Di stasiun Jakarta Kota, Mahmud dan seorang kawannya sedang bersiap berangkat menuju kota Bogor. Stasiun Jakarta Kota, sebuah stasiun maha bersejarah dalam sejarah Batavia dan colonial belanda itu. Mahmud sudah siap dengan dua tas dan satu kopernya sementara temannya, arief Rahman al Hikam, akan melanjutkan kuliahnya di Institut Pertanian Bogor, juga membawa koper besar dan satu tas punggung yang dipake sejak kelas 1 es em pe. Keduanya sedang dengan tenang menanti kereta pakuan ekspress yang akan dengan kilat membawa mereka ke kota Bogor. Mahmud sedang asyik twitteran dan arief  sedang asyik membaca Koran.

Jam di stasiun Jakarta Kota menunjukkan pukul 10,30  sementara kereta baru tiba di stasiun Jakarta Kota pukul 11.00 berarti ada waktu setengah jam lagi menunggu. Di antara lalu lalang para penumpang yang akan berangkat ke tujuan masing-masing mulai dari kea rah malang, Surabaya, hingga depok. Stasiun Jakarta kota seolah tak pernah henti dan lelah memperlihatkan staminanya di tengah deri ibukota yang mencapai titik deklinasinya. Bagaimana tidak, para pembaca, Mahmud dan arief , sebelum berangkat ke stasiun Jakarta kota, berencana naik bus dari terminal kalideres yang memang tak jauh dari rumahnya di belakang Mall Citraland tetapi malang betul, hari itu selepas hujan semalam menyisakan banjir yang luar biasa parahnya dalam hidup Mahmud di seputar kawasan kalideres.

Mau menunggu bus pun terasa percuma. Jadinya dengan langkah seribu Mahmud membawa arief dan memaksanya naik busway dari depan terminal grogol menuju Jakarta kota walau harus transit sebentar di terminal harmoni yan baik pagi,siang dan senja, padatnya minta maaf, arief dan Mahmud tetap masih mempunyai semangat tinggi menembus dunia kuliahnya. Untungnya sat di terminal harmoni, para penumpang yang akan berangkat ke stasiun Jakarta kota tak sepadat dengan tempat tujuan lain, sehingga antrian tidak terlalu panjang walau harus berdiri, arief dan Mahmud melihat masih bisa gerak-gerakin jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.

Para penumpang sebelum sampai ke stasiun Jakarta kota ternyata banyak yang turun di shelter glodok dan olimo. Hingga menuju Jakarta kota bus way yang ditumpangi dua bocah metropolitan ini terasa lebih lengang. Arief duduk tertidur dan Mahmud masih asyik dengan dunia tweepslandnnya. Hingga saat ketika terdengar suara “ Dear Passenger, thank has use transjakarta transport, Next Stage, Jakarta Kota, Please Check your belonging and step carefully” Mahmud langsung offline dan membangunkan arief yang sedang khusyuk dengan illernya yang mewarnai bangku bus transjakarta yang dilapisi bahan beludru warna biru tersebut.

Keduanya  dengan setengah tergesa-gesa melangkah keluar bus dan langsung menuju sebuah lorong yang menghubungkan antara shelter utama bus transjakarta itu dengan stasiun Jakarta kota. Arief yang seumur hidupnya Cuma tau rumah kontrakan keluarganya itu agak bingung malah sempat ikutan ngantri lagi di depan loket bus transjakarta. Mahmud pun pusing jam segini masih ada anak Jakarta yang gak ngerti “negara”nya.

‘eh brur, ngapain lu !! “ teriak Mahmud kesal memanggil

“ngantri “ jawab arief polos

“bukan disitu cumi , ntar dibawah sono nyang mau ke Bogor man” teriak Mahmud kesalnya belum reda

“oooh sorry man, hehehe “ arief  cengar-cengir. “

Kedua turun memasuki sebuah lorong yang akan menghubungkan dengan stasiun Jakarta kota, “nothing special” kata Mahmud. Ia teringat dengan cerita ayahnya saat kunjungan kerja ke Rusia, kata ayahnya, Orang Rusia kalau membangun sebuah stasiun kota atau sarana transportasi public bak membangun sebuah istana yang teramat megah. Tidak tanggung-tanggung bahan dasarnya kadang terbuat dari batu alam atau batu marmer dan dihiasi pula oleh intan dan zamrud. Tiba-tiba ia ingat kalau ini di Indonesia bukan Rusia. Mahmud pun hanya tersenyum-senyum sinis.

Arief lagi-lagi hampir nyasar, yang seharusnya kea rah Jakarta kota malah kea rah museum bank mandiri dan pasar pagi. “duh gaswat  bener dah ni temen ghue “ kata Mahmud kesal. “eh cum, lu mo ngapain lage ntu nyang ke museum bank mandiri yang kite lewatin tadi, kite yang kea rah sono man” telunjuk tangannya sambil mengarah sebuah plang berwarna hitam dengan tulisan ber font putih “ Stasiun Jakarta Kota”. Lorong yang menuju stasiun Jakarta kota itu juga sama halnya dilalui dengan para penumpang yang notabene terdiri dari para komuter jadebotabek. Sebagian ada yang demikian tergesa kea rah stasiun sebagian lagi menikmati kenyamanan kolam air mancur yang kebetulan air nya sedang nyala dan ikan-ikan kecil bermain di bawahnya. Jadilah menjadi objek kesukaan bocah-bocah.

Sesampainya mereka di atas, mereka menyaksikan pemandanngan kaum marginal dari mulai penjaja voucher pulsa hingga tukang rokok. Dari mulai penjaja air minuman hingga makanan-makanan kecil yang berharap di antara padatnya stasiun hari ini masih ada calon penumpang yang belum sarapan atau makan siang. Harganya pun bervariasi dari mulai Rp 3000 hingga Rp 10000. Walau ada papan peringatan “jangan naik pagar pembatas” sepertinya kaum marginal ini menanggap lalu papan kecil yang tertempel depan pintu masuk lorong shelter bus way. Praktis jika ada yang mau beli minuman hingga tukar duit recehan , mereka merasa perlu untuk lompat pagar dengan seenaknya.

Mahmud dan arif pun sampai di depan stasiun Jakarta Kota. Mahmud masuk kedalam dan membelikan karcis bedua untuk kereta pakuan ekspress. Menurut penjaga loket, kereta pakuan ekspress baru berangkat pukul 12.30  atawa setengah satu. Sementara saat mereka tiba di stasiun Jakarta kota jam stasiun menunjukkan pukul 10.30. owh. Sebuah jangka waktu lumayan lama bagi mereka yang sedang tergesa-gesa.  So, mereka hanya bisa menunggu kereta dengan tenang di depan jalur 12 dan jalur 11. Beberapa kursi panjang yang diantaranya terdapat beberapa penumpang yang asyik membaca Koran dan khusyu membaca novel. Mahmud dan arief duduk setelah bermisi-misi dengan sekitarnya. Mahmud pun mulai membuka Nokia N73 pada aplikasi opera mini dan arief membuka halaman pertama dari Koran Republika yang ia beli di harmoni tadi.

Saat Mahmud dengan sibuknya bertwitteran dan arief serius membaca Koran, sebuah pengumumunan khas stasiun kereta api bergema di seantero stasiun yang dibangun oleh colonial belanda itu. “Perhatian, dari arah jalur 11 akan segera masuk kereta pakuan ekspress menuju Bogor, sekali lagi perhatiannya, dari arah laur 11 akan segera masuk kereta pakuan ekspress menuju Bogor, sementara dari arah jalur 12, akan segera masuk kereta ekonomi kea rah Bogor “

Beberapa calon penumpang yang sedari tadi duduk dengan santainya di kursi panjang, mulai tergesa untuk bangkit. Sebagian dari arah pintu masuk peron ada yang berlari-lari kecil, Mahmud dan arief pun demikian.  Karena yakin tidak banyak yang akan masuk kereta pakuan ekspress, Mahmud dan arief normal berjalan tenang sambil menenteng masing-masing bawaannya. Saat menenteng bawaan menuju gerbong kereta kereta pakuan ekspress tersebut, tiba-tiba Mahmud melihat sosok yang sebenarnya tidak asing, “Gokil, Itu kahn si Batak, alias syahrie bin jamal dalimunthe, alamaak !!  kengkawan sepermainannya semasa di Pekanbaru, kawan seperjuangan saat berjuang menembus SPMB. Kawan segokil dan sekonyolannnya Mahmud. Yang satu tulen batak dari tapanuli selatan dan yang satu lagi,Mahmud, tulen melayu campur jawa dikit.

“heh bung, cemana kabarnya kau !! “ sapa Mahmud pada syahrie yang lebih familiar dipanggil arie ini.

“Alamaak, kau ada disini rupanya !! “ syahri tergelak kaget.

“dah jadi orang kau rupanya !! kuliah dimana kau ?? “ Tanya Mahmud yang masih belum hilang rasa herannya.

“hahaha, orang macam mana pulak kau maksud hah ?? aku dah macam begini2  je lah .. aku kuliah di UNPAD bung.. tapi aku sekarang mau main dulu ke rumah tulang ku di Bogor , nah kau dah kuliah belum ??

“nah ini gue baru mau jalan ke kampus man, gue baru mau mulai kuliah man. “

“lhah, kemana saja kau memangnyah ??, yang lain dah nak UTS, kau masih bergelimang nak kuliah..hohohoho” ledek syahri yang saat itu mengenakan kaos warna hitam gambar tengkorak plus celana jeans biru belel dan di lehernya tergantung gambar bintang daud.

“wah parah kali kau ledek aku macam tu. Justru itulah bung bedanya orang-orang pintar dengan macam orang belel macam kau yang masih sempat-sempatnya liburan saat yang lain kuliah” sindir Mahmud tak kalah pedas.

Arief sedari tadi hanya diam mengamati pertemuan dua manusia aneh ini. Yang satu logat bataknya kerasa banget dan yang satu lagi melayu abis. Sambil melihat-lihat lalu lalang penumpang keluar masuk kereta pakuan yang baru tiba itu. Ia menepuk pundak sahabatnya itu

“heh bung, jadi ke Bogor tidak kau ?? “ arief jadi ikut-ikutan bicara dalam logat melayu setelah singkat melihat dua manusia aneh ini

“oya man, kenalin temen gue arief,” kata Mahmud kepada syahrie.

“Syahrie, atau panggil aja gue batak “ jabat tangan syahrie menjabat tangan arief

“Arief Rahman Al Hikam “ kata arief mengenalkan nama panjangnya. Konon namanya bisa Al Hikam disebabkan dulu ayahnya yang berasal dari pondok pesantren tergila-gila dengan kitab yang ditulis oleh Imam Ibnu Athaillah As Sakandary tersebut.

“btw, kau juga mau ke bogor, ?? “ Tanya syahrie keheranan.

“iya lah bung, aku ke kampus tempat aku akan kuliah dan si arief ini kekampusnya di dramaga sana,IPB tepatnya bung. “ jelas Mahmud menjelaskan kemana tujuannya kepada syahrie.

“bah !! kalau macam tu sama lah tujuan kita !! dah lama kali aku tak jumpa ngan pamanku kitu bung , semalam aku d isms, katanya pamanku sedang sakit, oleh karena itu aku mengorbankan waktu kuliahku untuk menjenguk pamanku di Bogor. “ jelas syahri juga kepada Mahmud dan arief.

Ketiganya duduk di gerbong kedua dari saat lokomotif kereta pakuan itu masuk ke stasiun Jakarta kota yang berarti saat berangkat kembali ke bogor hampir tergolong gerbong yang paling akhir.

Sepanjang perjalanan stasiun Jakarta kota hingga stasiun Bogor, syahrie dan Mahmud tenggelam dalam kenangan panjang mereka semasa kecil hingga sma. Entah kenapa keduanya seolah telah ditakdirkan untuk terus bertemu dalam hal jenjang pendidikannya. Saat Mahmud masih sd di salah satu kawasan di kota pekanbaru, ia satu kelas dengan syahrie. Saat smp nya pindah ke Jakarta, lagi-lagi ia bertemu dengan makhluk yang blak-blakkan kalau bicara ini. Dan saat sma, ia ingat syahrie lah yang selalu terpilih menjadi komandan upacara setiap senin pagi. Dan Mahmud biasanya terpilih untuk menyampaikan pidato English speech setelah amanat dari Pembina upacara. Ditambah saat pensi, menjadi ajang nya syahrie untuk eksis dari mulai pemain band yang ia beri nama grup bandnya sebagai “penjaga kubur’, pemain teater, hingga pernah juga coba-coba untuk menjadi DJ.

Dan benar hingga kini, syahrie berprofesi disamping kuliahnya juga sebagai DJ, kepada Mahmud ia sering cerita tentang pengalamannya manggung di pelbagai party dan event. Dari mulai pensi sekolah-sekolah hingga ulang tahun artis ternama ibukota. Dari mulai main di tempat-tempat clubbing di Jakarta seperti embassy hingga Darmawangsa sudah pernah ia singgahi. Si batak ini pun cerita berapa earning income nya sekali manggung.

“heh kau tahu tidak berapa pemdapatan aku  dalam semalam ? “ Tanya syahrie mengundang rasa penasaran

“emang biasenye lu dapet berape brur ?? “ Tanya Mahmud sudah menanggalkan dialek melayunya berganti seperti biasa logat Jakarta

“bah,tak tentu lah, kadang pernah aku dapat semalam 1,5 J bung !!, kadang pulak kalau sedang tak beruntung aku hanya dapat Rp 500.000 depend on your skill lah “ jelas syahrie.

“tapi itu pun kau, tergantung berapa kelas kau” tambah syahrie lagi.

“maksudnyah ?? “Mahmud heran

“iyah, kalau kau termasuk pemain professional bisa dapat jutaan rupiah dalam semalam je, namun kalau kau pemain pemula biasa masih fluktuatif” jelas syahrie lagi.

“kalau macam tu kau pun termasuk mereka pakcik !!” kata Mahmud

“yach macam tu lah, “

Tak terasa kereta pakuan sudah hampir masuk ke  stasiun universitas Indonesia, kereta pakuan yang merupakan hibah dari pemerintah jepang itu berhenti sesaat hanya di beberapa stasiun besar dan prospektif. Arief rahmanal hakim asyik membaca novelnya habiburahman al shirazy, Bumi Cinta.

Lamat-lamat kereta berhenti di stasiun terakhir, Stasiun Bogor. Mahmud dan arief turun diiikuti oleh syahrie atau batak.

Arief baru sadar, saat akan berpisah dengan syahrie, bahwa yang menggantung di lehernya syahrie itu adalah symbol Zionist, belum gambar kaos yang berwarna hitam bukankah itu gambar freemason, Tanya arief membatin.

“eh man, ntar dulu, yang gantung di leher itu lambang Zionis khan ?? “Tanya arief sebelum berpisah

“”nah kau tahu itu, tapi tak apalah lagi pula aku fikir tak penting kali pikir serius-serius soal agama !!” kata syahrie enteng

“what !!!!” Mahmud dan kaget

“sudahlah, tak pening kali tengok kau kaget macam tu , gue cau duluan man “ syahrie meloyong pergi

“eh cumi, ntar dulu, no hape loe berapa cum “ setengah mengejar Mahmud menanyakan number hapenya

Syahrie pun menyebutkan berapa nomor hapenya, im3, begitu yang Mahmud analisis dri segi provider kartu sim nya.

“ok duluan lah aku, sambil meloyor kea rah  jembatan merah bogor. Arief pun pamitan dengan Mahmud

“eh man, gue pamitan dulu yach, gue mau naik angkot yang kea rah laladon pake 03 dari sini” peluk arief erat pada sahabatnya itu.

“oya man, makasih ya man udeh nemenin gue ampe sini. “ Mahmud pun memeluk erat sahabatnya itu.

“Assalamualaikum “

“wa’alaikumsalam”

Mahmud dengan bawaannya, bersiap menyongsong masa depannya yang konon berada di atas bukit sebuah kawasan bernama Sentul.