galau

galau

Diksi dalam bahasa arab yang paling tepat untuk menggambarkan kegalauan adalah Al Shaqawah  yang arti umum nya kegalauan atau ketidak tentraman, dari diksi Al Shaqawah ini muncul beberapa diksi dalam bahasa arab sebagai derivasi nya, bisa berupa Huzn yang berarti kepiluan teramat mendalam, khauf, prasangka dan ketakutan pada sesuatu yang akan terjadiwalau belum tentu, Hummum, bimbang dan gelisah pada apa yang belum terjadi hasrah atau penyesalan tanpa kesudahan,
Kalau dirunut turunan kata dari al shaqawah bisa juga menjadi shaqa, yashqa, al ashqa, shiqwah dan al shak, yang merunut pada keragu-raguan. Keragu-raguan ini seperti yang diindikasikan dari beberapa diksi kata dalam bahasa arab tadi menyimpulkan kegelisahan/keresahan/ketakutan dan bahkan pilu pada masa depan yang belum diketahui kedatangan nya atau gelap nya informasi dan susah nya jalan kehidupan. Agar bisa menjadi orang yang terbebas dari galau syarat nya ia harus mengetahui. Mengetahui mana yang haqq dan yang mana bathil, mana yang betul dan keliru ( shawwab wal khatta) yang bagus dan jelek ( al hasanah wal sayyi’ah ) yang bermanfaat dan yang berbahaya ( al muslih wa ma yadurr ) sebagaimana juga dapat diketahui dan membedakan apakah arti iman dan apakah arti kufur. Petunjuk dan kesesatan ( al huda wa  dhalal ) dan lain sebagai nya, saat itulah kegalauan mulai bisa diatasi karena kita dengan hakikat yang sebenarnya mengetahui.


Bukan tanpa sebab kalangan filosof di barat kerap kali terjebak dalam kegalauan, seperti yang menolak pengetahuan atau dikenal dengan kalangan sophist, kalangan yang selalu berangan-angan kebenaran adalah relative seperti yang kerap diusung oleh para liberalis, karena keraguan raguan mengalahkan segala hasrat dan kekuatan untuk mengetahui mereka sendiri kerap terjebak benar-benar tidak tahu bahwa mereka menolak untuk mengetahui. Karena meyakini bahwa kebenaran adalah relative mereka pun kerap galau karena pada akhir nya mereka meyakini kebenaran absolute bahwa kebenaran itu sesungguh nya relative dan mereka yang menafikkan hal itu bagi kalangan liberalis dianggap tidak sesuai dengan perkembangan zaman namun faham ini semakin lama semakin menyusut karena hakikat nya tidak ada yang sungguh-sungguh relative apalagi soal perbedaan tegas antara mana yang shawwab atau khatta, al sadiq aw al kadzib ( yang sejati atau yang palsu ) yang baik atau buruk ( al khair aw syarr) jalan yang lurus atau menyimpang ( sabil al rusyd wa sabil al ghayy)
Untuk mengetahui bahwa mana yang sungguh merupakan petunjuk dan mana yang jalan yang sesat, Allah SWT menurunkan kitab suci nya yang bernama Al Qur’an berikut dengan seorang “Trainer” yang memberikan arahan, panduan,pelatihan, pelajaran dari mengoperasikan isi kehidupan di dunia melalui buku pentunjuk yakni Al Qur’an hingga dapat menundukkan nya agar memperoleh keredhaan yang menciptakan manusia dan seluruh makhluk lain nya, sang trainer itu lah Baginda Nabi Muhammad SAW puncak segala yang dicintai di seluruh alam semesta, telah memberikan training kehidupan pada bangsa arab yang barbar dan diabaikan peradaban dunia hingga berhasil menjadi bangsa yang berpendidikan dan menaklukan sepertiga dunia di bawah panji-panji Islam. dan dalam buku petunjuk itu terdaftar dan sarat petunjuk menuju jalan yang benar atau diredhai Allah dan mana jalan yang dimurkai oleh Allah, kalau dalam ungkapan nya mbah Kiai Bisyri Mustafa ketika menafsirkan surah Al Baqarah : 256 dalam tafsir nya yang berbahasa jawa dan sangat fenomenal, Al Ibriz
“sira aja keliru nerjemahaken ayat iki, upamane kaya mengkono “wong mlebu agama iku merdika, mlebu agama islam  yakana, mlebu agama nashrani yakana, mlebu agama budha ya kana, jalaran maksud ayat iki ora mengkana, balikke maksud mangkana, tumraping wong kang sehat fikiranne, perkara kang bener lan kang sasar iku wus terang, mesthine wus bisa mikir dhewe, ya’ni agama islam iku agama kang haq kang kudu dirangkul, jalaran katerangan kang terang
Nah, kalangan yang menolak pengetahuan akan jalan kebenaran dan kesesatan, sudah mendapatkan “ancaman” dari Allah SWT dengan penghidupan yang sempit,
Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. Thaaha : 124
Lafaz dhanka dalam ayat tadi adalah salah satu diksi yang menjadi turunan dari istilah Al Shawqah yang bermakna kesempitan, sesak, atau keadaan yang sempit dan susah, memalingkan diri dari peringatan Allah SWT berdampak pada urusan dunia dan akhirat dengan ungkapan Al Qur’an yang lain, khasiru anfusahum,  kerugian bagi diri mereka sendiri.
Maka kegalauan dalam perspektif Al Qur’an dan keimanan bagi seorang muslim tergantung keadaan  iman nya, semakin mendekat untuk taat kepada Allah maka Allah Ta’ala janjikan banyak kelebihan baik itu rezeki, keluarga, ilmu, amal, kehidupan bahkan diberikan akhir kematian yang baik. Namun semakin jauh dan ingkar dari Allah setumpuk kegalauan merongrong kestabilan jiwa dan ketentraman bathin. Sebagaimana salah satu gambaran Al Qur’an  “ ma’isyatan dhanka “