Marmaray MapTurki, sebuah negara bekas kesultanan Usmani yang resmi memutuskan tradisi dunia islam sejak Mustafa Kamal menghapuskan Khilafah, membuat sebuah gebrakan yang membuat seluruh analisis hubungan internasional menajamkan mata analisa nya dengan meresmikan pembangunan terowongan bawah laut Marmaray. Pembangunan terowongan bawah laut Marmaray ini bukan saja menghubungkan antara kontinen Asia dengan Eropa namun membangun sebuah jalur sutra baru yang berperan vital dalam transaksi ekspor impor antara negara-negara sekitar Turki. Salah satu partai opposisi yang berurat akar dari kalangan nasionalis sekuler MHP, mendukung pembangunan terowongan bawah laut ini, namun pembangunan terowongan Marmaray ini, menurut perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan, sebagai bentuk memperingati 90 tahun berdirinya Republik Turki.

Dibangunnya Terowongan bawah laut Marmaray juga menyiratkan pesan lain bahwa pertumbuhan ekonomi Turki sudah sangat mengagumkan dan membuktikan mampu bangkit dari keterpurukan akibat mega inflasi yang menimpa Turki. Menurut Ahmad Dzakirin (2012) dalam bukunya Kebangkitan Pos Islamisme, Analisis dan Kebijakan AKP Turki Turki telah mewarisi dari rezim Kemalis kebangkrutan dan kerugian ekonomi negara. Mata uang Turki, Lira mengalami devaluasi hampir 50 %, tingkat inflasi sejak tahun 2002 mencapai 35% dan suku bunga mencapai 30,5%. Namun sejak kemenangan Partai Keadilan Pembangunan atau Adellet Ve Kalkinma Partisi atau AKP, perlahan-lahan wajah perekonomian Turki yang hampir bangkrut sejak tahun 2007 hingga tahun 2013 perlahan-lahan memberikan dampak signifikan secara makroekonomi yang diperlihatkan oleh pertumbuhan ekonomi Turki dengan rata-rata mencapai 6,69 % meningkat sebesar 2.10 % dari semester sebelumnya di tahun 2013. Tingkat suku bunga yang di tahun 2007 mencapai 5.0 % di tahun 2013, suku bunga kembali berhasil ditekan menjadi 4.50 yang mengindikasikan perekonomian Turki menjadi lebih efisien karena mata uang Lira tidak terkena dampak badai krisis keuangan yang menghantam Eropa sehingga mata uang Lira tetap menguat disamping ekspor, salah satu sektor perdagangan Turki yang sangat vital sejak Kesultanan Usmani.

Yang menarik dari dibangunnya terowongan bawah laut Marmaray ini sanggup menjawab sejumlah keraguan dan kebencian kalangan sekuler Turki maupun Internasional terhadap kapabilitas kalangan yang mereka sebut dan labeli sebagai Islamis untuk mengelola negara. Selama 11 tahun mengelola negara, AKP mampu memberikan jawaban konkret atas kebutuhan ekonomi Turki dengan membangun 25 stadium, 48 kolam renang, 193 pusat olahraga, 163 asrama pelajar. Menurut bang AryaSandiyudha, salah seorang mahasiswa Indonesia yang mengambil doctoral di Fetih University melalui twitternya AKP telah melakukan sebuah revolusi sunyi bagi Turki dan untuk pertama kalinya dalam sejarah, Turki mencanangkan proyekssi jangka panjang 2023.

Jadi jelas pesan tersirat yang ingin disampaikan Turki bagi masyarakat dunia. kalau Ian Bremmer yang menggunakan analisa J Curve tentang hubungan tingkat Demokrasi sebuah negara dengan Kesejahteraan dan Kestabilan politik maka sebenarnya analisa Ian Bremmer yang American Minded itu sudah tidak lagi relevan bila dihubungkan dengan kasus Turki. Prof Didin S Damanhuri menyebutnya sebagai Kurva U ketika sebuah negara semakin terbuka dalam demokrasi maka tingkat kesejahteraan dan kestabilan politik juga ikut menyusul. Sebuah hal yang memerlukan nafas panjang, khususnya negara-negara yang lahir dari rahim revolusi politik seperti halnya Arab Spring. Namun Turki disini menjadi pengecualian dan di luar mereka yang menjadi bayi baru dari rahim revolusi sosial politik. Nafas panjang itu menuntut seluruh elemen politik untuk mendiskusikan apa yang terbaik jalan keluar setelah masa transisi akan berakhir. seperti ungkapan kolumnis Timur Tengah Fahmi Huwaydi, bahwa yang terbaik setiap kalangan moderat dari kelompok sekuler, islamis, kiri duduk dan saling berkomunikasi dengan fokus membangun negeri nya dan penekanan yang lebih kepada kalangan islamis, Fahmi Huwaydi mengarahkan agar meminimalkan debat retorika teologis dan agama dan sibuk bekerja. Seperti halnya yang pernah dicontohkan oleh Erdogan untuk tidak perlu takut kepada sekularisme.

Performa Ekonomi Menggeser Debat Ideologis.

Di tahun 1999, salah seorang wanita anggota parlemen dari partai Fezilet Partisi, datang ke gedung Parlemen Turki dengan mengenakan Jilbab. Seorang wanita pemberani itu bernama Merve Kavakci. Tetapi sayangnya Merve diusir dari Parlemen dan partainya yang dibidani oleh Necmetin Erbakan dibubarkan tak lama setelah itu. Jilbab pun tetap dianggap barang haram bagi konstitusi Turki yang memegang teguh Sekularisme ( Laiklik). Namun sekitar dua minggu yang lalu empat anggota parlemen dari AKP kembali mendatangi gedung parlemen dan mengenakan jilbab. Salah satu partai opposisi yang berhaluan sekuler garis keras menentang dan menakuti-nakuti pemilih serta masyarakat Turki tentang kemungkinan Turki akan mengalami kemunduran. Bagi kalangan sekuler dan militer Turki, Jilbab menjadi persoalan yang sensitif. Kalangan sekuler Turki melambangkan dan menyimbolisasikan jilbab sebagai simbol kalangan yang mereka labeli sebagai islamis sebagai kalangan terbelakang, barbar, dan reaksioner bahkan tak tanggung-tanggung Jilbab menjadi simbol pertaruhan identitas antara Turki yang sekuler dengan Turki sebagai sebuah negara bekas kesultanan Usmani. Yang menentang Jilbab dan jejak kekhalifahan Usmani menganggap masuknya Islam di Turki telah menghalangi budaya asli Turki yang lebih sesuai dengan nilai-nilai yang dianut Barat, maka Kemal Attaturk hingga kini dianggap pahlawan karena Kemal Attaturk yang telah membebaskan Turki dari belenggu islam tersebut.

Pertanyaannya yang harus dijawab oleh kalangan sekuler Turki dan sekular manapun di seluruh dunia, mana yang jauh lebih baik kebangkrutan ekonomi Turki dengan mempertahankan nilai-nilai lama bangsa Turki yang konon sesuai dengan nilai Barat ataukah dengan performa ekonomi politik yang dinikmati mayoritas masyarakat Turki namun memberikan kebebasan kaum wanita untuk memilih haknya berjilbab dan dengan berjilbab itu ternyata tidak mengganggu kinerja pembangunan ekonomi Turki. Jadi hikmahnya jelas, pada akhirnya kinerja pembangunan ekonomi menentukan ke arah mana kesejahteraan dialamatkan. Sepanjang kinerja pembangunan ekonomi mensejahterakan maka debat ideologis menjadi tidak penting dan tidak relevan. Dan itulah yang ingin dituju oleh sistem Ekonomi Islam.

Jakarta
5 Muharam 1435 H

sambil mendengarkan musik ney