Sampai saat ini dialektika soal emas hampir tidak pernah usai. Dari zamannya Adam Smith dengan Theory of Moral Sentiment dan The Wealth Nations nya memulai sentuhan pertama pada dunia ekonomi hingga bangkitnya mazhab Keyness saat resesi ekonomi dunia tahun 2007. Adam Smith mengungkapkan mekanisme pasar bebas dengan sejumlah asumsi yang ia telah tetapkan sendiri. Perilaku pelaku ekonomi yang bermoral hingga standart emas. Dengan standar emas yang diterapkan pada bangunan manajemen moneter, menurut asumsi Adam Smith, regulasi pemerintah sama sekali tidak diperlukan. sebab, yang diperlukan oleh pemerintah adalah memproduksi emas, emas yang semakin banyak diproduksi, akan membuat money supply di pasar barang beredar lebih luas, semakin banyak uang yang ditopang dengan emas beredar di pasar, harga emas akan menjadi murah secara otomatis harga kebutuhan di pasar pun lebih rendah.

Namun perlu digaris bawahi, teori Adam Smith tadi tidak selamanya manjur di lapangan sekalipun saat dibandingkan dengan eksperimen ekonomi dunia islam ketika emas sebagai bahan instrinsik dari mata uang dinar dan dirham. Regulasi dan lembaga hisbah yang bertugas mengawasi transaksi ekonomi baik secara mikro ataupun makro tetap ada. dengan amat bertumbuh kembang serta pesatnya pertumbuhan pusat-pusat bisnis dan perekonomian sepanjang era Ummayah dan Abbasiyah. S.M Ghanzafar(2008) mencatat di era Abbasiyah, ada sebuah kerajaan bisnis yang namanya sangat terkenal di dunia Islam terutama di Baghdad yaitu keluarga Karimi yang jika dihitung-hitung nilai kekayaan dan nilai seluruh assetnya mencapai 1juta dinnar. Kerajaan Bisnis ini hampir telah menjelajah seluruh kawasan Barat Tengah, meminjam istilah Tamim Ansary (2010)terutama Kairo, Aleksandria, hingga Jeddah. Kemudian jalur Laut yang terbentang dari Andalusia hingga China pun sudah pernah disinggahi kerajaan bisnis yang turun temurun ini. maka tentunya jika kita melihat gambaran transaksi mikro yang besaran volume nya sangat besar seperti contoh di atas, tentu regulasi yang melindungi pelanggan dari tindak buruk perilaku pelaku ekonomi atau terjaminnya transaksi satu caravan dagang dengan yang lain dalam hal importir atau eksportir, regulasi sang Khalifah selalu ada.

Kembali kepada pembahasan mengenai dialektika emas, pergolakan ekonomi eropa dan amerika yang merupakan imbas dari pengambilan kebijakan besar-besaran melalui kebijakan fiskal pada saat resesi amerika tahun 2007, telah melahirkan kembali dialektika standar emas sebagai sebuah solusi alternatif menyelamatkan warga dunia dari masa depan yang tidak menentu. Dalam tulisan saya yang sebelumnya mengenai spekulasi emas, bagaimanapun juga ketika emas berhenti hanya sebagai instrument investasi, dan selama manusia tidak ada yang pernah sempurna maka emas pun rawan bahkan termasuk komoditas yang tak lepas dari aksi spekulasi. Potensi emas untuk memenuhi fungsi-fungsi uang baik dalam perspektif ekonomi Barat atau Ekonomi Islam tidak terpenuhi di tangan spekulan emas. Emas hanya memenuhi fungsi berjaga-jaga dan spekulasi bagi mazhabnya JM Keyness dan fungsi uang sebagai stock concept bagi mazhabnya Alfred Marshall.

Dalam kaca mata ekonomi makro, emas pun sangat dipercaya ampuh mengembalikan defisit perdagangan. Asumsikan saat ini negara kita menggunakan monetary gold standart, dalam perdagangan bebas dengan china kita mengalami defisit.  defisit dalam pengertian impor dari china lebih besar daripada ekspor kita. Bank sentral Indonesia dalam hal ini Bank Indonesia akan mengirimkan emas sejumlah defisit yang kita alami denga china. Ketika cadangan emas menurun,persediaan uang di pasar juga berkurang sehingga barang-barang lebih murah dan barang ekspor kita pun lebih murah sehingga dorongan impor bisa dikurangi. Akhirnya ekspor kita naik dan kembalinya ke surplus neraca perdagangan dengan China, tetapi itu semua belum melibatkan faktor politik global dan komitmen pengambil kebijakan dalam negeri. Dibandingkan dengan berbasiskan fiat money standart dalam perdagangan bebas serta globalisasi ini perang mata uang hampir tidak terhindarkan setelah kebijakan proteksionisme masing-masing negara dikurangi. Semakin mata uang sebuah negara terdepresiasi dengan mata uang lain. maka produk dan barangnya di pasar internasional bisa lebih murah dan kompetitif.

Terakhir, yang harus menjadi catatan. Asumsi ekonomi makro tadi belum bicara soal infrastruktur,belum membahas soal hukum syariah, dan terakhir justru soal nama. Namun bagi banyak orang soal nama inilah yang menjadi masalah penting. Ada kalangan yang keukeuh mata uang islam= dinar dan ada lagi yang menyamakan dinar= rupiah/dollar. mungkin yang kedua terjebak dalam formalitas bentuk tanpa melihat substansi nya. Seolah-olah ingin menyederhanakan masalah tapi effeknya di luar hitungan penyederhanaan. Begitu juga dengan kalangan pertama. Merasa perlu untuk mengeluarkan fatwa haram mata uang kertas padahal Rabithah Alam Islamy sudah mengeluarkan fatwa bolehnya mata uang kertas digunakan dalam transaksi dan ditunaikan zakatnya. Ala kulli hal, teringat dengan tweetnya ustadz Abduh, salah seorang dosen di STEI Tazkia, menggunakan dinar hanya soal preferensi ekonomi, tidak perlu kafir-kafiran ;-D

Jakarta 10 Raya Agung 1432 H

sambil ditemani segelas susu coklat dan nasyid-nasyid Izzatulislam