aksikamnas fosseiBulan ini merupakan bulan yang sangat penting dan bersifat monumental bagi pergerakan da’wah ekonomi islam seperti Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam dalam memberikan apa yang diserukan oleh mereka kepada public. Bulan Mei, juga bukan sekedar as usual business sebagai bulannya Kampanye Nasional tetapi juga sederet waktu yang telah dipilih oleh para pejuang ekonomi islam ini untuk memulai starting pointnya untuk menggebrak ranah public terhadai sebuah gagasan baru atau ide yang segar yang bisa diberikan sebagai pemecahan masalah yang dialami oleh masyarakat dalam bertransaksi dan berekonomi.

Tidak bisa dinafikkan pula sebagai sebuah pergerakan mahasiswa yang bersifat ideologis, FoSSEI membawa sebongkah cita-cita yang diusung untuk kemaslahatan bangsa. Disinilah jiwa keindonesiaan bermain cantik disamping aspek keislaman yang menjadi panggilan moral sebuah gerakan pembaharuan. Isu yang diusungnya pun sama sekali out of mainstream dalam artian selama ini FoSSEI lebih memilih enggan menyentuh isu-isu politik yang bagi media begitu cepat menjadi bola api yang liar dan membakar siapa saja yang mengusung isu-isu tersebut. Namun tetap saja sejumlah catatan penting perlu saya tuliskan disini tentang cara pandang lain dan revitalisasi pengguliran isu di setiap Kampanye Nasional yang selama ini saya turut serta menjadi pengambil kebijakan di tingkat regional.

Aksi tahun lalu, yang digarap secara bersama-sama oleh teman-teman fossei jadebotabek yang dikomandani oleh Ardiansyah Selo Yudha dan “dikapteni “ oleh Imam Punarko yang sekarang mengemban amanah sebagai koordinator Presidium Nasional menjadi sebuah momen yang mengharu biru di kalangan mahasiswa dan menjadi salah satu daya tarik bagi publik yang saat itu berada di lokasi. Hanya sebaris mahasiswa yang tidak sampai berjumlah seribuan orang ternyata mampu juga menjadi siaga satu bagi aparat. Beberapa hari yang lalu saat bersilaturahim kembali ke kampus Universitas Negeri Jakarta, Imam Punarko banyak bercerita beberapa saat sebelum aksi dimulai tepatnya saat mobil aksi sedang dalam perjalanan. Sekompi aparat dan sejumlah intelejen berseliweran di sana-sini di seputar lokasi. Ada yang menanyak press rilis acara, hingga yang menanyakan siapa PJ aksinya. Secara polos beberapa teman-teman fossei malah dengan “jujur’nya menunjukan PJ aksi ini. tetapi akhirnya semua ketakutan dan kekhawatiran pengambil kebijakan aksi simpatik ini tidak terlalu banyak yang dicemaskan. Sampai massa kader-kader FoSSEI berhasil mencapai targetnya yaitu bundaran HI, kami semua berucap syukur “Alhamdulillah “ dengan amat leganya. Sorak sorai massa hingga beberapa aparat yang memperhatikan sesama dan sejumlah orang yang berlalu lalang mendapatkan selebaran isi aksi dan tujuan aksi juga border yang lumayan rapi hingga variasi orasi hingga yang membacakan sajaknya membuat aksi hari itu benar-benar memenuhi standark aksi yang berbobot.

Tetapi terlepas dari euphoria itu semua, penyuaraan isu tetap harusnya jadi perhatian kita bersama. Saat timeline di FB pada hari H , sebelum berangkat dari dramaga ke balebak untuk mengambil mobil aksi, dipenuhi poster, status, hingga notes yang menyuarakan optimismenya kita membangun sebuah bangunan perekonomian bangsa tanpa bunga. Yang paling menggembirakan antusiasme teman-teman kampus yang tadinya kurang begitu akrab dengan dunia demonstrasi dan aksi memberikan warna lain dalam aksi kali ini. dengan jas almamater biru dongker sekitar 100an ikhwan-akhwat dari kampus yang dulu bermarkas di dramaga ini membuktikan integritasnya tidak hanya sebagai intelektual kampus tetapi juga sebagai barisan terdepan dalam aksi dan pengambilan kebijakan aksi simpatik.

Lebih lanjutnya, penyuaraan isu secara taktis harusnya bisa menjadi salah satu fokus dan agenda utama para pengambil kebijakan aksi. Bagaimana kita, mahasiswa ekonomi islam, bisa mendaya gunakan era web 2.0 ini lebih maksimal dan benar-benar di dengar oleh publik baik dalam bentuk kritik atau dukungan. Menggencarkan isu kampanye nasional di setiap blog memang strategis karena di bloglah segala argument dan pemikiran bisa tertuang dengan ilmiah dan dapat dipertanggung jawabkan tanpa harus terbelenggu aturan formalitas tulisan sebagaimana yang kita lihat di dunia akademik. Yang menjadi nafas bagi para blogger sejati adalah worlview apa yang ia yakini. Bloger sekuler akan menulis tulisan yang bernuansa anti agama di blognya atau selalu mencela setiap upaya memasukkan nilai-nilai syariah ke sejumlah lini sains atau area publik. Blogger yang membawa worldview islam akan senantiasa memberikan pola pandang yang berbeda dan tidak berfikir linier menyikapi masalah yang menjadi fokus tulisan atau opininya. Terjebak simplicity pun tidak apalagi nuansa phobia. Akan tetapi itu saja saat ini masih kurang memadai. Dulu memang orang setiap melihat peristiwa atau menyaksikan serangkaian peristiwa biasanya dituangkan ke dalam blog dalam bentuk opini atau foto.

Dan lihatlah apa yang terjadi di Iran dan Ghaza. Di Iran, pertarungan antara kubu Ahmadinejad yang disebut Amerika Serikat sebagai kubu konservatif dan kubu Hossen Mousavvi begitu kentara di dunia maya dalam bentuk perang opini di blog. Di Ghaza, saat terjadi penyerbuan besar-besaran serdadu Israel ke wilayah yang dikuasi oleh HAMMAS tersebut menjadikan blog sebagai alat perlawanannya. Di Malaysia, malah sempat memanas situasi politik di Malaysia akibat pernyataan salah seorang pejabatnya yang menyindir blogger sebagai orang yang tidak punya pekerjaan atau kalangan pengangguran. Dan tercatat di Indonesia sejumlah komunitas blogger dengan membawa corak masing-masing yang khas dan tentu saja memuat ideology yang yang diyakini secara kolektif. Dari mulai Muslim Blogger, MyQuran, Bekerja Adalah Beribadah, Kompasiana, Kaskus dll.

Memasuki tahun 2000an, adalah abadnya kebangkitan jejaring sosial. Tercatat jejaring sosial tertua yang muncul pada tahun 1997 seperti SixDegrees, dan disusul fase tumbuhnya wajah pertama jejaring sosial yang fenomenal seperti halnya Friendster dengan fasilitas testy nya, My Space dengan latar belakang profil yang “rame “ pada tahun 2004, disusul gelombang jejaring sosial lain yang secara corak lebih simple namun komunikatif seperti Facebook dalam angkatan tahun yang sama, dan terakhir gelombang jejaring sosial yang recommended effektif dalam menggulirkan isu seperti Twitter yang starting nya pada tahun 2006. Gelombang yang terakhir ini juga diiringi kebangkitan aplikasi pada smartphone dan notebook yang menyebabkan penjualan notebook dan laptop mengalami peningkatan yang sangat mempesona, harganya pun banyak yang jatuh hingga menyebabkan notebook dan laptop bukan lagi barang langka. Belum ditambah angka penjualan Ipad dan Iphone yang fantastis dan edisi terakhirnya mulai diburu walau belum tersedia di pasaran. Twitter  juga secara aktif sebagai salah satu media yang effektif untuk menyulut serangkaian aksi revolusi di Timur Tengah tercatat beberapa tokoh Timur Tengah bertebaran di Twitter seperti El Baradai, Amru Khaleed, Salman Al Audah, Dr Aidh Al Qarnee, Dr Tareeq Ramadhan  dan akun twitter yang mengabadikan kalimat penuh tenaga dari tokoh pemikir dunia muslim di Timur Tengah seperti akun SaidKotob untuk mengenang kata-kata bertenaga Asy Syahid Sayyid Quthub Ibrahim yang dieksekusi pada tahun 60an.

Sedari kemarin saya masih membayangkan bagaimana jika ribuan kader FoSSEI yang tersebar di seluruh Indonesia terutama yang terpusat di Ibukota pada tanggal 13 Mei 2010 memberi Kuliah Via Twitter kepada khalayak dengan topik yang sudah dicanangkan oleh Presnas, Indonesia Optimis Tanpa Riba. Bukan tidak mungkin topic yang kita sepakati hastagnya seperti #noriba atau #kamnas2011 dan sejenisnya bisa menjadi  top trending topic di twitter. Saya ingat ketika sedang bersilaturahim ke kawasan Tb Simatupang di selatan Jakarta, saya ingat, Bang Ahmad Mabruri, mantan pemred majalah SAKSI, pernah memberikan info bahwa musuh-musuh da’wah pun 24 jam di layar smartphone atau monitor computer masing-masing untuk memberikan komentar-komentar negatif di pelbagai media massa online dan tidak terkecuali twitter dan facebook bahkan mereka memang dibayar oleh kalangan yang berkepentingan untuk memberangus da’wah islam apapun bentuknya dengan bayaran yang menggiurkan. Mungkin ada di antara kita yang kaget dengan info ini, tetapi itulah realitas keterbukaan informasi telah juga disusupi para penumpang gelap yang kerap berteriak lantang “In The Name of Freedom “ atau “Kebebasan Berpendapat “

Maka wajar, kalau sudah saatnya para aktivis da’wah tidak terkecuali aktivis da’wah ekonomi islam bersikap agresif menghadapi perang informasi ini. bukan malah atas nama ashalah da’wah kita merasa tidak perlu untuk memberikan tenaga kita dalam perang informasi seperti ini. ingat brother, Al Ashlu Fil Muamalah Al Ibahah menjadi kaidah yang memagari prinsip Tsawabit dan Al Mutaghayirrat. Ada yang dipegang teguh dan ada yang menjadi area bebas mengungkapkan kreatifitas sesuai zamannya tanpa merusak koridor syar’I.

Ala Kulli hal, yang terpenting dari itu semua, adalah penindaklanjutan dari serangkaian aksi yang telah kita gulirkan. Walau terlihat kontradiksi apa yang diangkat di temilnas dengan kamnas tahun ini yang terpenting kita mampu merangkainya secara elegan. Bahwa memberikan perhatian pada pemeliharaan sumber daya alam yang habis dikuras oleh investor asing juga bagian dari kampanye ini. karena secara filosofi KAMNAS tidak hanya berkutat pada satu spot atau malah menjelma as usual bussines tetapi momen vital FoSSEI menegaskan dirinya kepada publik dan stakeholder peran yang mampu diembannya.

Hayawi aw Mut !!

Desa Cadasngampar

5 Jumadil Akhir 1432 H

Sambil mendengarkan  senandung shalawat dari Mesut Kurtis