Di Jakarta yang tua, Jakarta yang betawi
Jakarta yang Ciliwung
Ketika dari Buitenzorg bergerak kereta-kereta ke utara
Dengan dua belas kuda putih sang Gubernur
Dalam derap  dua di jalan tanah
Tanah dijarah, bumi yang dijajah
Sekian kali, sekian lama oleh sekian orang
Orang Asing dan beberapa pribumi
Di Jakarta sini, ya, Jakarta yang Betawi
Jakarta yang Rijswijk, yang Mester, yang asli Betawi
Jakarta yang Empat Serangkai yang Saiko, Sikkikan Kakka,
Taufik Ismail, Rijswijk 17, 1966)

Ibukota negeri kita yang bernama Jakarta baru saja atau secara kasar nya baru saja menghelat pemimpin baru yang mampu memegang Ibukota menjadi kota yang aman dan nyaman bagi warga nya di tengah derap pertumbuhan ekonomi bersinggungan dengan laju kesejahteraan yang mengakibatkan ledakan kelas menengah baru pada tahun 2011-2012 ini. Jakarta seperti yang dilukiskan oleh sastrawan popular sekaligus pernah mengenyam pendidikan di IPB, adalah kota masa lalu yang pernah dijajah asing, seperti Portugis, Jepang, Belanda, atau pernah dijajah oleh sekian pribumi dari kerajaan lokal, seperti Tarumanegara, Kerajaan Galuh, dan lain nya, seakan punya harapan baru dengan momen pilkada Jakarta 2012.
Ketika itu, hampir semua cagub mengajukan ide dan narasi besar mengenai perubahan wajah Ibukota yang identik dengan apa yang dulu pernah digambarkan oleh Remy Sylado “andai aku kaya akan kubeli Jakarta dan kucelup berwarna putih” tidak terkecuali yang dideksripsikan oleh Remi Sylado sebagai premanisme dan kejahatan kriminal. Maka lengkap sudah pelbagai penyakit ibukota dari level makroekonomi hingga level mikroekonomi belum ditambah data empiris penelitian sebuah lembaga kesehatan yang menyatakan bahwa tidak sedikit warga ibukota yang mengalami gejala depressi dan stress.lengkap sudah penderitaan sebagai warga ibukota yang dipukul dari pelbagai sisi.
Demokrasi membuka wajah nya sebagai ruangan bersama warga negara dan warga ibukota untuk melukiskan kegundahan dan kegelisahan jiwa nya sebagai warga ibukota dari negara yang berdaulat. Namun paradoks nya momen demokrasi melalui pilkada DKI Jakarta ini seakan kelebihan harapan dan ekspektasi. Walaupun hanya “senjata “ satu-satu nya warga untuk menentukan arah hidup kesejahteraan dan kemapanan hidup nya namun tetap tidak bisa dipungkiri, pelaksanaan demokrasi di Indonesia masih  jauh dari karakter memberdayakan dan mencerdaskan.

Seolah-olah euphoria demokrasi dalam pilkada DKI Jakarta menghembuskan senyuman baru tentang Jakarta yang lebih baik, dari hasil pilkada Jakarta kemarin secara empiris sisi emosional warga ibukota lebih mendominasi preferensi pemimpin ibukota yang secara cerdas ditangkap dengan angle akurat oleh media mainstream. Disinilah setiap kali pemberitaan seputar pilkada DKI Jakarta tidak bisa lepas dari kepentingan sang pemilik media dengan eksistensi bisnis dan another interest terhadap masa depan ibukota sebagai miniatur Indonesia. Fakta yang berkelindan dengan opini jelas buka lagi  berita yang layak disiarkan oleh media, walaupun akhir nya media memberikan kata penutup “ akhir nya pemirsa lah yang menentukan”, meminjam ungkapan Edy Santoso, praktisi komunikasi media massa, ungkapan tadi lebih mencerminkan sifat media yang “sok suci” dan seakan-akan membersihkan diri nya dari pelbagai keberpihakan malah mendeklarasikan sikap tidak resmi media untuk berpihak ke salah satu cagub DKI Jakarta.
Seorang sahabat saya pernah menuding, kalau dengan menganalisa seperti ini bisa jadi akhir ya jatuh pada menyalahkan sistem demokrasi itu sendiri. Padahal sebenar nya tidak, kalau debat nya Obama dan Romney pada pilpres Amerika yang baru saja dilangsungkan beberapa minggu yang lalu sanggup memberikan inspirasi menggugah bagi warga negara Amerika Serikat yang juga sedang tertimpa musibah badai sandy, apakah harus nya proses demokrasi di Indonesia tidak lagi dikendalikan oleh kecerdasan user nya selaku penentu output dan outcome dari proses demokrasi malah sibuk dengan euphoria demokrasi itu sendiri.
Seperti Apa Dirimu Seperti Itu Juga Pemimpinmu
Dari hingar bingar nya euphoria penyelenggaran pilkada  DKI Jakarta perhatian kita kembali bagaimana harus nya substansi kepemimpinan gubernur dan kinerja nya  yang sudah selayak nya ditagih atas semua janji-janji dan program –program yang ditawarkan oleh sang calon gubernur. Dalam sebuah diskusi di Kemang, seorang sahabat saya mengungkapkan sosok gubernur yang saat ini memimpin Ibukota memang layak dipilih karena performa nya telah teruji dengan kepemimpinan nya di Solo dan itu bisa dilihat dari kemampuan nya menyediakan sarana infrastruktur dan responsifitas sang walikota Solo terhadap warga nya dan itu, menurut beliau, terindikasi dari tingkat kebahagiaan hidup yang tinggi.
Disinilah seorang akademik pun bila tak memahami persoalan dan substansi solusi nya akan sibuk dengan yang baru diungkapkan oleh media sebagai asumsi belum lahir dari penelitian yang empiris. Keberadaan infrastrutur di wilayah keprovinsian di Indonesia perlu dibedakan mana sarana infrastruktur yang bertanggung jawab kepada  provinsi, walikota dan kabupaten, dan fakta nya di Solo, saat sang walikota masih menjabat, kemacetan yang komplek masih saja terjadi di sarana infrastruktur yang menjadi bagian tanggung jawab walikota. Begitu juga dengan tingkat kepuasan warga terhadap pemimpin nya dilihat dari tingkat kebahagiaan warga nya. persoalan nya juga klasik, yang pertama pernah kah ada kajian riset empiris yang menjadikan variable kinerja kepala daerah dengan kepuasan warga dan tingkat kebahagiaan nya sebagai hipotesa. Kalau mau dihitung secara data kependudukan jika wilayah dalam provinisi itu sudah sejahtera tentu nya semakin sedikit warga yang mencari ladang kehidupan yang lebih baik ke ibukota fakta nya tidak demikian,
Pilkada DKI dilangsungkan di era musim semi sosial media, diselenggarakan di era pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai titik kemapanan yang kondisi nya jauh lebih baik dua kali lipat dibandingkan pada tahun tahun 98/99, pada tahun sebelum  98.99  Indonesia dan sejumlah negara Asia Tenggara lain nya ditahbiskan sebagai The Miracle Of Asia, jatuh nya kurs mata uang Baht dan macet nya kredit jangka pendek dengan secepat kilat memporak-porandakan zona ekonomi Asia Tenggara. Maka kini ketika Nouriel Roubini seorang ekonom dari New York University meramalkan bahwa krisis keuangan yang menimpa Amerika Serikat pada tahun 2008 dan Eropa tahun 2010 menjadi kris keuangan yang berkepanjangan di saat yang sama tinggi nya produktivitas perekonomian domestik Indonesia mendorong bisnis sektor rill memompa darah ke sektor usaha retail dan industi produksi. Sehingga bertemu antara permintaan dengan penawaran yang menciptakan keseimbangan pasar. Saat itulah muncul kelas menengah baru yang mengkonsumsi starbuck, hang out di Fix Senayan, La Coddefin Kemang, menjadi konsumen smartphone, pemburu gadge, di lain waktu juga kelas yang produktif menafkahi keluarga,ledakan kelas menengah ini masih berada dalam suasana Ibukota yang dilingkupi pemerintahan yang birokratis, minus saran infrasatruktur yang mapan, lebih sedikit lagi fasilitas sosial dan fasilitas yang umum bagi warga ibukota seperti taman kota, dsb.
Deskripsi di atas tadi menggumpal dan menyatukan kaum kelas menengah ini dengan para pemilih pemula. Ditambah musim semi sosial media menambah hangat penyelenggaran pilkada DKI Jakarta. Saat-saat itulah kita bisa memahami mengapa branding seorang calon gubernur akhir nya bisa memenangi di atas semua janji program pelayanan publik dan program kinerja yang menjamin warga ibukota bisa nyaman seperti yang ditawarkan oleh calon gubernur yang lain.Kemenangan Jokowi seolah semakin membenarkan sabda Baginda Rasul,Kaifa Takuunu Yuwalla alaikum, seperti apa dirimu saat ini seperti itu juga pemimpin yang lahir di tengah-tengah kalian. Bukan hanya semata Jokowi memiliki kapasitas, tohk kalau bicara kapasitas di arena pilkada masih ada cagub lain yang lebih memiliki kapasitas secara tajam dan bisa teruji. Tetapi faktor branding yang ditawarkan oleh Jokowi dan pasangan nya, Ahok jauh terlihat memenangi emosional pemilih nya dibandingkan  lebih memenangi faktor penilaian pemilih atas kapasitas dan jejak kinerja.
Jakarta, ibukota kita masih setia merajut mimpi panjang nya tentang kemakmuran yang berdampingan dengan ruangan publik yang nyaman dan transparan pengelolaan nya. Jakarta masih setia menyambung asa demi asa harapan panjang nya tentang pembangunan ibukota yang tumbuh seiring dengan kenyaman sebuah kampung. tetap asri dan ramah walau berderap kencang memenuhi panggilan pertumbuhan ekonomi.

Jakarta
Kemanggisan
Hujan di  Bulan November 2012