Memasuki bulan januari tahun 2013, ada banyak hal yang tiba-tiba menyentak dan menggugah kembali “rasa” untuk bisa tetap sadar. Sekedar “rasa” untuk tetap bisa faham daripada sekedar tahu dan kesadaran itu menggedor kembali ruangan memori ingatan empat tahun yang lalu. empat tahun saat masih menjadi anak kuliahan, masih bertamengkan almamater biru dongker dengan symbol kampus di pinggir kanan nya, dan masih menenteng tas serta berkaos kerah. Sekitar empat tahun yang lalu, dunia kampus merupakan dunia yang paling layak dinikmati oleh semua pemuda yang insyaf mengenai usia emas diri nya menjadi pemuda idealis. Harus diakui memang idealisme adalah barang terakhir yang dimiliki oleh anak muda, selepas masa-masa itu kita di hadapkan pada dunia yang lain.

Selama setahun itu juga, saya bergelut dengan dunia kerja, bukan nya terjebak tetapi tiba-tiba terbangun dan sedang terdampar berada di dunia lain yang selama ini tak pernah saya ketahui atau kenali karakter industrinya, tujuan serta pelaku industry nya. ya selama setahun itu juga saya sangat jarang menulis di blog saya ini apalagi sampai membuka-buka buku hingga paper yang selama ini tak pernah absen saya bedah untuk dijadikan bahan analisa. Tetapi di saat saya akan mengakhirinya, ada sejumlah point penting saya berdialog dengan diri saya sendiri, bukankah pengetahuanku mengenai dunia sistem informasi akuntansi menjadi lebih jelas ? dan bukankah alur bisnis hingga detail transaksi akuntansi di dunia bisnis baik konvensional atau pun syariah dan dari sanalah sesungguhhnya dapat diketahui bahwa bisnis yang dijalankan dengan konvensional atau syariah memang sangat berbeda. Menyamakan nya pun sangat terlalu sederhana
Selama setahun itu juga, saya hampir tidak pernah lagi berkomunikasi dengan rekan-rekan seperjuangan di Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam dan agar idealisme semasa berjuang sebagai mahasiswa tidak tergerus arus industry, kerap pulang kerja menyempatkan diri untuk berbincang dengan salah seorang sahabat saya yang juga banyak membantu saat masih di FoSSEI dan kami berbincang dengan kesibukan masing-masing dan akhir nya banyak juga kembali membahas mengenai current issues yang banyak terjadi di dunia ekonomi dan keuangan khusus nya yang berkaitan dengan ekonomi islam.
Walhasil pertemuan beberapa minggu sekali seperti sangat efektif mengembalikan semangat dan idealisme saya sebagai alumni Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam. selama setahun itu juga, hampir banyak perbendaharaan mengenai sistem ekonomi islam dengan segala instrument dan perangkat dan dampak nya untuk perekonomian global tiba-tiba lenyap dari ingatan, maka weekend, menjadi saat terbaik untuk menggali dan kembali belajar dari mulai membaca buku ringan mengenai fiqh muamalah hingga yang berat seperti IFRS dan textbook financial accounting. Sampai akhir nya ketika saya keluar untuk mencari suasana baru saya menemukan bahwa SE.I itu arti nya sebuah perjalanan panjang yang baru saja dimulai, fase demi fase nya, tabiat-tabiat orang-orang yang berada di sekeliling nya hingga tujuan akhir nya kebahagiaan dunia dan akhirat.
Ya, Ekonomi Islam harus membahagiakan banyak orang dengan eksistensi nya, dengan instrument dan perangkat yang dimiiki nya Ekonomi Islam mampu menjadi sistem ekonomi yang mampu menggabungkan pembangunan ekonomi dengan qana’ah manusia-manusia yang dibangun nya, Ekonomi Islam dengan instrument moneter dan fiskal nya mampu membangun perekonomian sebuah negeri yang tidak menjadikan angka demi angka sebagai standar terentas nya kemiskinan, sebab studi di lapangan menunjukkan penilaian konvensional seperti itu menyebabkan bias apakah dari masyarakat pra sejahtera menuju masyarakat sejahtera dengan kenaikan daya beli sehingga memenuhi kebutuhan pokok nya atau sesungguh nya yang sedang dimainkan oleh pemerintah data nya kemiskinan terentasi hingga benar-benar tak ada lagi keluarga yang miskin karena sudah tak sanggup lagi memenuhi kebutuhan hidup nya,
Setahun dengan gelar SE.I adalah saat-saat banyak berbuat dan bekerja dan sejumlah kontemplasi. Kontemplasi itu tidak langsung saya tumpahkan di blog, tetapi terkadang melalui twitter dari mulai menerjemahkan nasihat para ulama salaf yang banyak hilir mudik di twitter hingga mentweetkan kembali nasihat yang tersimpan di mahfuzhat di twitter, dan saat itulah saya banyak memperoleh kebahagiaan tersendiri ketika menerjemahkan kata-kata ulama karena saat menerjemahkan nasihat itu sesungguh nya tertuju pada penerjemah itu sendiri sebelum dibaca oleh orang lain.
Tulisan sederhana ini akan saya akhiri dengan ungkapan dari seorang ulama di twitter yakni dari Ustadz Faisal Fath @amirfath
Mereka salah, menterjemahkan kebahagiaan dg kesenangan hawa nafsu. Salah, ikut hawa nafsu itu jalan kesengsaraan. #beramallah

25 Sapar 1434 H
Sambil mendengarkan tembang-tembang nya Emha Ainun Nadjib, “ Antal Adzim”