Dalam Film ? Hanung Bramantyo bertanya “ masih perlukah perbedaan “  ? tanda tanya yang menutup kalimat tanya tadi seakan menjadi pertanyaan retoris yang patut dijawab oleh siapapun yang peduli apa yang Hanung Bramantyo sampaikan dalam filmnya yakni pluralisme. Sebelum jauh mencari akar masalah pertanyaan Hanung atau menjawab dengan sendirinya pertanyaan Hanung Bramantyo agaknya kita perlu pahami ulang apakah perlu  kita meniadakan perbedaan. Sebab yang ditanya hanung dalam konteks yang lebih universal bukan hanya konteks agama sebagaimana objek dalam film tersebut namun banyak hal di sekeliling kita dari mulai mikro hingga skala makro berbangsa dan bernegara. Dalam skala mikro kita menemukan melimpahnya perbedaan. Pun demikian dalam skala nasional perbedaan selalu menjadi kopi hangat dunia melewati lembaran-lembaran peradabannya. Namun persoalan yang kerap lahir sebagaimana tanda tanya film nya Hanung Bramantyo bukan pada siapa dan siapa tetapi apa dan apa lalu untuk siapa.

Nah, dalam konteks yang lebih luas perbedaan meliputi sejumlah aspek yang rasanya secara naluri silut kita nafikan. Bukan hanya semata balutan fisik yang identik dengan formalitas tetapi juga balutan psikis yang cenderung soft dan ketika dalam dialog ada kemungkinan untuk masuk dan berubahnya keyakinan seseorang. Antara lain adalah persepsi. Persepsi menciptakan paradigma. Namun baik kedua selalu lahir dari pandangan hidup. Tapi kenyataanya tidak semua persepsi berkaitan langsung dengan pandangan hidup. Sebagaimana kalau kita disodorkan gambar yang hanya menampilkan satu sisi dalam jarak yang jauh biasanya kita mempunyai persepsi penilaian yang berbeda.

Kemudian, content komunikasi. Adanya metode kuantitatif dalam penelitian pada awalnya sebagai bentuk mempositivkan ilmu ekonomi, namun di kemudian hari terbukti dan semakin menyadarkan bahwa tools statistic secanggih apapun hanyalah tools, akuratnya bukan lagi ada atai tidak tersedianya data tetapi juga kepentingan yang menggunakan tools tersebut dalan melakukan penelitian. Anak-anak sosial bisa bangga dengan alat uji statatistiknya, namun dalam resesis ekonomi dunia 2007-2009 kemarin membuktikan yang terbalik atau tidak perlu jauh-jauh departemen ESDM dan Kementrian Keuangan sebelum mengambil kebijakan pembatasan subsidi BBM harusnya mempunyai data yang lengkap porsi alokasi subsidi BBM selama ini lebih banyak siapa menikmati siapa namun faktanya data kuantitatif pun kerap gagal mengakomodir pengambilan kebijakan .

Lalu, masalah nilai, bukan sekedar masalah keyakinan belaka saya sebagai orang muslim atau teman saya sebagai beragama Kristen. Jauh sebelum kita terlalu merangkak berjalan ke sana selalu ada nilai-nilai tradisi dan etika dalam masyarakat timur yang kiya yakini dan pegang kebenarannya. Karena itu masih saja timbul perdebatan seputar  “benar-salah”, “pantas-tidak pantas’, ataupun sejumlah nilai norma yang sejatinya mengakar kuat dalam masyarakat timur ketika menghadapi globalisasi seakan perlu dipertanyaan dengan dalih “kebebasan berpendapat “

Nah, yang namanya konflik, justru akan berdiripada struktur sosial yang telah terbangun. Dengan perbedaan itu konflik adalah hal yang pasti akan selalu ada. Sebagaiamana kalau di kelas, seorang dosen kerap melemparkan pertanyaan yang tidak perlu jawabannya di buku tetapi berdasarkan konsensus alami diri kita dengan masyarakat dan lingkungan . saat timbul masalah saat itulah dimulai konflik. Namun yang paling penting bukan bagaimana menyelaraskan beragam pandangan apalagi kalau konteksnya antar keyakinan. Namun mengendalikan dan meminimalisir akar konflik. Dalam tataran keyakinan, untuk di Indonesia, menyelarasakan keyakaninan dengan apa yang dianut sebagai pluralism agama bukannya malah menyembuhkan malah semakin memperbesar jurang konflik. Dalam tataran antar pergerakan islam yang terbaik justru semakin banyak mencari persamaan. Dengan mencari banyak persamaan yang akarnya sudah sama maka perdebatan-perdebatan di pelbagai forum diskusi di  internet tentang Khilafah dan Demokrasi sebagai bab yang sudah layaknya berlalu berganti apa yang bisa kita bangun dengan demokrasi untuk berdirinya khilafah. Mungkin saja banyak yang protes “bagaimana khilafah bisa berdiri dengan demokrasi” tetapi yang protes sudah lupa inilah ranah muamalah yang tidak hanya mencakup ekonomi dan bisnis semata tetapi juga mengelola urusan publik dan hajar rakyat banyak maka yang esensi diangkat adalah soal keadilan dan kesejahteraan tak peduli apapun judul dan titelnya.

Saya meilhat justru di sebalik pertanyaan Hanung Bramantyo ada misi lain dari pada sekedar memperlihatkan kemajemukan masyarakaty dalam hal keyakinan. Kalau ada masalah pastilah ada solusi yang ingin ditawarkan. Sayangnya Hanung Bramantyo lupa sabda Baginda Nabi SAW “ Al Kufru Millah Wahidah” kekafiran apapun judul dan labelnya adalah satu syirik kepada Allah. Lucunya, masih ada yang mangaku agamanya Islam namun doyan belanja pelbagai produk kekafiran mulai dari atheis, liberalis, sekularis, paganis, agnostic, deist, dan semacamnya. Musuhnya tak lain yang biasa dibidik yang kerap mereka cap sebagai “wahabi” “garis keras “ “fundamentalis” dan sebagainya, benarlah wasiat Ust Rahmat Abdullah rahimahullah, mereka yang anti militant pun sangat militant dalam memperjuangkan anti militansinya. Sama halnya mereka yang anti paham kebenaran absolut sangat gigih memperjuangkan “absolutnya” nilai-nilai yang mereka anggap relatif kebenarannya . Subhanallah

Sentul

24 Jumadil Akhir 1432H