Sebuah laporan yang diterbitkan oleh Global Economic Survey pada tahun 2005 mengenai jumlah kasus yang muncul di dunia keuangan akibat kasus Fraud  ada sejumlah poin yang sangat layak untuk perhatikan oleh para akuntan manajemen ataupun praktisi dunia perbankan pertama, fraud merupakan ancaman yang masih dan akan terus berkembang. Pada tahun 2005, saat survey yang diselenggaran, Indonesia menduduki peringkat kedua dalam terjadinya fraud setelah Australia. Kemudian kesimpulan lai dari survey yang diselenggarakan dengan melibatkan interview lebih dari 3.500 eksekutif senior dari 34 negara menyebutkan bahwa sebanyak 44  % responden menyatakan bahwa pelaku fraud adlah pegawai yang direkrut oleh perusahaan

Pada hari-hari ini, dunia perbankan kembali dipanaskan dengan sebuah kasus yang membuat semua orang terhenyak. Seorang pegawai senior dis ebuah bank swasta dengan sukses menggelapkan dana nasabah Citibank sebesar 17 M.  pegawai bank swasta ini telah bekerja di Citibank selama 15 tahun dengan pengalaman di sejumlah posisi dari mulai Account Officer hingga senior relation manager. Sebelumnya juga pernah kecolongan seorang pegawai bank mutiara menggelapkan uang nasabah, fraud memang identik dengan perbankan walau tak semua fraud selalu ada dalam dunia perbankan. Seperti studi yang ditunjukkan oleh Xerandy & Hendrawan (2006) mengenai masalah-masal;ah fraud yang terjadi dalam dunia telekomunikasi yang bisa dibagi dua, yang pertama Subscription Fraud dan Technical Fraud.

Nah, apa yang terjadi di dunia keuangan, Fraud telah sekalian lama menjadi menjadi momok tersendiri bagi para praktisi perbankan. Kalau saya analisa, apa yang dilakukan oleh pegawai Citibank tersebut termasuk dalam klasifikasi fraud yang disebabkan adanya opportunity dan dan adanya pembenaran atau rasionalisasi. \

Kesempatan yang lahir karena sistem yang tidak memadai. Atau sistem pengendalian internal telah memadai namun tidak menutup celah bagi mereka yang sudah hafal seluk beluk sistem seperti celah persetujuan manajemen dan suvervisi bisa dimanfaatkan. Mungkin bagi pegawai pemula yang baru bekerja sekitar 2-3 tahun tidak mungkin melakukan hal ini karena setiap tingkatan manajemen yang kita ketahui ada tiga lapisan umum, manajemen atas (top management, manajemen tengah ( middle management ) dan manajemen bawah yang biasanya langsung bersentuhan dengan kinerja operasional perusahaan atau bottom manajemen memiliki pengendalian internal masing-masing yang kemudian diintegrasikan dalam satu sistem informasi akuntansi perusahaan yang berfungsi menghasilkan laporan keuangan hingga output bagi konsumen atau nasabah. Kita ingat pegawai Citibank ini telah sekitar 15 tahun dalam perusahaan tersebut. Dalam rentang waktu itu pula sejumpa posisi startegis pengambilan keputusan perusahaan telah ia duduki. Maka sangat memungkinkan untuk mengetahui celah demi celah dalam pengendalian internal perusahaan untuk diperlakukan sebagai rasionalisasi ia melakukan fraud.

Saya sepakat dengan papernya Sahari & Kurniawan ( 2007 ) dalam jurnal Economic and Busineess Accounting Review, bahwa secara konvensional untuk menanggulangi Fraud umumnya manajemen perusahaan akan memfungsikan auditor internal, auditor eksternal, dan juga  penerapan code of conduct. Atau seperti yang diusulkan dalam studi tersebut diberlakukan apa yang disebut sebagai Fraud Red Flags, atau indikator-indikator yang menunjukkan adanya ketidakbiasaan perilaku dalam perusahaan bagi secara manajemen maupun secara person. Namun yang penting dibandingkan berkutat pada persoalan teknik itu semua, kita harus ingat, sebuah masalah atau penyakit yang trennya terus bermunculand dan meningkat tidak bisa disembuhkan dengan obat-obat yang bersifat analgesik. Auditor internal, auditor eksternal ataupun red flgas adalah sejumlah upaya sebagai bentuk upaya pencegahan terjadinya fraud. Yang lebih memungkinkan dan efektif adalah  bagaimana manajemen mengkondisikan pelaku ata invidu ekonomi dalam perusahaan tidak hanya taat pada code of conduct tetapi juga code of ethic. Karena tidak bisa dipungkiri code of ethic menjadi persoalan krusial dalam lingkungan akuntansi.

Salah satu puaya menuju kea rah sana adalah dengan menanamkan internalisasi nilai. Ketika saya magang dis ebuah lembaga amil zakat, setiap pukul 08.00 pagi selalu ada salah seorang pegawai lembaga amil zakat yang berinisiatif membacakan Al Ma’tsurat hingga selesai juga setiap departemen dalam lembaga amil zakat yang berinduk pada salah satu Bank Syariah terbesar di Indonesia ini, membiasakan briefing pagi yang berisi taujih kepala departemen, arahan –arahan strategic operasional hingga ada yang membacakan salah satu artikel keislaman. Nah, tenryata upaya serupa yang pernah dilakukan di Filipina, dengan adanya doa bersama menurut agama katolik setiap pagi bagi sejumlah perusahaan.

Antara Fraud dengan korupsi memang identik. Dalam ranah akademik, ibarat keluarga maka Fraud adalhs eorang ayah dan korupsi salah seorang anaknya, lalu muncullah sejumlah istilah lain yang juga mengarah pada fraud, seperti pemalsuan skema pembelian, pemalsuan skema penjualan, invoice fiktif hingga gratifikasi dan inilahyang menjadi “cucu-cucu’ nya fraud. Yang judulnya tetap satu: FRAUD