Ka’bah

Bergegas kami dalam deru rindu
Saat gelombang nafas berteriak pilu membubuh sendu
Ka’bah
Di ujung mata, kaki kami tergelosor mencari bumi
Dari ubun hingga telapak hanya membacakan tasbih tak berujung

Bergegas kami dalam deru rindu
Mata menjalang menyasar ampunan agar segera diberangkatkan
Dijamu dan dilayani oleh yang menjaga Al Haramain.
Yang Maha Agung telah menitahkan, hamba –hamba yang dicintai berkenan mengecup bumiNya
Bernama Makkah dan Madinah

Bergegas kami dalam deru rindu
Keanggunan malam dalam pupujian hanya tertumpu padamu semata.
Petilasan dhuha sepanjang senyuman mentari hanya tersisa bayanganmu saja.
Kantong rezeki bagi dhuafa, pun tertitipkan namamu jua.
Yang Maha Agung telah menitahkan, hamba-hamba yang dicintai berkenan mencium batu hitam
Bernama Hajar Aswad.

Ka’bah
Masih setia menanti, sesetia Rasulullah menunggu umatnya di telaga bening bernama Al Kautsar.
Ka’bah, jenak-jenak bersahaja dan sederhana yang menyimpulkan pujian hanya milik Yang Maha Besar
Totalitas doa terhimpun diseantero masjid haram, menghujam ke ufuk jiwa manusia paling dasar.
Ka’bah
Mengajarkan kemuliaan takkan diraih dengan kekayaan yang kasar
Sebab akhirnya yang dipanggil hanya jiwa mereka yang seluas samudera sabar
Sebenggol demi sebenggol
Sekeping demi sekeping
Serupiah demi serupiah
bagi manusia , itu semua soal maru’ah
Tetapi Tuhan hanya berfirman : Inna Akramakum Indallahi Atqakum.