Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu`amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berutang itu mengimlakan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikit pun daripada utangnya. Jika yang berutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakan, maka hendaklah walinya mengimlakan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki di antaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis utang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu, (Tulislah muamalahmu itu), kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit-menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Al Baqarah : 282

PurchaseOrderDulu dalam sebuah seminar akuntansi di STEI Tazkia, almarhum Prof Sofyan Syafri Harahap pernah mengemukakan ayat di atas ini sebagai salah satu ayat penting dalam Al Qur’an yang detail berbicara mengenai keuangan. Dan salah satu aspek pilar eksistensi negara tidak akan berdiri tanpa keuangan yang menopang nya, kalau  meminjam ungkapan bahasa batak yang pernah diungkapkan oleh Prof Sofyan Syafri Harahap rahimahullah, “ Hepeng Do Na Mangatur Negara On”  uanglah yang mengatur negara ini atau negara tidak akan dapat berdiri tanpa keuangan yang kuat.
Ayat  dari surah Al Baqarah : 282 7yang dikutip di atas bukan tanpa sebab, karena inilah yang menjelaskan sikap dan  pendekatan Al Qur’an terhadap permasalahan manusia antara manusia lain nya dan hubungan manusia dengan Allah SWT. Ketika Al Qur’an berbicara mengenai hubungan manusia dengan manusia lain nya yang terkait hajatnya sedemikian detail seperti halnya ayat yang berbicara mengenai warisan, transaksi hutang dan piutang, dan sebagainya.  Kelengkapan  penjelasan Al Qur’an mengenai hubungann manusia dengan manusia lain nya berhikmah terhindar dari ketidakadilan aturan manusia, terhindar dari kezhaliman dan praktik gharar serta keculasan. Praktiknya akuntansi konvensional demi kepentingan atasan bisa dengan mudah menekan bawahannya sebagai akuntan untuk memoles data keuangan nya baik itu menyangkut kas, buku besar, hutang usaha, piutang usaha hingga saat menyajikan laporan keuangan.


Kalau kita simak ayat Al Qur’an di atas yang sedemikian panjangnya, ada beberapa perintah implisit dan eksplisit dari Allah SWT yang ditujukan bagi kalangan akuntan dan stakeholder laporan keuangan, stakeholder disini bisa dimaknai user dari laporan keuangan atau stakeholder perusahaan seperti pelanggan atau supplier. Agar lebih jelasnya pada tulisan kali ini akan saya coba bahas dengan berbekal kitab tafsir jalalain dan mushaf Al Qur’an Tafsir wa Bayan Mufradat Al Qur’an  dan sejumlah kitab tafsir dalam bahasa daerah seperti Tafsir Al Ibriz yang disusun oleh KH Bisyri Mustafa.

يَا أَيُّهَاالَّذِينَ  آمَنُوإِذَااتَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى  أَجَلٍ  مُسَمًّى  فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ  بَيْنَكُمْ كَاتِبٌبِالْعَدْلِ

Dalam tafsir Jalalain, “ Ya Ayyuhalladzina Amanuu idza tadayantum bi daynin ilaa ajalim musamma faktubuhu wal yaktub bainakum katibun bil adl”  arti nya muamalat atau transaksi dalam muamalah seperti jual beli , sewa menyewa, transaksi penjualan dan pembelian dengan tangguh atau tempo, lafazh bi dainin misalnya pinjaman atau sewa “ ilaa ajallim musamma  untuk waktu yang ditentukan, . lafazh fak tubuhu  dalam tafsir jalalain diartikan untuk pengukuhan dan  menghilangkan pertikaian nanti nya. “ wa yaktub bainakum bil adl “  di akhir ayat ada lafazh “adl “ yang dalam tafsir jalalain, dijelaskan maksudnya benar tanpa menambah atau mengurangi jumlah hutang atau masa tempo nya, dalam  baris pertama surah Al Baqarah ayat 282 ini sebuah perintah yang jelas dari Allah SWT sebagai Rabb dan Syari ( pembuat hukum ) agar manusia disiplin dalam hal pembukuan akuntansi dari hasil hubungan berekonomi atau hasil dari aktivitas ekonomi, jika dalam tafsir Jalalain lafazh فَاكْتُبُوهُ perintah untuk mengukuhkan maka bermakna perintah dari Allah SWT secara implisit untuk mencatat setiap transaksi khususnya jika transaksi tersebut memiliki tempo tertentu atau term pembayaran tertentu. Dalam jejak sejarah peradaban Islam, sistem pencatatan secara doublebookkeeping pertama kali ditemukan oleh seorang akuntan negara yang bernama Al Mazindarani untuk mencatat pos pemasukan dan pengeluaran pembiayaan proyek negara.
Baris selanjutnya dalam tafsir Jalalain

وَلا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ فَلْيَكْتُبْ
Dalam tafsir Jalalain, lafazh يَأْبَ وَلا diterjemahkan ( dan janganlah merasa enggan atau berkeberatan, lafazh كَاتِبٌ dimaknai sebagai penulis bisa juga bermakna seorang akuntan. أَنْ يَكْتُبَ jika diminta untuk menuliskannya. كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ sebagaimana Allah  telah mengajarkanya menulis, dalam tafsir jalalain, yang terakhir ini memiliki penekanan, huruf Kaf berhubungan dengan  lafazh “ya;ba” maka perintah “fal yaktub “ sebagai penguat. dari baris kedua ayat 282 surah Al Baqarah  ini kita belajar mengenai perintah Allah juga diperuntukkan secara jelas kepada kalangan akuntan. Untuk memanfaatkan ilmu akuntansi yang telah diperolehnya membantu pembukuan pengusaha atau entreprenurship yang tidak memiliki kemampuan akuntansi yang matang, dan kalangan akuntan pun jangan merasa berkecil hati bila yang meminta untuk membuat dan menyusun pembukuan itu entreprenurship dari kalangan Small Medium Enterprise yang secara omzet usaha maupun asset nya belum banyak tumbuh sehingga walaupun dengan penghasilan yang tidak terlalu besar, kalangan akuntan tetap bisa mencurahkan ilmu nya untuk membantu pembukuan usaha kecil menengah mikro yang membutuhkan sangat tenaga akuntan untuk membantu pembukuan dan membuat laporan keuangan agar usaha nya mampu bankable. Atau dapat berhubungan dengan lembaga keuangan syariah.
Pada baris berikutnya
وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا
Dalam tafsir Jalalain, lafaz وَلْيُمْلِلِ dimaknai dan hendaklah diimlakkan surat itu, sedangkan dalam  mushaf tafsir wa bayan, lafaz wal yumlil diartikan dibacakan atau didiktekan, jika dalam tafsir Al Qur’an yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama, perlu adanya bukti-bukti tertulis dan  jika tidak ada, perlu ada nya saksi, bukti tertulis dalam hal ini bisa berupa invoice penjualan  surat jalan, kwitansi, surat bon hutang, yang kemudian diidentifikasi transaksi nya oleh akuntan kemudian dibukukan dalam alur bisnis transaksi akuntansi mulai dari jurnal umum >> jurnal penyesuaian >> buku besar >> laporan keuangan. Dalam ayat ini juga ada perintah untuk takut kepada Allah, perintah ini ditujukan kepada akuntan selaku user utama dari alur bisnis, takut kepada Allah ini bukan saja perintah normatif tetapi juga penegasan bahwa spirit akuntansi salah satu nya ketaqwaan seorang akuntan. Tanpa adanya filter moral  sistem informasi akuntansi secanggih apapun dapat dengan mudah dilewati oleh akuntan untuk berbuat yang tidak sesuai etika akuntan bahkan merugikan perusahaan itu sendiri. Kemudian terakhir
وَلا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا
Dalam tafsir jalalain, secara jelas disebut (janganlah dikurangi daripadanya, )maksudnya dari hutang nya itu. dalam tafsir wa bayan disebutkan arti dari wala yabkhas minhu syai’an “la yanqush minal haq alaihi “ jangan dikurangi sedikitpun jua dari yang sesungguhnya. Nilai sebesar hutang nya. konsekuensi dari taqwa benar-benar menjauh dari yang dilarang oleh Allah atau benar-benar berhati-hati agar pekerjaannya sebagai akuntan tetap diredhai oleh Allah Yang Maha Menatap.
Dari beberapa baris ayat 282 surah Al Baqarah ini, dapat diambil beberapa pelajaran
Pertama. Perintah untuk mengatur dan menyusun pembukuan akuntansi sudah secara implisit diisyaratkan oleh Al Qur’an. sekaligus perintah pembukuan akuntansi dilengkapi dalam Al Qur’an nilai-nilai penting yang mengiringi nya seperti keadilan, ketaqwaan, dan transparansi.
Kedua. Perintah dari Allah SWT dalam Al Qur’an secara eksplisit kepada kalangan akuntan untuk ikut membantu pengusaha atau entrepreneurship dalam  kelas micro small medium enterprise. Dan bila diminta, maka itu adalah kesempatan untuk membantu pengusaha dari sektor rill lebih giat lagi memasarkan produk dan mengembangkan usaha nya karena usaha mereka mampu lebih bankable
Ketiga, seberapapun pesatnya pengembangan sistem informasi akuntansi, dokumentasi bahan primer yang sangat penting untuk melakukan proses alur bisnis dan akuntansi, dari dokumentasi akuntan dapat melakukan tugas nya. dan ditekankan untuk takut kepada Allah, memberikan penekanan secanggih apapun sistem informasi akuntansi yang terimplentasikan peluang terjadinya fraud, embezzlement, bribery, collusion bahkan korupsi tetap selalu ada peluang nya, maka filter moral yang membatasi akuntan dengan perilaku di atas adalah tingkat rasa takut kepada Allah dan hari akhir.
Sekian  identifikasi, pengakuan, dan penyajian transaksi akuntansi dari perspektif surah Al Baqarah, sisa nya yang belum terbahas akan di bedah pada tulisan berikutnya

Jakarta
Ditengah Kepungan Banjir !