Entah kapan lahirnya istilah Islamist. Sebab umat muslim sendiri dari mulai yang puritan hingga bebas tidak pernah mengklaim diri sebagai Islamist atau menggunakan ungkapan islamist sebagai penamaan diri mereka. Islamist baru bisa ditelusuri lahirnya istilah tersebut tidak lain dari dunia jurnalistik Barat memandang permasalahan dunia islam dalam posisi dialog dengan Barat. Berawal dari perjalanan keagamaan mereka, sebuah ajaran yang dianut oleh sekelompok orang pasti dilekatkan dengan nama pendirinya. Tidak terkecuali bagi agama Islam, Mohammadanism, ajaran yang dibuat oleh Muhammad. Demikian definisi islam dari perspektif Barat. Ungkapan Islamis kemudian menjadi istilah yang khas di ruang tamu media Barat hingga ruang pemikiran serta kajian ketimuran yang berfokus membahas tidak hanya soal ajaran Islam untuk didamaikan dengan perspektif sekuler tetapi juga permasalahan dunia islam yang kelak di bagi dua antara kalangan modernis dengan Islamist.
Modernis identik dengan reformasi tatanan masyarakat dan sosial dunia muslim. Modernis similar dengan membawa warna Barat ke ruang tamu dunia Islam, hingga menurut Tamim Ansary, seorang sejarawan dunia islam kontemporer, menuliskan bahwa akhirnya ide-ide yang dibawa kalangan modernis dari mulai Sayyid Ahmad Khan di India, Amir Kabir di Iran, Mustafa Kamal dan Abdullah Cevdet di Turki hingga Fazlur Rahman  di Amerika Serikat, memiliki kesamaan agenda bahkan tidak dapat dipungkiri bagian dari grand scenario pemerintahan bertembok besi yang notabene kental dengan karakter represivitas dan militeristik nya. Dan itulah yang menjelaskan kepada umat manusia saat ini mengapa Partai Ba’aath begitu mengakar di Timur Tengah, saat Saddam Husein dan rezimnya ambruk ternyata tak serta merta membawa partai yang didirikan oleh seorang aktivis nasionalis Kristen Arab ini ambruk malah saat sedang bergolak dunia Arab pada tahun 2010-2011, Syria, menjadi satu-satunya negeri di dunia Arab yang tetap tenang. Tenang dalam diamnya menyibakkan ketakutan.


Tetapi masalahnya sekarang, benarkah revolusi Arab Spring sebagai satu-satu nya faktor apa yang disebut oleh Tamim Ansary (2010) sebagai arus balik narasi sejarah dunia islam ? ternyata tidak. Dalam analisis nya Tamim Ansary (2010)  tonggak pemicu terjadinya arus balik narasi sejarah dunia islam itu justru terjadi ketika ide kolektif kebangsaan sedang membakar seluruh urat nadi negara-negara Eropa. Bangsa Germania dengan Jerman nya, Bangsa Celtic dengan Perancisnya, bangsa Hispanik dengan Spanyolnya, dan Romawi dengan Italia nya. Tinggal bangsa Yahudi yang terus terapung-apung dipeta dunia mencari tempat untuk berteduh. Gerakan nasionalisme Yahudi yang kelak lebih dikenal dengan Zionisme nya merangsek dunia Muslim yang sudah dengan begitu “ahlan wa sahlan “ di wilayah kesultanan Usmani, datang bukan kembali untuk mencari perlindungan bahkan mengklaim, Palestina adalah tanah yang dijanjikan bagi bangsa Yahudi terutama penganut Zionisme.  Dari sinilah awan hitam dan gelap menggantung pekat di langit modernisme.
Faktor utama yang tak boleh disingkirkan dari berubahnya narasi sejarah dunia islam ternyata globalisasi secara empiris bukan hanya soal budaya tetapi juga menyangkut liberalisasi sektor keuangan dan perbankan. Sebagaimana yang kita saksikan hari-hari ini aksi embargo Amerika Serikat dan Uni Eropa terhadap Iran tidak lebih mencerminkan harapan kembali pulihnya perekonomian Amerika Serikat dan sembuhnya masalah hutang merembet di negara-negara Eropa kembali pada permasalahan kekuatan demand dan supply. Dan tidak bisa dinafikkan pulih atau tidaknya perekonomian Amerika Serikat dan Uni Eropa sangat bergantung pada minyak bumi dan secara empiris sebagian besar minyak bumi dunia terletak du bawah bumi umat muslim. Kekuatan minyak nyaris sebagai senjata aji pamungkas dunia muslim sebagai sebuah “The Last Weapon “ nyaris juga tidak pernah digunakan. Dan tercatat dalam sejarah negara di dunia islam yang begitu tajam tidak pernah membuat Barat tidur dengan nyenyak hanyalah Iran setelah terjadinya Revolusi Islam.
Revolusi Islam memang membawa Iran pada percaturan dunia Internasional tidak pernah menguntungkan tetapi malah membuat Blessing in Disguise, semakin ditekan, semakin membuat kreatif memproduksi, mendistribusikan dan mengkonsumsi produk yang dibuat dari keringat pekerja bangsa nya sendiri. Di sisi lain, kalangan modernis baik itu yang di India, Mesir, hingga Pakistan terbungkam seribu bahasa dan tertunduk lemah mengetahui ramalannya Georges Soros, Joseph Stiglitz, hingga Nouriel Roubini semakin kuat bahwa badai keuangan akan terus menerpa Amerika Serikat dan Eropa bukan hanya saat ambruknya Lehman Brother tetapi juga dalam hangka waktu hingga dua hingga tiga tahun. George Soros dalam bukunya yang berjudul “Open Society, Reforming Global Capitalism “ tahun 2007 menuliskan dengan penuh dramatis, “mungkin saja sistem kapitalisme global tidak akan bertahan dalam ujian sekarang. Mendung badai telah menggantung di horizon politik, sekalipun dampak awal krisis bertujuan memperkuat demokrasi “ . sehingga semakin membuktikan di atas kertas dan secara empiris bahwa ide-ide modernisme yang diusung kalangan sekuler liberal tidak dapat bertahan lagi dalam jangka panjang. Krisis keuangan eropa dan amerika telah menguras banyak dana untuk membiayai agenda-agenda besar yang ditanam terpatri di kalangan modernis. Semakin eropa sakit parah, kesempatan untuk mempromosikan model negara kesejahteraan, sosialisme religius hingga feminisime dan semakin kecil.
Islamist Welcome
Saat badai sedang menghempas perahu yang ditumpangi kalangan modernis di samudera krisis keuangan yang mengganas, saya teringat dengan sebuah tulisan yang dibuat oleh dosen saya saat saya masih kuliah. Kata beliau, tidak dapat dipungkiri juga bangkitnya kalangan muslim terdidik yang mempunyai daya beli lebih baik dan intelektual yang tajam serta keislaman yang terpelihara telah membawa dunia internasional pada posisi penuh tawar menawar. Mereka menjual produk yang selama ini dipersepsikan di Barat sebagai produk penuh kekerasan dan radikalisme tetapi yang mereka jual apa yang Barat juga jual di pasar yang bernama kapitalime global. Mereka datang banyak sebagai investor, Bankir, Entreprenuers, hingga Politisi dan akhirnya membuat dunia internasional seperti yang digambarkan Vali Nasr (2009) dalam bukunya “Forces of Fortune: The Rise of The New Muslim Middle Class and What it Will Mean for Our World “ ditambah fakta yang mengejutkan peta demokrasi yang sedang digelar oleh para pengambil kebijakan di Amerika Serikat dan Eropa, pergerakan islam yang lahirnya dibidani oleh Hasan Al Banna,  Al Ikhwanul Muslimun, meraup suara lebih dari 40%, pergerakan islam di Tunisia dengan An Nahdah yang dulu Syaikh Mahfudz Nahnah dan Abdul Rasyid Al Ghanaousi berhasil menuai perolehan suara sebanyak 41 %, dan pergerakan islam di Maroko Hizb Adalah wa at Tanmiya  turut meramaikan warna peta demokrasi yang di gelar Barat dengan perolehan suara sebanyak 27% . dan tentunya yang paling mengejutkan siapapun ketika kalangan salafy memasuki ranah demokrasi pertama kali nya dalam sejarah, mereka mampu memperoleh suara yang signifikat dari semua total pemilih pasca revolusi Maydan Tahrir.

Belum ketika bicara tentang Turki,, saat negara pewaris khilafah islamiyah itu berada di kalangan modernis, posisi ekonomi Turki nyaris tak ubahnya saat menjadi posisi pesakitan di tengah kepungan bangsa asing, kapitulasi, defisit neraca perdagangan bebas dan sebagainya, maka ekonomi Turki di tangan kalangan modernis nyaris tak pernah dilihat oleh dunia internasional sebagai another new emerging markets, saat Erdoga, Abdullah Ghul dan Ahmad Daud Oglu membawa bendera Partai Keadilan Pembangunan ke ruangan publik masyarakat Turki, dampakny bukan hanya perubahan peta politik tetapi juga restrukturisasi kekuatan ekonomi rumah tangga Turki. Dalam jangka waktu beberapa tahun kemudian, Majalah Time pun menobatkan Erdogan sebagai Person of The Year seraya menyebutkan bahwa Erdogan merupakan teladan bagi Arab Spring, prestasinya semakin menguatkan “tesis “ tulisan dosen saya di atas. The Islamist Are Welcome, maka kini kita pun  dibuat tersenyum-senyum dengan ungkapan yang kembali diberikan oleh media Barat tentang dunia Islam. Islamist tak bisa ditinggalkan dari kajian diskusi para pengambil kebijakan sekalipun masih di baying-bayangi ketakutan Islamphobia, tetapi masalahnya Islamist terlanjur menjadi “sesuatu banget gitu “ bagi perekonomian Eropa dan Amerika Serikat. Mengapa ? sebab satu-satu nya cara penting saat ini yang perlu diambil oleh  Eropa adalah mendorong ekspor keluar ke negara-negara di emerging markets yang secara GDP mengindikasikan mempunyai daya beli per individu yang lebih baik. Saat ekspor keluar daratan Eropa membaik, neraca perdagangan pun akan surplus, selanjutnya menjadi sumber pendapatan lain bagi negara-negara Eropa untuk menyembuhkan hutang nya. The Islamist are Welcome and The Show Must  Go On for Europe

28 Sapar 1433 H
Jakarta, ditemani senandung dari Maher Zain, Always Be There