next stagepengetahuan bersemayam dalam pikiran. Tempat cinta ialah hati yang sadar jaga. Selama pengetahuan tak sedikit juga mengandung cinta adalah itu hanya permainan sulap si samiri. Pengetahuan tanpa roh kudus hanyalah penyihiran. Tanpa wahyu orang bijak pun takkan menemukan jalan. Ia mati dipukul angan-angan nya sendiri, tanpa wahyu, hidup ini hanya derita rana yang membawa mati.” Muhammad Iqbal, Javid Namah

Semuanya segera dan sudah akan berakhir, dunia kampus, dunia mahasiswa, dunia akademik, sudah usai dan lega rasanya dapat menyelesaikan perjalanan panjang kuliah selama 4 tahun di bumi kota hujan sebagai mahasiswa. Rasanya lebih dari setahun jika aku hitung aku mengerjakan skripsiku. Bahkan dua bulan terakhir aku bertempur dengan banyak metode penelitian dan buku-buku econometric. Beruntung aku mempunyai dosen pembimbing yang sekaliber Pak Achmad Djazuli SE MM background beliau yang konvensional dan mempunyai ghirah yang tinggi dengan ekonomi syariah membuatku kembali bersemangat mengerjakan skripsi. Dan dengan banyak bimbingan dari beliau bab 4 & 5 yang banyak menimbulkan masalah, malah aku banyak mendapatkan banyak ilmu yang lebih dari sekedar kuliah 3 sks dan tujuh semester. Ilmu yang tak pernah aku dapatkan di kelas, atau ilmu yang tak pernah diberikan oleh dosen di prodi akuntansi yang notabene lebih mengajarkan mahasiswa untuk taat terhadap textbook. Dan itu semua sudah berakhir. dari mulai coret2an dari dosen metolit yang tdk hobi membaca buku hingga dosen audit yang berorientasi sekuler. Akan tetapi selalu ada saja sahabat-sahabatku yang senantiasa menguatkan, maka memang itu cerita para sahabat sejati. Sahabat yang boleh datang dan pergi namun keberadaannnya meneguhkan jiwa saat sedang lemah, memapah saat sedang jatuh. hingga mengusap air mata saat sedang tertimpa musibah.

Amanahku di fossei pun sudah usai seiring usainya rapimnas sebulan yang lalu, dan pada hari ini, baru saja prosesi wisuda diselenggarakan. Sebuah akhir yang indah bagi yang merasakan kerja keras dan dedikasi yang luhur pada dunia mahasiswa. Aku hanya tersenyum melihat sebuah rangkaian panjang dan tak pernah bisa ditebak setiap kelokan alurnya. Tidak selamanya semanis dalam novel-novelnya kang habiburahman el shirazy tetapi juga tidak identik dengan jalan cerita kebanyakan mereka yang digolongkan sebagai mahasiswa berprestasi.

Saat rapimnas kemarin, Ustadz Ali Sakti banyak memberikan taujihnya tentang takdir. Kata beliau, dalam hidup ini tidak ada yang perlu disesali, para pemain kehidupan memperoleh kesempatan 24 jam sebuah episode yang harus ia mainkan sebagaimana telah diatur oleh Yang Maha Mengatur dan menambah bagaimana semakin manis peranan yang kita mainkan dengan muraqabah dengan Yang Maha Mengatur. Karena konsep takdir bagi seorang muslim bukan soal beriman pada qadha dan qadar tetapi juga meletakkan keredhaan atas tiap ketentuan yang Ia telah tetapkan dan gariskan. Demikian juga Dr AIdh Al Qarni baik saat menulis bukunya yang paling fenomenal “La Tahzan “ atau melalui pelbagai twitternya selalu mengatakan redha atas apa yang telah Allah berikan akan menimbulkan kekayaan jiwa dan redha atas takdir yang telah Ia tuliskan akan menimbulkan kebahagiaan jiwa “ soal kemudian bagaimana sebuah takdir kita mainkan maka kembali nya pada seberapa dekat kita dengan yang telah memberi peran terbaik dalam tiap kehidupan. Memang tidak selalu di atas tetapi di bawah tidak selalu buruk. Karena, kata Allah SWT, boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu sangat buruk bagimu dan boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu sangat baik bagimu. Finally there is no regret. Persoalannya kembali seberapa dekat kita dengan Allah, agar Allah selalu membersamai dalam setiap kerja-kerja dan amal-amal keshalihan yang kita lakukan baik saat sebagai mahasiswa atau saat jadi kalangan professional. Dan saat itulah tidak ada amal yang sia-sia, setiap jengkal peluh nya, setiap cucur letihnya dhitung oleh Allah SWT sebagai pahala yang agung.

Maka benar lah kekata Baginda Nabi SAW “ sesungguhnya setiap muslim itu selalu beruntung, jika memperoleh keberuntungan ia bersyukur maka karunia baginya, jika ia mendapat musibah jika bersabar maka pahala bagi nya “