kebijakan moneter The FedSuch speculation is a zero-sum game. Someone must lose. If Quantitative Easing is
to help U.S. banks earn their way out of negative equity, by definition their gains must be at
the expense of foreigners. This is what makes QE II is a form of financial aggression. Michael Hudson,Levy Economic Institute, 2010

Saat ini dunia sedang menghadapi sebuah tragedy yang rumit. Rumit karena besaran volume ekonomi sebesar perekonomian negara Amerika Serikat telah ikut membuat semua penghujung dunia yang terbelit dengan jaringan keuangan global was-was. Tidak terkecuali di Indonesia, sejak resesi ekonomi Amerika Serikat tahun 2007-2008 menerpa, kekhawatiran itu tetap ada. Khawatir hotmoney yang hanya parkir di lantai bursa dalam hitungan detik bisa saja terjadi outflow dan membuat panik sebagian besar investor lokal. Dampaknya memang ada, kurs rupiah menguat, dan membuat para investor sadar dari mimpi nya sektor keuangan tetaplah sektor keuangan dan pasar yang beternak uang bukanlah pasar dalam artian sebenarnya. Bukan pasar yang menyangga kekuatan negara memfungsikan tujuan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kalau dulu Alan Greenspan pernah membuat sebuah buku berjudul “The Age of Turbulance” yang di dalamnya pada bagian akhir, Greenspan memberikan sebuah ramalan tentang masa depan ekonomi Amerika Serikat maka kalangan ekonom heterodox, telah lama menganggap optimisnya pemerintahan Obama menyelesaikan hutang-hutang nya dan mengurangi tingkat pengangguran sebagai sebuah ilusi belaka. Sebagaimana yang banyak diungkapkan ekonom heterodox di jurnal-jurnalnya seperti Erturk (2010) kerusakan dan kekisruhan jaringan keuangan global mencapai puncaknya sejak adanya era liberalisasi dan era deregulasi keuangan global dan indikasi bahwa resesi ekonomi dunia sudah dimlai sejak adanya krisis keuangan Asia yang memporakporandakan Asia Tenggara kemudian pada tahun 2001 tentang ledakan dan ambruknya perusahaan dot com di Amerika Serikat dan tahun 2007-2008 ledakan pasar rumah atau subprime mortage, dan terakhir ramalan dari Nouriel Rouhbini seorang analisis dari IMF bahwa resesi ekonomi amerika serikat sangat besar kemungkinannya bergulir hingga dua tahun berikutnya dari tahun 2007.

Kerumitan resesi ekonomi Amerika ini ikut ditingkahi dengan gejala hutang negara-negara Eropa yang kian parah dan terlanjur mendapatkan peringkat junk bond dari beberapa lembaga pemeringkat kredit internasional. Sebutlah Jerman memiliki hutang sebesar US$ 2,079 M, Italia US$ 1,897, Portugal 160,47 M, Perancis anggarannnya defisit minus 10,40 persen, Yunani, negara pertama di Eropa yang memicu krisis hutang seamtero Eropa hingga Agustus 2011 memiliki hutang sebesar US$ 329 M, jadilah peta dunia tahun 2011 diwarnai The Twin Recession yang bukan lagi berdampak sistemik tetapi semakin memperjelas blok ekonomi dunia saat ini. kubu G7 yang direpresentasikan Amerika dan Eropa dengan tingkat defisit antara minus 9,20 persen hingga minus 10,40 persen dan kubu BRIC, yang diwarnai negara-negara Emerging Markets dengan tingkat pertumbuhan ekonomi menggairahkan hingga 7% seperti Brazil, India, China, Turki.

Walaupun Indonesia sejak tahun 2007-2008 mampu bertahan dari krisis ekonomi dunia dan tidak banyak terpengaruh dengan resesi perekonomian Amerika Serikat namun tidak bisa dipungkiri dana panas yang terparkir di lantai bursa dan sewaktu-waktu berpotensial outflow dari dalam negeri selalu membuat indeks IHSG panic luar biasa. dan itulah yang dapat diperjelas dari kepanikan para investor pada awal bulan ramadhan, IHSG anjlok sebesar 5,35% dan secara otomatis outflow dana asing dari dalam negeri memukul kekuatan kurs rupiah yang sudah beberapa belakangan ini cukup mengagumkan

Quantitative Easing hingga Ekonomi Ala Ramadhan

Melihat gejolak The Twin Recession yang terjadi saat ini, dengan segala potensi dan prediksi para ekonom dunia, maka bagi regulator perbankan di manapun segera mengambil langkah-langkah strategis untuk menanggulangi resesi ekonomi dalam negeri tidak menjadi krisis ekonomi global. Di antara nya paling paling popular setelah bail out adalah Quantiative Easing. Secara sederhana yang dimaksud dengan quantitative easing adalah mencetak uang sebanyak-banyaknya oleh bank sentral untuk mencapai tingkat likuiditas maksimal dan dengan tingkat pengembalian di bawah 1% ( Hudson, 2010)

Quantatif easing dilihat dari ekonomi makro, mempunyai beberapa posisi dan konsekuensi. Pertama, untuk mencapai keseimbangan pasar dalam teori IS/LM, kebijakan Quantitative easing akan mempengaruhi kurva LM ini, sehingga kurva permintaan agregat mendorong meningkatnya penawaran uang namun apa yang terjadi dalam ekonomi amerika serikat tidak demikian. Mata uang Dollar, suka tidak suka, masih merupakan mata uang terkuat dan berpengaruh sampai saat ini, namun kuatnya mata uang dollar tidak serta merta membantu Amerika Serikat menyelesaikan masalahnya, sebab, harga dari produk domestik dari negara nya Obama itu menjadi tidak kompetitif. Kedua,  yang menyebabkan terjadinya pemenuhan jumlah uang beredar di pasar adalah sektor keuangan yang dapat diharapkan menyalurkan dana dari quantitative easing ke sektor riil  Amerika Serikat menjadi hanya berkonsentrasi di sektor keuangan itu saja. Namun memang daya beli masih lesu maka besar kemungkinan jika kredit disalurkan yang ada hanyalah macet.ketiga,  Faktor politis ikut mewarnai kebijakan ini, posisi global Amerika Serikat sedang terancam dengan kedudukan neraca perdagangan China yang selalu surplus, sudah dimulai pasca krisis global, China telah mematok volalitas mata uang nya terhadap USD, saat itu mata uang Dollar di “hargai” oleh China sebesar 6,8 yuan, dan China melakukan ini semua agar produknya bisa lebih murah dan memenuhi pasar domestik Amerika Serikat dan ekspornya ke negara itu pun meningkat. Jadinya yang kita lihat saat ini masih belum lepas dari drama perang mata uang, semakin mata uang terdepresiasi dengan mata uang lain maka produknya bisa lebih murah dan kompetitif. Namun yang jelas unsur kezhaliman sangat nyata disini, negara-negara yang mata uang nya malah terapresiasi atas mata uang dollar ekspornya terhambat dan produknya pun menjadi mahal. Itulah yang menjelaskan kepada kita saat Rupiah menguat hingga posisi Rp 8.500/US$ serta mencemaskan para pengusaha ekspor dalam negeri, sebab selama nilai ekspor masih dihitung dengan USD,profit terus berkurang, padahal banyak cost yang harus dibayar oleh para eksportir. Dan terakhir, Quantitative Easing mencerminkan arogansi pemerintah Amerika Serikat, sebab dalam teori dijelaskan kebijakan fiskal mendorong terjadinya permintaan agregat dan permintaan agregat menimbulkan output perekonomian bertambah dengan inflasi, namun bank sentral memudahkan resiko nya dengan memindahkan biaya inflasi kepada negara-negara pemegang dollar.

Secara empirisnya, pada tahap pertama peluncuran Quantitative Easing, The Fed membeli surat hutang jangka panjang pemerintah Amerika Serikat senilai US$ 300 Milyar  dan pembelian surat hutang sektor perumahan senilai US$ 175 Milliar ditambah menyediakan dana sebesar US$ 1,25 Trilyun untuk menjamin lembaga penjamin surat hutang kredit perumahan. Maka total dana yang dikucurkan dalam tahap pertama Quantitative Easing sebesar 1,725 Trilyun. Setelah melewati beberapa semester, tak banyak perubahan dalam memulihkan hutang Amerika Serikat yang membengkak mencapai angka US$ 15,48 Trilyun dan berpotensi default atau gagal bayar. Maka tahap kedua Quantitative Easing, The Fed membeli surat hutang pemerintah Amerika Serikat senilai US$ 600 Milyar, lebih kecil dari paket QE tahap pertama namun hasilnya belum jua merecovery defisit anggaran US sebesar US$ 1,5 Trilyun.

Tatkala dua resesi ini telah semakin membuat wajah dunia selalu terluka dengan persoalan hutang yang membelit dengan amat parah, para gubernur bank sentral di penjuru dunia juga mengambil langkah lain sebagain bagian dari berjaga-jaga. Antara lain memindahkan cadangan devisa dalam bentuk yang lebih stabil seperti Emas dan Perak.

Di negeri kita, kekhawatiran dan kecemasan memang selalu ada. Tidak sekhawatir saat krisis tahun 98-99 menerpa memang tetapi melihat pasar dalam negeri masih didominasi industri rumah ( home industry ) terutama saat resesi Amerika Serikat terjadi pada awal Ramadhan, Indonesia malah menikmati keberkahan bulan Ramadhan dengan indikator daya beli konsumen yang meningkat, perputaran uang yang cepat dan meningkatnya jumlah lapangan pekerjaan (Guntoro,2009) dengan kata lain tiga indikator ini telah menjadi alasan kuat telah tercipta nya struktur perekonomian rakyat yang produktif dan prosesnya tidak hanya menghasilkan barang atau jasa tetapi juga nilai. Ditambah akhir Agustus yang juga akhir bulan ramadhan, permintaan produksi barang dan jasa industri kreatif seperti pelbagai bentuk parsel, isi parsel hingga produksi kertas ang pao, konveksi, meningkat tajam sehingga memang wajar kalau banyak analis ekonomi yang menyebutkan fundamental ekonomi Indonesia tahun 2011 cukup kuat dan tidak berpeluang terjadi nya bubble. Maka yang terjadi saat bulan Ramadhan kemarin bukanlah ramadhan dalam bingkai kapitalisme tetapi memang pada dasarnya sabda Baginda Nabi SAW kalau rezeki setiap makhluk hidup di bulan ramadhan di buka lebar-lebar memang terbukti manjur secara empiris. Sehingga benarlah kekata Nabi suci yang mulia itu, bahwa seandainya manusia tahu keutamaan bulan ramadhan maka pastilah ia akan meminta semua bulan dalam setahun menjadi bulan ramadhan. Saat-saat setiap amal sunnah pahalanya setingkat wajib dan saat-saat yang wajib pahalanya dilipatgandakan.

Jika Ramadhan adalah bulan pembakaran, maka bulan Syawwal adalah bulannya peningkatan. Memang harus ada peningkatan kualitas hidup sama hal nya peningkatan kualitas industry kreatif dan industry pangan halal dalam negeri. Jadi output yang meningkat bukan hanya hitungan amaliah ibadah tetapi juga kesejahteraan yang berbobot.

Willy Mardian

Kepala Departemen Nasional Riset dan Pengembangan Ekonomi Islam FoSSEI

Jakarta

8 Syawwal 1432 H

Sambil ditemani senandung nasyidnya Edcoustic