Sebuah panggung yang telah ditata megah dengan sederetan kursi-kursi berbalut kain sutra berwarna putih dan di setiap kursi terdapat penyangga buku kumpulan tangga nada dan satu pijakan agak lebih tinggi untuk sang Konduktor dihias lebih agak mewah dengan hiasan di bawahnya yang siap menyala ketika acara dimulai. Sejumlah penonton yang tidak sabar berebut ke beberapa posisi yang paling elegant untuk menyajikan pertunjukkan malam itu dengan suasana yang agak gelap menambah suasana elegant dan siap memberikan sesuatu yang berbeda malam itu
Di belakang panggung, beberapa pemain music sudah sibuk sedari sore. Ada yang masih berada di depan meja rias hingga ada yang membersihkan alat musiknya. Namun yang membedakan malam itu dengan sejumlah pertunjukkan lainnya adalah tidak hanya senandung dari Mozart dan Beethoven yang akan dimainkan dengan penuh semangat oleh para pemain tetapi pihak panitia juga telah mendesain acaranya untuk momen yang special maka mereka juga tidak hanya menyiapkan konser malam itu dengan pertunjukkan tunggal tetapi juga akan dipadu dengan balutan nuansa music etnik antara gending ganjuran Bali dengan kacapian cianjuran bumi jawa barat, itu juga ditambahkan di salah satu bagian pertunjukkan akan dihiasi dengan pembacaan naskah Ila Galigo yang sangat melegenda dari Sulawesi Selatan jadinya konser ini telah didesain oleh panitia menjadi konser termegah abad ini dengan ikatan estetika klasik dengan cultural
Namun menjelang pertunjukkan malam itu mulai, sang konduktor tidak juga nampak batang hidungnya. Sejumlah pemain music klasik telah siap di belakang panggung begitu juga pemain music etnik sudah sedari pagi. Ketua panitia mencoba mengerahkan sejumlah panitia untuk mencari Sang Konduktor, ternyata di sebuah sudut sebuah ruangan belakang panggung yang agak jauh dari ruang rias, sesosok berjas hitam panjang dengan manset berwarna putih dengan pelan meletakkan tongkatnya di sebuah meja sederhana dan menggelar sehelai sajadah berwarna hijau gelap. Sebuah ritual yang harus dilakukan sang konduktor telah dimulai
“Allah Akbar “ tangannya terangkat sejajar dengan kedua telinga, matanya lamat-lamat samar terpejam mencoba berharap bila pertunjukkan malam itu terakhir, Ia berikan sebuah akhir yang baik dari sepanjang petualangannya selama ini. mengemban amanah sebagai seorang Presididium Nasional juga mengemban amanah sebagai seorang konduktor orchestra. Ia tidak tahu apa yang akan ia beri nama untuk pertunjukkannya kali ini. sekalipun para panitia mendapat arahan dari beliau tentang semua desain orchestra malam itu. Rakaat pertama ia membaca surah Al Fatihah dan surah Al Fajr, ia berharap pertunjukkan kali ini berjalan secerah fajar di awal pagi. Seandainya ini adalah pertunjukkannya yang terakhir. Ketika rukuk, sebongkah cucuran air mata menumpahi sajadahnya “Ya Rabb segala puji bagiMu yang telah menganugrahkan sebuah kesempatan termahal ini” hatinya membathin, “sudilah kiranya Engkau melimpahkan kebaikan bagi semua pemain dan kebaikan bagi mereka yang menyaksikan pertunjukkan malam ini “jiwanya kembali membathin. Ia menyudahi sembahyangnya yang sebanyak dua rakaat itu dengan mata sembab, kaca matanya kembali dikenakan, tongkatnya mulai diayun-ayunkan untuk melatih tangannya yang sempat tiba-tiba kram saat ia sedang sembahyang.
“bismillah …., Now or Nothing”katanya berucap lirih. Dan ia mulai berjalan kea rah panggung disertai teriakan histeris dari sejumlah pemain yang sudah menunggunya dari tadi. Di antaranya adalah adalah Bayu,pemain Biola no 05, “eh za, lu dari mane je, kite-kite dah nungguin ente dari tadi “, sosok lelaki berjas hitam panjang itu hanya tersenyum-senyum seraya terus berjalan menuju atas panggung dan menempati tempat yang telah disediakan oleh penata panggung kemudian berdiri tegak dengan meletakkan tongkatnya di depannya. Kemudian satu persatu sejumlah pemain orchestra keluar dari balik kelambu warna merah terang yang menutupi belakang panggung. Dan duduk manis di masing-masing bangku berbalut sutra putih yang telah disiapkan sedari sore. Riza, lelaki berjas panjang hitam dan juga sang konduktor konser malam itu mulai menangkat tongkatnya dengan tangan kiri ke atas seolah mulai memberikan aba-aba dan benar saja para pemain biola,violin,cello, bass, dll tenggelam dalam gegumam aba-aba saat lelaki berjas panjang hitam itu kembali menurunkan tangannya dengan spontan dimulailah dengan gempitanya tembang Mozart Horn Concerto No 4 In E Flat Major. Terutama sekali para pemain violin yang duduk di bangku kelima tampak begitu bersemangat karena mereka nampak dominan dalam orchestra yang memainkan salah satu komposisi terbaiknya Mozart. Lampu dekorasi panggung yang telah diredupkan sedari tadi telah ikut memaksa para penikmat music klasik dan pengunjung pertunjukkan yang datang ke sebuah gedung orchestra yang dibangun sejak zaman Jakarta masih bernama Weltevreden itu, untuk tenggelam dalam sayatan Johan Sebastian Bach yang dibalut oleh tangan dingin sang Konduktor Muda, Riza Rangga Pratama.
Di antara beberapa penikmat musik klasik yang juga menjadi pengunjung Gedung Kesenian Jakarta, terselip beberapa orang yang merupakan dosen-dosen dan juga bahkan salah satu mahasiswa tempat Mahmud kuliah. Seperti Dr Bimo Reza GuntoroM.SI, dosen Manajemen Perbankan, Haikal Tambunan SE. AK. M.Acc, dosen perpajakan. Dan dari kalangan mahasiswa terselip seorang yang asyik memainkan Ipadnya dari tadi, entah sedang mengupdate statusnya di twitter ataukah sedang mencari playlist favoritenya atau malah sedang berulang kali membaca sms yang sudah masuk karena bosan dengan tembang yang tidak cocok dengan seleranya.
Alunan riang yang mengalunkan tembang pertama dan pembuka dari pertunjukkan hari itu telah demikian membuat sang konduktor mulai bercucuran keringatnya. Namun ia puas bahwa ia sudah harus melakukan yang dilakukan sang Konduktor dalam sebuah pertunjukkan berskala nasional seperti ini. meski tidak ada pejabat yang datang atau bahkan Presiden SBY sekalipun yang datang namun ia meyakini sebuah amanah bahwa kali ini ia bisa mengadakan konser musik klasik di tempat seklasik Gedung Kesenian Jakarta ini. O My Lord Thank for All Your Opportunity to me as your servant , lirih Riza sambil mengelap pipinya perlahan dengan tissue yang sudah ia persiapkan dari tadi. Untuk melengkapi rasa syukur kecilnya, ia alunkan perlahan tongkatnya ke atas kanan dan dimulailah salah satu tembang terklasik dalam khazanah kesenian Islam di Tanah Jawa yang konon diciptakan oleh salah satu penyebar Islam di Jawa dan menjadi iringan permainan anak-anak di jawa tengah. Para pemain music klasik pun dengan menurut mengikuti arah gerak tangan sang Konduktor karena dalam buku yang biasa digunakan oleh para pemain music di setiap konser mereka, tidak tercantum satu baris tangga nada pun tentang tembang apa yang sedang ia mainkan. Namun mereka semua akhirnya asyik tenggelam dalam alunan tangan dingin sang Konduktor.
Para pengunjung pertunjukkan musik pun dibuat terhenyak dengan alunan tembang yang disenandungkan. “Lir-Ilir,Lir Ilir Tandure wis Sumilir, tak ijo royo-royo tak senggo temanten anya. “ begitulah seandainya tembang yang dimainkan oleh konser hari itu dinyanyikan secara vokal dengan nuansa Jawa yang sangat kental. Tapi, tidak ada satu pun pengunjung yang meninggalkan ruangan pertunjukkan. They’re welcome walau tidak ada yang mengerti entah mengapa dari Johan Sebastian Bach begitu jauh larinya ke musik yang hanya bernafaskan kearifan lokal budaya jawa.
Di sebrang sana, sang Konduktor Muda itu, Riza Rangga Pratama, dengan penuh percaya diri memainkan tembang yang ia dulu sukai ketika masih kecil di kampungnya yang sangat terpelosok. Saat rembulan mengembangkan senyumnya, dan saat para ibu-ibu di kampung juga ikut menyenandungkan untuk menidurkan anaknya. Riza, sendiri baru sadar tentang arti dan makna dari senandung tersebut ketika tengah ikut pengajian halaqah di Masjid Nurul Iman di kampungnya di Sragen. Kyai Rahmat yang juga alumnus Al Azhar kerap mengartikan per kata bacaan Qur’aan yang kerap dibaca beramai-ramai ke dalam bahasa jawa dan saat mengartikan Surah Al Ikhlas ke dalam bahasa jawa, Kyai Rahmat, untuk mempermudah pemahaman jamaahnya tentang materi yang ia sampaikan maka ia ikut menyenandungkan senandung Lir Ilir tersebut dengan khas kidung tembang jawa. Jamaahnya pun ikut larut dalam senandung Lir Ilir yang konon diciptakan oleh Sunan Kalijaga.
Alunan music bernuansa keraton pun dengan perlahan mengalir, karena sedari tadi telah dipersiapkan sejumlah perangkat music dari pelbagai daerah di Indonesia. Sejumlah pemain cello dan biola tetap dilibatkan namun dengan kombinasi pemain musik gending jawa yang mengiringi senandung Lir Ilir karya Sunan Kalijaga ini. dosen perpajakan, Haikal Tambunan SE M.Ak yang kelahiran tanah batak malah sangat antusias mengikuti sesi music daerah ini. teringat perjalanannya ketika tengah ikut serta dalam proses audit salah satu BUMN berplat merah di kawasan Magelang, beliau tinggal di sebuah desa yang jaraknya dengan lokasi mengaudit sekitar 5 Km dari pabelan dan sekitarnya.
Sementara di panggung, Riza Rangga Pratama seakan mulai mengakhiri tembang yang dibawakan beserta seluruh awak konser musik klasik yang ia bina sejak awal kuliah tersebut. Walaupun belum sehebat composer asal jepang, Kitaro, namun obsesinya yang tinggi pada sosok Maestro Kang Gunh Wo dalam film korea Beethoven Virus, membuatnya menancapkan tekad tinggi “Man Jadda Wa Jada “ untuk menjadi konduktor terbaik musik klasik yang namanya sejajar dengan konduktor dalam negeri, Erwin Gutawa, yang konser musiknya kerap dihadiri pejabat negara hingga artis. Setidaknya Riza Rangga Pratama masih bisa berbangga walaupun dalam konser musik klasiknya ini tidak dihadiri salah seorang pejabat negara atau rombongan artis tetapi ternyata seorang dosen pembimbing skripsinya duduk di kursi agak depan, dialah Dr Hatib Ilham Insani M.Ec, dengan penuh penghayatan dan duduk dengan gaya seorang manager saat membaca laporan anak buahnya, dosen pembimbing riza rangga pratama yang juga alumnus IIUM ini menikmati pertunjukkan yang ditampilkan mahasiswanya itu.
Selepas tembang Ilir ilIr selesai, ruangan konser yang lebih besar dari aula kampusnya itu kembali senyap. Hanya seorang diri, Riza Rangga Pratama, berdiri tempat sang konduktor memimpin orchestra lampu pun semuanya dipadamkan. Dan pandangan penonton musik klasik dialihkan ke salah satu pojok panggung, dengan cahaya terang memancar, terlihat sebuah saung dari bambu, suasana dapur pedesaan, tumpukan gandum dan pagi yang menguning, hingga sawah yang hijau membentang melatar belakanginya dan perlahan alat music kecapi dari Jawa Barat dipetik dengan lembut oleh para pemain music kacapian yang berseragam lengkap seperti masyarakat pedesaan di jawa Barat saat akan merayakan seren taun. Sorban Palid, salah satu tembang sunda yang dimainkan secara instrumental menjadi pelengkap niat nuansa kearifan lokal konser perdana Riza Rangga Pratama ini.
Di bagian tengah dari para audiens, Dr Bimo Reza Guntoro M.Si , dosen manajemen perbankan berbisik-bisik kepada sesame dosen di sebelahnya
“hayaaa, wo jadi inget lagi makan pas training dosen di puncak hah ….” Katanya kepada dosen di sebelahnya Ust Yoga Aditya MA, Dosen Fiqh Muamalah kampusnya Mahmud Azmi Zein, yang hanya tersenyum-senyum dari tadi. “heueuh, kangen oge urang mah ka lembur disebelahnya lagi Pugo Sancoko SE.MM , yang pernah jadi staff ahli Wakil Presiden Republik Indonesia, dengan seriusnya mengatakan “ kayaknya pernah denger pas ane walimahan “ Pak Pugo, begitu beliau biasa disapa, teringat dengan perjalanan cinta nya yang sangat panjang dan berliku. Mulai dari dunia paper, ia menemukan belahan jiwanya yang dulu adalah seorang dosen penguji paperny tersebut.
“Berarti antum sedang De Javu akh “ timpal Dr Bimo Reza Guntoro, dosen berperawakan Hokian namun mengklaim keturunan arab ini.
“lebih tepatnya kalo anak muda sekarang, flashback hehe “ komentar Pak Pugo sederhana .
Dibelakang tiga orang dosen nyentrik ini, sekitar empat baris kursi penonton dipenuhi para mahasiswa kampus Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Tazzaka, ada yang asik mengotak-atik Ipad di tangannnya, ada sedang asik bertwiteran via android, atau malah sedang serius menjadi bagian dari konser perdana sang calon konduktor ternama yang bernama Riza Ran gga Pratama ini. adapun Mahmud Azmi Zen lebih khusyu makan popcorn bersama kawan-kawan gangsternya yang berasal dari Pondok Madinah, sebuah pesantren modern di daerah Jawa Timur,
Memasuki sesi ketiga, semua alat music praktis berhenti. Senyap dan sunyi. Lampu penerangan pun dipadamkan namun hanya tersisas satu cahaya terang di tengah panggung. Seorang lelaki muda berjas putih panjang dengan membawa sebuah gitar dan seorang perempuan muda dengan kebaya betawi disambung jilbab berwarna merah cerah membawakan sebuah tembang dari Johan Sebastian Bach,seorang composer periode barok antara tahun 1685-1750.
Mahmud yang waktu itu hanya menggunakan kaos berkerah dengan jas warna hitam mencoba menebak sebuah lagu yang pernah Ayahnya mainkan saat ulang tahun ke 19 tahun dulu ketika ayahnya masih ada. “hmmm, “Minuet From Anna Magdalena “ tidak salah lagi.
Sementara disekitar Mahmud, sedang meributkan dan masih menebak-nebak tembang yang sedang dimainkan oleh dua orang pemain klasik ini. ada yang menyebut karyanya Mozart hingga Afgan syah Reza😀 ada yang hampir menebak benar, seperti waskito, teman satu kuliahnya Mahmud “ kayaknya “Air From Orchestral Suite neh “ walaupun sama-sama komposernya sama namun masih kurang tepat, lirih Mahmud yang ada disebelahnya.
“sotoy lu ni khan rabitahnya iziz” sahut rizal al bogeli salah satu pentolan di kampusnya Mahmud.
“dasar Gobloook !! “ umpat Mahmud pelan menyesali mereka yang tidak mampu menghargai karya seni bernilai tinggi ini, tapi Mahmud masih penasaran dengan sosok kondutor muda yang memimpin bahtera orchestra music klasik kali ini. begitu piawainya mengemas karya-karya Johan Sebastian Bach dengan kombinasi tradisi lokal seperti degung sunda dengan kawihnya gending jawa dengan nuansa mistiknya. Atau pembacaan sejumlah syair yang menjadi sela selama konser seperti syair dari Raja Ali Haji yang kental dengan budaya dan nuansa Melayu atau pembacaan Syair ila Galigo dari budaya Bugis.
Setelah senandung Minuet From Anna Magdalena usai lampu kembali padam dan tirai merah tua kembali diturunkan.
Saat dinyalakan, sederetan anak muda dengan pakaian gamis putih dan sorban serta lengkap dengan peci putihnya sudah rapi memegang sejumlah alat perkusi. Salah seorang di antara mereka bersuara lantang “Innallaha Wa Malaaikatahu Yushaluuna Ala Nabiyy !! Ya Ayyuhallazdina Amannu Shallu alaihi wasalimu Taslimaa !!! “ kemudian sahutan dari sekitar anak muda bersuara lantang itu “ Allahumma Shalli Ala Wa Bariik Alaih !! “ dan dimulailah salah satu kesenian dari tanah Betawi, Marawis. Sekitar lima orang anak muda memegang perkusi kecil yang kerap disebut orang Jakarta sebagai Band Tepok.
“et dah kenape jadi bawa2 marawis segale seh “, Mahmud tidak habis pikir betapa amat jauhnya karya seni milik Sebastian Bach dengan band tepok yang biasa ada di langgar-langar atawa mushalla di Jakarta. Tidak jauh disebelahnya rizal el bogeli terlihat lebih semangat dan menggebu-gebu bahkan sempat berteriak kea rah panggung “sekalian gan, ar ruhul jadid !! “ teriaknya penuh semangat
Karuan para penonton yang tadinya senyap dan larut terbawa emosi musik antara Mozart hingga instrumental lokal ituseliweran ke melihat kesana-kemari mencari arah suara. Mahmud yang juga selama ini penikmat music penuh nuansa ketenangan itu terusik dan seketika berceloteh “susah dah orang kampung, maennannya di gank-gank becek yang ada ef pe I seh “
Dari arah kursi para dosen, Pak Pugo Sancoko, mukanya terlihat kisut “itu mahasiswanya sopo tohk, ribut banget “
Dr Bimo Reza Al Jufri pun ikut menimpali dan berdiri seperti terganggu “ Hayya, kalo lu olang gak bisa diem, lu olang kelual aja hah, lu kila ni konsel amal hah “ katanya kea rah bangku mahasiswa tempat Mahmud dkk berada.
Di seberang kiri, bagian kalangan wanita, seorang wanita tanpa jilbab berceloteh ringan ke kawan-kawan di sebelahnya “kalo gak bisa menghargai pluralism gini neh” ucapnya enteng, padahal konduktornya lumayan ganteng lhoh sayang diganggu kaum teroris seperti di atas “
Di bagian belakang panggung, ternyata sang konduktor yang memimpin orchestra tadi ternyata sedang beristirahan dan baru saja mengelap keringatnya dengan sapu tangan putih. Kemudian datang beberapa pemain violin dan cello mempertanyakan keributan di kursi penonton. Setelah berbicara sejenak, sang konduktor yang baru saja beristirahat menginstruksikan semua pemain klasik bersiap di balik layar dengan posisinya masing-masing sampai marawis selesai dan tirai kembali diangkat.
Saat tirai telah diangkat, lampu panggung menyorotkan lampu yang sangat terang, terlihat sang konduktor berdiri di atas tempatnya, dan mulai mengangkat tangan ke atas kiri dan dimulailah sebuah tembang “dadakan “. Seperti pada tembang Lir Ilir, para pemain musik hanya mengikuti gerak tangan sang koduktor. Maka kali ini ia membawakan shalawat Badar dan Barzanji di akhir penutup konser. Kembali para penonton yang tadinya ribut karena ulah tak bertanggung jawab salah seorang mahasiswa, dibuat senyap dan diam.
“hayya ni konduktol jenius hah…..” ucap Dr Bimo Reza Guntoro lirih penuh kekaguman
“hmm memang mahasiswa teladan, mahasiswa bimbingan saya ini “ Dr Hatib Elham Insani ikut berkomentar.
“jadi ingat idris Sardi, musisi legendaries yang kerap membawakan nuansa music klasik dalam aransemen islam “ ucap Mahmud membuka headset yang sedari ia gunakan demi menghindari ocehan2 di sampingnya.
Usai shalawat badar yang ia bawakan, Riza Rangga Pratama turun dari panggung dengan membawa microphone seolah hendak beraudiensi dengan para penonton yang datang
“Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuhu, selamat malam salam sejahtera buat kita semua, saya dan kawan-kawan mengucapkan terima kasih yang luar biasa dan dahsyat bagi para hadirin semua yang telah bersedia datang ke konser perdana saya ini. sungguh sebuah perjuangan yang memerlukan banyak pengorbanan dan kerja keras untuk bisa merealisasikan salah satu cita-cita saya ini. sebuah tahniah saya ucapkan saya datang pada kawan-kawan yang datang dari pelbagai kampus atau penonton yang terdiri dari para dosen ataupun pecinta seni.
Mungkin banyak pertanyaan yang bertubi-tubi dari para hadirin semua, mengapa dalam konser perdana music klasik ini saya mengemasnya sangat asing dan aneh. Bagaimana karya-karya besar dari para komposer dunia seperti Mozart dan Johan Sebastian Bach bersanding dengan nuansa music etnik atau instrument lokal dari pelbagai daerah. Pertanyaan ini awalnya banyak menghiasi fikiiran saya. Sebagaimana karya klasik yang lain seperti Johaness Brahms seorang komponis dunia dari zaman romantik dan Frederick Chopin seorang pianis handal mereka semua dalam karya seni music kebesarannya sejajar dengan pelbagai jenis music instrument lokal yang telah kita kenal sebagai bangsa Indonesia, dari mulai naskah Ila Galigo dari Sulawesi Selatan, Shalawat Barzanji yang berisis puji-pujian pada Baginda Nabi SAW hingga degung sunda yang diwarnai kacapian suling atau gending jawa yang tadi mengiringi tembang Lir Ilir yang dimainkan secara instrumental. Saya yakin sedikit dari para audiens disini yang pernah tahu bahwa naskah Ila Galigo saat ini berada di sebuah museum kebudayaan di Belanda bukan di tempat asalnya di Sulawesi Selatan.atau lihatlah beberapa fenomena yang ironis di negeri kita, orang-orang asing lebih tertarik mempelajari budaya lokal negeri ini dibandingkan kita sendiri yang terlalu terpukau dengan Barat.
Lalu mengapa ada unsure agamis dalam konser perdana ini. pertama sebagai konduktor, saya ingin menampilkan sesuatu yang berbeda dan membawa pesan bahwa adalah sunnatulah bahwa manusia menyukai yang membuatnya tenang dan bahagia melalui music yang tidak membuat telinga rusak atau dapat memberikan terapi relaksasi secara psikologis. Kedua sebenarnya tidak ada yang perlu dipertentangkan karena tembang-tembang yang dituliis oleh Johan Sebastian Bach pun seperti misalnya “Jesu Joy of Man’s desiring “ dipersembahkan untuk Gereja, begitu juga beberapa tembang lainnya sangat kental nuansa Gerejani didalamnya. Untuk itulah dalam beberapa sesi saya menyajikan kacapian cianjur dari bumi jawa barat yang sarat pesan-pesan moral nya atau tadi shalawat badar dengan format music klasik. Semua sebagai ungkapan syukur saya kepada Allah SWT telah memberikan ni’mat dan kesempatan untuk bisa menyelenggarakan konser perdana ini. sebagai persembahan terakhir saya dan kawan-kawan akan menyajikan lagu Indonesia Raya sebagai bentuk kecintaan saya pada tanah air “
Satu per satu para pemain musik kembali muncul dengan membawa harpa, violin, cello, dan sebagainya ke tengah panggung sebagaimana format awal konser dimulai, dan Riza kembali ke atas panggung dengan membawa tongkatnya dan dimulailah tembang terakhir yang dikemas bak memainkan salah satu komposer dunia walaupun tembangnya Indonesia Raya.seluruh lampu pun dinyalakan dengan amat terangnya dan terlihat beberapa latar belakang yang telah disusun dengan baik oleh panitia dri mulai panorama pedesaan di jawa barat, suasana surau di Jakarta, hingga sebuah hamparan sawah membentang di Jawa Tengah, ditambah dua layar besar di samping kiri dan kanan panggung mengeluarkan gambar bendera merah putih yang lebar tengah berkibar dengan gagahnya.
“nasionalis banget…. “ komentar salah seorang penonton di bagian penonton
“lewat dech Kitaro, kayaknya the next Erwin Gutawa neh “ tambah salah seorang penonton di bagian samping kiri.
“Good, gak sia-sia gue nonton konser perdana ini “ komentar Mahmud yang jauh-jauh dari sentul datang untuk menonton konser yang infonya ia dapat dari info dari madding bem di kampusnya seraya menghabiskan popcorn terakhirnya.
Secara refleks sejumlah penonton mulai berdiri dan hampir di semua sektor semuanya berdiri dan memberikan applause yang sangat panjang dan riuh rendah atas penampilan terakhir yang sengaja dikemas unik ini. kecuali rizal el bogeli yang ngedumel “ah elah gitu aje pake applause panjang segala, masih mendingan konser palestina dah “
Konser berakhir pukul 23,30, pintu atas sebelah kiri bawah balkon sudah terbuka tirainya, lampu kembali bercahaya menerangi seantero ruangan konser, panggung yang megah terlihat keanggunannnya dengan latar belakang tirai berwarna merah menyala dan beberapa sudut nuansa buatan yang dibalut dengan tema etnik. Sang Konduktor, turun dan menyalami sejumlah dosen yang duduk di bagian paling depan, para pemain cello dan bass turun dari panggung dan langsung masuk ke ruangan belakang panggung. Dan suasana pun haru biru dengan para penonton yang seketika berebutan ingin berjabat tangan dengan sang konduktor konser malam ini. dari mulai sejumlah cewek yang histeris ingin foto bareng dengan konduktor yang mirip salah seorang artis pelantun lagu “Dalam Mihrab Cinta “ ini hingga kawan-kawan sang konduktor yang sedari lagu terakhir tak berhenti juga mengelu-elukan prestasi kawannya yang satu ini.