Ust Ali Sakti M.Ec dalam salah satu tulisannnya di blog beliau mengangkat sebuah topic tarbawi yang layak kita ingat. Betapa akhirnya posisi-posisi yang tidak banyak dicatat dalam sejarah namun memberikan kontribusi melebihi catatan berlembar-lembar sejarah dalam peradaban umat manusia. Mungkin ia tidak terkenal namun posisi ketenaran sang pahlawan dalam arti formalitas mencetak perubahan apa-apa tidak ada artinya tanpa keberadaan orang yang enggan namanya disebut atau tidak pernah disebut tersebut. Mungkin juga ia tercatat dalam sejarah, tapi akhirnya hanya diketahui oleh segelintir saja dari para sejarawan yang semakin menua setua umur peradaban umat manusia. Atau malah sebuah kenyataan dari serangkaian catatan otak manusia, yang begitu amat terbatas menuliskan kembali jasa-jasa beribu orang baik yang tidak pernah kita kenal.

Hal-hal seperti ini secara materi bagi seorang aktivis pemula sangat merugikan. Bagaimana bisa sudah capek-capek jadi panitia dari mulai kegiatan di kampus A hingga event organizer dari kampus Z harus menerima kenyataan sedikit orang yang mengenalnya. Sedikit orang yang paham eksistensi dan keberadaannya. Akhirnya hanya menghibur diri mungkin belum nasibnya untuk dikenal. Tapi bagi mereka yang melihat dengan mata bathin atau bashirah, sungguh ia kembali mendefinisikan takwa dalam definisi Baginda Nabi SAW “ jika kau belum mampu melihatNya, Ia Melihat ibadahmu” . bagi mereka yang memahami definisi ihsan Baginda Nabi SAW, eksistensi dirinya, dimanapun berada baik di kampus atau organisasi ekternal tidak pernah menjadi persoalan serius. Karena titik tekan sikapnya adalah pada kontribusi yang bermanfaat apapun bentuknya dan siapapun penerima manfaat tersebut.

Walaupun ada saatnya kalau Allah sudah menggariskan kita keluar dari zona yang tidak perlu dikenal  kea rah wilayah publik yang memerlukan pencitraan sebagai salah satu uslub dalam da’wah. Maka sekali lagi titik tekan sikapnya pada kontribusi yang bermanfaat tanpa harus terkungkung dengan sistem ataupun jumlah pendukung. Amanah memerlukan mereka yang sanggup memikulnya, karena ia akan berhadapan dengan bukan hanya kalangan dirinya saja maka yang diperlukan jiwa akomodasi yang lahir bersama kaumnya dan berkarya untuk kaumnya. Nahnu minhum wa nahnu lahum itulah syiar kita.

Apa yang sedang saya tulis ini bukan sama sekali bermaksud mengecilkan peran lahirnya pemimpin di tengah masyarakat heterogen sebagai sebuah keharusan. Tetapi persoalannya berapa banyak akibat dalih kepemimpinan dan pengambilan keputusan yang strategis fenomena penyimpangan niat selalu bermunculan di tiap zaman. Di tiap pergerakan. Inilah yang perlu kita perhatikan.

Karena hanya menjadi skrup atau mereka yang berperan di balik layar tidak lah hina. Bukankah kadar pahalanya tetap tergantung sebanyak mana kadar letihnya sebagaimana dalam sebuah hadits ajruki ala qadri nashabik. Bukanlah iman kita mengajarkan sesungguhnya Allah tidak pernah tertidur dan lalai dari amal-amal yang dalam hitungan hitam putih manusia begitu remeh dan seakan tidak berharga. Teringat kisah seorang ketua ksei yang gelisah mengapa bukan dari kampusnya yang maju sebagai presidium nasional saat munas tahun lalu. Ia pun menyalahkan sejumlah orang yang dulu ia percaya bisa maju sebagai presidium nasional dan bahkan kegelisahannya itu ia tumpahkan dalam kajian yang setiap pecan diselenggarakan. Padahal mengambil keputusan strategis tidaklah selalu strategis untuk menjadi presnas sebagaimana dalam dunia politik kita jumpai idiom memiliki belum tentu menikmati tetapi menikmati menjadi berharga dengan memiliki. Lalu untuk apa menyimpan ambisi seolah-olah predisium nasional hanya dapat dimiliki oleh kampus yang itu-itu saja. Belum lagi ditingkahi provokasi pihak luar yang memandang persoalan internal ksei tersebut bak outsider atau orientalis, memberikan solusi namun memiliki hidden agenda. Posisi Presidium Nasional yang semestinya amanah malah berubah menjadi pertarungan ide dan ambisi politik lokal, analisis liar bermunculan tanpa mengetahui akar masalahnya saat-saat inilah tidak sedikit sejumlah pihak yang diuntungkan dan menjadi penonton gratis perdebatan yang tidak penting.

Namun, sekali lagi Allah akan menggariskan yang ia tunjuk sebagai cahaya bagi kabilahnya hanya buat mereka yang pantas dan layak serta tanpa persiapan spesial sudah ditempa dalam tarbiyah panjang dari Allah SWT Sang Maha Menadbir akan tampil dengan sendirinya. Dan ingat, kalau sudah demikian jangan lari dengan alasan “peran di balik layar” seolah-olah tawadhu enggan menerima amanah malah terlihat jiwanya yang pengecut dan tidak siap membayar semua konsekuensi pilihan pribadinya.

Sebuah pesan sederhana buat mereka yang bekerja dan berbakti dalam diam tanpa banyak publikasi, sebuah pesan yang bersahaja buat mereka yang dimanapun membaktikan dirinya pada Islam dengan pelbagi bentuk posisinya, atau apapun peran kehidupan yang ia terima dari Yang Maha Menentukan, sebuah pesan penting dari Baginda Nabi SAW  “ Lakukan segala apa yang mampu kalian amalkan, sesungguhnya Allah tidak jemu sampai kalian sendiri merasa jemu “ dan itulah sebabnya ketika saya ditanya, apa posisi sekarang di FoSSEI oleh pelbagai rekan di regional dan ksei, saya jawab dengan penuh bersahaja “ hanya warga biasa “😀😀

 

While listening rap song from DAM at Sentul Earth and Heavy Rain