Mahmud harus kembali seusai kuliahnya berakhir tahun ini. Ya harus, kata Mahmud. Kuliah yang bertubi-tubi dicabar dengan cabaran dunia ekonomi Islam,di sebuah sekolah tinggi Ekonomi Islam, dan kini ia berada di persimpangan jalan, kembali atau mengambil tawaran beasiswa dari kampusnya untuk go a flight ke durham university. Kalau ia meneruskan sama saja meneruskan jalan menuju nerakanya yang akan semakin jauh dari nilai-nilai ekonomi Islam yang selama ini ia pelajari. Bagaimana tidak, dari mulai merokok sebelum presentasi skripsinya hingga dugem sudah pernah ia jalani. Dugem ia jalani ketika liburan, bertemu kembali teman-teman SMAnya. Teman-teman seperjuangan fil Jahiliyah, teman-teman yang banyak menjadi mentornya dalam dunia yang blingsatan.

Tetapi di kampus ini pula, yang namanya batu akan terus lunak seiring seringnya air mengucur begitu pula Mahmud. Dari mulai keseringan dengerin ceramah ustadz pas awal angkatannya di asramakan hingga beberapa kali ikut kajian ekonomi islam di luar perkuliahan secara informal pikirannya mulai membenarkan kejahiliyahan adalah akar dari semua bentuk riba, gharar,maysir,maksiat, zhalim dan sebagainya. Tetapi hatinya masih terlalu lekat dengan dunia malam tohk di kajian ekonomi islam it pulak ia menemukan fakta kalau bank syariah yang selama ini disebut-sebut sebagai role model ekonomi islam masih cacat di sana-sini. Ahk akhirnya sama saja tergantung orangnya, kata Mahmud tak sadar kontradiksi dengan yang baru saja membuat ia sadar. Lalu mau gimana sekarang. Tanya Mahmud.

“pulannglah, bangun kampong kau itu ‘ kata nalarnya membisik

“ngapain, terusin aja kuliah elo ntar pulang-“ tinggal elo ancurin dah dengan ilmu elo orang khan langsung percaya kalo elu palagi lulusan Durham University. “ yang lain memprovokasi

PLAK !! . kepalanya berada di tengah pertarungan amat tajam. Kenape jadi begini ya Allah !! Tanya Mahmud pada dirinya sendiri.

Hari ini adalah kuliah terakhirnya di sebuah sekolah tinggi ekonomi islam yang jauhnya berada di atas bukit. Ia memandang keseliling, kampus ini begitu tenang dan indah apalagi saat mentari pagi seolah kampus ini sedang dikepung dua gunung dan bebukitan yang semuanya sedang sujud kepada Allah Sang Maha Pencipta. Belum ia lihat arsitektur bangunan gedung kuliah yang setiap pagi ia selalu lewati seolah membuatnya kembali teringat masa-masa remaja dengan ayah tercinta di salah satu benua eropa. Iringan music klasik terdengar nyaring di beberapa sudut, Mahmud pun ikut hanyut dan lagi-lagi senandung ini yang menemani dirinya dan ayahnya saat menelusuri sungai rhine di perancis

“. Tapi sejak kapan ada senandung music klasik disini. “ tanyanya membatin. Lalu ia pun menelusur ke beberapa sudut yang membentang ruang lobi utamanya yang menghubungkan antara pintu masuk gedung kuliahnya dengan beberapa ruang kelas dan ruangan akademik di atasnya. Senandung music klasik yang semakin nyaring membuatnya terpaksa menebak-nebak komposisi siapa yang sedang ia mainkan. Ia teringat dengan senandung yang menyayat-nyayat ini.

“Mozartkah ?? “ ah bukan begini desiran jiwa milik Mozart, kata Mahmud menepis. Senandung yang kian menyayat dan kini seolah mengalir begitu saja

Johan Bach ?? Johan Sebastian Bach !! “  yupz tak salah lagi “ , kata Mahmud lantang memekik di tengah lobi kampusnya yang sunyi dan tak seorang pun selain dirinya disana.

“Badineire,From Orchestral Suit No 2” sebutnya demikian lengkap, sebuah simfoni yang menemaninya berjuang menuntaskan skripsinya.

Seketika alunan simfoni milik Johan Sebastian Bach itu pun berhenti. Sesosok pria muncul dari balik tangga yang bentuknya mirip huruf s dengan membawa Cello  pekat berwarna coklat  dan tas besar membayang di belakang punggungnya. Rambutnya tertata unconventionally mirip salah seorang artis korea yang sedang tenar di tanah air plus penampilannya kaos berwarna biru dongker dipadu jas panjang warna hitam. Plus kacamata  merek Giordano menggantung di kedua telinganya.

“Owh Riza !! Mahmud terhenyak kaget

“Allow Brooo, kemane aje lu bro “ sapa lelaki yang bernama riza tersebut polos.

“elo ngapain di kampus gue ??!  mau nyuri data buat skripsi yach ,” tuding Mahmud tanpa alas an karena kaget

“hahahaha …orang Cuma nyuri kegelisahan elo aja bro melalui Cello  gue ini “ lelaki yang bernama riza itu masih tertaw a khas seolah menyepelekan yang ada.

Lagian, gue tau persis johann bach lebih elo kagumi dari pada Mozart, apalagi yang kali ini. Lelaki berjas panjang warna hitam itu kembali memainkan  Cello ya.

Mahmud hanya terhenyak, lelaki yang  dulu ketika Mahmud masih aktif di masjid kampus kerap disapa akhi Riza ini demikian terampil memainkan alat music yang lebih besar  dari tongkat dosen metodologi risetnya itu. Soal sejak kapan, Mahmud sudah tahu benar doi sudah demikian terbiasa dengan orchestra music klasik apalagi pasca menonton film “Beethoven Virus “ tiba-tiba dirinya terobsesi dengan sosok Maestro Kang dalam film itu.

Lagi-lagi kali ini ia merasa tidak asing dengan senandung yang dimainkan oleh seorang mantan presidium nasional sebuah organisasi mahasiswa di zamannya itu.

Tapi kali ini lebih sayu, dan mendayu bahkan lebih menyayat. Kata Mahmud membatin sebuah senandung yang untuk terakhir kalinya Mahmud dengar bersama ayahnya saat menikmati orchestra music klasik besutan komponis dalam negeri di sebuah pantai di utara Jakarta. Perlahan-lahan Mahmud meneteskan air mata

Menangis.

Badannya lemas tak sanggup lagi berdiri. Ia melihat kesekeliling gedung kuliah itu, alangkah sayangnya tak seorang pun yang mendengar “nyanyian surga” ini dan lelaki yang kenal berbadan ceking dan berkaca mata itu demikian terampil membuat hati nya luluh.

I know what you’ve got akhi …” lelaki itu menghentikan petikan cellonya. “kalau itu yang jadi masalah antum, berangkatlah dan arungi derasnya sungai siak, dan gemakan suara idealism kita saat kuliah dulu di kampus yang berbeda untuk menyelamatkan masalah ummat yang demikian parah “ papar lelaki itu sekali lagi

“bukan itu masalahnya. “ mahmud mulai berargumen “ .

“masalahnya, bukan sekedar masalah cita-cita. Terlalu mudah semuanya berjalan gue gak yakin ini jalan yang benar “ kata Mahmud seraya menatap keluar loby ruangan kampus itu.

“hehehe,gaya elo, loe kira gue gak tau what in your head ??, I’m your friend till we work together although I’m presnas  you’re just my staff :” kata riza tersenyum  kepada alat music yang sangat ia banggakan itu. Kemudian sebelum ia membereskan dan menurunkan sebuah tas besar yang sedari tadi terlihat membayangi punggungnya,

“lalu untuk apa semua ini za ?? semuanya akan semakin koyak moyak semakin sering kuliah bukan semakin paham malah semakin ingkar tentang eksistensi ekonomi Islam itu sendiri, semakin sering ikut seminar bukan semakin yakin malah semakin …..” Mahmud tidak melanjutkan argument yang sarat paradoksal itu.

“ok sekarang gue nanya, kenapa yang elo lihat gue kyk urakan ini tidak seperti yang elo ceritakan ??, “tantang riza, kali ini kaca matanya ia gerak-gerakkan seperti sedang berniat membersihkannya. “sama hal nya dengan kaca mata ini, ketika ia lensanya buram tertutupi debu dan kotoran maka objek pandang yang diberikan oleh kaca mata ini juga akan lebih terlihat kabur. Tetapi kalau kacamata ini gue bersihkan seperti yang saat ini gue lakukan objek pandang terlihat lebih jernih dan jelas sejelas gue dapat menatap keanggunan bangunan kampus loe ini man “ riza beargumen sederhana.

“hahahaha, pandangan loe terlalu simplicity man, ! persoalannya sekarang gak semua orang bisa menganalogikan dengan kacamata elo itu atau memiliki argument kayak elo itu. Melihat para dosen gue,melihat para temen gue, dan semua yang dulu menjadi founding father kampus ini apa yang bisa gue pelajari sekarang dari mereka selain gaya hidup yang luxurious dan bahkan hedon ??? “ tantang Mahmud balik, “mereka menyebutnya maslahah dan berargumen kalau untuk hidup yang lebih baik kenapaa tidak ? “ lanjut Mahmud menantang balik argument lelaki pemain orchestra music klasik tersebut

Riza sempat terdiam dan “ kekhalifahan usmaniyah roboh karena apa ?  konspirasi barat atau gaya hidup para pembesarnya ?? korupsi merajalela, istana bak club para sultan dengan harimnya, sekalinya ada yang ingin merenovasi, semua sudah terlambat, usmani menghitung waktu ajal yang tersisa dan imperium dunia islam itu pun hangus terpencar ke segala penjuru, bukankah itu argumenmu wahai Mahmud Azmi Zen “ Tanya retoris Riza seraya tersenyum dengan senyumnya yang khas.

“Persoalannya sekarang kau menanggap kampus ini wajah sebenarnya sebagai representasi keseluruhan  dan apakah layak kita menilai yang demikian luas dan banyak dari sebongkah titik yang sempit dan terbatas. Apakah layak kita memberikan penilaian yang utuh dari sejurus pandang yang sepotong. , elo, yang dulu sering bilang kampus gue sarangnya liberal, sekarang malah jauh diisi oleh mereka yang bermartabat dan bersedia membayar harga sebuah proses panjang” tangkis riza panjang.

Kemudian dilanjutkan “ Prof Omar yang dulu semua orang tunduk padanya, tunduk pada ide-idenya yang sarat nyeleneh, malah mengakui teori kebenaran mutlak yang dulu sangat ditentangnya sejak ia tak mampu menjelaskan di depan kuliah umumnya sendiri apa itu pluralism . “ . jadinya, alangkah amat dangkalnya saat elo menilai semua orang telah menjadi pragmatis kawan !! “ argument riza yang lantang hampir saja merobohkan Cello yang ia beli saat pertukaran pelajar ke Paris setahun yang lalu.

Mahmud, mulai sedikit tenang dan faham walau masih ada kebimbangan di lubuk jiwanya, di tengah udara senja yang anginnya semikian keras menerobos  ruang loby gedung kuliah kampusnya tersebut. Dan pelan-pelan memegang salah satu dari empat bendera “kenegaraan” dari masing-masing prodi. Dan ia hanya bisa memegang sehelai dari salah satu empat bendera tersebut. Seraya berkata “ semoga aja elo benar za. “

Cowok yang kuliah di sebuah institute islam negeri itu memainkan Cellonya, tapi kali ini dari sebuah film yang Mahmud sering tonton, film yang terbit tahun 2005 dan diperankan oleh Nicholas Saputra kemudian lagu tersebut juga sangat sering ia dengar dari computer kakaknya, “dari Joan Baez, kalau tak salah” tebak Mahmud. I

Stop Complaining said the farmer

Who told you a calf to be ?

Why don’t you have wings to fly with

Like a swallow so proud and free

a juga tahu tidak mudah memainkan Cello yang lumayan berat itu untuk lagunya Joan Baez, tapi Riza berhasil memainkannya. Setelah lagu yang mirip lagu yahudi itu selesai dimainkan, ia memasukkan Cellonya k etas yang jugatak kalah “ageng’ nya dan meloyor ke luar ruang loby seolah barusan tak pernah terjadi apa-apa.

“hee za, mau kemana elo, urusan kita belum selesai bung. “

“cau man, bentar lage maghrib, Assalamualaikum”

“Wa.wa..wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh “ jawab Mahmud agak gugup.

Semilir azan maghrib menjadi warna dominan di senja itu. Semua pasrah dan tunduk pada ketetapan Yang Maha Agung. Angin pun seolah diam sejenak mendengar dan menjawab panggilan azan yang berkumandang dari Masjid  kampus  berarsitektur Spanyol dan Asia Tengah itu.

“semua ada ketetapannya, semua ada waktunya, dan inilah keputusanku “ kata Mahmud mulai yakin setelah hampir berdebat dengan pemain orchestra music klasik yang bernama lengkap Riza Rangga Pratama itu.

“Bismillah…..” Mahmud pun melangkah gontai pasrah menuju Masjid yang berdiri megah di depan gedung kuliahnya itu.