antara investasi dan spekulasi emasSpekulasi secara umum dapat didefinisikan  sebagai zero sum game, satu pihak mendapatkan keberuntungan dengan menciptakan  pihak lain yang harus membayar kekalahan dari investasi yang ia lakukan. Antara spekulasi dengan investasi memang sulit ditemukan secara nyata garis merahnya namun siapapun yang mendalami ilmu ekonomi akan paham investasi lazimnya adalah pengeluaran oleh sektor produsen untuk pembelian barang/jasa dengan harapan untuk menghasilkan keuntungan kemudian. Sementara spekulasi dalam teori nya JM Keynes, jika tingkat bunga naik maka rasional bagi seseorang untuk menjual obligasi dan memegang uang tunai sedangkan bila tingkat bunga turun maka ia lebih memilih untuk mengurangi memegang uang tunai dan membeli obligasi untuk menghindari capital loss. Nah, titik temu yang mempertemukan beda nya wajah investasi dengan spekulasi dalam teori makro Keynes pun sudah terlihat, yang pertama pengeluaran produsen untuk transaksi produktif dengan harapan keuntungan dalam jangka panjang sedangkan yang kedua, jelas terlihat permainan keuntungan dalam jangka pendek yang bergantung pada suku bunga dan faktor masa depan yang masih gaib.

Ketika ada seseorang sahabat yang bertanya kepada saya mengenai gadai emas, praktiknya pun sangat mirip dengan investasi, namun akhirnya yang membedakan adalah motif dan perilaku “investasi” yang ia lakukan. Antara murni bisnis dalam jangka panjang dan sarat perhitungan serta bertujuan sebagai sarana untuk emergency saving dengan murni berspekulasi  dengan harapan harga emas yang diestimasikan terus terapresiasi semakin menggairahkan usahanya untuk memanen milyaran rupiah dalam jangka waktu 2-4 jam. Pertanyaan tersebut begini : akhi, ane mau nanya, kalau misalkan ane punya dua barang yaitu emas dalam berat  keduanya 25 gram, emas yang pertama ane gadaikan hasilnya untuk modal usaha, kemudian Karen ada jangka waktu penebusan gadai dan diestimasika harga emas masih bisa naik berarti khan ane masih bisa menebus emas yang pertama dengan emas yang kedua, nah itu gimana dalam islam ?. sepintas saya berfikir tidak ada yang salah dengan gadai seperti ini, namun yang menjadi masalahnya kenapa harus berpatokan dengan estimasi harga emas yang masih akan naik ? berarti jelas ada nuansa gharar di balik transaksi gadai emas syariah ini.

Dan di aspek lain, tak bisa kita lupakan, selama emas masih digunakan dan hanya berhenti sebagai alat investasi, peluang penyalahgunaan fungsi nya akan tetap ada. Selama manusia tidak ada yang sempurna maka selama itu pula apa yang disebut dalam fiqh sebagai hillah, menjadi tools sakti dalam logika  sekuler memperdayakan kecanggihan sistem ekonomi islam. dan itulah yang kita temukan dalam kasus kebun emas dan gadai emas syariah yang marak belakangan ini. gadai emas syariah mempunyai pola sebagaimana yang pernah di sms oleh sahabat saya di atas : andaikan saya mempunyai dua barang yaitu emas 25 gram, emas yang satu saya gadaikan dan uangnya untuk modal usaha dan emas yang satunya digunakan untuk menebus emas yang pertama dengan asumsi harga emas akan terus naik. Sekilas dalam kacamata fiqh muamalah tidak ada yang salah dengan transaksi ini, tiga unsur transaksi sudah dipenuhi. Ada objek, ada pelaku, dan sighat akadnya. Menariknya walau berjudul gadai emas syariah namun akad yang berjalan bukan akad rahn seperti dalam akad gadai pada umumnya melainkan qardh atau pinjaman. Qardhun atau pinjaman dalam fiqh klasik bertujuan untuk membantu seseorang keluar dari kesulitannya dengan pinjaman namun dalam transaksi gadai emas syariah qardh bukan saja digunakan untuk sosial tetapi juga tujuan komersil. Nuansa spekulasi dalam transaksi gadai emas syariah nampak saat pelaku akad gadai emas syariah mengasumsikan bahwa dalam jangka waktu yang ditentukan oleh institusi keuangan islam harga emas akan mengalami peningkatan sehingga sang pelaku haqqul yakin, ia bisa menggadaikan emas yang kedua untuk menebus emas yang pertama.

Karena persoalannya tidak semudah dalam fikiran bahwa sang pelaku kembali dengan tumpukan rupiah dari hasil menebus emas yang pertama melalui emas yang kedua. Sebab dari tren kenaikan yang tajam dari sebuah asset merupakan peak atau puncak bahwa harga asset tersebut akan meluncur bebas. Sang pelaku gadai emas tak mampu protes kalau ia tak mampu menebus emas yang kedua dan hanya memperoleh dana untuk modal usahanya, sebab di awal sudah ada akad dan perjanjian antara pihak lembaga keuangan islam dengan sang pelaku. Maka secara accounting, dari pihak bank mendebet keuntungan dari gadai emas yang dilakukan customer  dari dari nasabah, hanya mengkredit kerugian akibat gagal menebus emas nya yang kedua, akibat jatuhnya harga emas. Atau metode kedua untuk menghindari kerugian di atas, ditempuh seperti yang banyak dilakukan investor kebun emas, saat emas yang kita tanam sudah termasuk biaya-biaya administrasi gadai dalam jangka waktu satu tahun ketika itulah kita mulai melakukan pencicilan, emasnya kita beli, kemudian kita gadaikan, lalu belikan emas lagi dan kemudian kita kembali menggadaikan, beli lagi, kemudian gadai dan seterusnya sampai mencapai harga emas pembiayaan dari bank ditambah investasi kita dan biaya kontak satu tahun. Dengan lagi-lagi mengestimasikan harga emas akan terus naik, maka kita hanya menunggu memanen hasil kebun emas ini dengan ekspektasi jutaan rupiah di tangan.

Padahal dalam perspektif makroekonomi, bayangkanlah apa yang akan terjadi di Indonesia jika seluruh orang lebih memilih memegang emas dibandingkan dengan memperbesar tabungan di bank syariah yang sama-sama mengembangkan dua produk tersebut. Logikanya, daripada menyalurkan pembiayaan ke sektor rill yang selama ini menjadi core ideal dari perbankan syariah, bankir akan lebih memilih mengembangkan produk kebun emas karena jauh bukan hanya lebih menguntungkan tetapi juga bebas dari resiko pembiayaan macet. Akibatnya secara drastis, Financing Deposit Ratio yang selama ini menjadi indikator aktifnya perbankan syariah menyalurkan pembiayaan ke sektor riil drop secara berkala dan akhirnya berkurang sama sekali. Sementara di sektor riilnya sedang sekarat karena smeua orang lebih memilih dan lebih peduli memegang emas, sektor keuangannya sedang bergairah karena harga emas sedang booming. Maka, dengan kemasan yang berbeda telah terjadi decoupling ala “ekonomi syariah” antara sektor riil yang sekarat dari pembiayaan perbankan terhadap industry umkm dengan sektor keuangan syariah yang menjadikan produk kebun emas dan gadai emas syariah menjadi preferensi masyarakat luas serta pasar. Kalau dunia ekonomi kapitalisme modern menjadikan fenomena decoupling itu antara lantai bursa dengan industry perumahan seperti yang terjadi di Amerika Serikat tahun 2007-2008 dengan fenomena subprime mortage nya, maka dunia ekonomi syariah pun tak luput dari penyalahgunaan alat investasi untuk menciptakan fenomena serupa. Di Indonesia, berdasarkan catatan Prof Didin S Damanhuri, fenomena decoupling  pada tahun 2000,2003,2006  kecepatan sektor keuangan bergerak dari delapan hingga hampir dua belas kali lipat dibandingkan dengan sektor riil, ditambah kenyataan saat kemiskinan semakin parah dan pengangguran di masa itu meningkat sekitar 40 juta, secara kontras, overliquidity di perbankan pada periode yang sama sekitar Rp 5000 Trilyun !

Kalau sudah demikian, begitu tajam kritikan Allah SWT dalam surah Al Kahfi :32-45  tentang kisah dua pemilik kebun anggur yang kedua kebun anggur itu dikelilingi oleh pepohonan kurma.  pemilik kebun yang pertama digambarkan oleh Allah SWT sebagai rijaal shalih dan yang kedua Rijaal Thalih, rijaal thalih mengklaim bahwa asset tetap dan asset lancar yang ia miliki volumenya lebih besar serta berkeyakinan bahwa segala asset nya akan stabil dan terus prospektif. Kawannya sebagai seorang yang digambarkan oleh Allah SWT bertaqwa memberikan peringatan dan da’wah, seraya berharap Allah akan memberinya kebun yang lebih baik dan lebih subur serta dirahmati oleh Allah dari pemilik kebun kedua yang congkak dan tamak. Kemudian ketika tiba masanya, terjadilah resesi, “ dan harta kekayaannya dibinasakan, lalu ia membolak-balikkan kedua tangannya(tanda menyesal) terhadap apa apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-para nya dan dia berkata “aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Tuhanku” “ ( Al Kahfi : 42) kemudian kisah dua pemilik kebun tersebut ditutup dengan permisalan dari Allah SWT bahwa kehidupan dunia bagaikan air hujan yang diturunkan dari langit, dengan itu suburlah tumbuh-tumbuhan di muka bumi kemudian tumbuh-tumbuhan menjadi kering dan diterbangkan angin.  (Al Kahfi :45) Kemudian ditutup dengan redaksi “ Dan Adalah Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu “  mengindikasikan bahwa masa depan bagaimana pun canggihnya estimasi harga emas semua tetap  dalam genggaman Yang Maha Menciptakan Waktu.

Kalau boleh dibilang, akan ada waktunya berputar balik mengikuti jarum sejarah, saat Bank Sentral  Amerika Serikat, The Fed, menetapkan Tight Money Policy, suku bunga dinaikkan, uang beredar menurun, dan  imbasnya investor bergegas pergi dari negara-negara yang menikmati euphoria gelembung saham dan emas dan menjual emasnya, harga emas pun merosot drastis. baru pada saat itu kita mengerti sebuah pepatah arab “man yazra yahsud” barangsiapa yang menanam dia akan menuai “ !

Jakarta

25 Syawwal 1432 H

Sambil mendengarkan senandung nasyid Maher Zen “Freedom”