perjalananBulan November sudah melangkahkan kaki nya ke pekarangan rumah kita. Pun demikian ada yang baru saja meninggalkan rumah besar ini dan ada yang baru mengemas koper-koper kontribusi nya ke loby rumah ini. ah, tiba-tiba saya teringat dengan tulisan teman tentang bangunan yang harus dipertahankan. Sebuah essay dari seorang sahabat saya yang menggunakan bashirah langit dalam menganalisa kegalauan sejumlah kader akan nasib hari esok rumah perjuangannya. Dalam konteks yang pas, tulisan sahabat saya itu juga mengalir sebagai sebuah perspektif ketika menganalisa. Jadinya kita akan berbicara pada dua hal. Satu point mengenai bangunan rumah kita dan yang lain dengan keadaan rumah kita saat ini sudah berapa banyak perjalanan yang kita tempuh beserta masukan yang diterima oleh rumah ini sebagai outcome.

Dan jujur saja walau sudah beberapa minggu saya meninggalkan rumah ini karena masa studi saya sudah selesai, tetapi entah kenapa selalu terpikirkan di benak saya, seperti apa rumah yang baru saya tinggalkan ini dalam jangka waktu 5 tahun ke depan ? belum ditambah pertanyaan sederhana sudah sampai dimana perjalanan dan perjuangan ini. aku semakin ragu untuk menjawab nya sendiri dalam kondisi rumah kita saat ini. tapi asa yang masih tersisa sebagai hamba Allah yang beriman membuatnya untuk menatap ke langit biru yang megah seakan pertanyaan tadi sudaj terjawab dengan sendirinya yakni : harapan yang masih dan selalu ada. Maka catatan yang bisa jadi merupaka catatan terakhir saya tentang rumah kita bersama ini, akan menuliskan sejumlah poin yang harus kita perhatikan terutama pemegang kebijakan yang bahasa politis nya “amanah “😉

Manifesto Rapimnas

Pada rapimnas fossei kemarin, kita telah menyimak sejumlah poin-poin kesimpulan dan kesepakatan antara presidium nasional dengan koordinator regional yang intinya kedua nya sepakat untuk melakukan revitalisasi perangkat-perangkat perjuangan fossei untuk da’wah ekonomi islam yang lebih baik. Pada rapimnas tahun lalu, juga mencakup pembenahan perangkat-perangkat perjuangan fossei bahkan dalam dokumen rapimnas tahun lalu yang saya miliki menyimpulkan pembenahan internal secara kolektif di sejumlah aspek. Ada yang harus dibenahi di sektor media dan ada pula yang harus dikaji ulang di sektor jalur komunikasi dari tingkat KSEI-Komsat-Regional-Depnas-Presnas. Sebab, bukan rahasia lagi, regional merasa lebih nyaman untuk mengadukan masalah internal di wilayahnya secara langsung kepada presnas. Akibatya Depnas yang tadinya di bentuk untuk memperbantukan Presnas dalam menjalankan fungsi dan perangkat perjuangan. Mati nya Depnas bukan saja disebabkan salah arahnya jalur komunikasi yang terjadi tetapi berkembang sebuah peraturan tidak tertulis bahwa depnas baru akan bergerak setelah Presnas bergerak. Depnas tidak lahir sebagai lembaga di bawah presnas yang kreatif menjalankan fungsi serta perangkat perjuangan dan dari pengalaman sejumlah depnas pada masa fossei sebelumnya, kematian depnas juga disebabkan faktor lain yang sangat vital yaitu komunikasi yang tidak solid.

Asumsinya para staff di depnas tersusun dari orang-orang yang memiliki kompetensi sesuai visi depnas. Oleh karena itu diambilah para staff dari pelbagai pojok nusantara yang dipertimbangkan memiliki keahlian untuk memperbantukan depnas. Sayangnya, asumsi ini akhirnya overvalued, karena luasnya wilayah Indonesia dan perbedaan waktu membuat komunikasi para staff di depnas dengan presnas terhambat. Sejumlah program depnas pun benar-benar mati gaya, mungkin yang di luar akan melihat hal ini sebagai pemborosan dan ineffisensi tetapi pengalaman saya setahun di depnas RPE secara empiris memang membuktikan masalah utama bukan pada jumlah depnas atau kematian depnas atau depnas yang dianggap tidak signifikan dalam revitalisasi fossei tetapi jalur komunikasi di tingkat regional yang harus diubah atau dirombak paradigma nya.

Kembali kepada pertanyaan di atas, memasuki usia fossei yang ke-11 tahun ini perhatian utama kita bukan hanya implementasi dari manifesto rapimnas tetapi juga kedisplinan para koordinator regional dalam melihat masalah ke-fossei-an. Kurikulum fossei yang disusun oleh depnas RPE juga sudah rampung tinggal pengawasan dan eksekusi dari kurikulum tersebut membutuhkan banyak kerja sama antara depnas rpe dengan regional. Jakarta 25 Raya Agung 1432 H B