bunga Maka, membersihkan diri dari dosa, bertawakal kepada Allah dan kembali pada perlindunganNya adalah termasuk modal kemenangan, bukan sesuatu yang terpisah dari medan Membuang jauh-jauh sistem ribawi dan mengadopsi kerja sama termasuk bekal kemenangan, karena masyarakat kerja sama lebih dekat kepada kemenangan dibandingkan masyarakat ribawi

Sayyid Quthb

Di sebuah pojok jalan kawasan Harmoni menjelang Maghrib, sebuah plang depan  Gedung Tua peninggalan jaman kolonial,   memperlihatkan seonggok iklan yang agak vulgar menurut saya. Mungkin dalihnya untuk memenuhi pertempuran pasar dan untuk memberikan loyalitas konsumen terhadap layanan perbankannya. Kurang lebih iklan yang dipampang salah satu  sudut jalan Harmoni  itu berbunyi “Deposito di Bank X, bunganya berbunga-bunga  !”. sejujurnya saya ingin tergelak ketika pertama kali melihat plang iklan bank swasta yang saya temukan di salah satu sudut ibuota tersebut.bagaimana tidak ,  bank-bank swasta dengan amat mudahnya memberikan pelbagai layanan bagi nasabah sebagai gimmick yang di luar rasionalitas kemampuan ekonomi masyarakat Indonesia.

Seperti halnya layanan hadiah dan pelbagai bonus yang amat megahnya menghiasi televisi dan setiap sudut pemasaran produk perbankan nasional hari ini. tanpa disadari, pelbagai pemberian bonus dan hadiah yang gila-gilan itu telah membuat cost of fund yang tinggi dan sulit menurunkan suku bunga, jika suku bunga turun pun akan tetap menjadi posisi dilematis bagi bank –bank swasta karena ditakutkan nasabah-nasabah yang memiliki rekening gendut berpindah ke bank yang menawarkan bunga yang lebih menggiurkan.

Jadilah perbankan nasional negeri ini sedang berpesta sekaligus terlilit oleh suku bunga yang mencekik bagi para pemohon pembiayaan untuk sektor riil dan sekaligus memanjakan pemilik rekening gendut yang jumlah nya tak lebih dari keseluruhan dana pihak ketiga perbankan nasional.  menurut data Lembaga Penjamin Simpanan ( Maret 2011 ) yang menunjukkan jumlah simpanan di bank mencapai Rp 2.381,98 Trilyun   sedangkan penduduk miskin khusus untuk wilayah ibukota DKI Jakarta yang menjadi target utama semua pemasaran produk-produk perbankan nasional, sekitar 312,8 ribu orang menurut situs resmi pemprov DKI Jakarta. Sedangkan dalam skala nasional menurut laporan badan pusat statistik bahwa jumlah penduduk miskin dengan batasan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan pada tahun 2010 mencapai 31,02 juta atau sekitar 13,33 % .

meskipun masih menurut laporan BPS bahwa pada periode maret 2009-2010 indeks kedalaman kemiskinan cenderung menurun tetapi yang menjadi patokan kesejahteraan dan human beings sebagai tujuan dari ilmu ekonomi bukanlah terpatok pada angka-angka resmi karena mau seberapapun gaji bulanan PNS atau gaji bulanan seorang pegawai swasta atau malah diukur dari seberapa banyaknya orang yang mengantri di bandara atau malah seberapa banyaknya orang yang naik kereta ekonomi pakuan dan ekonomi AC tidak memberikan jaminan bagi realitas kesejahteraan sebenarnya dari sebuah peradaban bagi masyarakat. Yang ada ilmu ekonomi klasik dengan pola pandang nya seperti ini hanya kembali menegaskan karakteristik kapitalisme : The Rich more Richer, The Poor more trapped in debts.

Kembali pada diskusi awal essay ini, industry perbankan nasional kita seolah begitu nampak bergairah bagi public dengan hiruk-pikuknya layanan perbankan yang menawarkan program berhadiah dari mulai ratusan mobil mewah hingga lusinan notebook dan puluhan blackberry. Seolah kita sedang melupakan persoalan pelik masalah perbankan kita pada saat ini. tengoklah pembobolan Citibank oleh seorang pegawai Citibank dengan kasus penggelapan dana nasabah citigold sebesar 17 Miliar, kemudian belum reda kasus pembobolan Citibank sudah disusul oleh pembobolan dana sebesar Rp 111 Milliar milik PT Elnusa Tbk yang tersimpan di Bank Mega dan pada tanggal 10 mei 2011 harian Kontan kembali menurunkan headline pembobolan dana milik pemkab Batu Bara, Sumatera Utara senilai RP 80 Milliar. Begitu rumitnya pesta perbankan nasional. Namun yang tak habis akal dan sebagai masukan daripada gila-gilaan dengan janji yang luar biasa muluk lebih baik membangun jaringan keamanan finansial yang tangguh dan mengedepankan model berbagi hasil dan resiko sebagai solusinya dibandingkan dengan model time value for money yang secara jelas menyengsarakan banyak orang demi membahagiakan deposan yang jumlah nya hanya sekitar 1,42 juta rekening dari total dana simpanan pihak ketiga perbankan nasional sebesar 81,5 juta rekening. Sedangkan sisanya hanya menguasai 20 % dari keseluruhan total dana pihak ketiga.

Pengalaman Krisis Asia Timur

Nah, dalam sebuah essay yang dulu pernah saya buat. Apa yang diiklankan oleh salah satu perbankan swasta tersebut tidak saja tidak relevan sesuai kondisi sosial masyarakat yang diakui penuh ketimpangan distribusi pendapatan tetapi juga melihat gejala resesi dunia terutama di kawasan Asia Tenggara persoalannya tidak jauh-jauh dari tarik ulur suku bunga, bail out bankir bank yang kolaps, ketakutan dampak sistemik, hedonitas pejabat perbankan nasional, hingga gejala kredit macet dan terakhir sejumlah aksi pembobolan perbankan nasional yang sudah seharusnya membuka mata kita sebagai anak bangsa negeri ini kesalahan ada pada sistem bukan semata moral hazard. Belum ditambah bail out bankir yang kolaps, tidak efektifnya setiap regulasi keuangan, resesi yang berulang setiap tujuh tahun sekali, perusahaan yang tetap berjalan mengikuti rutinitas, investasi yang sarat spekulasi maka dunia yang saat ini kita huni adalah dunia yang penuh keraguan dan dalam nuansa kejenuhan (Haque:2011)

Di Asia Tenggara, jauh sebelum terjadinya ledakan keuangan yang maha dahsyat,para ekonom pun pernah memuji pertumbuhan ekonomi ASEAN sebagai “Macan Asia” . namun krisis mata uang Baht di Thailand, serta merta membangunkan semuanya dari alam mimpi komunitas negara-negara Asia Tenggara dari pembangunan ekonomi yang semu. Namun pada intinya, akar masalah yang menimpa perekonomian ASEAN dianalisis dengan pelbagai faktor yang beragam.

Dari mulai analisa krisis keuangan Asia Tenggara terjadi akibat ketiadaan hubungan antara liabilitas jangka pendek yang lebih besar dari asset jangka pendek atau malah seperti yang diungkapkan oleh Joseph Stighlizt (2003 ) bahwa liberalisasi pasar keuangan dan modal yang terlalu cepat dan ditambah kebijakan-kebijakan International Monetary Fund yang memperburuk keadaan. Kemudian Dr Umer Chapra (2008)  hubungan yang sangat dekat antara kemudahan untuk mendapatkan fasilitas kredit,ketidakseimbangan ekonomi makro dan ketidakstabilan keuangan. Sehingga menimbulkan spread negative antara hubungan deposan-bankir dan pembiayaan mikro perbankan. Akhirnya lebih menitikberatkan pada adanya collateral dan tingkat suku bunga. Bahkan,  Begitu mudahnya mendapatkan fasilitas kredit membuat tujuan nya lebih pada konsumtif dan akhirnya berhutang. Kalau sudah demikian yang terjadi hidup di atas kelayakan. Dan ketika  sinyal tidak mampu membayar hutang maka akan mendorong rapuhnya finansial yang akhirnya merembet pada sistem keuangan yang sudah terintegratif satu sama lain.

Dan saat Asia Timur sedang mengalami blunder yang begitu menganga,ternyata Amerika Serikat tengah menikmati apa yang disebut oleh Alan Greenspan (2007) sebagai Demam Millenium. Anggaran keuangan negara tengah mencapai tingkat surplus yang paling puncak dan suku bunga mendekati titik terendah dalam sepanjang sejarah. Fenomena inilah yang menyebabkan investor  swasta Amerika Serikat beramai-ramai menyerbu pasar baru yang sedang berkembang yaitu Asia Tenggara untuk mencari imbal rate yang paling besar atas pinjaman yang biasa mereka dapatkan di negeri asalnya. Emerging Markets Countries mengikatkan diri dengan dollar sebagai mata uang yang paling perkasa saat itu dan dengan berlindung dari resiko nilai tukar pinjaman dari  dollar diubah ke mata uang lokal dan secara praktis menaikkan tingkat imbal rate yang akan diterima oleh para investor asing tersebut.

Yang paling kentara dari semua hiruk pikuk perbankan ini, suku bunga selalu jadi duri dalam daging, atau malah buah simalakama dalam ilmu ekonomi. Dilemma yang tak pernah habis, lingkaran setan yang tak pernah putus. Beruntungnya sebagai umat muslim, sejak 14 abad yang lalu saat Al Qur’an diturunkan sudah jelas demikian gamblang Al Qur’an mengkritik mereka yang memakan riba tidak ubahnya bak orang yang sedang kerasukan setan lantaran penyakit gila ( Al Baqarah : 275 ) dan seolah menyindir iklan sebuah bank swasta yang dengan vulgarnya memprovokasi mereka yang masih belajar tentang dunia keuangan, Allah mengatakan secara jelas, Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya). ( Surah ArRuum : 39 )

 

Pertumbuhan Palsu

Abdul Azhim Jalal Abu Zaid dalam bukunya “Fiqh ar-Riba : Dirasat Muqaranah wa Syamillah li At Tathbiqat al Mu’ashirah “ yang sudah diterjemahkan pada tahun 2011, menjelaskan bahwa jumhur ulama menafsirkan kata Maa aataitum  dengan arti ‘memberikan ‘ sedangkan Ibnu Katsir menafsirkan kata tersebut dengan makna “melakukan‘ . Jumhur ulama menyatakan bahwa yang dimaksud riba disini adalah riba pemberian atau hadiah tambahan yang diberikan oleh seseorang melebihi jumlah hutang pokok ( Abu Zaid: 2011) kendati hadiah yang diberikan sebagai bonus tambahan itu dikatakan halal, namun ia tidak akan mendapatkan pahala dari Allah, seperti sebuah riwayat dari Ibnu Katsir menyebutkan “ Riba itu ada dua macam, yaitu riba yang tidak benar dan riba yang dibolehkan. Akan tetapi, riba yang dibolehkan tidak ada pahalany. Misalnya hadiah  yang diberikan sebagai bonus tambahan. Dengan kata lain tidak ada keberkahan yang tersisa dari pelbagai jenis riba dan memang benar kritik yang disampaikan oleh Al Qur’an,

pelbagai jenis hadiah baik dengan tujuan mengikat loyalitas nasabah atau meningkatkan likuditas perbankan hakikatnya tidak menyumbang apa-apa bagi pemecahan  masalah ketimpangan distribusi pendapatan dan pertumbuhan ekonomi yang semakin terlihat paradoks. Pertumbuhan Ekonomi kita jelas berbeda dengan pertumbuhan Amerika Serikat yang 80 % didominasi oleh pasar saham, hampir lebih dari 85 % pertumbuhan ekonomi negeri ini ditopang oleh usaha kerakyatan yang berbasis bisnis riil. Hubungan selama ini dengan perbankan sebagai intermadiator pihak yang surplus dana dengan defisit dana tercermin dari pembiayaan mikro antara bank dengan UMKM. Maka, memang promosi gila-gilan dari mulai menawarkan pelbagai jenis barang tersier bagi masyarakat ke bawah jelas sebuah pembohongan public. Karena faktanya 97,25 % deposan hanya menguasai 20 % dari Rp 2.318 Trilyun keseluruhan dana pihak ketiga nasional pada tahun 2011

Menurut Dr  Ugi Suharto (2005) , Ilmu Ekonomi lahir dari suasana peradaban barat yang waktu itu penuh dengan suasana kekuasaan Gereja ( The Papacy Power ) dan akhirnya menimbulkan fase aufklarung dan renaissance yang kondisinya berbalik dari saat dalam kekuasaan tiranik Gereja. Maka Ilmu Ekonomi lahir untuk menyelesaikan persoalan demi persoalan yang timbul dari masyarakat Barat sendiri. Lebih lanjutnya, jika dalam perspektif Barat, bunga bank adalah baik bagi persoalan mereka maka ilmu ekonomi dilahirkan sebagai pembenaran value tersebut. Itulah sebabnya, pembahasan di seputar factor of production, menyebutkan imbalan atau pengembalian bagi modal adalah interest. Nah,   ketika modal; atau Capital identik dengan interest lahirlah Capitalism. Dan lembaga keuangan sebagai lembaga intermediasi memainkan peranannya untuk menjadi “tukang teknis”  dari interest tersebut.

However, solusinya, bagi perbankan konsep berbagi resiko antara deposan dan bankir jauh lebih realistis daripada memaksakan diri terjerat dalam “bekapan “ rekening gendut para nasabah super kaya yang ternyata jumlahnya tak lebih dari 1 % namun menguasai sebanyak 80 % simpanan DPK. Citra perbankan pun tak begitu memaksakan dirinya untuk memoles sebagai Bank yang hanya pro dengan para nasabah super kaya ini tetapi juga bank yang bertanggung jawab terhadap pertumbuhan ekonom, pembangunan Ekonomi yang berkeadilan  dan bertanggung jawab terhadap human beings dan Happines Walfare Happines of Spritual, Ethic, Knowledge, dan semua itu menuju yang disebut  dalam bahasa agama kita, Falaah !

Sentul

Maktabah Shafii Antonio, 6 Jumadil Ahir 1432 H