Saat Sayyid Quthb menafsirkan surat Al Baqarah :183-185 terutama tentang maksud dari akhir sekaligus tujuan puasa, La’alakum Tataqun,  ia menjelaskan bahwa takwa adalah sesuatu yang membangkitkan hati, yang mendukung kewajiban tunduk kepada Allah dan mengutamakan ridhaNya. Taqwa merupakan Sesuatu yang memelihara hati dari kemaksiatan yang merusak shaum dan bahkan takwa yang menjadi filter dalam pikiran seseorang.  Dan, diksi “La’ala” dalam tafsir Fi Zhilalil Qur’an adalah sebuah optimisme bahwa tujuan yang dituju itu mampu dicapai oleh seorang mukmin. Karena, dari awalnya pun surah Al Baqarah :183 sudah memuat panggilan penuh sayang dan tulus kepada mereka yang disebut oleh Allah SWT sebagai orang-orang beriman. Maka, taqwa merupakan tujuan realistis dari perjalanan mereka yang disebut penuh kasih sayang oleh Allah dalam ayat ini yang bermaksud membangkitkan dan mengembalikan keunggulan orang beriman yang jalan nya adalah taqwa.

Untuk mencapai tujuan besar yang harus dituju oleh orang-orang beriman tersebut, terdapat sebuat penugasan bagi urusan jiwa manusia yang memerlukan pertolongan,motivasi, dan dorongan dan disebutkan sebuah taklif atau penugasan tersebut adalah puasa. Puasa, dalam perspektif Sayyid Quthb, adalah sarana yang mengkader manusia menjadi mampu meninggikan jiwanya dari tuntutan jasadnya. Puasa ialah jalan yang mengarahkan seseorang pada jalan-jalan jihad terhadap jiwa. Sehingga orang yang berpuasa, ungkap Sayyid Quthb, bisa menahan beratnya perjalanan yang terbentang dengan ragam tantangan dan duri di berbagai sisinya, serta godaaan syahwat yang berlalu di hadapannya. Dengan kata lain, shaum merupakan benteng besar bagi orang beriman yang dengan skenario terbaik, Allah menyediakan puasa dalam jangka waktu sebulan untuk melindungi kejiwaan dan ketahanan fisik dan bathin untuk sebelas bulan kedepan.

 

Maka logika yang ingin ditawarkan kepada akal pikiran manusia adalah jika dengan yang bersifat atau hukum nya mubah saja kita mampu memberikan penahanan terbaik, maka tidak ada kata haram melintas dalam konsumsi yang kita gunakan atau produksi yang kita lakukan. Dan inilah yang disebut oleh Sayyid Quthb rahimahullah sebagai jihad melalui perjalanan yang penuh dengan duri dan tantangam.

Bulan puasa kali ini sangat dekat atau jika tidak, bisa dikatakan bertepatan dengan sebuah nuansa penting bagi sejarah bangsa Indonesia, namun anehnya, segelintir orang dengan begitu pongahnya, menyayangkan bahwa nuansa penting itu akan terkubur dengan haru biru ibadah puasa, dan sebagaimana yang saya baca pernyataan tersebut di twitter, sungguh paradoks dengan tujuan puasa yang Allah syariatkan dijalankan bagi mereka yang beriman. Dan itulah sebabnya juga saya membuka tulisan ini dengan secuplik makna puasa dari surat Al Baqarah :183-185 dari sebuah kitab tafsir yang berhasil menggabungkan metode ra’yi dan metode mat’sur yaitu Fi Zhilalil Qur’an. Padahal perdebatan nasionalis atau islamis sudah lama selesai. Dan ke depan akan lebih menjadi tidak produktif dan cenderung mencari kambing hitam kembali menyalakan perdebatan yang sudah lama usai ini. sebab perjalanan sejarah bangsa ini pun menunjukkan betapa tak terkira nya dan sangat tidak ternilai harga darah dan air mata dari perjuangan dan kontribusi umat muslim untukk kemerdekaan negeri ini.

 

kemudian oleh sejumlah ahli sejarah ‘pesanan” hipotesa nya dipelintir dengan menjadikan umat muslim sebagai kambing hitam. Seolah-olah dengan kehadiran Islam dalam peta sejarah perjalanan bangsa ini, masa “keemasan “ yang telah digapai oleh kerajaan Majapahit runtuh dan berganti warna islam yang “memaksakan”keyakinannya pada segenap penduduk pulau jawa. Untuk meluluskan skenario tersebut disusunlah kitab-kitab yang sampai saat ini menjadi pegangan teguh kalangan Kristen jawa dan kejawen yaitu Darmagandul dan Jangka Sabda Palon, yang kedua nya melukiskan penolakan islam oleh budaya jawa dan dianggap sesuatu yang asing. Namun adalah janji Allah untuk menjaga kebenaran tetap terjaga nyala api nya. Sebagaimana yang banyak dipaparkan dalam penelitian Susiyanto (2010) isi jangka Sabdo Palon yang selama ini oleh kalangan kejawen ditafsirkan ramalan seorang abdi dalem majapahit akan keruntuhan islam di pulau jawa dibantah dengan isi kitab Jangka Sabdo Palon itu sendiri yang malah menegaskan bahwa dua orang abdi dalem Majapahit yakni, Sabdo Palon dan Noyo Genggong hidup dalam agama islam dan bukti dari batu nisan di pemakaman trowulan, jawa timur

 

Begitu juga dengan isi Darmagandul, Susiyanto (2010) banyak memaparkan secara detail, kejanggalan klaim penyusunan kitab Darmagandhul yang diklaim kalangan anti islam pada masa transisi majapahit pada era penyebaran islam di tanah Jawa. Darmagandhul menceritakan kisah Prabu Brawijaya yang telah diislamkan oleh Sunan Kalijaga, kemudian Prabu Brawijaya meminta abdi dalem nya untuk mengkuti agama yang dipeluknya. Namun abdi dalem nya tersebut menolak dan bahkan mengeluarkan ‘kutukan” agama islam di pulau jawa berganti dengan agama Kristen. Penelitian Susiyanto (2010) menunjukkan bahwa pengaruh misionaris Kristen sangat kental mewarnai penulisan kitab Darmagandhul itu.

 

Seusai melihat lebih dalam sedikit saja keeping sejarah peradaban bangsa ini sudah demikian cantiknya diputarbalikkan oleh kalangan yang tidak senang dengan eksistensi Islam di bumi pertiwi, betapa Republik ini sudah sewajarnya banyak berterima kasih karena lagi-lagi di tangan umat muslim ashalah sejarah negeri ini terjaga. Dari mulai kemerdekaan negeri ini tepat pada tanggal 7 Ramadhan hingga bersedia nya pejuang-pejuang muslim berlapang dada saat undang-undang yang mengatur syariat islam dianulir. Sebabnya, mereka paham, negara ini sudah alami menjadi rumah besar bagi bumiputera Indonesia apapun agama dan ras nya yang selama berabad-abad di bawah cengkeraman Kolonial Belanda, oleh karena itu dengan darah dan air mata yang telah tertumpah, semua perdebatan faksi nasionalis dengan faksi islamis sudah melebur dan semakin tidak relevan dengan kenyataan dan tantangan bangsa. Sama tidak wajarnya memperdebatkan diksi rakyat dengan ummat, karena kedua nya memiliki referensi dari bahasa arab.

 

Kembali pada apa yang diungkapkan oleh Sayyid Quthb, saat beliau menafsirkan surah Al Baqarah 183-185, momen kemerdekaan negeri ini juga tidak bisa dipungkiri dari kerja dan jihad panjang yang terus bersambung dan berkesinambungan mewujudkan realitas nya. Dan dengan seizin Allah SWT , kerja panjang yang telah mengorbankan ratusan ribu bumiputera gugur sebagai syuhada, mengorbankan waktu yang berurai menjadi kenangan hitam betapa dan apapun namanya penjajahan tetaplah penjajahan, meninggalkan luka dan maaf yang belum ditagih. Pada bulan Ramadhan, bangsa Indonesia memasuki fase baru dari kurun waktu perjuangan yang telah tertumpah. Dengan keadaan lapar, para mujahid negeri ini mampu melawan penjajah yang bersenjatakan peralatan perang berat ditambah title belanda dan inggris yang baru saja menjadi juara perang dunia kedua dalam barisan sekutu.  Lapar, menurut Ibnu Khaldun berpengaruh terhadap tubuh dan akal disebabkan lapar akan menjernihkannya dan memperbaikinya.

 

Itulah hakikat puasa. Sarana penting para pejuang dengan apapun medannya.

 

Darmaga 6 Ramadhan 1432 H

 

Malam Ramadhan ditemani music rap dari salameh hamzah