im-moussais8Sebuah statement di dunia maya tepatnya di youtube ada seorang user  saat mengomentari video mengenai battle of poiters atau dalam versi sejarah islamnya disebut balat al syuhada bahwa pertempuran tersebut menyelamatkan  Eropa dari invasi kaum Saracens, ungkapan untuk umat muslim di Barat, dan tidak terbayangkan apa yang akan terjadi jika kaum Saracens berhasil mengalahkan pasukan Frank di bawah komando Charles Martel. Namun ada yang miss atau terlewat dalam komentar tersebut karena seperti biasa nya sejarah peradaban umat manusia ditulis oleh pihak yang menang, lucunya anekdot His Story  menjadi pengecualian bagi banyak orang di Eropa dan di Barat pada umumnya.

Komentar anonim di Barat mengenai Moussais la Bataille atau Balat Al Syuhada sebenarnya mengadopsi dari pandangan para sejarawan Barat sendiri, seperti ungkapan Edward Gibbon, “ tak dapat dibayangkan jika pasukan arab memenangi pertempuran atas pasukan Charles Martel, mungkin tafsir Al Qur’an sudah diajarkan di Oxford dan mimbar-mimbar nya menunjukkan kebenaran wahyu Mahomet, “ Mahomet sebuah diksi yang lahir dari semangat islamphobia dan bertendensi merendahkan, sedangkan dalam pandangan sejarawan barat yang lain, Poiters adalah Eropa yang diselamatkan kaum Frank dari Asiatik dan Afrika “ begitulah, pertempuran poiters dan setelah dari abad pertengahan menjadi sebuah momen yang membangkitkan dan mendorong energy yang besar pada nasionalisme bangsa-bangsa di Eropa, itulah Europenses,

Akan tetapi masalahnya yang perlu dikaji secara kritis apakah pertempuran Poiters dan terbunuhnya Abdurahman Al Ghafiqi berdampak besar terhadap kedigdayaan kekhalifahan Andalusia di semenanjung Iberia, kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad dan Dinasti Merovingian yang notabene bangsa Frank berikut kerajaan-kerajaan kecl yang dihuni oleh Burgundi, Bulgaria, Lombardi, Italia, Anglo Saxon dll, ternyata baik sejarawan muslim maupun barat menganggap pertempuran di Poiters tidak banyak berdampak pada perekonomian dan budaya islam di Andalusia dan bangsa Frank tetap bergelut dengan konflik internal yang saling berhubungan antara kepausan dan kekaisaran. Namun satu hal yang mereka sepakati sebagaimana yang pernah di paparkan oleh David Levering Lewis, baik Arab maupun Frank satu sama lain saling menguji, kekhalifahan Islam di Andalusia membutuhkan kekuatan militer yang memadai untuk mengamankan basis perekonomian dan budaya nya yang gemilang dan kebutuhan bangsa Frank yang notabene Katolik Roma membutuhkan basis perekonomian dan budaya yang mumpuni dan bertamadun.

Beberapa abad kemudian setelah pertempuran Poiters yang dirayakan oleh segenap keturunan bangsa Frank di Barat dan ketika mereka menyebut Europenses maka seketika itu juga terbit kebanggaan yang membuncah mengenai kenangan besar masa silam yang berhasil mencegah “bencana islam “ ke daratan Eropa  hingga terusirnya khalifah terakhir dari Granada juga dalam semangat yang sama, namun ternyata tidak sedikit sejarawan barat sendiri yang kritis, termasuk David Levering Lewis, penulis buku Islam and The Making of Europe, seberapapun konflik internal yang melanda kekhalifahan Andalusia namun sejumlah hal penting yang perlu disesali dari terhambatnya pasukan muslim di poiters dalam Moussais La Bataille tersebut,

 pertama, masuk dan menjadinya bahasa arab sebagai bahasa resmi dan sehari-sehari semua rumpun yang bermukim di Andalusia termasuk dalam bahasa yang digunakan dalam banyak literature para ulama Andalus sebagai bukti perhormatan atas teks dan bahasa yang pada hakikatnya bergandengan erat dengan Islam. dibandingkan bahasa yang digunakan dalam territorial kerajaannya Charlemagne,bahasa latin hanya dapat dipahami oleh segelintir orang, bahasa Latin hanya dapat digunakan oleh para pendeta dan missionaris dan itu pun digunakan untuk membaca kitab dan berdoa, menurut Lewis, bahasa Latin berfungsi jauh lebih banyak untuk membingungkan, mengintimidasi, dan merendahkan umat beriman.

  kedua, Dinasti berikutnya dari bangsa Frank, Carolingian intoleran secara agama, miskin dalam intelektual, kaku secara sosial, dan terbelakang secara ekonomi, industri utama yang menghasilkan pendapatan terhadap pemilik faktor produksi dan kemana dialirkan untuk dibelanjakan hanyalah pertanian dan perbudakan, transaksi perdagangan pun hanya menggunakan barter dibandingkan dengan kekhalifahan islam di Andalusia, dalam hal intelektual juga demikian, perpustakaan biara agung St Riquer di Somme, hanya memiliki koleksi ratusan naskah bandingkan dengan koleksi perpustakan-perpustakaan di Andalusia. peradaban bangsa Frank belum ada apa-apanya itulah sebabnya sejumlah sejarawan barat melihat ulang, mungkin kekalahan bangsa arab-berber barangkali lebih baik atau mengandaikan sekiranya bangsa Frank yang kalah, dampak peradaban islam di Andalusia dapat tertular secara massive ke jantung masyarakat eropa,

  ketiga, di abad pertengahan yang kerap disebut sebagai abad kegelapan bukan saja gelap secara kebudayaan tetapi gelap dari toleransi dan perdamaian, kekalahan pasukan muslim di Poiters  oleh Charles Martel dengan kavaleri Frank nya ternyata tidak berdampak menguatnya hegemoni bangsa Frank namun mereka sendiri akhirnya dibuat sibuk dengan perebutan kekuasaan di antara bangsa Anglo Saxon, Bulgaria, Italia, Lombard, Avar Hungaria dan yang lainnya ditambah perebutan kekuasan itu melibatkan kepausan sebagai institusi keagamaan Katolik Roma dan setiap raja yang berkuasa harus tunduk kepada Paus. dan raja nya Charlemagne memiliki ambisi menyatukan semua suku-suku yang masih primitif dalam sebuah Imperium Christiantum. Kekaisaran Kristen, setiap kali penyerbuan dan penaklukan suku tersebut pihak yang ditaklukan wajib mengkonversi keyakinannya dari pagan menjadi Katolik Roma jika tidak maka pihak yang ditaklukan harus dibinasakan, dan inilah yang dikritisi oleh David Levering Lewis dalam buku nya tersebut, Islam and The Making of Europe (2008). Di Barat konversi Kristen menjadi bukan hanya resep untuk keselamatan rohani tetapi kelangsungan hidup kelompok itu sendiri, andaikan Charlemagne, Raja bangsa Frank mengetahui La Ikrahaa Fi Diin, mungkin ia akan menganggap betapa tidak pentingnya memaksakan keyakinan pada bangsa yang ditaklukan,

berbanding terbalik dengan kenyamanan sosial yang dialami oleh masyarakat Andalusia yang terdiri dari kalangan Muslim Arab, Beybers, Yahudi dan Kristen, tingkat pemahanan islamnya pun beragam, dari mulai kalangan sufistik, puritan hingga fanatik Kristen. Masyarakat Andalusia dengan khalifah pertama nya Abdurahman Ad Dakhil yang melarikan diri dari kejaran Abbasiyah mampu menyediakannya bahkan tingkat konversi memeluk islam dalam masyarakat Andalusia semakin tinggi, mereka itulah yang dikenang sejarah sebagai Mozarabic Muslim. Para pengambil kebijakan di Kekhalifahan Andalusia pun menjadikan toleransi agama sebagai langkah politik yang elegan dan memberikan maslahah yang nyata, sayangnya, kekhalifahan Andalusia pun tidak luput bahkan terlibat dalam konfilik internal, konflik internal tersebut mengakibatkan semakin menyusutnya kekuasaan kaum muslimin di Andalusia, pada akhirnya tahun 1491 Raja Ferdinand dan Ratu Isabella merebut Andalusia dan memberikan pilihan konversi ke agama Kristen bagi umat muslim dan yahudi atau keluar dari Spanyol.

Tulisan ini tidak bertendensi untuk membangkitkan kerinduan dengan masa lalu, karena ungkapan hikmah pernah mengatakan seandainya benar-benar masa lalu itu datang kita pasti benci dengannya  namun sesungguhnya yang ingin dikaji, masa lalu sebagai sejarah juga harus disikapi dengan adil.  kalau kita kaji secara kritis semangat Europenses yang menyebar ke daratan Eropa pada abad pertengahan hingga kini menjelma menjadi semangat kebencian dan blasphemy terhadap kedatangan kembali Islam di negara-negara Eropa, seperti tsunami yang menyapu dan air bah yang meneriang seperti itulah geliat Islam di Eropa, tak dapat dihalangi, tak dapat dicegah, bahkan Gereja-Gereja di Eropa yang telah ditinggal jamaahnya sebagian dibeli oleh asosiasi muslim atau komunitas muslim menjadi Masjid, tingginya populasi muslim di Eropa membuat sebagian orang yang masih merasa sebagai pewaris Charlemagne dan mewakili gairah Europenses serta perang salib merasa perlu membuat operasi dan kesatuan yang khusus menumpas umat Saracens ini. sebutlah Breivik, seseorang warga Eropa yang mengaku mewarisi semangat ksatria Templar, di belanda, ada seorang politisi dengan sikap anti islam nya membuat film fitna, atau yang terakhir film The Innocent of Muslim, yang melecehkan Nabi Muhammad SAW,

Seandainya para pembenci islam dengan mengaku-ngaku dan mengklaim mewarisi semangat perang salib dan mewakili gairah The Europenses akan belajar dari pengalaman Moussais Le Bataille, kemenangannya saja tidak mampu mengangkat Frankland menjadi peradaban yang beradab dan berbudaya di saat yang sama kini Eropa dan masih dan terus akan didera penyakit tingginya tingkat hutang dalam negeri, diantaranya telah di cap junk oleh beberapa lembaga pemeringkat, IMF pun sudah kehabisan tenaga untuk membail out dan menalang hutang negara-negara Eropa, kalau seorang ekonom dari Yale University pernah meramalkan tentang kiamat ekonomi modern maka itulah yang hanya akan didera  “kiamat sughra” itu hanyalah negara-negara Eropa, lebih spesifik lagi “ kiamat sughra “ tersebut hanya mengakibatkan tidak terpakainya pelbagai instrument keuangan modern yang tidak menjadikan prinsip jual beli sebagai landasannya. Disaat yang sama Kishore Mahbubani dalam buku nya The Asian Hemisphere, The Irresistible Shift of Global Power to The East (2011) memaparkan banyak faktor dan segi yang sesungguhnya bagi Barat telah kehilangan reputasi dan semangatnya sebagai yang paling banyak mengajarkan kesetaraan dan demokrasi, kesimpulannya Prof Kishore Mahbubani sepakat dengan yang telah dituliskan oleh Hamid Fahmi Zarkasy dalam bukunya Misykat (2012), sekarang saatnya untuk menengok ke Timur.

Maka komentar yang menyebut beruntung Eropa terselamatkan dari Islam sesungguhnya bukan menjadi berkah malah besar diratapi seandainya benar-benar termasuk orang yang berfikir.

Jakarta

26 Rabiul Akhir 1434 H