Kalau anda sempatkan diri jalan-jalan kearah kemang dan sekitar nya, dengan mudah anda temukan pelbagai kafe dan kawasan hang out dengan pelbagai jenis dn tingkat tongkrongan nya. ada yang diperuntukkan untuk kalangan eksekutif hingga anak muda. Selain Kemang dikenal sebagai tempt pemukimn warga exspatriat dan pejabat, bukan ragu lagi kemang telah menjelma surga di Jakarta bagi para pemuja aliran yang sedang kita bincangkan ini. Hedonisme secara empiris memang kental dengan gaya hidup tetapi tidak dengan history nya yang identik dengan merebak nya Sekularisme pertam kali mencengkramkan kaki nya di Eropa pasca revolusi industry dan tersingkirnya institusi Gereja dari kehidupan.
Maka harusnya memang klop hedonisme pasti berhubungan mesra dengan ilmu ekonomi barat sebab kehadiran nya ditandai dengan muncul nya On Liberty, magnum opus ny John Stuart Mill, menurut Mill, protes nya yang menghendaki kebebasan individu lebih didominasi protes terhadap moralisme koersif, seperti  fanatisme, intoleransi, sikap ingin benar sendiri, puritanisme, cara pandang John Stuart Mill seperti inilah yang merangsek msuk dalam suasana intelektualitas barat setelah renaissance. Tidak jauh berbeda dengan murid nya, sang guru, Jeremy Bentham mendefinisikan kepuasan dalam berkonsumsi dlam tataran pelaku mikro hanya lah dengan kepuasan atas rasa senang dan mengeliminsi penderitaan atas rasa sakit. Bagi Jeremy Bentham, peperangan sebenar nya dalam hidup bukan masalah kebaikan melawan keburukan atau antar akal dengan nafsu tetapi antara kepuasan di atas kesenangan melawan penderitaan atas rasa sakit. Dan memang benar seperti yang di deskripsikan oleh Mark Skousen, penulis The Making of Modern Economic, Jeremy Bentham memuja Dewa Utilitas bukan Invisible Hand seperti Adam Smith  dengan murid-muridnya. Dari kalangan sekolah Fabian, yang diwakili oleh William Stanley Jevons melihat teori marginal utilitas oleh Jeremy Bentham dan John Stuart Mill dengan sudupt pandang demand dan supply, semakin banyak quantitas yang tersedi maka konsumen semakin bisa memenuhi kebutuhannya tetapi dengan marginal utilitas yang menurun atau jenuh. Persis dengan hukum gossen. Setelah lari kencang, kemudian haus membutuhkan air segelas, kemudian segelas lagi, kemudian segels lagi hingga kembung.
Ternyata yang mendefinisikan marginal utilitas secara agak lebih rasional dari sisi akuntansi nya muncul dari kalangan mazhab  Austria seperti yang diungkapkan Carl Menger dengan mazhab Austria, utilits marginal menunjukkan bahwa harga dan biaya ditentukn oleh margin atau keuntungan, sehingga analisis marginal seperti ini yang akhir nya membentuk cost of good sold dalam accounting nya dan menciptakan basis analisis tersendiri dalam mikroekonomi modern.
Dari perdebatan theory ini yang membuat hedonisme dengan istilah marginal utilits dalam kamus mikroekonomi bukan lagi soal gaya hidup. Sebab kalau mau jujur gaya hidup seorang individu mencerminkan ideology nya atau pandangan hidup nya. dan bicara soal pandangan hidup menurut Ustadz Hamid Fahmy Zarkasy ibarat berlayar di sebuah samudera tanpa tepi. dan terjadi nya clash of worldview bukan secara fisik tetapi dalam lintasan minda, kata orang Malaysia,  lalu persoalannya mengapa hedonisme akhirnya menggumpal menjelma sebuah kepercayaan yang dianut keabsahaannya dengan pesta clubbing sebagai ritual ibadah nya, feel dan mood sebagai keimanannya, dan akhirnya hawa nafsu sebagai tuhan nya. ternyata jawabannya juga belum jauh dari kerangka kerja mikroekonomi modern dengan teori indefferensial nya yang menyatakan bahwa secara teori pelaku konsumsi  bisa jadi memperoleh tingkat utilitas atau kepuasan yang sama karena kepuasan dari konsumsi sebenarnya sangat subjektif. Belum pernah riset empiris pengaruh seseorang membeli gadget itu dimotivasi secara kuat oleh dorongan kebutuhan, dorongan ekonomi atau dorongan gaya hidup atau tuntutan pekerjaan kalaupun ada lagi-lagi belum clear karena akhirnya kepuasan ditentukan oleh “kebutuhan” per individu yang tidak dapat diwakili oleh “kebutuhan “ lain.
Salah kalau ada yang mencap hedonisme hanya dimonopoli oleh kalangan ajeb2 atau kalangan menengah ke atas. Sebab  dalam tataran makroekonomi sikap dan keyakinan dari hedonisme telah menjerumuskan penanggaran  keuangan negara dalam posisi yang kritis. Secara empiris jika memang benar kemarin subsidi BBM dicabut dengan menaikkan harga minyak dalam negeri dengan argumen kenaikan harga minyak dunia alokasi pertama sebesar 50 % dari harga minyak impor dialoksikan untuk pos belanja pegawai sisa nya dialoksikan untuk proyek MP3EI, seperti MDGs, Infrastruktur baru bantuan tunai langsung.
Padahal kesejahteran, lapangan pekerjaan, dan perbaikan nasib adalah priorits pertama rakyat untuk terus menyambung usah dan hidup keluarga nya. memberi ikan yang cepat dikonsumsi dan kayu yang cepat dijadikan bahan bakar dibandingkan dengn kail dan kapak sebagai pemantikny jelas tak produktif seolah-olah menciptakan “kekayaan universal “ dalam istilah ekonom neoklasik yang ada meruntuhkan produkttifitas dan kreatifitas manusia itu sendiri untuk mencintai mengumpulkan asset tanpa usaha. Dampak nya secara makroekonomi seperti yang diungkapkan ekonom muslim dari maroko abad pertengahan, Ibnu Khaldun, “kehancuran dan kebinasaan mereka ditentukan oleh sejauh mana kemakmuran dan kesenangan hidup yang mereka nikmati dan jelaslah bahwa kemewahan hidup merupakan slah satu faktor penghambat bagi suatu kabilah untuk mencapai kekuasaan “

Jakarta
Kemanggisan
14 Jumadil Awwal 14433 H