“Orang yang tak menciptakan perubahan dalam dirinya, karena keputusasaan, akan kehilangan hari-hari yang mendatanginya untuk mendapatkan hidup yang lebih baik “ Syaikh Alaa Shadiq
Melihat situasi terkini yang sedang terjadi di FoSSEI, baik melalui milist atau facebook, saya jadi teringat pada apa yang akan saya tulis berikut ini. terhenyak  dan bangun dari kumpulan ingatan bahwa kita hanyalah atau awal mula nya forum.  Forum, wadah silaturahim dan mengumpulkan kekuatan penggerak ekonomi islam dari pelbagai pojok nusantara yang akhirnya bak senandung Muhammad Iqbal, Pujangga Anak Benua, walaupun satu keluarga kami tak saling mengenal, himpunlah daun-daun yang berhamburan ini. hidupkan lagi ajaran saling mencintai. Ajari lagi kami berkhidmat seperti dulu. Dan untuk menghimpun daun-daun berserak itu dibutuhkan sebuah sapu besar bernama Ukhuwwah.   Tapi masalahnya dalam agama kita hanya mengenal Ukhuwwah yang dilandasi keimanan dengan yang dilandasi keturunan. Yang pertama disebut Ukhuwwah Diniyah dan yang kedua disebut sebagai Ukhuwwah Basyariah. Anis Matta menulis dalam bukunya yang best seller di pasaran,  Hanya kerendahan hati yang membuat semua orang mampu bekerja sama, tetapi hanya iman dan keyakinan pada risalah Ilahi yang dapat membantu setiap orang memiliki kerendahan hati yang memadai.  Sebagaimana yang diungkapkan jua oleh Dr Aidh Al Qarnee di twitternya, Hubungan manusia dengan Allah tidak akan terputus tetapi hubungan manusia dengan yang lainnya selalu bisa terputus. Berarti sapu besar yang mengumpulkan daun-daun terserak di jalanan ini harus diikat dengan ikatan iman. Dan para pendahulu kita telah melakukannnya. Pertemuan awal di Universitas Diponegoro yang bersambung dan saling terikat hingga Kongres KSEI tidak menjadi sia-sia sebagamana kumpul-kumpul agenda mahasiswa lainnya.

Sebagaimana halnya sebuah bangsa, negara dan rakyat. Konsekuensi atas pilihan masing-masing elemen tadi membawa implikasi signifikan tercipta nya serangkaian kekuatan yang senantiasa tercatat dalam sejarah dalam bab kontribusi. Karena ada kolektifitas ide yang dirangkai sebuah komunitas besar.besar anggota nya. Massif massa nya. Dan jelas tujuannnya. Sang pendahulu boleh datang dan pergi. Anggota oleh silih berganti memasuki rumah besar ini. tetapi sekali lagi yang menentukan bukan pencapaian demi pencapaian atas nama progresivitas atau atas nama efisiensi karena bab kontribusi masih akan terus bersambung pada pencapaian akhir saat para pahlawan menemukan momentumnya. Itu juga yang diajarkan oleh sejarah peradaban dunia islam pada kita,

Al Ikhwanul Muslimun boleh dibelenggu selama puluhan tahun. Ratusan anggotanya dipenjara, kaum wanita nya dipersempit dengan gerakan feminism yang sempat menggejala di Mesir, aktivisnya dicap Islamist oleh media Barat. Bahkan ideology yang diusung oleh Ikhwanul Muslimun disamakan dengan gerakan Taliban di Afghanistan, tokohnya tidak hanya dibunuh tetapi sekaligus dicemarkan sebagai pembawa ide radikal ke dunia islam.atau lihatlah Gerakan An Nahdah di Tunisia, gejala sekularisasi di Tunisia sejak awal kemerdekaan nya dan sosok Habib Bourghiba yang mengkampanyekan kehidupan masyarakat Tunisia yang modernis dan mengikuti arus zaman telah memaksa ribuan wanita Tunisia memutihkan warna rambutnya agar diperbolehkan berjilbab. Turki, yang hari ini menjelma salah satu kekuatan ekonomi dari emerging markets, memulai ceritanya dari bab yang sama. Seorang ulama shalih bernama Badiuzzaman Said Nursi membina dan melatih murid-muridnya dengan tarbiyah ruhiyah di tengah represifitas pemerintah Turki awal republik yang notabene sekuler. Bukunya, Risalah An Nuur, mengalir ke tangan penduduk turki melalui tulisan tangan secara sembunyi-sembunyi. Hingga lahirnya seorang Erdogan muda,  sejarah mencatatnya sebagai pemuda shalih  dan taat yang pernah melantunkan puisi “ Masjid adalah Barakku, Al Qur’aan adalah kitabku dan Islam adalah Bayonetku. “ benihnya sudah tertanam dan buahnya sudah bisa dinikmati oleh masyarakat Turki saat ini. bandul waktu pun bergerak. Rupanya gerakan massif rakyat Timur Tengah yang disebut oleh media Barat sebagai Arab Spring tidak hanya bicara soal ambruknya kekuasaan para raja Arab tetapi juga bicara cerita lain mengenai sejuknya politik Islam. tidak tanggung-tanggung Time Magazine pun ikut memuji sejuknya Politik Islam dalam mengubah persepsi demokrasi di dunia Islam. dengan bahasa lugas dan gamblang, Time menjelaskan, Politik Islam yang diusung oleh kaum “islamist” ini jauh lebih kongkret dan merealisasikan janji-janjinya dibandingkan kalangan sekuler yang berlindung di balik rezim otoriter.
Belajar dari pengalaman sejarah. Sebuah organisasi atau forum apapun hanya akan berhasil setelah melewati masa-masa tribulasi yang telah Allah tetapkan sebagai seleksi antara yang benar-benar beriman dengan yang munafik. Antara yang mengorbankan harta dan jiwa nya atau yang hanya memanfaatkan nama besar kampus atau modal almamater. Ya, setelah bab kontribusi kita kemudian memasuki bab ujian dan seleksi. Seleksi yang sebagaimana telah Allah tetapkan juga atas umat-umat terdahulu karena yang sedang kita hadapi bukan hanya soal sistem kapitalisme ataukah sosialisme tetapi jiwa. Dalam ungkapan Sayyid Quthb, disanalah tempat menjadi medan tempat berlaga nya jiwa-jiwa. Lalu secara sempurna Baginda Nabi SAW menyebutkan ruh-ruh akan saling berkumpul kepada yang saling seragam dan sejiwa.  Itulah makna nya Allah memberikan ujian untuk memisahkan mana yang beriman dengan yang munafik. Akhirnya akan terjadi clustering dalam sebuah organisasi,forum,pergerakan, atau komunitas manapun. Antara yang mengisi nya dengan bahasa kontribusi dengan yang menggerogoti. Antara yang menumbuh kembangkanya dengan kalimat ikhlas dengan yang sibuk mencari afiliasi dan jaringan.

Lalu kita kembali bicara hanya soal forum. Forum yang semakin membesar dan berlipat anggota nya. Dalam kebisingan dan hiruk pikuk, semuanya berharap sang qiyadah mampu memberikan kelayakan rumah untuk bisa dengan leluasa benar-benar menjadi forum. Masalahnya, bukan feel yang bicara benar tetapi masalah niat yang senantiasa diperbaharui. Bukan zaman atau ruang yang harus diganti atau diperluas, tetapi masih tersisakah kesediaan dalam hati-hati manusianya melihat forum dengan dada seluas samudera. Dan ketika itu baru bisa terjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana dalam forum mana yang lebih wajar terjadi, membiasakan diri mendengar atau sibuk dengan pertanyaan merebut ruang bicara. Mana yang biasa terjadi di sebuah forum sehat, mengedepankan kehormatan atau penghormatan. Mana yang yang biasa terjadi dalam sebuah forum ulama, tradisi murid dengan guru atau sesama jago debat ?? kenyataanya kita lebih banyak memerankan diri sebagai pembicara dan sehebat-hebat seorang pembicara belum tentu sekapasitas pendengar pembicaraannya. Empirisnya juga, kita lebih banyak mengejar penghormatan dibandingkan kehormatan, kalau semua orang mengangkat hormatnya pada diri kita sedangkan diri kita menyimpan tumpukan aib tetaplah tak bermakna apa-apa sekalipun semua orang berkumpul memberikan endorsement padahal diri kita hanyalah sampah maka tetaplah sampah. Sekalipun dengan modal hanya title entah itu pengamat, seniorisme, mantan mpf, mantan cocoda, mantan presnas, dan seterusnya. Maka benarlah ungkapan sebagaian ahli hikmah “kun kitaban mufidan bila unwanan wa la kun unwanan bila kitaban. Jadilah kitab yang berisi dan bermanfaat walau tanpa judulnya jangan menjadi sebuah judul tanpa isi dan manfaatnya. Sekalipun berjudul dan ada judul lebih baik dan mudah dicari. Tetapi zaman yang sarat dengan paradoks selalu ada kesempatan memilih.tanpa pilihan yang ideal setidaknya masih ada pilihan mendekati ideal.

Selanjutnya, forum yang membesar ini turut diriuh rendahkan oleh manusia-manusia pecinta debat. Serentetan topik debat selalu tersedia  mulai dari masalah kefosseian hingga masalah ekonomi syariah yang seharusnya tidak perlu dipertanyakan lagi, bukan soal forum ilmiah atau tidak. Bertumpuk karya ulama salaf hingga kontemporer yang membahasnya. Jika belum biasakan diri untuk menghidupkan tradisi ilmiah yang tidak memvonis sebuah masalah yang baru dipelajari atau memandang masalah dari jauh bak seorang pengamat. Akhirnya kita terbiasa menilai masalah yang banyak dan komplek dari perspektif yang sedikit dan sempit. Munculah salah satu bencana ilmu di era yang serba praktis dan terhubung dengan internet. Opini berkelindan dengan fiksi yang dipaksakan menjadi fakta. Atau asumsi klasik yang terbukti gagal malah berkembang hingga tingkat worldview. Dalam situasi seperti ini, dengan mudah lahir asumsi simplicity,  bukannya  ilmiah malah semakin aspal (asli palsunya ) korbannya adalah penuntut ilmu itu sendiri yang harus memakai worldview yang salah.

Dan yang terakhir, dalam sebuah forum membutuhkan feedback. Kalau seorang pembicara dalam sebuah forum misalnya, saat sedang presentasi kemudian terjadi kegaduhan sesama peserta. Sang pembicara semakin kehilangan energy untuk menyelesaikan presentasinya, kegaduhan semakin parah maka berarti yang telah hilang kemampuan membaca sinyal umpan balik. Demikian pula dalam sebuah forum silaturahim studi ekonomi islam, yang dibutuhkan oleh sang pemimpin adalah kemampuan membaca pergerakan zaman dan penanda sosial dalam kabilah-kabilah yang sedang ia pimpin. Mereka menanti respon cepat dan gesit dari sang pemimpin. Bukan sibuk mengupdate status facebook sebagai pencitraan atas kegaduhan dan berisiknya kabilah yang ia pimpin. Atau malah sibuk meminta tentara nya memperbaiki amal ibadahnya seakan menutup mata dari masalah yang sedang terjadi. Bukan tanpa sebab, saya sendiri pernah menyaksikan hal ini di realitas sosial bangsa kita, ceritanya, seorang warga di tangerang selatan mengeluhkan kemacetan yang luar biasa di salah satu daerah Tangerang Selatan yang masuk dalam provinsi Banten.  Melalui twitter, sang wakil gubernur yang baru saja terpilih kembali hanya berkomentar “ yang sabar yah, saya lagi otw ke bandara neeh “ twitter memang membuat rakyat dengan pejabatnya, tapi apakah seperti ini jawaban yang layak diberikan ???

Kalau demikian sudah terjadi di sebuah forum bernama forum silaturahim studi ekonomi islam berarti yang kita hadapi adalah krisis komunikasi yang akut. Dampaknya rakyat Indonesia semakin apatis di tengah para pemimpin bangsa nya yang autis )

Jakarta

22 Muharam 1433 H