Majalah Infobank menurunkan sebuah kolom berita yang sangat seksi bagi para penggiat dan penyokong industri keuangan Syariah. Bank Indonesia telah mengklaim bahwa pangsa pasar perbankan syariah sudah mencapai target yang selama ini dari tahun 2007 hingga 2012 telah mencapai 5 %. Sebuah perjalanan panjang yang menempuh pelbagai effort dan kerja keras praktisi perbankan sekaligus berlembar-lembar paper oleh para akademisi keuangan syariah. Bagi saya sendiri, bank syariah mencapai pangsa pasar 5 % dalam pertumbuhan nya di satu sisi patut disyukuri target sudah usai setelah itu perbankan syariah bisa kembali serius membesarkan volume nya diimbangi dengan pemasaran dan financial engineering yang shariah compliant.

Bukan tanpa sebab, selama ini perbankan syariah Indonesia di saat yang bersamaan rajin mengumandangkan ketaatan pelbagai produknya dengan nilai-nilai syariah namun di saat yang bersamaan financial engineering atau perekayasaan keuangan dalam memvariasikan pelbagai produk keuangan syariah ternyata hanya menjadikan fatwa-fatwa yang dikeluarkan dewan pengawas syariah untuk dipillah dan dipilih sesuai selera.sesuai syariah menurut fatwa nya namun dampak nya secara ekonomi dibiarkan tertumpuk di bawah lembaran pengambilan keputusan direksi bank syariah dan para pelaku perbankan syariah.

Di saat yang sama tercapainya pangsa pasar 5 % dari target yang ditetapkan oleh Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia juga mencerminkan sikap dan gairah pelaku perbankan syariah Indonesia yang tidak pernah putus asa. Secara kacamata positif, Perbankan Syariah mampu menangkap momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia yang menurut Majalah The Economist salah satu negara dengan pertumbuhan paling stabil di dunia. dan hal itu dapat disimak dalam Outlook Perbankan Syariah 2012 dengan sejumlah indikator-indikator yang mengagumkan. Antara lain Financing Deposit Ratio atau FDR perbankan syariah yang mencapai 100.84% yang berarti Perbankan Syariah  menjalankan  fungsi intermediasi perbankan dan sesuai citra dari perbankan syariah itu sendiri. selain itu Perbankan Syariah sudah mampu menjadikan dirinya sebagai industri yang efisien dengan menurunnya rasio BOPO dari 79,17% menjadi 75,04%. Piutang pembiayaan yang macet pun menurun dari 3,11% menjadi 2,58 % terjadinya peningkatan pembiayaan dan kualitas pembiayaan semakin mendongkrak laba keuangan syariah di tahun 2012.

Terlepas dari data-data diatas. Kalau mau jujur masih banyak kritik yang diarahkan kepada industri  ini. kritik-kritik itu membuat perbankan syariah menjadi perbankan bagi semua orang. Ketika semua orang merasa memiliki maka semakin baik pula kebijakan yang diambil oleh para pengambil kebijakan di masing-masing bank syariah. Contoh sederhana nya saja, mencuat nya kasus Fraud di perbankan syariah bulan lalu menjadi tamparan semua orang yang selama ini peduli dan menaruh harapan bagi industri ini. Fraud muncul bukan karena lemahnya sistem pengendalian internal dan audit internal tohk ternyata pelaku nya juga bankir konvensional yang sudah sembilan tahun bekerja di Bank Syariah. Soal pengendalian internal saya tidak percaya kalau Bank Syariah Mandiri bisa kebobolan, mengingat sangat ketatnya proses perekrutan di bank tersebut. Jadi apa yang salah ?

Kalau mau bijak, tulisan ini bukan untuk mendakwa atau memvonis, sebab seorang ulama salaf pernah mengatakan bukan berakal kamu bisa membedakan mana kebaikan dan keburukan tetapi kamu berakal apabila bisa melihat kebaikan diantara dua keburukan. Begitu juga dengan kritik-kritik yang masih dialamatkan kepada perbankan syariah. Ada orang yang mengkritik karena menganggap perbankan syariah masih menggunakan uang kertas dengan demikian haram jatuh nya seluruh transaksi perbankan syariah. Ada orang yang merasa perlu untuk nyinyir untuk setiap kali munculnya label syariah. Padahal yang sekuler pun tidak pernah sanggup menyelesaikan masalah perekonomian bangsa. Artinya semua kritik itu menandakan kita tidak pernah puas dengan semua pencapaian yang ada.

Maka sebuah hal yang wajar apabila akhirnya semakin baik performa industri keuangan syariah masih belum bisa lepas dari kritik. Karena industri perbankan syariah ini termasuk Industri yang drive by business bukan drive by money. Drive by Business industri keuangan syariah lahir karena permintaan pasar yang begitu besar terhadap sebuah transaksi, produk, feature, service, dan profit perbankan dan lembaga keuangan yang halal dan sesuai kaidah-kaidah syariah. Itu sebabnya, perbankan syariah di tanah air memiliki corak khas terhadap pengembangan produk dengan sangat rigid memperhatikan apa yang disebut oleh kalangan akademisi sebagai Shariah Compliance dengan Shariah Advisory Board atau Dewan Pengawas Syariah yang berada di bawah pengawasan Dewan Syariah Nasional MUI. Gubernur Bank Sentral Malaysia pun  menjuluki perbankan syariah Indonesia sebagai perbankan syariah yang ortodoks dan konservatif karena sangat taat nya terhadap setiap kaidah syariah.

Nah yang disebut sebagai Drive by Money, adalah sebuah pola terbangun nya sekelompok industri karena tekanan uang dari luar negeri yang masuk ke dalam lantai bursa dan seketika menggenjot pertumbuhan ekonomi Indonesia berlari lebih kencang. Pola seperti ini oleh kalangan ekonom disebut Capital Inflow. Capital Inflow yang selalu masuk ke Indonesia dibedakan antara dua. Yang pertama sebagai dana investasi dan yang kedua sebagai arus uang panas. Dengan kata lain Capital Inflow yang masuk ke lantai bursa hanya sementara dalam jangka beberapa bulan oleh sang pemilik modal atau negara modal berasal, uang itu akan diambil kembali. type kedua inilah yang membahayakan bagi sebuah perekonomian. Antara lain membentuk ekonomi dalam negeri menjadi gelembung dan secara moneter, mengakibatkan inflasi. (Yung Lee : 1997)

Type pertama dari capital inflow yang ikut mempengaruhi laju dan dinamika perbankan syariah tanah air. Gejolak harga minyak di Timur Tengah akibat faktor politik telah menyebabkan para investor Timur Tengah mencari negara yang cocok dan pas untuk menanamkan investasi nya. dalam hal investasi keuangan syariah, Malaysia jauh lebih menarik bagi investor dari Timur Tengah untuk menyalurkan dana investasi nya dalam skim keuangan yang sesuai nilai-nilai syariah. Betapapun “liberal” nya Malaysia dalam mengembangkan produk nya ternyata jauh apik menyiapkan regulasi dan seluruh sektor yang bernuansa “Islamic” untuk digarap serius menjadi ladang bisnis yang menjanjikan. Dibandingkan dengan Malaysia, dana Timur Tengah yang mengendap di Indonesia baru berkisar USD 7 Billion. Dan sebagian dana Timur Tengah itu mengalir ke sektor perbankan membentuk sebuah bank baru di Tanah Air yaitu QNB Kesawan.

Mengalirna dana dari luar negeri ke dalam sektor perbankan tidak menjamin bank syariah atau bank konvensional yang menjadikan dana itu sebagai equity nya memiliki performa yang bagus. Terbukti di Bank QNB Kesawan pada kuartal ketiga bulan Oktober 2013 mencatat kerugian bersih sebesar Rp 36,02 Milliar dibandingkan tahun lalu yang hanya mencapai Rp 32.49 Milliar. Rupanya yang menjadi faktor utama kerugian bersih ini disebabkan Direct Labor, dan Overhead Cost yang tidak dapat ditutupi oleh kenaikan pendapatan bunga. Pendapatan bunga hanya naik menjadi Rp 149.1 Milliar sedangkan Overhead Cost dan Direct Labor Cost totalnya Rp 183 Milliar.

Hikmahnya dari itu semua, ketidakberpihakan pemerintah terhadap keuangan syariah tanah air tidak lantas membuat penggiatnya menjadi galau lalu terkesima dengan industri perbankan konvensional yang ikut bergairah di tahun 2012-2013 ini seiring dengan meningkatnya jumlah kelas menengah di Indonesia. yang membuat Drive by Business dan Drive by Money menjadi tampak berbeda adalah semangat yang mengiringi. Hamasah yang tidak pernah patah arang di kalangan mahasiswa untuk membumikan ekonomi langit ini. Hamasah yang tidak pernah putus dari jurnalis nya yang menjadikan ini semua pahala di jalan Allah. Hamasah yang menjadikan para pengambil keputusan menjadikan musibah yang menimpa bank nya sebagai tanda sayang dari Allah. Seperti statusnya Dirut BSM di facebook selepas mencuatnya kasus Fraud di banknya “ Asa an tuhibbu wahuwa syarrul lakum wa asa antukrihu syai’an wahuwa khairul lakum”

Akhirnya benarlah ungkapan Baginda Nabi SAW, bagi seorang beriman baik itu musibah atau karunia sama-sama menguntungkan nya !

11 Muharram 1435 H
Sambil mendengarkan nasyidnya Inteam feat Nazrey Johani “Kehidupan”