kaum marginalDalam sebuah perjalanan pulang dari sidang skripsi seminggu yang lalu, saya sempatkan diri di cawang untuk menyantap seporsi sate padang dan saat sedang menunggu sate padang pesanan saya, tak sengaja saya mendengar celotehan sejumlah pedagang stasiun yang sedang mengobrol, “ ni juga Alhamdulillah dah masih bisa jualan, bangku aje kemaren kucing-kucingan “ celoteh seorang pedagang minyak wangi dan buku-buku agama, “ iye, untungnye juge kita bunyi nye bukan meong-meong “ sahut seorang ibu paruh baya yang juga berprofesi sebagai seorang pedagang di sebelahnya  yang disambut tawa ala kadarnya dari sekeliling

tiba-tiba saya memasang telinga baik-baik tentang apa yang sebenarnya baru terjadi di stasiun cawang ini, “mang tadi ade ape bang, koq kayaknye heboh bener “  tanya saya memberanikan diri kepada salah seorang pedagang yang sedang mengobrol tadi, “ eni, dalam rangka hut PT KAI, biase dah yang dianggep kurang ngenakin pemandangannye di sekitar stasiun diharap minggir dulu, padahal kite aje ni hari untung nye belon balik modal eh udeh “ditertibin” dulu “, saya pun manggut-manggut membayangkan betapa kerasnya kehidupan para pelaku sektor riil ini, kemudian sang pedagang minyak wangi ini melanjutkan ceritanya, “ saye udeh 11 taon dagang disini, yah kalo soal untung mah bisa 15 juta an perbulan tapi ntu juga masih kotornya bang, Alhamdulillah dah bisa kebeli rumah permanen, gak ngontrak lagi, tetangga kiri kanan juga pada heran, yang lain rumahnya 350 jutaan, nah keluarga saye mah malah dapetnye 100 jutaan, “ subhanallah” celetukku, “kalo boleh aye tau rahasia nya apaan bang” tanya saya agak mengejar “ yah kalo saye mah ngebiasain diri bangun malem, shalat tahajud, bersosialisasi atau bermasyarakat, nah yang terakhir sedekah “ setelah itu sang pedagang banyak bercerita tentang pelbagai sisi lain perusahaan kereta api Indonesia, dari mulai kerap mengusir pedagang kecil hingga tidak transparannya keuntungan  PT KAI dan terakhir ia memberikan bocoran kepadaku tentang rencana pengurangan armada kereta api dengan tujuan penambahan profit PT KAI, hingga ia bercerita dan memberikan opini yang berbeda tentang pemberian gelar raja Saudi oleh rektor UI, untungnya saya bukan mahasiswa UI hehehe

Bertemu dengan segelintir pedagang tadi, saya jadi teringat dengan kisah kaum marginal di negeri ini, seorang teman saya dalam sebuah perjalanan pernah mengatakan, “will mereka ini, walaupun terpinggirkan tetapi mereka merupakan mayoritas dari negeri ini” dan saya sepakat dengan ungkapan sahabat saya tadi bahwa mereka merupakan kaum mayoritas di negeri ini, tetapi dengan terpinggirkan mereka,  yang unik menjadi salah satu indikator fundamental ekonomi Indonesia yang salah satu nya adalah tinggi nya tingkat konsumsi domestik. Di saat yang sama, topik majalah tarbawi kemarin menegaskan sejumlah hal. Bahwa kerap kita menilai transfer kekayaan di antara orang-orang super kaya negara ini sangat terasa rumit dan ilmiah tapi kita menyederhanakan transfer kekayaan di antara kaum marginal ini, ya, mereka memang sangat sederhana kalau tak mau disebut polos, tetapi ada ketegasan keyakinan di dalamnya kepada Yang Maha Memberi Rizki, ada ketergantungan yang sangat kuat bahwa tidak ada yang mampu mencegah atau menghambat kalau Allah Yang Maha Membuka pintu-pintu rezeki sudah memutuskan rezeki baginya.

imagine, kalau semua pelaku sektor rill seperti yang saya ceritakan di atas,  ketika produktifitas menghasilkan barang konsumsi disertai dengan rasa tawakal dan bergantung pada Yang Menjamin Rezeki, tohk soal bicara rezeki disini tidak serta merta disertai hitung-hitungan profitabilitas dan break event point, atau malah hitung-hitungan akuntansi biaya produksi dengan pendapatan, karena ternyata tidak semua pedagang kecil memanfaatkan instrument yang bagi kita wajib dipelajari saat memulai usaha, karena sekali lagi, begitu kuat dan tulus kebergantungan mereka pada Dzat Yang Maha Membuka Rezeki betapapun terbatasnya kemampuan mereka dalam menjaring penghasilan dan menghidupi keluarga mereka. Hitung-hitungan kita sangat identik dengan ketamakan dan ambisi yang tak pernah habis, tetapi bagi mereka rezeki adalah soal kecukupan dan memang kebahagiaan diri manusia pada akhirnya berbicara soal cukup sedangkan kelebihan senantiasa dipertimbangkan sebagai rahmat dan bonus dari Allah.

Jujur, saya bukan orang yang mendikotomisasikan antara teori ekonomi islam normatif dan positif sebagaimana yang pernah saya terima saat kuliah teori akuntansi, karena ekonomi islam tidak bisa tidak sebagai sebuah sistem yang kuat dan dapat diterima semua orang fitrahnya menjadikan petunjuk Allah dan nasihat sang Baginda Nabi SAW sebagai pertimbangan nilai-nilai kebenaran dan keburukan dalam perilaku pelaku ekonomi islam dan memang fitrahnya bagaimana petunjuk Allah dan nasihat Baginda Nabi SAW membumi dan bahkan menjadi variable-variable independen atau variable dependen dalam penelitian kuantitatif ekonomi islam. maka memang kita bisa melihat disini ada perbedaan khas mana yang disebut sebagai rezeki dan mana yang disebut keuntungan, Ibnu Khaldun dalam Mukadimmah nya menyebutkan bahwa rezeki ialah jika manfaat dari produksi kembali dan ia dapat menikmati hasilnya, sedangkan yang dimaksud dengan laba adalah jumlah nilai yang tumbuh dan berkembang. Dari keduanya kita menemukan persamaan : tumbuh berkembang dan manfaat yang kembali kepada pemilik faktor produksi. Lalu bayangkanlah apa yang akan terjadi di dunia penelitian kita seandainya nilai-nilai ekonomi islam yang melekat pada pelaku sektor riil dijadikan variable independen atau bahkan salah satu indikator yang menentukan tingkat GDP sebuah bangsa, dengan amat optimis posisi dialog ekonomi islam tak lagi berada di kawasan  periphery seperti saat ini.

Ekonomi Islam tampil sebagai sebuah kekuatan dan bahkan soko guru perekonomian nasional dalam mengawal bangsa ini mencapai mimpi-mimpi dan takdirnya. Dan mimpi-mimpi serta takdir itu ternyata bermula dari kalangan marginal, para aktivis da’wah yang berjibaku mengedukasi umat dan membiasakan diri bertransaksi yang halal serta mencukupkan harta nya agar kelebihan rezeki tidak menjebaknya pada sikap  ghaflah atau lalai, para dosen dan akademisi yang tawadhu, yang tidak menjadikan seberapa banyak karya yang ia buat sebagai patokan seberapa banyak ilmu nya, atau sama sekali bagi nya tidak terpikirkan seberapa banyak membantai mahasiswa saat sidang sebagai indikator kecerdasan dirinya mencari kesalahan-kesalahan dala karya mahasiswa, pada pelaku sektor riil, entrepreneur yang cerdas mengelola rezeki untuk bermanfaat bagi sesama dan menjadikan orang-orang sekitarnya mampu menjaga izzah dari meminta dan mengemis bahkan mampu membuka lapangan pekerjaan lebih banyak, agar manfaatnya tetap tumbuh dan kembali. Para pengambil kebijakan di tataran eksekutif dan legislatif, mengeluarkan regulasi bukan saja pertimbangan politis dan citra di depan media, tetapi juga membuka ruangan maslahah bagi publik Indonesia selebar-lebarnya, marginal yang menjadi mainstream, bukan akhirnya mainstream yang dimarginalkan, mungkin itu juga mimpi mereka, doa mereka di sebalik peluh keringat saat menata barang dagangan atau saat sedang dikejar satpol pp, bagi Allah, ada doa yang cepat diijabah satu doa orang yang berbuka dan salah satu nya lagi doa orang yang sedang dizalimi. Kalau memang benar doa mereka doa penuh kebaikan, tidak ada yang mustahil dan sejarah mencatat bahwa ekonomi negeri ini selamat dari dua krisis global 2011 dari tangan-tangan dan jiwa-jiwa yang dimarginalkan dari pengambilan keputusan negeri ini.

3 Dzulqaidah 1432 H

23 : 54 waktu Darmaga

While listening song of Haddad Alwi, The Way of Love