Dalam sebuah statetemen di Twitter, ada seseorang yang menyatakan bahwa adalah percuma HKBP mendirikan Gereja Kristen di Bandung, karena tidak mungkin orang sunda beralih menjadi Kristen Batak. Statemen ini seolah terlihat logis tetapi tanpa disadari membawa kerancuan simplicity yang amat dalam. Statemen yang berangkat dari sejumlah konflik diseputar pendirian Gereja di Jawa Barat terutama di daerah-daerah notabene muslim dengan praduga akan terjadi kristenisasi. Serentak kalangan liberal serta diback up kalangan media Kristen memberitakan akan “ketidakadilan” yang dilakukan umat muslim dan telah melukai toleransi beragam di Indonesia.
Azyumardi Azra dalam tulisannya di kolom Resonansi menilai ada sisi lain yang selama ini tidak pernah dilihat oleh publik sebagai bagian atau akar dari sejumlah masalah beragama di Indonesia. Azyumardi Azra merujuk pada laporan yang disusun oleh ICG yang berangkat dari gesekan umat beragama di bekasi untuk mencari akar masalah yang paling mendalam. Secara mengejutkan International Crisis Group,sebuah lembaga yang bermarkasi di Belgia dan dikomandani oleh seorang Indonesianis, Sidney Jones, merilis laporan yang menyebutkan bahwa maraknya sejumlah gesekan dan konflik horizontal antar umat beragama dipicu oleh serangkaian aksi kristenisasi yang paling aggressive dilakukan di Bumi Pasundan yang secara cultural begitu kental dengan ajaran Islam.
Oleh karena itu, saya menganggap statemen di twitter tersebut sangat tidak rasional dan melupakan sejarah panjang penginjilan di bumi pasundan. Sekalipun demikian agresivenya para penginjil melakukan penginjilan di bumi pasundan namun mereka juga mengakui bahwa Etnik Sunda adalah salah satu etnik yang sangat sulit untuk ditaklukan oleh para misionaris. Mereka menangggap, Bumi Pasundan sangat sulit untuk ditaklukan disebabkan tiga hal: Kuatnya dominasi kepercayaan lama di sana, dalam hal ini Islam, mengakarnya tradisi dan kuasa gelap di Jawa Barat, luasnya alam jawa Barat sehingga menyulitkan gerak penginjil menyebarkan firman tuhan di Bumi Parahyangan tersebut. Namun tidak bisa dipungkiri juga selaian dalam program Doulos, dicantumkan tugas bagi para anak-anak tuhan adalah mewartakan injil ke suku-suku terasing di Indonesia, yang dimaksud suku-suku terasing di Indonesia ini adalah mereka yang belum memeluk atau menerima Yesus Kristus sebagai juru selamat mereka.
Saya melihat, seorang Azyumardi Azra yang selama ini kental mendukung idea-idea pluralism bisa juga membuka mata atas fakta yang selama ini dianggap tidak pernah ada oleh publik sebagai akar masalah tidak berjalannya toleransi umat beragam secara harmonis di Indonesia. Karena sebuah fakta juga Jawa Barat sejak tahun 1851 hingga  2010 menjadi bidikan utama kalangan penginjil dengan beragam cara mulai dari melakukan pendekatan ke kalangan pribumi lalu mendidik mereka untuk kemudian menjadi penginil pribumi agar bisa menyebarkan injil dengan leluasa di tengah-tengah pribumi hingga melakukan inkulturasi ajaran Kristen ke dalam budaya Sunda seperti yang sering kita saksikan dalam sebuah .program Tv Swasta local di Banten dengan nama “Gentra Kahuripan “. Dengan bahasa sunda yang halus mereka dan ditambah degung sunda bernafaskan kristiani, identitas etnik sunda sebagai bagian dari umat muslim sedang dikaburkan dan dibentuk opini etnik sunda bukan hanya beragama islam.
Gereja mereka pun membentuk sendiri pada tahun 1934 dengan nama Gereja Kristen Pasundan setelah melalui pembentukan pos-pos penginjil di jawa barat. Di klasis Priangan terbentang pos penginjil dari mulai Bandung hingga Cilenyang. Di klasis Bogor, terbentang pos penginjil dari mulai Bogor hingga Palalangon. Di klasis Jakarta, juga dibentuk pos-pos penginjil untuk melayani etnik sunda mulai dari Cawang hingga Tanjung Priok. Dan seterusnya. Oleh karena itu adalah benar tidak mungkin urang sunda beralih jadi Kristen batak, tetapi persoalannya apakah mungkin Kristen hanya monopoli orang Batak ??

 
Kembali dalam laporan yang dirlis oleh International Crisis Group tersebut melaporkan bahwa daerah Bekasi menjadi lahan subur bagi para misionaris melalukan “pelayanan terhadap domba-domba tersesat” disebutkan sejumlah aktivitas penginjil yang berpengaruh di Bekasi. Mereka terdiri dari yayasan penginjilan local dan ada yang berasal dananya dari luar negeri. Seperti yayasan Mahanaim dengan menjadikan kaum dhuafa sebagai target sasarannya, Joshua Project yang menargetkan seluruh komunitas umat muslim di luar yang sudah beragam Kristen, Beja Kabungahan, sebuah lembaga yang berpusat di AS yang resmi menjadikan urang sunda sebagai target bidikannya. ICG baru merilis studi kasus di Bekasi. Belum menguak di daerah-daerah seperti Ciranjang yang menurut Ahmad Mansyur Suryanegara (2009 ) sebagai mata baji atau pemutus kontak antar wilayah islam satu dengan lainnya. Di Jawa Tengah yang dijadikan daerah-daerah mata baji Kristen antara lain Ungaran, Magelang, Surakarta dan Yogyakarta. Ditambah dengan statemen seorang Tokoh Kristen,
”Indonesia merupakan sebuah ladang yang sedang menguning, yang besar tuaiannya! Ya, Indonesia siap mengalami transformasi yang besar. Hal ini bukan suatu kerinduan yang hampa, namun suatu pernyataan iman terhadap janji firman Tuhan. Ini juga bukan impian di siang bolong, tetapi suatu ekspresi keyakinan akan kasih dan kuasa Tuhan. Dengan memeriksa firman Tuhan, kita akan sampai kepada kesimpulan bahwa Indonesia memiliki prakondisi yang sangat cocok bagi tuaian besar yang Ia rencanakan.”

Jauh sebelum kita beranjak pada isu-isu yang sarat kepentingan politis, pluralisme dan sebagainya. Keadilan bagi umat islam ketika masih ada akar masalah yang menyinggung antara satu elemen umat beragama di Indonesia. Sebaliknya bagi umat muslim, yang perlu kita lakukan adalah bertindak startegis dan tidak perlu reaktif. Karena sebagaimana yang diakui oleh seorang penginjil di Gereja Kristen Pasundan dalam tulisannya

            Karena di “Tatar Sunda“ sudah ada “ tanaman “ yang telah lebih dahulu tumbuh dan berakar kuat di kalangan penduduk pribumi, maka benih – benih Injil yang disebarkan tidak dapat tumbuh sebagaimana yang diharapkan. Itulah sebabnya orang – orang Sunda Kristen jumlahnya dapat dihitung dengan jari.

            Kini Gereja Kristen Pasundan tidak lagi dikhususkan untuk orang Sunda Kristen sana, bukan pula Gereja Suku, melainkan sesuai dengan perkembangan zaman, menjadi Gereja Wilayah.
Menjadi bagian dari muhasabah umat  Islam PR kita lebih banyak sebelum sibuk dengan saling membid’ahkan satu sama lain. Akibatnya inkulturasi Kristen masuk ke dalam budaya Sunda yang secara cultural demikian lekat dengan Islam. Islam ka Sunda Jiga gula jeung peupeutn. , demikian sebuah ungkapan yang berasal dari kearifan lokal yang telaj disepakati oleh semua

budayawan sunda. Atau ungkapan lain Mun teu ngarah moal ngarih.mun teu ngakal moal ngakeul, mun teu ngoprek mol nyapek  yang artinya kalau tidak berusaha takkan mungkin menanak nasi, kalau tidak menggunakan akal nanti takkan menanak nasi, kalau tidak bekerja takkan mungkin bisa makan. Sebuah ungkapan yang sejalan dengan Surah Ar Rad :11 dan seperti halnya Ajib Rosidi yang banyak menulis mengenai Islam dengan ajaran sunda.  Kemudian ada juga sebuah buku yang menelaah akar budaya sunda dalam perspektif antropologis dan sosiologis yang berjudul  “Pergumulan Islam dengan Kebudayaan Lokal di Tatar Sunda “ yang disusun oleh Cik Hasan Bisri,Yeti Heryati, Eva Ruvaidah (2005 )
Maka memang kita akan menilai betapa sia-sianya para penginjil ini memisahkan sunda dengan Islam. Selain itu semakin tidak berartinya isu-su yang digencarkan kepada publik tentang pluralisme dan multikulturalisme saat tak ada artinya ketika elemen dasar dalam toleransi semakin ditnggalkan dan dilukai oleh kalangan fundamentalis Kristen bukan saja oleh kalangan yang selama ini disebut islamis garis keras. Agaknya kita perlu menilai ulang relevansi pluralism di Indonesia
Kaki Gunung Salak
15 Muharram 1432 H