Batas Senja Di Andalusia, adalah sebuah judul novel yang tengah saya garap selama kurun waktu 2011-hingga saat ini, selama 2012 banyak terabaikan karena kesibukan saya berada di dunia kerja dan sedikit waktu yang bisa dialokasikan untuk mengumpulkan fikiran melanjutkan kembali novel saya. novel saya ini berlatar belakang, pendidikan ekonomi islam di sebuah menghasilkan manusia-manusia sebagai sarjana yang menjadikan keimanan dan takut kepada Allah sebagai titik point kembali secanggih manapun dan seluhur manapun pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah. novel ini menyajikan drama sehari-hari mahasiswa ekonomi islam di tengah dunia yang terus berubah dan zaman yang kian bergerak dinamis, tokoh-tokoh yang ada dalam novel tidak sepenuhnya sempurna namun kembali mereka menjadikan takut kepada Allah sebagai titik untuk kembali dan menemukan bahwa mereka adalah makhluk yang mulia dan pantas mengabdikan dirinya di jalan Ekonomi Islam secara lahir dan bathin.

novel ini dulu berjudul Pesan Dari Sungai Siak yang beberapa bagian nya pernah saya publikasikan di blog ini, namun karena biarkan tokoh yang saya rancang hidup dan menentukan alurnya sendiri maka judul di atas lebih mendekati thema nya.

kali ini saya akan menyajikan bagian kelima dari novel yang sedang saya rancang ini. bismillah

Interconnected

Mahmud memilih keluar ruangan dan ia berhenti di loby gedung  dan berjalan santai keluar dari loby untuk mengeluarkan sejenak dari hiruk pikuk. Ia sudah berjanji dengan Riza Rangga Pratama, otak sekaligus konduktor dari acara malam ini. dari luar gedung ia melihat wajah ibukota yang lain dari biasanya, di depan gedung nampak kawasan Pasar Baroe yang nampak bersinar dengan lampu-lampu menyala dan menyorot ke langit dan kelengangan jalan didepan Gedung Kesenian Jakarta. Satu dua Bus Way sempat melintas dan beberapa gedung di sekitar GKJ yang kalau dilihat-lihat masih mengidentifikasikan dirinya sebagai sisa bangunan kolonial. Di tempat parkir, empat bus AC yang mengangkut teman-teman Mahmud dari kampus Sekolah Tinggi Ekonomi Islam yang berada di sebuah bukit perbatasan antara Bogor dan Jakarta. Dua dari empat bus itu juga membawa sebuah banner panjang yang bertuliskan “Departemen Ilmu Ekonomi Islam, Sekolah Tinggi EkonomI Islam Tazzaka, Cimahpar “ dan satunya lagi “Departemen Akuntansi Islam, Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Tazzaka, Cimahpar” , serombongan akhwat berjilbab lebar dan panjang dengan satu persatu menggamit sebuah souvenir yang dibagikan  manajemen panitia acara sebagai bentuk kenang-kenangan dari panitia berupa sebuah miniature violin kayu yang dikemas dalam satu kotak souvenir bercorak batik.
Secara tak disadari, dari arah samping kanan, seoran dosen agak gemuk dan botak serta berkacamata berjalan sumringah menghampiri Mahmud. Karuan Mahmud yang sedang menggamit sebatang rokok kaget dan kembali menyembunyikan batang rokoknya di balik jas hitamnya
‘eh pak, sehat pak “ Tanya Mahmud basa-basi
“Alhamdulillah, kamu gimana kuliahnya “ Tanya dosen yang bernama pak Luki Ansary itu, “ eh, baik pak Alhamdulillah lagi mau ngambil judul skripsi pak …” jawab Mahmud kontan.
“siapa pembimbing nya mud ? “, tanya beliau seraya mengotak-ngatik gadget nya
Mahmud sejujurnya kurang suka jika pembicaraan diselipi dengan mengotak-ngatik gadget selain memberikan citra tidak menghormati lawan bicara, juga kerap miskomunikasi antara pemberi informasi dan penerima informasi dalam proses komunikasi. Namun karena dosen nya ini sangat berjasa yang selalu mau memberikan informasi perkembangan keuangan syariah global melalui twitter nya maupun berbicara langsung dengan mahasiswa-mahasiswa nya di kelas kuliah sebagai “bocoran”
“ehm, belum tau pak, pgn nya pak ahmad djuwaeni pak, dosen akuntansi sektor publik yang ser ba bisa itu pak, hehehe “  jawab Mahmud sekena nya
“hmm, beliau memang bagus, salah satu dosen senior di kampus ini yang keahliannya multidisiplin, lagian memangnya kamu mau mengambil topiknya tentang akuntansi pemerintahan ?? “
“pengennya sih gitu pak, soalnya topik-topik seperti perbankan islam sudah terlalu mainstream di kampus ini pak, apalagi kalau bicara tentang lembaga keuangan syariah wah, sudah sangat melimpah pak yang membahas, “ Mahmud beragumen
“gak masalah, mud. Asal ada data nya ja, tapi selama judulnya menarik kenapa enggak buat diangkat jadi skripsi mud …, okeh bapak mau pulang dulu ke sentul, “ pak luki mengakhiri pembicaraanya dengan mahasiswa akuntansi islam stei tazzaka itu sambil bergegas menuju sedan biru muda tahun 90an
Mahmud memandang sebuah pemandangan yang masygul, orang yang barusan bicara dengan beliau adalah konsultan keuangan islam senior di sebuah lembaga riset ekonomi islam ternama di ibukota,  tapi masih mau-mau nya bolak balik sentul Jakarta dengan sedan tua nya itu, hmm, ternyata di negeri bernama Indonesia masih ada seorang akademisi yang  hidup seada nya sesuai kapasitasnya.
Baru saja Mahmud menaiki bus kampus nya yang siap sedia berangkat kembali ke cimahpar, tak sengaja ia menoleh kea rah salah sudut gedung GKJ, seorang pria dengan jas hitam panjang dan kerah putih nan rapi sedang menenteng cello nya dengan penuh amat lelah. Mahmud menduga pria itu adalah konduktor tadi , dan dengan segera ia turun dari bus,
“maaf boleh saya bantu mengangkat cello nya “  tawar Mahmud mencoba untuk sopan
“eh makasih, ya hehe”  pria ber kacamata Giordano  menyerahkan tas besar yang berisi Cello
“Tadi, soalnya Cello itu abis dipinjam sama teman yang ikut meramaikan konser malam ini, padahal pengennya sih gak bawa cello itu hehehe “ tambah nya lagi
“oh ya kita belum kenalan, nama saya Mahmud Azmi Zen, tadi saya salah seorang penonton kakak, kakak taddi bagus memainkan Minuet from  Anna Magdalena nya, pas sekali hehe “
Eh ya makasih, itu juga sebenarnya coba-coba lhoh, lumayan susah memang karyanya Johan Sebastian Bach “
Obrolan mereka pada satu pos pembicaraan tentang music kelas dunia, tercatat dalam ingatan Mahmud sejumlah komposer kelas dunia dari zaman romantik hingga barok, dan sejumlah irama yang baru saja Riza Rangga Pratama mainkan tadi adalah irama dari zaman Barok, Johan Sebastian Bach, seorang komposer kelahiran jerman adalah salah satu dari komposer yang menghidupkan zaman Barok dengan sebuah warna yang berbeda, music klasik terlihat lebih syahdu dan religius.
“tapi tadi juga keren kak, memadukan antara nuansa etnik dengan klasik. Can’t imagine before, how sundanese etnic music one place with classical music, “  tanya Mahmud penuh kagum
“hehehe, tadinya mah itu gak sengaja pulang dari kampus trus mengerjakan tugas kuliah di laptop nyokap, ada folder “ Mang Koko “ eh ternyata terasa menusuk dan menyayat-nyayat. Apalagi pas tau arti dari tiap tembang yang disenandungkan oleh grup karawitan nya Mang Koko itu, antara mengesakan Allah,  memurnikan alam hingga mengajak manusia mencintai lingkungan sekitar nya “
“iyah apah “ tanya Mahmud penuh rasa heran
Oh iya, seperti tembang “Demi Wanci “, secara tidak langsung tembang tersebut sedang menafsirkan surah Al Ashr yang memberikan nilai betapa pentingnya waktu dalam hidup manusia “
“Hmm, jadi inget time value of money “, Mahmud mulai berfikir
“tepat, surah yang tergolong pendek dalam Al Qur’an itu secara tidak langsung juga mengkritik perilaku pemakan riba yang menjadikan time value of money sebagai argumennya, coba aja lo perhatikan disebutkan dalam surah Al Ashr bahwa hampir-hampir seluruh manusia berada dalam kerugian, tetapi kerugian itu menjadi tidak berarti ketika manusia mengamalkan amal shaleh dan amal yang benar serta senantiasa menasehati dalam kesabaran dan kebenaran, nah pelaku riba beragumen bahwa adanya bunga sebagai kompensasi atas preferensi waktu yang dikorbankan untuk dialokasikan kepada kepentingan lain entah itu dalam wujud tabungan atau pinjaman, sang pelaku riba seolah-olah ingin mengatakan “ waktu gue udah gue korbankan buat elo, jadi wajar donk sebagai ganti rugi nya gue minta sama elo bunga nya agar gue tetap menikmati waktu gue sebelum gue korbankan ke elo “  tapi Al Qur’an dengan cerdas mengkritik logika ini, disebutkan bahwa hakikatnya manusia berada dalam kerugian dalam menggunakan waktu nya, jadi menurut Surah Al Ashr, argument waktu yang dikorbankan sebenarnta tidak pernah ada. Yang ada pilihan demi pilihan sebagai khalifah fil ardhi dalam mengelola sumber daya nya. Entah itu dalam bentuk finansial maupun physic atau morality. Tatkala kita melakukan praktik riba, kerugian kita dua kali lipat. Yang pertama kerugian pertama kali memutuskan praktik riba karena masalah time value of money atau contoh tadi gue itu, opportunity cost, yang kedua secara jelas kita telah melakukan hal yang dilarang oleh Al Qur’an secara jelas dan tegas. “
“ maksud kakak , yang kedua itu semakin mengkonsumsi yang haram, semakin tinggi tingkat disutility nya gitu, yee itu khan kurva halal haram nya Adiwarman Karim kale hehehe “ Mahhmud teringat saat ia menerima pelajaran mikroekonomi islam di semester 5.
“yoi hehehe, kalo yang gue pahamin dari kurva Indifference semakin banyak produk halal yang kita konsumsi, maka tingkat kepuasan seorang muslim semakin tinggi, dan semakin banyak produk haram yang kita konsumsi maka semakin besar pula tingkat ketidakbahagiannnya yang istilahnya disebut sebagai disutility, “
“ gitu yah ?, memang sepintas terlihat benar, tapi bayangkanlah jika semua orang meningkatkan konsumsi nya melebihi batas wajarnya hingga tingkat kemewahan. Karena pembatasnya hanya budget constraint, yang arti nya “selama duit gue masih banyak, kenapa enggak gue berkonsumsi lebih, khan  halal juga “ maka menurut gue, rezeki sebenarnye soal cukup lagi za, kalo produk halal yang elo konsumsi sekedarnya saja, apakah belum bahagia ?? hehe “
“eh iya juga sih, seolah-olah kebahagiaan terbentang dari sudut kurva ke sudut kurva lainnya, dan kita memvonis, kebahagiaan baru mencapai peak kalau konsumsi produk halal mulai kepentok budget hehe “
Melisa, seorang akhwat dari rombongan kampusnya Mahmud Azmi Zen memanggil dari tangga bus
‘eh mud mau balik gak loe, buruan “ teriaknya cempreng
“eh men, sory yah gue balik dulu, keren thought nya, kapan-kapan kita diskusi lagi “ Mahmud tergesa mengejar bus nya yang segera berangkat,
“ok,  seru juga diskusi dari soal music klasik hingga teori ekonomi hehehe “ tawa nya berderai
Di dalam bus, Mahmud merasakan dua kebahagiaan pada malam itu, tak disangka juga dari soal hoby, sama-sama penggemar musik klasik, tembang sunda, hingga teori ekonomi. Kerennya itu semua bisa saling interconnected.
Senyum lebar mengembang di wajah Mahmud menemani perjalannya ke pulang ke bukit cimahpar