ia harus meyakinkan dirinya bahwa memang bukan itu yang ia suka. Bayangkan saja pembaca yang terhormat, Mahmud dulu sangat bercita-cita untuk kuliah di arsitektur lanskap IPB atau paling banter kalau sedang apes, ia harus memilih kuliah di sebuah kampus swasta yang memang menjadi basic core competence dunia arsitektur. Tapi kini tiba-tiba ia harus “nyasar” di sebuah sekolah tinggi ekonomi Islam yang berada jauhnya di atas bukit bumi parahyangan.

Oh My Gosh !! apa pulak ini, kata Mahmud mengutuki tiba-tiba keberadaan dirinya di kampus yang Mahmud lihat serba tanggung ini. “masih mendingan juga kampong gue man, biar kate di pelosok tetapi kalah dah pekanbaru “ logat melayu campur Jakarta nya masih demikian kental. Selepas ayahnya meninggal, Mahmud bersama ibunya merantau ke Jakarta sejak Mahmud masih sekolah menengah pertama hingga ia kuliah tak jauh-jauh dari ketika ia hijrah walaupun untuk kali ini ia kuliah di, ya sekali lagi, sebuah sekolah tinggi ekonomi islam nun jauhnya di atas bukit.

Atas rekomendasi dari ibunya yang sangat menyayanginya, begitu tahu bahwa Mahmud tidak lulus seleksi penerimaan mahasiswa baru  dan ditambah saat Mahmud mencoba untuk ikut ujian di sebuah sekolah tinggi akuntansi negara. Lagi-lagi tidak lulus. Depresi,  ? past, i kata Mahmud untuk itulah ia masih penasaran bagaimana mungkin siswa yang rajin semasa sma nya berkali-kali tidak lulus  seleksi penerimaan mahasiswa baru sedangkan teman-temannnya yang rata-rata begajul dengan amat mudahnya diterima di Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia atau yang paling parah dan seakan-akan sedang melecehkannnya temannya dengan amat mudah melenggang masuk ke arsitektur lanskap ITB !!

Kini di depan matanya hanya ada pilihan. Ambil dari yang nyokapnya kasih atau tetap nganggur sampai setahun SPMB tiba. Hanya itu, kata Mahmud.

Saat sedang menimbang-nimbang di rumahnya di sebuah kawasan tersibuk di Jakarta Barat, sebuah sms masuk ke nokia N73nya “eh cuy kuliah dimane lu “, begitu isi sms dari salah seorang temannya “belom ade man” balasnya. Lalu masuk lagi sebuah sms “dah dulu ya smsannya ya dosen gue udeh masuk nih😀 “ brengsek. Kata Mahmud “tu orang sms cumin pengen ngeledek gue “. Umpatnya sebal

“malam  ini juga, iya harus menentukan sikap. Still kuliah atau kerja. Kalau kerja bukan tipikal Mahmud yang tidak mudah disuruh-suruh kalau kuliah, where Mahmud will go ??. itu persoalan pertama. Persoalan kedua, bagi Mahmud. , sejak bokap nya yang dulu seorang manager keuangan di perusahaan minyak di Jakarta dan mempunyai banyak tambang minyak di Kalimantan di di Dumai, sisa deposito ayahnya sudah banyak tergerus bermacam kebutuhan keluarganya. Ibunya. Ny Sri Hartiningsih, wanita kelahiran Surakarta yang menikahi pria yang kini menjadi ayahnya Mahmud hanya seorang pedagang batik yang kesuksesannnya masih standar. Walaupun sudah lama toko batik nya di tanah abang terbakar tahun 2006, kegiatan ekonomi rumah tangganya masih tetap mampu berjalan dengan banyak mengandalkan sisa deposito ayahnya Mahmud. Otomatis biaya buat kuliahnya pun terbatas.

“sabar ya mas, kamu gak perlu khawatir, selama masih ada ibu, ibu akan tetap berjuang meneruskan sampai kemana kau menggantungkan cita-citamu “. Tukas ibunya sambil melipat sejumlah stell kain batik parang dan Cirebon dan memasukkannya ke dalam lemari.

“iya mah” jawab Mahmud malas.

InshaAllah, kalau kita usaha, ada aja jalan keluar… sekarang pun ibu masih bisa menjual kain-kain batik yang ibu ambil dari solo sepekan sekali ini dan mengedarkannya ke pengajian-pengajian dan majelis taklim buat biaya kuliah kamu …’

“iyah mah” jawab Mahmud lagi serasa masa depannya sudah demikian suram

“sekarang kamu shalat dulu, berdoa sana sama Allah, semoga kamu bisa lekas kuliah dan gak perlu lagi capek-capek bolak-balik Jakarta solo sepekan sekali untuk mengambil dagangan ini”  perintah ibunya penuh kelembutan

“nah trus kalo aku kuliah, dagangan mamah gimanah ?? siapa yang mau bawain ? “ Tanya Mahmud heran. Mengingat mahmudlah yang selama ini banyak membantu ibunya bolak-balik Jakarta –Solo melalui kereta bengawan tiap malam untuk mengambil inventory dagangan ibunya untuk dijual kembali di tokonya sebelum terbakar. Setelah terbakar pun ibunya tetap berusaha berjuang menghidupi keluarganya dan anak tunggalnya yang bernama Mahmud Azmi Zen.

“yah itu mah gampang, bisa ibu lakukan sendiri….atau bisa juga minta tolong sama tetangga kita yang juga dagang pakaian yang mengambilnya di Solo juga. “ jawab ibunya lembut. Seolah tak ada masalah selama mengambil barang dagangan dengan kereta ekonomi itu.

“terserah mamah dech, selama ini aku merasa telah demikian banyak yang kulakukan untuk keluarga kit amah… dan sekarang mamah demikian membiarkan aku membiarkan mamah berjuang sendirian .” Mahmud menatap ke sebuah lemari tua di rumahnya

“jadi kamu maunya bagaimana, kuliah atau jadi pedagang seperti mamahmu ini nak ?? “ Tanya nyokapnya Mahmud.

“itu dia mam aku masih bingung… “ Mahmud berdiri bangkit dan berjalan gontai kea rah luar pintu.

Ada dialog yang dari dulu belum pernah selesai, dan itulah yang lagi-lagi Mahmud lakukan. Berdialog bukan untuk selesai tetapi semakin menambah daftar pertanyaan.

“yow is tohk, kamu ambil aja kuliah dimana itu namanya yang di gunung itu…?” ibunya mencoba mengingat nama kampus tempat Mahmud akan kuliah

“auk ah, kuliah di gunung… tapi enak juga she..kayaknya tenang dan terkondisikan “ balas Mahmud.

“yawda kamu ambil yang itu saja …kalo untu kuliah kamu disitu, inshaAllah cukup biayanya”ibunya membuat Mahmud yakin bahwa Mahmud masih ada harapan untuk kuliah.

Mahmud diam-diam menyeka air matana yang sedari tadi mulai mengalir, “oh Allah segini bgt pengorbanan nyokap gue buat gue kuliah “ katanya membatin.