sisi lain dari JM Keyness secara personal, sebuah sisi bukan merupakan kebijakan unggulan Keyness untuk meredam krisis seperti kebijakan fiskal, mengurangi permintaan agregat, dan sebagainya. Tetapi Mark Skousen menyodorkan fakta kepada kita bahwa JM Keyness melewati masa muda nya sebagai seorang gay. JM Keyness sendiri mengakui dengan  mengeluarkan statementnya saya tetap dan akan selalu sebagai seorang tak bermoral.


sisi lain JM Keyness ini mengingatkan saya dengan sebuah buku yang ditulis oleh Paul Johnson,  Intelectuall, yang menyoroti dengan krisis sisi personal tokoh-tokoh besar dari Barat dar mulai Sastrawan seperti Ernest Hemingway hingga Karl Mark. Mark Skousen juga menuturkan selain sebagai seorang Gay, John Maynard Keyness juga digambarkan memiliki karakter sebagai Misoginis. Bahkan kecenderungan nya ini menular terhadap salah satu teori ekonomi yang diformulasikan nya tentang Investasi dan Tabungan. Tabungan atau Savings sebagai simbol wanita sedangkan Investasi sebagai simbol pria. Keyness menilai Tabungan dilihat secara negatif dan Investasi sebagai sesuatu yang positif. Dalam salah satu karya terbesarnya yang dijadikan pegangan bagi penganut Keynessian, The General Theory, JM Keyness memaparkan jika tabungan tidak diinvestasikan, pengeluaran total dalam ekonomi akan di bawah penyerapan tenaga kerja secara penuh atau full employment. Selanjutnya Keyness kembali melanjutkan “ jika tabungan ditumpuk dalam bank secara berlebihan maka resiko nya investasi dan output nasional melorot. “ padahal kalau dianalisa, penghasilan seseorang dari kerja keras nya atau hasil warisan nya tidak selalu berbentrokan dengan tabungan dan investasi tetapi juga sedekah dan kewajiban zakat.
Pada tahun 1920 setelah perang dunia I John Maynard Keyness menulis sebuah karya yang ditulis dengan gaya mengalir dan lincah. Karya itu adalah The Economic of Consequences of Peace yang mengkritik sekutu perang dunia I dengan kebijakan nya menekan Jerman yang sudah kalah perang untuk membayar biaya perang. Salah satu gagasan penting yang diutarakn oleh JM Keyness disini adalah JM Keyness seolah meramalkan krisis ekonomi yang kembali akan menerpa daratan Eropa pasca perang dunia I dan kali ini Keyness benar, salah satu faktor yang dapat menjungkir balikkan perekonomian dan merusak basis masyarakat selain mata uang. Beberapa abad setelah kematian JM Keyness karena serangan penyakit jantung di usia 64 tahun, ramalan JM Keyness bak gaung bersambut, krisis keuangan menghancurkan seluruh daratan Eropa. Dari Yunani hingga Inggris dan nyaris hingga saat ini dari seluruh mazhab ekonomi Barat tak ada yang sanggup menyelamatkan kecuali Keynessian yang masih bertahan.

Pertanyaan sederhana nya mengapa ekonomi Keynessian masih mampu bertahan sebagai tonggak bagi kapitalisme saat yang lain Pasar Bebas nya Adam Smith atau Monetarisnya Austrian dianggap tidak kapable menyelesaikan masalah krisis yang semakin krisis. Satu-satu nya jawaban yang paling realistis, bagi John Maynard Keyness, ada tiga hal yang dilewatkan oleh ekonom klasik ketika memformulasikan ilmu ekonomi. Yang pertama Pasar tidak sepenuhnya sempurna, yang kedua, Irasionalitas Investor dan yang ketiga pasar keuangan dijalankan ( drive out ) oleh sekawanan perilaku. Ketidakjelasan,pergeseran perilaku dan emosi yang tidak dapat diprediksikan, dan terakhir yang sesungguhnya yang paling esensial, ekonomi Keyness mampu lebih bertahan lama dibandingkan mazhab ekonomi barat lain nya dalam menyelamatkan Kapitalisme adalah kebijakan fiskal yang menjadi jalan keluar lembaga-lembaga keuangan dunia dan negara berkembang menunju maju ( Emerging Market ) untuk secara bersinambungan memompakan dana segar dan likuid ke negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Inilah senjata terakhir kalangan penganut Keynessian. Bailout, serangkaian program yang dijalankan pemerintah dengan membelanjakan pengeluaran negara agar pemilik faktor produksi dapat terus bekerja dan memperoleh penghasilan untuk membelanjakan nya ke sektor konsumsi begitu seterusnya. Kebijakan fiskal yang dijalankan penganut Keynessian ini memang bisa menyebabkan defisit APBN namun hal tersebut bagi mereka tidak menjadi soal. Justru ketika masyarakat menahan uang nya dari membelanjakan penghasilan ke sektor konsumsi dan mengalihkan ke sektor tabungan tidak akan menimbulkan permintaan efektiif. Ekonomi Makro pun tidak bergerak, begitu asumsi JM Keyness.

Dari tonggak terakhir inilah, sesungguhnya perekonomian Barat semakin menghembuskan nafas terakhirnya. JM Keyness mengakui pada dasarnya Kapitalisme tidak pernah stabil. Kondisi yang tidak stabil it uterus mendorong kurva keseimbangan Keyness pada posisi ketidakseimbangan angkatan kerja yang bersedia bekerja atau mencapai posisi full employment. Tiga asumsi JM Keyness diatas yang meletakkan bangunan teori ekonomi Keyness menjadi sia-sia dan tidak banyak berguna bagi pengambilan keputusan kepala negara, menteri keuangan, gubernur bank sentral hingga lembaga keuangan dunia. Umer Chapra benar ketika menganalisa Kapitalisme akhirnya kolaps karena absen nya filter moral dalam mekanismenya. Dari mulai gaya Pasar Bebasnya Adam Smith, Populismenya negara-negara Amerika Latin, Fiscal Policy nya Keynessian semua absen dari filter moral pelaku pasar dan keuangan. Bailout besar-besaran yang dikeluarkan lembaga keuangan dunia seperti IMF dan Bank Dunia hanya menguntungkan bankir-bankir bank swasta di Eropa untuk semakin memperbesar simpanan deposito nya tetapi tidak banyak menolong negara Eropa keluar dari krisis dalam jangka panjang maupun pendek. Dan fakta ini diamini oleh Joseph Stiglitz dalam buku nya Making Globalization Work. Pada akhirnya salah satu dari ramalan Keyness akan benar-benar terealisasi “Long run is misleading guide to current affairs,in the long run we are all dead “

Jakarta
4 Safar 1435 H