Tradisi Ilmu Pendidikan juga bisa menjadi tidak manusiawi, jika pendidikan itu berat sebelah,langsung dan mendoktrin. Jika tidak mengajarkan seseorang untuk berfikir mandiri; jika ia hanya memberikan jawaban-jawaban yang siap pakai; jika ia hanya menyiapkan orang yang memenuhi fungsi-fungsi ketimbang memperluas cakrawala dan kebebasan mereka “

Alija Izzetbegovic, mantan Presiden Bosnia, 1985

Pada tahun 2007, Majalah Sharing, sebuah majalah yang mewartakan perkembangan ekonomi,keuangan dan bisnis syariah, menurunkan sebuah headline menarik mengenai tumbuhnya industry syariah yang menuntut perkembangan SDMnya. Sekitar 50 lebih Universitas di seluruh Indonesia baik swasta atau negeri membuka jurusan,konsentrasi, fakultas dan prodi ekonomi islam atau keuangan islam. Sejumlah Sekolah Tinggi Ekonomi Islam terkemuka seolah menerima berkah dari pesatnya pertumbuhan industry keuangan syariah dan minat yang antusias dari masyarakat untuk mencari solusi sistem ekonomi terbaik saat kapitalisme dan sosialisme tidak lagi banyak berdaya menyelesaikan persoalan ekonomi yang ada saat ini. seperti halnya STEI Tazkia dan STEI SEBI, sejak tahun 2000 menjadi bagian terdepan dari assabiqunal awwalun pengembangan model pendidikan ekonomi islam yang menyerap SDM-SDM kompeten dan purely dididik dengan tools syariah sehingga kental setiap SDM yang menjadi output pendidikan ekonomi islam memiliki kefahaman yang terkombinasi antara konvensional dengan syariah.

Hal ini sebuah momen yang sangat penting. Mengingat selama ini perkembangan industry syariah di Indonesia menjadi sebuah realitas bahwasanya tidak diiringi dengan penyiapan SDM yang memang sudah sepantasnya mengelola perekonomian sesuai aturan syariah. Namun persoalannya ternyata tidak semudah membalikkan telapan tangan dan itu juga yang sejak disadari oleh sejumlah akademisi di Ikatan Ahli Ekonomi Islam bahwa hakikatnya SDM yang harus dipersiapkan oleh institusi pendidikan ekonomi islam bukan institusi yang sekedar pakai.

Di saat yang berbeda, pada tahun 2011 bulan maret lalu, di Banjarmasin dalam event tahunan Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam yaitu Temu Ilmiah Nasional kembali digaungkan sebuah wacana untuk melakukan revitalisasi pendidikan ekonomi islam dan mencoba mengkonstruksi kembali paradigma pendidikan ekonomi Islam baik dari segi epistemologinya atau dari segi ontologinya. Karena seakan menjadi bahasa umum bahwa Ilmu Ekonomi Islam saat ini identik dengan Lembaga Keuangan Islam padahal Dr Muhammad Syafii Antonio M.Ec dalam pelbagai kuliah umumnya menegaskan salah besar kalau kita mereduksi ekonomi islam sama dengan lembaga keuangan islam. Apalagi kalau mereduksi lembaga keuangan islam ekuivalen dengan keuangan Islam atau Islamic Finance. Ditambah kenyataan bahwa saat ini dari segi kurikulum pendidikan ekonomi Islam masih dalam tahap trial dan error dan sosialisasinya hanya melalui tools yang mewah dan tidak membumi bagi masyarakat umum. Seperti penyelenggaran seminar-seminar nasional hiingga diskusi panel dengan bahasa yang mungkin bagi kita terlihat ilmiah namun bagi orang banyak sangat aneh dan asing

Untuk itulah penulis akan memaparkan sejumlah otokritik penulis sebagai mahasiswa ekonomi islam di sebuah sekolah tinggi ekonomi islam akan sejumlah kejanggalan pendidikan ekonomi islam yang dalam prosesnya telah banyak memberikan banyak pelajaran berharga baik sebuah pelajaran yang bersifat kritik ataupun masukan konkrit sehingga diharapkan ke depannya dapat menyempurnakan bangunan ekonomi islam yang masih belum sempurna ini

 

Tujuan Pendidikan Ekonomi Islam

 

Tujuan Pendidikan Ekonomi Islam adalah apa yang dicita-citakan dan tertuang dalam Maqashid Syariah atau tujuan-tujuan syariah. Sebuah tujuan yang melingkupi terjaminnya keamanan dan keselamatan akal, terjamin dan keselamatan jiwa, terjaminnya keamanan dan keselamatan harta, terjaminnya keamanan dan keselamatan keturunan dan juga terjaminnya keselamatan dan keamanan akidah atau agama. Kerusakan sistem ekonomi kapitalis telah merongrong terjaminnya distribusi harta yang hanya dikuasai segelintir orang sementara milyaran orang di seluruh dunia mengemis-ngemis

Mau tidak mau, milyaran penduduk dunia yang sekian lamanya dizalimi oleh gaya berekonomi kapitalis dan jahiliyah mencari model alternative baru yang dapat dijadikan solusi. Dan hari ini semua orang baik praktisi dan akademisi keuangan kapitalis menengok ke Timur. Seolah seperti membenarkan seruan dan keyakinan Muhammad Iqbal, pujangga Negeri Pakistan, “resapilah kembali ajaran-ajaran mengenai keadilan,kebenaran dan keberanian, niscaya kau akan dipanggil kembali memimpin bangsa-bangsa di dunia. Ekonomi Islam diharapkan bagi banyak orang menjadi arah baru model gaya berekonomi yang sesuai fitrah hidup manusia bukan saja umat muslim tetapi umat manusia. Tidak terkecuali peran pendidikan ekonomi islam dalam menyiapkan SDM yang berkualitas yang tidak saja untuk pasar, dalam hal ini industry syariah, tetapi seorang SDM yang mempunyai komitmen dengan akidahnya sebagai seorang muslim. Karena ketika pribadi yan menjadi output pendidikan ekonomi islam mampu berdiri di atas dasar akidahnya, ia mempunyai sebuah filter untuk melakukan islamisasi ilmu ekonomi dari aspek perilaku yang selama ini dalam ilmu ekonomi konvensional bebas nilai.

Aslam Haneef (2005) memaparkan kegagalan yang dicapai oleh sejumlah islamizer, sebuah istilah mereka yang menerapkan islamisasi di dunia perbankan atau dunia ekonomi, yang bermula dari persoalan epistemologis dalam pendidikan. Epistemologi, menurut Aslam Haneef, jarang mendapatkan perhatian yang serius dari dari akademisi ekonomi islam kontemporer seolah-olah hanya sibuk memperlihatkan point-point yang bersifat praktikal dibandingkan dengan philosophical. Hanya memperlihatkan bahwa kebijakan politik untuk menerapkan seperangkan gagasan ekonomi islam dalam bentuk produk hukum seperti undang-undang lebih penting daripada rancang bangun kurikulum ekonomi islam. Lebih lanjut, Aslam Haneef mempersoalkan apa yang kita sebuat ekonomi Islam hari ini lebih ditekankan pada “area ekonomi substantif “ dalam hal ini, keuangan & perbankan, tanpa memberikan penekanan serupa pada masalah-masalah yang snagat fundamental seperti worldiew dan methodology. Dengan kata lain, dalam pandangan Aslam Haneef, Ekonomi Islam hanya mengubah bank konvensional dalam bentuk islami melalui pembersihan bunga dan ditambah aktivitas perbankan yang berbasis mudharabah ( Haneef,2005)

Selain itu dari segi sains, penilaian yang agak miring terhadap ekonomi islam juga datang dari Ziaudin Sardar dalam bukunya The Future of Islam: The Shape of Ideas to Come tahun 1988. Sardar (1988) memberikan kritiknya bahwa Ekonomi Islam yang disebut sebagai agenda pusat islamisasi ekonomi hanyalah model ekonomi tambal sulam. Dan argument mengambil yang baik membuang yang buruk dan mencari relevansinya dalam islam hanya menghasilkan karya tambal sulam yang buruk.

Ala kulli hal, jika kita lihat seksama kritik yang disampaikan sebagai sesame pejuang ekonomi islam secara lebih mendalam dan dewasa, sangat tampak sekali bahwa sebenarnya pekerjaam dalam rumah kita masih banyak. Bukan hanya soal kurikulum tetapi juga kualitas pengajar dan visi yang ingin ditempuh oleh sebuah institusi pendidikan ekonomi islam namun kerangka kerja yang menyambung isi misi dengan realitas yang ada ternyata masih menggunakan bahan-bahan ekonomi mainstream. Bukannya ingin menyalahkan  semua yang datang dari ekonomi barat tetapi kritik dari Aslam Haneef (2005) menjadi relevan dalam aspek syariah pada bahan-bahan pengajaran mata kuliah seperti halnya Akuntansi Syariah, hanya mencangkok dari model akuntansi kapitalis dengan ditambah sedikit ayat-ayat Al Qur’an dan memberikan justifikasi bahwa asumsi-asumsi dalam akuntansi kapitalis juga sesuai dengan akuntansi islam. Akibatnya produk pendidikan akuntansi islam hanya menyempit sekedar pada akuntansi lembaga keuangan syariah hanya disebabkan keterbatasan penerapan tanpa ada usaha untuk memberikan injeksi nilai-nilai syariah pada aspek seperti PSAK Kehutanan.

Selain itu pendidikan akuntansi islam dalam perjalanannnya masih sibuk memperdebatkan antara teori normative dengan teori positif, kalangan normative beragumen dengan menginjeksi nilai-nilai islam pada rancang bangun akuntansi kapitalist akan menghindarkan diri dari pengaruh sekular akuntansi kapitalist dan mendorong peneliti akuntansi untuk melihat lebih jauh secara murni methodology akuntansi kapitalist. Kalangan positivist mengklaim akuntansi tidak hanya sekedar nilai-nilai syariah yang dimasukkan dalam bangunan akuntansi kapitalis namun juga harus mendapatkan aplikasi yang nyata secara kuantitatif dan dapat teruji secara empiris. Kalangan normatif di Indonesia sangat banyak pada awal-awal pengembangan akuntansi islam namun pada perkembangannya kalangan normatif masih mendominasi hingga kini sehingga akuntansi islam hanyalah seperangkat nilai yang diterapkan dalam bangunan akuntansi modern bukan akuntansi syariah sebagai sebuah subdomain yang murni dari sistem ekonomi islam.

 

Hakikatnya perdebatan antara teori normative dan positivis ini hanya memberikan kontribusi yang dikotomis antara dua aspek yang harusnya terintegral dalam bangunan keilmuan. Ilmu dalam islam adalahj salah satu konsep yang penting dan begitu dominan dalam melahirkan bangunan peradaban Islam. Untuk menjawab realitas modern kita perlu memahami “senjata musuh “ yang dikembangkan dalam ilmu ekonomi barat dalam bentuk tools kuantitatif bahwa dengan “senjata musuh” pun Ekonomi Islam terbukti bisa diterapkan dan melihat dampak penerapan ajaran ekonomi islam yang normatif dalam bentuk mulai dari lembaga amil zakat hingga wakaf tunai. Dengan begitu juga tercipta dialog antara Barat dengan dunia Muslim. Namun di sisi lain jangan sampai model-model kuantitatif menjadi dewa dalam pengembangan pendidikan ekonomi islam, seolah-olah kita tengah menggunakan “senjata musuh” namun akhirnya terjebak kalau belum menggunakan kuantitatif maka belum ilmiah !.

 

Terlepas dari dua perdebatan diatas, apa yang diucapkan oleh  almarhum Alija Ali Izzetbegovic, seorang mantan presiden Bosnia Herzegovina, bahwa pendidikan apapun namanya bisa menjadi tidak manusiawi jika berat sebelah,mendoktrin, tidak mengajarkan murid atau mahasiswa untuk berfikir mandiri atau hanya memberikan jawaban-jawaban siap pakai dan hanya menjadikan seorang murid atau mahasiswa sebagai sekrup sebuah sistem ketimbang memperluas cakrawal, patut kita tafakuri kembali sebagai seorang muslim. Apakah pendidikan ekonomi islam yang selama ini berjalan memegang teguh idealism rekonstruksi islamisasi sains atau hanya sekedar menjadi pemasok kebutuhan industry ??itulah pertanyaan yang harus dijawab oleh para pendidik ekonomi islam dimanapun berada !!