Kudeta Militer Mesir3Sudah hampir beberapa bulan ini, kedua bola mata saya yang terlindungi oleh kacamata minus terus menyimak perkembangan demi perkembangan yang terjadi di Mesir.  Mesir, sebuah negeri yang berjasa tinggi dan bernilai agung bagi terbangunnya sebuah mercusuar keilmuan dunia Islam dan menerangi negeri sekitarnya hingga ke timur jauh dengan para para pelajaryang berdatangan. Mesir, sebuah negeri yang dikenang oleh Al Qur’an mengenai kisah Nabi Yusufnya. Mesir yang dengan elegan dan elok seorang Habiburahman El Shirazy menggambarkan lekak-lekuk nya, atas bawahnya, budaya masyarakatnya, dengan begitu dekat melalui Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbihnya. Mesir yang terkenal mewariskan mulai dari para penghafal Al Qur’an hingga penyanyi yang menghangatkan dunia musik Arab seperti halnya Hamza Namira, Amr Diab, dan Ummi Kaltsum. Dan kini seperti ungkapan KH Mustafa Bisri, Mesir di twitternya negeri seribu menara itu terbakar dan bersimbah darah.
Haru biru yang mengiringi revolusi Mesir dari mulai serangkaian revolusi yang mengantarkan musim bunga Arab ke seantero penjuru Afrika Utara dan sebagian Timur Tengah kini berubah menjadi narasi antagonis dengan masuknya secara massive kekuatan status quo yang dimainkan dengan epiknya oleh para pemain  sisa rezim Mubarak, sekelompok liberalis dan partai oposisi yang kalah dalam Pipres Mesir. Semua drama yang bergelung dengan nyawa dan air mata ini semakin memuncak kala sesosok Muhammad Mursi digulingkan dari kursinya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Mesir, bangsa Mesir mampu memilih pemimpin dalam sebuah agenda demokrasi yang disepakati bersama tetapi untuk yang pertama kali nya juga Pemimpin yang terpilih itu digulingkan.


Banyak pengamat politik internasional akan menyangka bahwa tergulingnya Muhammad Mursi merupakan puncak kemarahan rakyat yang tidakdiakomodir dengan baik melalui performa sang Presiden. Hatta, pemikir internasional sekaliber Vali Nasr pun menganalisa dengan gaya nya yang khas bahwa Muhammad Mursi tidak berkompetensi untuk mengurus negara walaupun hanya diberikan waktu hanya setahun. Tetapi, menurut Vali Nasr kudeta terhadapnya bagaimanapun tidak akan bisa dibenarkan, tidak saja mencederai sebuah produk dari barat bernama Demokrasi tetapi juga akan membawa Mesir dalam krisis yang lebih curam. Pandangan Vali Nasr itu diamini oleh Majid Rafizadeh, seorang akademisi politik internasional dari Iran. Majid menulis di Al Arabiya, bahwa kini Mesir dihadapkan pada kondisi super sulit. Tawar menawar yang berat, tiga arus yang berbenturan tak lagi mampu didamaikan. Tanpa bermaksud menyalahkan Ikhwan, kata Majid Rafizadeh, tetapi pintu dan ruang yang tersedia untuk mengendurkan ketegangan antara Ikhwan dan militer yang mendukung kudeta sudah tak lagi tersedia. Majid Rafizadeh pun mengakhirn tulisannya dengan penuh gamang.
Di ujung benua Afrika itu. ternyata Mesir tidak sedang sendiri menghadapi curam dan terjal dari proses demokrasi yang sedang dijalani. Negara tetangganya seperti Tunisia juga mengalami apa yang disebut para pakar sebagai Turmoil. Disamping asyiknya menyimak perkembangan yang terjadi di Mesir, Tunisia merupakan sebuah negara yang mengalami kisah pahit berbenturannya sekuler dengan masyarakat sipil. Naiknya pemerintahan dictator hingga penutupan Perguruan Zaituna. Pasca Musim Bunga Arab, Pemilihan Umum di Tunisia dimenangi oleh An Nahdhah, sebuah partai islam moderat yang dulu pernah digawangi oleh Mahfudz Nahnah. Kontan kursi perdana menteri dan Presiden dipegang oleh partai islam ini. dan chaos meledak di Tunisia saat terbunuhnya seorang oposisi dan itu menjadi pemicu untuk serangkaian chaos lain yang terjadi di Tunisia. Tetapi jika diamati, dari seluruh gerakan “anttiklimaks” yang membentuk narasi antagonis di dunia Islam, wabilkhusus Timur Tengah terbunuhnya seorang oposan dari sepanjang pemerintahan yang dipegang kaum Islamis mampu menggerakan siapapun untuk bersimpati dan mengecam pembunuhan tersebut walau belum jelas tentang pelaku dan motif pembunuhnya. Karena dengan mudah opini yang dibentuk dan dihembuskan ke seluruh dunia, Islamis tidak menjamin kebebasan berpendapat, tetapi menjadi paradoks kala yang menjadi korban adalah Islamis itu sendiri, sekitar 6000 nyawa manusia yang melayang di Rab’ah Adawea, Tiga Masjid yang terbakar, Dua Rumah Sakit yang rusak, siapapun dengan sigap menyalahkan Ikhwanul Muslimun sebagai aktor intelektualnya untuk memprovokasi dan menggalang simpati. padahal  dawuh Kanjeng Nabi sendiri jika menyelematkan nyawa satu orang sama dengan menyelamatkan nyawa seluruh manusia dan dalam Al Qur’an sendiri Allah sudah mencap mulia dan terhormatnya derajat manusia. Tetapi begitu hanya dalam hitungan beberapa jam 6000 nyawav manusia melayang, Media menjadi bias, aktivis HAM kehilangan arah,dan disini begitu mudah kita melontarkan kata-kata “menjadikan agama dan Tuhan sebagai kedok” seolah-olah barisan kata-kata tadi mantra ampuh untuk menjinakkan siapa saja yang diduga membela Wahabi dan Ikhwanul Muslimun.
Apa yang terjadi di Mesir kini hampir mirip dalam sebuah gambaran Kurva J.belum sempat menjadi Kurva U. sebab kurva U menjelaskan adanya dampak yang signifikant dengan terbukanya sebuah masyarakat dalam sebuah sistem dengan kesejahteraan dan keadilan yang diperolehnya. Tetapi dalam Kurva J menurut Ian Bremmer dalam buku nya J Curve (2006) Mesir, Arab Saudi, Rusia, Iran, rentan berada dalam ujung paling kiri dimana keterbukaan bukannya menjadi ancaman, sebab dalam keterbukaan, baik itu politik, ekonomi, kebudayaan, sosial, kelima negara tadi lebih mapan hanya saja, menurut Ian Bremmer, menjadikan masyarakatnya siap dengan demokrasi dengan adanya keterbukaan yang memfasilitasi membuat lebih mengamankan dibandingkan langsung berhadapan dengan demokrasi itu sendiri. Mengapa ? disinilah ambigu nya masyarakat Barat terutama Amerika Serikat dan Eropa menghadapi klien nya yang menjalankan demokrasi. Bila kelima negara itu langsung dihadapkan pada demokrasi akan membuat banyak pihak menjadi tidak senang melihatnya, dan itu merupakan ongkos yang mahal baik bagi negara itu sendiri maupun negara yang memasok bantuan. Dan hari ini Mesir teklah menjadi pelajaran yang paling nyata dari semua teori-teori ekonomi pembangunan, teori—teori hubungan internasional,teori-teori militer kelas dunia, termasuk teori yang dipaparkan oleh Ian Bremmer tadi.
Diktum Klasik Revolusi
Menangnya Muhammad Mursi dengan perolehan suara sekitar 52 % telah membuat satu gertakan yang mungkin terketuk pelan namun getarnya terasa. Terutama bagi “Jaringan Partai Keadilan” di seluruh dunia dan seakan  menjanjikan masa depan yang cerah bagi akhir dari Musim Semi Bunga Arab serta memboyong lebih banyak lagi panasnya Musim Bunga Arab ke kawasan Teluk yang dihuni oleh negara-negara monarki-otoriter. Namun di saat yang sama Kemenangan Muhammad Mursi sekonyong-konyong menjadi ancaman yang tak pernah membuat seorang Netanyahu dan Livni tidur tenang di Tel Aviv sana. Tidak juga bagi Barrack Obama, tidak  juga bagi seluruh jaringan Zionisme internasional di seluruh dunia. dan seperti yang dijelaskan oleh Ian Bremmer dalam bukunya tadi, ketika negara seperti Mesir dihadapkan pada demokrasi kontan membuat sejumlah pihak tidak merasa nyaman dan senang. Walhasil produk yang ditawarkan oleh Barat kepada dunia Islam pada hakikatnya akan merugikan kepentingan Barat sendiri, ya, Barat memang telah mewariskan lima ajaran yang menurut Kishore Mahbubani, dekan dan Professor di Lee Kuan Yew School of Public Policy, telah diadaptasi dengan cepat oleh masyarakat Asia khususnya China dan India. Tetapi gusarnya Amerika Serikat dan Eropa menyikapi menangnya Muhammad Mursi juga menggambarkan betapa Barat adalah sebuah masyarakat yang terbuka dan mapan  namun berpikiran tertutup sebaliknya sebagian negara Asia mungkin masih dan sedang menjadi masyarakat tertutup dengan berfikiran terbuka. Apalagi setelah diketahui bahwa ternyata Amerika Serikat lah yang mendanai gerakan Tamarrod, sebuah gerakan perpaduan Syiah dengan Sekuler, untuk menumbangkan Muhmmad Mursi.
Gerakan Tamarrod sendiri di kemudian hari melalui akun twitternya mengakui bahwasanya Revolusi Mesir 25 Januari telah diambil dengan diam-diam oleh Militer dan Israel. Siapapun yang menyimak perkembangan antiklimaksnya Revolusi Mesir ini mengetahui bahwa senjata yang dimuntahkan oleh militer Mesir dengan jelas Made In Israel . dengan atau tanpa banyak analisa, mudah diketahui Israel menjadi aktor intelektual dari chaos yang menghilangkan ribuan nyawa anak manusia di Rab’ah Adawiyah dan Ramses. Hanjakal ! kata orang Sunda, Menyesal, menyesal yang selalu nampak di belakang dan demokrasi yang ditelikung oleh Militer Mesir, Front Penyelematan Nasional dan gerakan Tamarrod akhirnya dinikmati oleh musuh bebuyutan Mesir selama perang Arab enam hari ini. militer Mesir tidak pernah menang berperang dengan militer Israel, begitulah sejarah perang Arab enam hari mencatat, namun Militer Mesir sukses menebas nyawa manusia hanya dalam hitungan jam mencapai 6000 nyawa di Rab’ah Adawea. Terakhir gugurnya puteri Muhammad Badie, Mursyid IM dan gugur nya cicit dari Hasan Al Banna, DR Khaled Al Banna, gugur kedua nya seperti mengulangi diktum klasik revolusi bahwa Revolusi selalu mengorbankan anak sendiri, sekalipun Ikhwan tidak pernah menempuh jalan kekerasan tetapi dimanapun juga Demokrasi hanya bisa dikalahkan dengan senjata.

Ya Rabb !!
12 Syawal 1434 H.
Sambil mendengarkan  tembangnya Hamza Namira “ Ala Bab Allah “