Topik yang dibahas dalam majalah Tarbawi pekan ini membuat saya agak sedikit bersyukur tak henti-hentinya mengelus dada sambil berterima kasih kepada Allah Rabbul Izzati atas banyaknya masalah dan ujian  sebagai mahasiswa tingkat akhir. Bersyukur karena begitu melimpahnya  janji Allah atas mereka yang bekerja keras hingga mencapai titik lelahnya, bersyukur karena berturut-turut sabda  Baginda Nabi SAW mengalir dengan deras tentang pahala dan balasan mereka yang menghidupkan  aktivitas sahiral layali dari mulai tabulasi data hingga mencheck ulang bab1,2 dan 3.

Dan beginilah salah satu sabda Baginda Nabi SAW tersebut tentang pahala dan balasan mereka yang bekerja keras karena ingin mendapatkan ridha Allah

“Mencari yang halal seperti para pahlawan yang berlaga di medan perang membela agama Allah. Barangsiapa tidur malam harinya karena lelah mencari rezeki yang halal pada siang harinya, maka ia tidur  pada malam harinya dengan mendapatkan keredhaan Allah “  HR Baihaqi.

Saat kita lelah yang tinggal berganti adalah senyuman. Senyuman karena kita begitu ikhlas mengerahkan segala daya dan upaya mencapai yang kita citakan walau harus banyak mengorbankan waktu dan tenaga. Senyuman yang tak terukur berapa derajat kebahagiaannnya karena ternyata lelah membuat kita tidur lebih nyenyak dan bangun di pagi harinya dalam keadaan sangat segar. Bagi para Da’I di jalan Allah yang telah menghabiskan hari-hari sebagai jalan cinta mungkin apa yang diungkapkan oleh Syaikh Muhammad Ghazali rahimahullah  yang juga murabbi dari Syaikh Yusuf Qardhawi, seorang ulama besar asal Qatar, membuat segala lelah dan sesal berakhir dengan senyuman terkulum karena demikianlah seorang ulama yang banyak dijadikan rujukan ini menuliskannya untuk kita dalam bukunya Jadid Hayatak, “ Menurut Allah , hambaNya yang paling bahagia adalah orang yang paling banyak melakukan kebaikan dengan tangannya sendiri. Yang paling banyak memberikan kebaikan kepada saudara-saudaranya dan paling banyak bersyukur atas semua itu “

Saat membaca pemaparan Ust Ahmad Zairofi di majalah Tarbawi itu mengingatkan saya betapa kerapnya fisik ini dilewati dengan kerja-kerja yang membuat kepala cenat-cenut hingga hampir ambruk disebabkan padatnya agenda sebagai mahasiswa tingkat akhir yang masih mempunyai amanah di FoSSEI. Hampir selalu ada tarik menarik yang alot antara skripsi dan amanah di depnas, namun itu semua hanya meninggalkan kenangan tak ternilai dan berharga tentang perjuangan dan persaudaraan. Tentang integritas sebagai a few selected happy student  dalam istilahnya soe hok gie dan tentang manusia biasa yang hidu bersama mereka yang secita dengan apa yang dicita-citakannya. Ya akhirnya lelah itu berganti dengan kemudahan dan kebahagiaan serta membawa kenangan berharga yang tak mungkin dilupa pade fase kehidupan manusia yang segera berganti.

Itu baru yang kita rasakan di dunia. Yang kita akhirnya saksikan lelah hanya sebagai bumbu kehidupan agar dinamika hidup yang kita jalani terasa beda nya tersimpan kebahagiaan sebagai lelaki sejati yang bekerja keras tidak hanya soal mempertahankan hidup tetapi menanamkan nilai kebermanfaatan sebagai seorang muslim. Manfaat dengan pelbagai jalan dan metode, seperti yang saya kerap tulis analisis-analisis saya tentang ekonomi dan akuntansi menempati rating tertinggi di dashboard saya bahkan ada seorang ikhwah yang mensucribe blog saya di blognya dan baru kemarin ada sedikit komentar yang membanggakan betapa beliau merasa tercerahkan dengan tulisan saya di blog. Itulah ganjaran yang Allah berikan belum termasuk di akhirat. Maka mengalirlah kalam ilahi yang menyejukan jiwa dan menyeka air mata saat duka dan lelah silih berganti menghampiri

(Bagi mereka) syurga ‘Adn mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan pakaian mereka didalamnya adalah sutera. Dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampum lagi Maha Mensyukuri. Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya; didalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu.”  Surah Faathir : 33-35

Saat kita lelah disebabkan kerja-kerja keshalihan dan da’wah lalu mulai terucap keluhan-keluhan di jiwa kita Allah mengingatkan kita bahwa mereka yang memerangiNya pun mendapatkan kelelahan serupa hanya saja kelelahan yang dialami oleh orang beriman berujung pada harapan dan pahala dari Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana

Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.  Surah An Nissa : 104

lelah berganti dengan kegembiraan yang tak ternilai karena kita telah berupaya menghidupkan hidup lebih hidup bukan hanya soal makan,minum dan tidur tetapi juga hidup untuk kehidupan orang lain dan menjadi rahmat bagi semesta alam. Saat itulah apa yang diungkapkan Sayyid Quthb  rahimahullah benar-benar mengena “sesungguhnya, orang yang hidup bagi dirinya sendiri memang bisa hidup istirahat dengan santai. Tetapi pada dasarnya ia hidup sebagai orang kecil dan mati sebagai orang kecil adapun yang memikul beban berat ini. Bagaimanakah ia bisa tidur ? bersantai-santai ? “

Pertanyaan yang nonjok dan menendang muka siapapun yang selama ini sudah merasa cukup dengan perut nya dan sudah merasa cukup dengan aktivitasnya yang as usually business ….