041266507034_3143284_n Dalam sebuah perdebatan di twitter ada seorang liberalis yang dengan ringannya berujar bahwa liberalisasi muslim dan hermeunitika  Al Qur’an perlu sebab Islam adalah ajaran rahmatan lil alamin. Karuan saja yang saya ketika sedang membaca tweet tadi di twitter agak tersedak dan kembali membawa ingatan dengan teori-teori Harvey Cox dengan Secular City nya, buku yang terbit pada tahun 1960 itu telah menjadi kopi hangat kalangan teolog di Vatican khususnya pada saat Kongres Vatican yang kedua.  Namun yang menariknya dari buku yang ditulis oleh Harvey Cox serta pernah menjadi buku pegangan “praktisi sekularisme” dapat ditarik definisi awal sekularisme berikut gejala nya. dari gejala nya sudah mulai bisa dianalisa konsekuensi dan implikasi yang serius dengan kebijakan yang sama pada lahan yang berbeda. Dalam lintasan filsafat Barat, Harvey Cox memang bukan yang pertama melontarkan gagasan sekularisasi sebelumnya Dietrich Bonhoefer, seorang Pastor Jerman, meramalkan akan datang masanya sebuah masyarakat tanpa agama. Dan sebelum dua orang teolog itu bersuara mengenai sekularisme, Ludwig Feurbach (1804-1872) mengatakan bahwa manusia merupakan prinsip filsafat yang paling tinggi justru harusnya agamalah yang menyembah manusia.
Dalam buku yang ditulis oleh seorang teolog Protestan itu, Harvey Cox mendefinisikan sekularisme mendefinisikan sebagai pembebasan manusia dari proteksi agama dan metafisika, pengalihan alam lain kepada dunia ini. setelah mendefinisikan gagasan sekular nya Harvey Cox beranjak pada akar kata sekularisme itu sendiri yang dalam etimologi Yunani sekularisasi adalah ideology sekaligus proses untuk menuju “kekinian” dari definisi dan gagasan yang diutarakan oleh Harvey Cox tadi menuntut implikasi pengosongan dunia dari nilai-nilai agama dan ruh merupakah hal yang mutlak agar bisa masuk ke era “kekinian” dan keyword yang bisa diketikkan dari proses peralihan adalah modernisasi. Dari sinilah ungkapan di atas melalui twitter tadi bisa dimaksudkan, dan seperti yang diutarakan oleh seorang tweeps bahwa seakan ingin mengatakan dalam ungkapan yang lain jika ingin menjadi “ rahmat bagi semesta alam maka tinggalkanlah Al Qur’an dan ubahlah akidahmu, jika tidak bisa buat tafsir heurmenitika nya dan ubahlah akidahmu dengan meyakini akidah lain sebab akhirnya kebenaran itu relatif “


Disinilah gongngya, ungkapan tadi secara kasar maupun halus pernah dilakukan dan akhirnya westernisasi yang dilakukan selama berkurun waktu dan tahun lama nya tidak membuat orang semakin sekuler malah semakin religius. Kishore Mahbubani (2012) seorang dekan dan professor bidang kebijakan publik dari Lee Kuan Yew School pernah menulis, awalnya barat demikian yakin modernisasi akan berbuah sekular tetapi dalam dunia Islam komunikasi modern terutama media modern telah membuat kaum muslim menjadi lebih sadar akan penderitaan kaum muslim di penjuru dunia sehingga menambah juga identitas religius mereka. Bahkan produk demokrasi yang ditawarkan oleh barat malah mengusung hasil yang berbeda sama sekali dengan yang diekspektasikan oleh Barat. Arab Spring adalah salah satu sample paling realistis bagaimana kalangan Ikhwanul Muslimin di Mesir, Tunisia, Maroko, Aljazair telah menumbangkan rezim otoriter dan korup dengan dan melalui proses demokrasi yang live disaksikan dari seluruh penjuru dunia, hasilnya, seperti yang ditulis oleh Kishore Mahbubani yang juga dosen sahabat saya, March To Modernity dapat melanda Asia tanpa mempengaruhi satu milliar orang muslim Asia.
Kembali ke awal tulisan sederhana ini, untuk menjadi modernisasi secara empiris akhirnya tidak perlu sampai mengubah akidah apalagi membuat tafsir dengan metode hermeunitika. Sebab dengan mengusung slogan semua agama benar saja sudah menjadi rancu, sebab konsekuensi dari slogan yang muncul saat era postmodern di barat  ini tidak akan ada dakwah dan kegiatan missionaris untuk menyeru manusia masuk dan memeluk agama nya. slogan tadi juga sebenarnya merugikan, disamping seolah menjanjikan perdamaian tetapi juga merusak ketenangan orang yang beragama, karena dalam kondisi “semua kebenaran relatif “ kondisinya berubah dari yakin menjadi ragu, dari ragu menjadi bimbang dan keraguan ini bermuara pada al shaqawah alias kegalauan. Begitu juga meminjam metode hermeunitika, pelaku dibuat galau antara sejarah dengan firman Tuhan, obsesinya mengubah firman Tuhan sesuai zaman nya tetapi zaman terus bergerak akhirnya meniru jejak metodologi hermeunitika bible di barat.
Padahal dari empat belas abad yang lalu melampaui sepertiga benua di dunia, islam menjelma obat yang mencerahkan. Saat abad pertengahan di Eropa yang berlumpur tengkorak-tengkorak manusia sebagai wadah minum hingga ketakjuban Charlemagne, Raja bangsa Frank, terhadap pemberian dari Harun Al Rasyid, sebuah Jam dinding dan mengira jam dapat berdentang sendiri sebab ada penghuni nya. kegagalan pasukan ekspedisi muslim dalam pertempuran di Poiters karena dihadang  seorang Duke  Charles Martel  disesalkan oleh banyak sejarawan barat termasuk diantaranya David Levering Lewis dalam buku nya “ God Crucible, Islam and The Making of Europe” (2008) menuliskan “jika pasukan Abdul Rahman Al Ghafiqi yang menang pada hari di bulan Oktober itu, Dunia Barat pasca Romawi mungkin telah tergabung ke dalam suatu kosmopolitan regnum Islam yang tak terhalang oleh batas-batas, seperti yang mereka hipotesiskan, kosmopolit tanpa kasta imam, digerakkan oleh dogma kesetaraan di antara orang-orang beriman dan menghormati semua agama”  sebalik nya kemenangan Duke Charles yang memimpin kavaleri bangsa Frank digambarkan oleh dua sejarawan barat, Jean Henry Roy dan Jean Devioise “Kemenangan Charles Martel harus dilihat sebagai sangat kontribusi terhadap penciptaan Eropa yang secara ekonomis terbelakang, terbalkanisasi,pecah akibat perang saudara “

Jika Rahmatan Lil Alamin harus dimaknai justru sekularisasi Islam dan liberalisasi sosok muslim dan dekonstruksi Al Qur’an harusnya mendapatkan contoh  bulat berhasil dari agama lain yang sudah bertatap muka dengan sekularisasi dan sekularisme dan diterima tanpa protes nyata tidak juga, sejak Harvey Cox membakukan gagasan sekular dalam buku The Secular City, tidak sedikit teolog yang berang dan mengkritisi gagasan sekular nya seperti E.L Mascal, seorang teolog sekaligus Professor di bidang sejarah teologi di Universitas London. Mascal berpendapat, sejumlah teolog yang menjadi sekular karena menganggap tidak ada atau tidak mengetahui peristiwa-peristiwa supranatural yang terdapat dalam bible. Namun pandangan Mascal ini hampir seperti representasi kelas yang minor karena kitab sucinya pun memang memiliki masalah. Berbeda dengan ajaran islam yang dalam ungkapan Syed Naquib Al Attas satu-satunya yang genuine dan bersandar pada wahyu atau firman Allah dalam Al Qur’an dan tradisi pemeliharan al hadits atau sunnah yang demikian ketat. Maka Islam memang rahmatan lil alamiin jika benar-benar dalam worldview dan frameworknya.

Lucunya, segelintir liberalis dengan semangatnya mendorong Al Qur’an di dekonstruksi, muslim di liberalkan, dan islam di sekularisasi klaimnya untuk modernisasi padahal tatanan pemerintahan dan ekonomi di era Usmani pun sudah beranjak sangat modern untuk masanya jika tidak dibajak oleh zionis tanpa harus mencopot akidahnya, tanpa harus menafsir Al Qur’an melalui hermeunitika, jika bukan itu semua sebabnya, agaknya misi liberalis dipertanyakan lagi karena alasan ideologis sudah tidak relevan lalu apa dasarnya selain hawa nafsu ? maka benarlah ungkapan ahli hikmah an naasu ahabba ila ma mana’a manusia itu mencintai yang dilarang

Menjelang Shubuh
8 Mulud 1434 H