#R4biaRabiah Al Adawiyah merupakan sesosok sufi wanita yang dikenal dalam jagad Tasawuf lantaran puisi nya yang dengan lantang rela mengorbankan dirinya agar tidak satupun manusia yang memasuki nerakaNya. Dan kini di bumi Mesir , Rabiah Adawiyah menjadi simbol perlawanan bukan semata dikehendaki dan dimotivasi oleh keinginan untuk bebas merdeka seperti halnya Revolusi Mesir 25 Jan dengan icon nya Maydan Tahrir tetapi juga tentang kesucian perjuangan. Militer Mesir boleh membombardir lapangan Rabiah Adawiyah dengan senjata yang dipasok dari Israel dan donasi Amerika Serikat serta restu dari negara-negara teluk namun Rabiah Adawiyah kini menjadi simbol yang fenomenal di dunia islam melalui simbol Empat Jari nya yang tersebar di pelbagai jejaring sosial hingga aplikasi chat.
Rabiah Adawiyah, pun seakan bangkin kembali dari kematiannya dan menggelorakan perjuangan melawan serangkaian narasi antagonis yang ingin membungkam kembali kebebasan rakyat Mesir dengan kembali nya Rezim Mubarak. Ya Rezim Mubarak kini telah kembali, sepeninggalnya Muhammad Mursi digulingkan dari tahta kepresidenannya, seluruh jabatan dan posisi di level yudikatif hingga eksektif telah dipenuhi kembali oleh para pion yang loyal dengan Husni Mubarak. Rencana Husni Mubarak mewariskan tahta dan supremasi kepada keluarga nya pun berlanjut. Bahkan di jalanan kota Kairo  kini sudah banyak bersebaran poster Jamil Mubarak For President.


Seandainya para Fir’aun itu masih mampu hidup kembali dan bangkit dari peraduannya, mungkin merasa malu sendiri bahwa ternyata di abad kiwari ada sosok-sosok manusia yang tamaknya melebihi para raja-raja Mesir kuno, kalau dulu rakyatnya dikorbankan untuk para dewa kini rakyat Mesir dikorbankan oleh militer Mesir untuk Rezim Kudeta. Namun ternyata kesemua itu harus diluluhkan oleh besarnya gelora semangat pendukung Mursi di lapangan Rabiah Adawiyah. Sebelum lapangan Rabiah Adawiyah menjadi ladang bara api dan pembantaian anak manusia, disanalah ribuan manusia mendirikan shalat sepanjang Ramadhan yang lalu. disanalah Al Qur’an mendengung, disanalah doa Qunut dipanjatkan di setiap witir, disanalah sejumlah orang mengakhiri masa lajangnya dengan menikah secara serempak di lapangan Rabiah Adawiyah, disana juga dilaksankan perayaan shalat Idul Fitri hingga para Ibu-Ibu yang sibuk membuat kue untuk Idul Fitri pun dilakukan di lapangan Rabiah Adawiyah. Para pemuda yang mengemas lapangan Rabiah Adawiyah menjadi lapangan rekreasi bagi siapapun yang berkunjung ke Mesir. Dan di lapangan Rabiah Adawiyah pula yang kini menghitam menjadi saksi oara Ulama Al Azhar yang tidak hanya mengajar di kelas tetapi menggoreskan sejarah hidupnya dengan darahnya sendiri.
Hari Ini Rabiah Adawiyah masih menjadi sebuah Icon. Kala pemerintah kudeta Mesir menganggap para pendemo yang gugur di lapangan Rabiah Adawiyah sebagai teroris, harusnya pemerintah Kudeta Mesir mengetahui tidak mungkin teroris berdemontrasi, karena dimanapun aksi peledakan dan lain sebagainya tidak pernah didahului oleh demonstrasi. Tidak juga simpatisannya teroris sebab teroris tidak memiliki simpatisan, karena yang disebarkannya adalah ajaran untuk membuat orang antipati, dan Icon Rabiah yang disimbolkan dengan empat jari melambangkan simbol damai bukan simbol menyerah. Damai setelah sebelumnya didahului dengan perjuangan yang panjang dan mempertahankan makna Revolusi 25 Jan, Damai yang didahului marah membuncah-buncah. Marah yang bergelung menjadi bara api perjuangan, sebab hanya dengan Marah, seseorang mampu bangkit dan melawan untuk merenggut kemerdekaannya kembali. sebab hanya dengan marah, bangsa ini mampu merdeka dari perjuangannya melawan kolonial yang menista tanah air. Menista kebebasan pribumi di atas rumahnya sendiri. Dan itu juga yang kini dialami oleh mereka yang berjuang mengembalikan makna Revolusi 25 Jan di Mesir. Persis seperti ungkapannya Tawakul Karman di twitter nya “Marahlah, Marahlah pada hari ini, sebab jika anda tidak marah maka anda redha untuk berada dalam penindasan berpuluh-puluh tahun lama nya “
Tawakol Karman ini sosok wanita baja, bahkan dalam perjalanannya menuju Mesir ia dicekal di Bandara agar tidak sampai untuk ikut dalam demonstrasi di Rabiah  Al Adawiya. Sosoknya mewakili para Srikandi dunia Islam lainnya yang berjalan dengan teguh mengikuti apa yang pernah ditempuh oleh Rabiah Al Adawiyah, mempertahankan Kesucian dan kehormatan dengan nyawa nya sendiri.

14 Syawal 1434 H
#Nowplaying Cukup Bagiku Allah, Opick feat Gito Rollies rahimahullah