Hari ini aku baru sampai dari perjalanan panjang Banjarmasin. Kota Seribu Sungai, Seribu Masjid, sebuah wajah lain Kalimantan dengan alam raya nya yang sangat melimpah. Tetapi juga wajah lain Indonesia yang lukanya menganga dengan paradoks kemakmuran dan kemiskinan atau bisa jadi persepsi tentang kita menyikapi bumi yang seperti sebuah judul  pernah saya  baca “The Crowded and Flat Earth “ maka perjalanan ke bumi Kalimantan mengingatkan saya pada salah satu episode perjalanan ke bumi Lancang Kuning, Riau. Dengan sungai siak indrapura ditambah dengan jejak-jejak kebudayaan Melayu Islam yang hingga kini masih megah berdiri baik itu di Siak Indrapura ataupun di Pulau Penyengat. Baik Kalimantan maupun Riau, keduanya memiliki problem yang sama dalam hal pengelolaan sumber daya alam dan sebagaimana Kalimantan, Riau juga memberikan gambaran wajah lain Indonesia yang lagi-lagi sarat paradoks. Lebih tepatnya seperti yang diungkapkan oleh Tibor Scitovsky “Kemiskinan di tengah-tengah manusia yang tak berbahagia tidak lain adalah symptom dari sebuah kerusakan yang mendalam “

Di Kalimantan Selatan, pemerintahnya mempunyai pendapatan sebesar Rp 51,42 Trilyun, di Kalimantan Tengah sebesar Rp 36,2 Trilyun, Kalimantan Barat mencapai Rp Rp 28,4 Trilyun. Maka secara keseluruhan PDRB seluruh bumi Kalimantan jika diakumulasikan pada tahun 2009 mencapai Rp 422,7 Trilyun.

Tetapi gokilnya di Kalimantan Selatan, angka pengangguran terasa sangat mencolok hingga mencapai angka 6,75 % dan tertinggi di Kalimantan Timur mencapai 11,09 % atau kita lihat di Kalimantan Barat, angka kemiskinan tercatat sebesar 9, 02 % dan diikuti oleh Kalimantan Timur kemiskinan mencapai 7, 66 % padahal sumber daya alam telah Allah karuniakan di bumi Kalimantan dalam hal komoditas tambang hampir sebesar 47,13 % dari antara semua sektor yang ada. Namun di bidang tambang juga ekpor besar-besaran terjadi dan akhirnya lihatlah apa yang bisa dinikmati oleh Kalimantan Timur, dari sekitar 9 % PDRB Kalimantan Timur telah dilarikan ke luar Negeri dan hanya menyisakan 9,35 % atau hanya sekitar 26,31 Trilyun yang bisa dinikmati oleh rakyat Kalimantan Timur dan lagi-lagi kita hanya dibuat tertawa sekaligus Perih dengan kenyataan pahit pada realitas yang kita saksikan ini  perih dengan realitas drama politik yang dimainkan para pemimpin negeri ini yang sibuk meributkan pepesan kosong bernama reshuffle kabinet dan para ekonom negeri ini yang lebih tertarik memperhatikan memperhatikan pergerakan harga saham dan fluktuasi komoditas di pasar uang dibandingkan dengan mencari resep jitu yang mengangkat negeri keluar dari dinamika penyakitnya

Sejatinya aku sama sekali tidak menyangka bahwa aku mampu menjejakkan kaki di bumi Kalimantan padahal isi tabunganku hanya Rp 72.000 yang itu tidak bisa ditarik lagi. Namun Allah selalu menepati janjiNya dan itulah yang kembali aku rasakan oleh orang-orang beriman. Saat bertawakal dan tadhiyah mempunyai bahkan memperlihatkan diri sebagai kekuatan Yang Maha Dahsyat dari Yang Maha Kuat yang hanya dipilihkan bagi mereka yang meyakini bahwa yang haq adalah haq dan janji yang haq tidak mungkin pudar.

Sebelumnya hari jum’at aku harus transit dulu di Sentul untuk meminta tanda tangan dosen pembimbing skripsiku. Ditambah aku harus mengumpulkan proposal skripsiku yang diwajibkan oleh pihak kampus rangkap tiga sedangkan aku tidak mempunyai banyak uang untuk mencetak sebanyak itu. Padahal proposal skripsiku lumayan tebal walau tidak setebal beberapa temanku yang lain. Setelah sibuk bergumul dengan dunia birokrasi kampus yang amat menjenuhkan saya tetap memilih ke Kalimantan Selatan. Karena ini adalah sebuah janji yang saya tekadkan terhadap amanah. Karena ia adalah janji kepada Allah dan RasulNya. Walau sejatinya saya agak telat berangkat, karena sekitar pukul 14.00 WIB saya baru berangkat ke Bandara Soekarno Hatta dengan Bus Damri sementara kemarin saya mendapatkan sms sebelum hari jum’at dari pihak maskapai Batavia Air, kalau pesawatnya, Batavia Air, delay sampai pukul 17.30 jadinya seolah sedang berkejaran waktu. Tapi akhirnya aku sampai di Bandara sekitar pukul 16.30. kemudian saya check in dan bersegera ke ruangan tunggu. Di ruang tunggu penerbangan, saya sempat berjumpa dengan rekan-rekan dari Jawa Barat, Sumatera Utara dan juga dari UI. Saya mengobrol banyak hal segala persoalan ke-fossei-an yang dialami oleh rekan-rekan KSEI dari daerah. Salah satunya adalah terkait dengan persoalan kurikulum KSEI yang menjadi banyak pertanyaan dari teman-teman KSEI Jawa Bara. Juga pertanyaan-pertanyaan mengenai program kerja Departemen Nasional Riset dan Pengembangan Ekonomi Islam

Ternyata pesawat kembali delay hingga pukul 21.30. aku melihat wajah-wajah kekecewaan disana-sini di wajah para penumpang. Terutama wajah-wajah teman-teman KSEI Jawa Barat yang sudah menunggu sejak pukul 09.00 pagi dan rela shalat jum’at di Bandara. Sampai pukul 15.00 mereka juga tidak melihat tanda-tanda keberangkatan pesawat menuju Bumi Kalimantan Selatan. Pada pukul 17.30 saya diberi tahu saat bertanya ke bagian informasi Batavia Air bahwa pesawatnya kembali delay hingga pukul 19.30, Ya Rabb, semoga dengan delay ini engkau sedang menghindarkan dari malapetaka, begitulah mungkin doa dari kami yang bersabar dari pagi hingga malam di Bandara Soekarno Hatta. Selama delay,kami sempat diberikan kompensasi atas delaynya pesawat Batavia Air sekotak Hoka-Hoka Bento bagi para penumpang Batavia Air Jakarta-Banjarmasin.

Jadilah waktu itu kami sempat berbincang-bincang kembali soal persiapan Munas yang rencananya diselenggarakan di Bandung, Parijs Van Java, The Spirit of Sundanese. Saya sempat mengusulkan pada rekan-rekan KSEI dari Jawa Barat tersebut mengangkat issue revitalisasi Pertanian sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia dan menegaskan kembali peran lembaga keuangan syariah pada sektor pertanian. Dan juga mengusulkan event munas kali ini dalam mengangkat isu kearifan lokal dalam bentuk kemasan budaya alam sunda yang menjadi warna penting bumi parahyangan yang lekat dengan nature dan budaya sunda dalam hal religiusitas,bahasa, etika dsb.dan mereka sangat mendukung apa yang saya kemukakan tersebut siap memberikan warna kearifan lokal dalam munas FoSSEI tahun 2012 nanti. Sebuah warna yang mengisyaratkan identitas kita sebagai warga negara yang mencintai tanah airnya . sebagai sebuah warna tentang integritas keislaman yang identik harusnya dengan keindonesiaan dan tidak perlu lagi dipertentangkan.

Pesawat Batavia Air baru tiba dari Jeddah pukul 21.30, kami segera berbondong-bondong menuju pesawat untuk selanjutnya dijemput dengan sebuah bus service air transport yang mengantarkan kami ke pesawat Batavia Air yang parkirnya agak jauh. Pesawatnya baru berangkat pukul 22.00 meninggalkan Jakarta dan saya cukup menikmati perjalanan malam itu karena badanku sangat lelah sedari pagi berangkat ke bogor dengan kereta hingga pukul 21.00 menanti pesawat yang delay. Pesawat tiba di Bandara Syamsuddin Noor pukul 01.00 waktu Banjarmasin atau Waktu Indonesia Tengah. Di saat yang sama aku juga membantu teman-teman KSEI Jawa Barat yang sedang menanti koper-koper mereka diturunkan dari pesawat dan mengambilnya di baggage claim. Dan itu yang paling memakan waktu. Jadi teringat dengan sebuah iklan di bandara syamsuddin Noor, “cepat atau lembat akhirnya menunggu juga “ ;-D saya sendiri hanya membawa sebuah tas jinjing hitam yang tidak terlalu besar dan tas kecil dari tazkia untuk menaruh dari mulai kotak kacamata, buku catatan, pulpen kunci rumah,kunci kosan obat gosok. Obat pusing, hingga tiket pesawat. Jadinya aku tidak perlu meletakkan tasku di bagasi pesawat cukup di kabin pesawat.

Setibanya di Bandara Syamsuddin Noor kami baru dijemput panitia pukul 03.00 WITA itu pun dengan dijemput panitia dengan bus pemda Kalsel yang tidak pas dengan jumlah peserta delegasi temilnas dari UI, UPI Bandung, dan IAIN Medan. Terpaksa kami semua yang cowoknya tidur sambil berdiri dari mulai sejak dari bandara hingga penginapan. Sesampainya di penginapan, aku dengan teman-teman delegasi KSEI dari Jawa Barat dan Medan langsung bergegas ke kamar masing-masing yang ditunjukkan saya dan rekan-rekan dari jawa barat di kamar di lantai tiga dan sisanya sebagian ke bawah. Sekitar pukul 04.00 WITA kami baru tidur. Keesokan harinya saat aku sedang menyiapkan diri untuk mandi pukul 06.30, rekan-rekan yang lain dari seluruh Indonesia dengan almamater masing-masing kampusnya. Sedang saya sendiri mengenakan kemeja koko shanghai berwarna merah tua agak kecoklatan dengan kancing cina yang menjadi cirri khasnya saya kemudian turun ke bawah dan melihat teman-teman KSEI dari seluruh Indonesia sudah menikmati teh khas Banjarmasin yang agak aneh rasanya tetapi nikmat kalau diminum saat masih panas. Saya juga bertemu dengan saddam, staff saya d Departemen Nasional Riset dan Pengembangan Ekonomi Islam, saat saya menanyakan mengenai progress dari jobdesk depnas RPE seperti database KSEI dsb. Bus pun akhirnya datang, masih bus pemda Kalsel yang kemarin namun agaknya berbeda tidak lagi berdesak-desakan sambil tidur sambil berdiri.

Hari Pertama Temilnas

Tidak lama perjalanan yang hanya beberapa menit, kami semua tiba di gedung Sultan Suriansyah, depan kampus Universitas Lambung Mangkurat. Gedungnya mirip yang dapat kita lihat di gedung Balai Sarbini, semanggi, Jakarta. Satu per satu rombongan turun dari bus sedangkan saya dan saddam mulai berkoordinasi terkait job desk Departemen Nasional RPE. Sebelumnya aku menyempatkan diri untuk bertemu beberapa Presnas yang sudah kalem duduk di kursi paling depan sejajar dengan para pembicara, seperti Akh Waskito, Akh Zaki, Akh William dan Brother Imam. Namun saya belum melihat keberadaan kang Mufid, Presnas 5.

Agenda Temilnas dibuka sekitar pukul 09.00 WITA  dengan pembacaan Tilawah Qur’an, dengan mujawwad, Qari membaca surah dan sejumlah ayat yang berbicara mengenai kerusakan alam yang disebabkan oleh tangan-tangan manusia sendiri padahal Allah SWT telah menghidupkan dari matinya. Telah memperbaiki dari rusaknya namun manusia kembali berulah dengan merusaknya. Setelah itu sambutan dari ketua panitia. Presnas dan keynote speaker oleh Kementrian Lingkungan Hidup. Setelah tilawah Qur’an saya baru bertemu dengan akh Mufid yang membawa sekantung besar berisi formulir peserta Sharia Economic Training for Trainer sesudah itu, saya dan Saddam juga Mufid bergegas ke ruangan VIP yang berada dalam Gedung Sultan Suriansyah, sebuah ruangan full AC, dengan dua foto Gubernur dan Wakil Gubernur di dalamnya ditambah sebingkai lukisan pasar terapung di sungai Martapura. Di ruangan VIP ini kami memulai briefing terkait pentingnya keberadaan Depnas di Temilnas FoSSEI X Banjarmasin ini. selain itu akhi Mufid juga memberikan taujihnya kepada kami untuk selalu bersyukur kepada Allah karena kita semua bisa berkumpul di event nasional temilnas ini semata pertolongan Allah yang bermakna Allah telah memberikan izin kepada kita untuk berangkat dan memberikan izin untuk tetap berada di barisan perubahan.

Selesai briefing kami kembali menjalankan tugas masing-masing karena job desk yang harus kukerjakan di hari kedua. Hari pertama aku lebih banyak mengontrol akh saddam yang bertugas melakukan verivikasi database KSEI dan technical Meeting saat menjelang olimpiade ekonomi Islam akan dimulai. Dan ternyata baru pada pukul 12.30 siang WITA, database KSEI geus rengse dikompilasikan. Namun sedari pukul 09.00 WITA hingga 12.30 WITA seminar berlangsung dengan content yang mulai sarah arah. Memang awal-awalnya peserta seminar diberikan gambaran akan sudah kacaunya negeri ini di sektor lingkungan dan kehutanan dan perspektif Islam menyoal kerusakan lingkungan namun semakin lama seminar berjalan dengan nuansa penuh emosi dan bahkan salah seorang pembicara menghujat perbankan syariah sebagai antek kapitalisme.

Di depan ruangan VIP aku tanyakan ini kepada Kang William Rahaditama yang selama ini banyak bergerak di regional Jawa Tengah, menurutnya para pembicara yang diundang di agenda temilnas, menurutnya para pembicara yang diundang di agenda temilnas kali ini adalah para pembicara yang biasa mengisi agenda FoSSEI Jawa Tengah. Pantesan salah satu dari mereka merupakan pengajar di HAMFARA, sebuah Sekolah Tinggi Ekonomi Islam di Yogyakarta yang berafiliasi pada Hizbut Tahrir Indonesia. Sedang sisanya juga kader-kader HTI bahkan salah seorang pembicara dari Malaysia juga kader HTI Malaysia, hanya satu pembicara non HTI, penyampaian materinya pun berbeda, lebih moderat dan soft, beliaulah rector kampus saya sendiri Dr Muhammad Syafii Antonio M.Ec, aku sempat berbincang-bincang dengan beliau sebelum sesi kedua dimulai, karena aku yang iikut menyambut beliau di gedung sultan suriansyah dan beliaupun menyapa saya “Hello, How Are You ?? “ , “I’m Fine, Alhamdulillah “ jawabku sambil memeluknya dengan penuh kehangatan. Beliau berpesan agar acara dipercepat karena pukul 16.00 harus kembali mengisi acara di sebuah radio Banjarmasin kemudian aku menghubungi Departemen Nasional EO, akhi Fikri untuk segera mempercepat acara, katanya mereka sedang menunggu moderator. Yang saya sesalkan juga pukul 14.00 yang harusnya digunakan untuk sesi bersama Dr Muhammad Syafii Antonio malah digunakan untuk pertunjukkan teater. Karena setahu saya sesi seperti hiburan sudah ada tempatnya sendiri di Malam Gathering FoSSEI.

Sesi kuliah umum bersama Dr Muhammad Syafii Antonio M.Ec baru dimulai pukul 14.30, itu pun pak Syafii diberikan waktu yang sedikit kontras dengan para pembicara lain yang notabene  kader Hizbut Tahrir atau dalam istilah mereka disebut “syabab”, diberikan waktu yang sangat panjang. Itulah sebabnya pada hari keduanya saya mendapatkan sms dari salah seorang alumni FoSSEI yang diundang sebagai pembicara namun tak kunjung mendapatkan kesempatan untuk berbicaranya

“Aslam,ana selaku pembicara kecewa dengan manajemen acara yang diformat ( ini sebagai KAFOSSEI ) bersifat independen. Krn ana sendiri pun tdk diberikan kesempatan yg byk padahal ana sdh menyiapkan slide yang bagus sekali ttg data2 BBM dll. Hal ini yg terjadi dgn pak agus dan pak syafii yg tdk maksimal wass”

Sms tadi dikirim sebelum acara dialog mahasiswa usai. Kak Hendro, alumni FoSSEI yang diundang tersebut, segera pulang sambil memperlihatkan sikap kecewanya terhadap panitia yang tidak professional. Begitu juga yang dirasakan bahkan oleh seorang dosen fakultas ekonomi Universitas Lambung Mangkurat yaitu Ustadz Hidayatullah Muttaqin yang juga kontributor website jurnal ekonomi ideologis mengatakan bahwa beliau sangat malu dengan manajemen panitia mengelola agenda besar sekaliber Temu Ilmiah Nasional yang sangat tidak professional

Olimpiade Ekonomi Islam nya sendiri baru dimulai sekitar pukul 17.30, kalau tidak salah, sebelum olimpiade dimulai, aku sudah menyiapkan segala halnya terkait dengan Technical Meeting dan berkali-kali menghubungi panitia temilnas tentang naskah-naskah soal yang saya sudah kirimkan ke panitia jauh-jauh hari.saya akhirnya mendapat naskah soal yang akan diujikan dan betapa terperangahnya saya sekitar 50 % dari soal temilnas berbeda dengan soal temilnas yang sudah disiapkan oleh pansus temilnas, tim depnas rpe yang dibentuk untuk mengakomodasi pengadaam soal temilnas, saya tanyakan sebabnya, panitia menjawab soal2 temilnas yang dikirim saya telat. Saya kurang paham juga telatnya dimana. Karena setahu saya akhi zainal yang saya hubungi sejak bulan februari sudah menerima soal hari sabtu tgl 5 Maret 2011 namun yang saya dapat infonya baru diterima hari senin setelah saya kirim kembali. Ditambah banyak keanehan disana-sini dengan soal temilnas. Dan jujur saya kurang puas dengan soal temilnas yang derajatnya sudah lagi dikurangi menjadi sangat mudah. Padahal sebelumnya sudah saya setting dengan teman-teman pansus soal temilnas tahun ini lebih moderat. Mengingat ada banyaknya soal-soal temilnas yang masuk dikirim dari alumni fossei memerlukan tenaga ekstra untuk memfilter nya sehingga benar-benar soal temilnas yang realistis masih bisa dikerjakan dan tidak terlalu makan waktu. Saat technical meeting saya meminta tolong kepada panitia untuk segera mengumpulkan perwakilan delegasi masing-masing KSEI ke lantai dua gedung Sultan Suriansyah. Dengan setengah keringat bercucuran disana sini dan kacamata yang saya gunakan sudah mulai tak kondusif, jadinya saya tanggalkan kacamata itu sejenak dan mulai membacakan tata tertib peraturan dan technical meeting seperti boleh tidaknya membawa kalkulator atau ada yang bertanya bolehkan gabung dua ksei jadi satu ksei saat ujian.

Olimpiade berjalan dengan khusyuk. Dan saat inilah saya menyempatkan diri sebentar untuk makan siang. Karena ruangan VIP juga sudah tidak kondusif dengan bisingnya para presnas jadinya saya memilih keluar dan makan tidak jauh dari tangga dekat pintu masuk utama. Hilman Fauzi Nugraha sempat bertanya, “wil soal2nya susah gak “ aku jawab “gampang, semuanya yakin lulus😀 “ setelah shalat maghrib ( Maghrb : 19.00 WITA ) aku diajak oleh William ke kampus Universitas Lambung Mangkurat, sampai di luar sudah banyak rupanya yang siap ke sana dan kami semua berjalan kaki sampai ke Masjid Al Hikmah. Di Masjid Al Hikmah, ada pengarahan sebentar oleh presnas tentang agenda temilnas selanjutnya di kampus unlam ini. ada yang mau sarasehan, presentasi LKTEI dsb. Aku memilih ke LKTEI di ruangan auditorium UNLAM.

Sementara sarasehan diadakan di mushalla FE Unlam. Presentasi berjalan cukup seru, jurinya ada Ust Hidayatullah Muttaqin, dan dua dosen UNLAM. Sementara aku terlambat ke mushalla, saat presentasi beberapa regional yang akan menjadi tuan rumah Temilnas tahun depan dan Munas sudah selesai. Ada beberapa presentasi LKTEI yang menarik, salah satuunya dari KSEI IAIN Palembang, cukup berani dan menantang namun sayang saat malam gathering tidak keluar sebagai tiga besar. Acara temilnas hari pertama selesai pukul 23.30 WITA, saya kembali banyak berbincang dengan Ust Hidayatullah Muttaqin mengenai banyak hal. Tidak terkecuali tentang ide buku yang sedang saya garap, memetakan ulang pemikiran ekonomi Islam di Indpnesia yang tentu tidak mudah namun, menurut beliau sangat menarik. Dan satu buku saya yang akan saya kemas seperti bukunya Alan Greenspan, “The Age of Turbulance, “ , “Merah Putih Mahasiswa Ekonomi Islam; Memoar Seorang Depnas FoSSEI “ yang juga mendapat tanggapan positif dari beliau walaupun saya tidak tahu kapan rencana itu terealisasi namun yang penting azzam telah saya tanamkan kedua acara telah selesai pukul 24.00, plus saat bus partai Biuti datang menjemput para simpatisan dan bonek dari partai Biuti😀

Hari Kedua Temilnas @Banjarmasin

Pada hari keduanya, sejumlah rangkaian acara sudah menunggu hari sebelumnya saya sudah sepakat dengan Akh William bahwa Depnas Regional akan melibatkan Depnas RPE dalam hal memberikan masukan dan arahan. Bahkan dengan sedikit bercanda beliau mengatakan  “ntar jadinya ada duo willy dech “ hahah saya pun sempat berbincang-bincang dengan akh William tentang latar belakangnya yang campuran antara jawa dan melayu dan latar belakang pendidikannya yang berasal dari Pondok Madani, dalam novel negeri lima menara atau pesantren Gontor. Hari kedua dibuka dengan fieldtrip menyusuri sungai Martapura. Inilah perjalanan yang membuat temilnas mempunyai pesan berbeda. Dalam perjalanan oyang dimulai pukul 06.30 waktu Banjarmasin, menjadi perjalanan yang mengingatkanku pada perjalanan di bumi lancing kuning, Riau, dua tahun silam. Khususnya saat menyusuri sungai siak indrapura yang sangat eksotis dan mencerminkan negeri lancang kuning yang terdiri dan terbagi-bagi pada ratusan anak sungai yang menghubungkan satu kota dengan kota lain di Riau. Begitu juga dengan Sungai Martapura yang lebar dan kiri kanannya berjejer rumah panggung khas Kalimantan dan terkadang beberapa perahu kecil yang membawa barang dagangan kebutuhan sehari-hari mulai dari lauk-pauk hingga sayuran di atas perahu dengan mesin boat.

Sepanjang perjalanan, kami hanya berdecak kagum dan tak henti-hentinya bertasbih akan ni’mat yang telah Allah titipkan di negeri bernama Indonesia ini. sepanjang perjalanan di atas perahu dalam ketenangan sungai martapura saya menyempatkan diri dalam tadabur dan tilawah Surah Ar Rahman. Ya Rabb berapa lagi kiranya diantara ni’matMu yang melimpah telah kami dustakan dalam kebijakan-kebijakan pembangunan yang tidak pro rakyat. Dan yang memang menjadi cirri khas bumi Kalimantan salah satunya adalah hutan bakau yang masih dominan dan puluhan Masjid dengan Menaranya di pinggiran sungai Martapura berbeda dengan Sungai Siak Indrapura yang kiri-kanan bantarannya dipenuhi berton-ton gelondongan kayu yang ditebang dari Hutan Riau. Dan Riau telah sangat berjasa selama ini membesarkan industry kertas selama ini bahkan ekspor kertas Indonesia pun sampai ke Mesir dan negara-negara Timur Tengah

Sebelum kembali ke kampus Unlam, kami sempat berkunjung ke Museum Sejarah Perjuangan Rakyat Kalimantan Selatan atau disebut juga Museum Wasaka. Disinilah moment untuk bernarsis ria para peserta temilnas di pelbagai pojok museum😀 di Museum Wasaka ini perjalanan kami menyusuri sungai Martapura berakhi. Museum Wasaka sendiri tidak begitu besar, bangunanya menyerupai Rumah Adat Khas Dayak atau disebut juga Rumah Betang. Di dalamnya kita dapat melihat jejak-jejak perjuangan rakyat Kalimantan di masa revolusi juga beberapa diorama peperangan yang terjadi di masa revolusi. Selama itu juga terdapat beberapa perkakas yang digunakan oleh para pejuang di masa revolusi seperti tombak, bedil, golok, parang, Mandau, sumpit, keris, dll juga ada beberapa mesin tik yang sudah usang yang dulu digunakan untuk menulis dokumen-dokumen penting. Saya sempat berkelakar dengan teman-teman dari STEI SEBI “eh mau liat notebook jaman dulu gak ?” dan karuan di jawab oleh mereka “oh ya ntu, ntu yang buat modemnye “ . setelah dari museum wasaka kami segera pulang menuju kampus UNLAM dengan agenda semi final, SETT, dan symposium nasional pendidikan Ekonomi Islam.

Setibanya di kampus UNLAM saya menyaksikan persiapan-persiapan dari mulai cerdas cermat semifinal hingga symposium. Berdasarkan job desk yang sudah diberikan di hari pertama, saya harus membantu akh William pada symposium, maka saya segera ke aula rektorat dan acara symposium hampir dimulai, pukul 09,30 acara dimulai lebih telat dari yang seharusnya namun yang janggal dari hari kedua ini adalah para pembicara yang mengisi symposium adalah mereka yang menjadi pembicara di hari pertama dengan topic dan arah pembicaraan yang sama istilahnye kalo kata orang Jakarta “elu lagi-elu lagi “ jadinya symposium malah berjalan penuh salah arah dari mulai menghujat perbankan syariah hingga “mengkufurkan “ perjuangan yang dijalankan dalam bendera ekonomi syariah saat ini. saya sudah lama membahas bantahan pemikiran yang bercorak Zhahiriyah ini dalam salah satu esay saya yang mengkritisi pemikiran Zaim Saidi. Juga dengan berapi-api dua pembicara yaitu Pak Dwi Condro dan Arif Nasim memaki-maki lembaga keuangan syariah sebagai jantung kapitalisme dan uang kertas yang diharamkan tanpa dalil oleh Arif Nasim. Saya benar-benar ingin tertawa melihat pemandangan yang menggelikan di event sekaliber symposium nasional ini. untungnya mereka tidak menghujat rektor Sekolah Tinggi Ekonomi Islam lain, kalau sudah begitu, tentu akan saya ambil tindakan karena telah melanggar hak intelektual yang paling asasi.

Saya menyisir pemandangan sekitar bahkan saat selepas acara aku Tanya kepada mereka, apakah mereka setuju dengan gagasan yang diajukan oleh para pembicara, mereka rata-rata menjawab tidak setuju. Dari UI juga salah seorang delegasinya mengatakan “ oooh gak bisa itu will “ yach, saya rasa dari sekitar 266 peserta temilnas hanya teman-teman dari berafiliasi pada HT  yang tidak pernah merasa dirasuki materi yang kurang berbobot di even sekaliber temu ilmiah nasional. Bahkan saat saya sedang membaca Al Ma’tsurat di Masjid Kampus UNLAM, Salah seorang dari mereka memandangku aneh padahal selama ini tidak pernah jadi masalah kalau aku sedang membaca Al Ma’tsurat dimanapun termasuk  di dalam kereta ekonomi Jakarta-Bogor sekalipun dalam keadaan berdesak-desak saya selalu menyempatkan diri untuk membaca wirid pagi dan petang yang disusun oleh Imam Syahid Hasan Al Banna tersebut. Ala Kulli Hall, saya tetap meyakini mereka masih menjadi bagian dari keluarga besar mahasiswa ekonomi islam bernama FoSSEI ini. toleransi dan tenggang rasa adalah salah satu ikhtiar yang harus terus kita fahamkan di era alam keterbukaan seperti saat ini. sebab menjadi realitas zaman kita akan bersentuhan dengan banyak pemikiran dan golongan jika kita membuka diri kita untuk bersama memperjuangkan sistem ekonomi Islam hari ini. dan inilah idealisme kita yang harus dibangun di atas kaidah emas para ulama

Nata’awan Fima Ittafaqna Alaih Wa Ya’dziru ba’dhuna ba’dhan ikhtalafna fih “

Kita bekerja sama dalam hal yang kita sepakati dan kita bertoleransi dalam hal yang masih kita perselisihkan.

Dalam simposim tersebut, sudah berkali-kali mengangkat tangan kea rah meja moderator namun tidak juga ditunjuk oleh moderator. Jadinya inilah seminar bergaya symposium otoriter yang pernah aku ikuti.

Setelah itu aku meninggalkan rektorat ke fakultas ekonomi UNLAM dan disana cerdas cermat masih berlangsung. Saya melihat Progres, KSEI tempat saya memberikan curahan yang terbaik selama ini masih memimpin dengan amat pesat. Saya tidak lama berada di sana, aku pergi ke ruangan lain tempat SETT berlangsung dan saya jumpai akh mufid terlihat kewalahan dan Mufid pun mengakui doktrin-doktrin yang selama ini diyakini oleh Hizbut Tahrir sangat kental ditularkan kepada para peserta temilnas yang heterogen. Allah, ! berikanlah atas kami kesabaran semua ini. baru kali ini saya melihat kondisi akh mufid yang sangat down dan lelah yang parah. Saya pun lupa membawa madu andalanku yang kerap saya minum saat saya baru pulang dari agenda-agenda da’wah  dan saya tetap mencoba memberikan masukan “Fid, situasi secara fikrah semakin parah, kita harus mengambil tindakan yang tegas “ kataku Akh Mufid pun menjawab ‘pasti akh, pasti akan nada evaluasi yang keras untuk mereka “ sambil menahan rasa sakitnya. Namun Akh Mufid tetap menginstruksikan kembali menjalankan tugas “baik akh “ jawab saya.

Ba’dahu saya kembali ke symposium dan langsung menemui Ust Hidayatullah Muttaqin, dosen UNLAM sekaligus seorang kader FoSSEI juga, untuk mengutarakn gagasan saya mengenai keberatan-keberatan terhadap materi yang disampaikan penuh semangat indoktrinasi. Di luar dugaan, beliau dengan ramah dan welcome serta menerima alasan-alasan keberatan saya. Saya ajukan dalil dan kaidah syariah tentang tidak sesuai syariahnya materi pendidikan ekonomi syariah yang disampaikan dalam symposium ini. saya masih tetap mencoba untuk angkat suara tetapi tetap saja moderator seolah-olah tidak melihat ke arah saya. Sampai pukul 14,05 waktu Banjarmasin, saya kembali keluar di saat Presnas IV akan membacakan hasil symposium menuju Masjid Kampus. It’s Time for Zuhr Praying lah

Sorenya aku lebih banyak antara di fakultas ekonomi dan Rektorat, di Rektorat sedang berlangsung acara Dialog Mahasiswa yang mengangkat  topik di seputar pembatasan subsidi BBM. Salah satu pembicara kali ini agak berbeda, ada Akhi Imam Punarko, sahabat seperjuangan sejak masih di regional jadebotabek. Kemudian, teman-teman dari HMI dan KAMMI juga BKLDK, diundang ke dialog mahasiswa ini. dan inilah yang mengingatkan saya akan essay saya yang berjudul “Diplomasi FoSSEI : Antara Paradigma Pergerakan dan Ruang Dialog Peradaban “ Bahwa FoSSEI sebuah pergerakan mahasiswa ekonomi Islam tidak bisa tampil sendiri membawa isu perubahan besar ini ke tengah masyarakat. Ada pihak lain dalam kedudukan yang sama sebagai mahasiswa dengan idealisme dan cita-citanya merindukan keadilan dan kebenaran . dan bersama juga kita membawa isu perubahan besar ke tengah masyarakat umum dan dalam hal ini ijuga FoSSEI perlu membangun hubungan kerja sama intensive dengan sejumlah pergerakan mahasiswa untuk menemukan roadmap dan dan blueprint membumikan ekonomi Islam. (Mardian : 2011 ) . kali ini saya apresiatif dengan Dialog Mahasiswa yang lebih menampilkan pemikiran yang heterogen namun bervisi yang memandang jauh ke depan. Terlebih ketika saya dengarkan gagasan dari akhi syam dari KAMMI, intinya adalah pada bagaimana menenggang perbedaan itu agar perbedaan tetap menjadi rahmat dan tidak timbul ego benar sendiri. Fala Tuzzaku Anfusakum Wa Huwa A’lamu Bimanit Taqa

Saya tidak terlalu lama di Dialog Mahasiswa, saya segera kembali berjalan kaki menuju fakultas ekonomi dan masih menyaksikan pertarungan semi final yang sangat seru antara STEI SEBI, ISEG UNPAD, dan sat lagi aku lupa namanya KSEInya,SEBI pun keluar sebagai juara umum. Isev SEBI akan menghadapi team Progres satu dan Progres dua. Dan kali ini performance Progres benar-benar di luar dugaan. Mereka tampil dengan skill terbaik dari semua event temilnas yang mereka miliki. Dan waktu itu saya optimis Progres keluar sebagai Juara Umum dan kajian intermediate Progres bisa menjadi role model pengembangan kajian oleh semua KSEI di Indonesia. Maghribnya saya keluar bersama staff saya Saddam, untuk mencari makanan enak dan murah di sekitar kampus UNLAM. Memang tidak sulit kalau mencari makanan di  sekitar kampus. Karena kampus lah perekonomian lingkungan sekitar bisa menjadi tumbuh dan bergairah penuh produktif. Lihatlah dengan nuansa jalan Babakan Raya di IPB yang lebih dikenal Kampus Dalam. Setap minggu pagi menjelma pasar kaget atau kawasan Binus di Jakarta yang penuh nuansa toleransi etnik Betawi dan China juga demikian. Setiap malam beraneka makanan ringan dan rumah makan sangat ramai. Selain mencari makan, aku berencana untuk mencetak tiket pesawat yang sudah dikirim ke email saya untuk kepulangan.  Setelah  kami kembali ke kampus UNLAM dan menikmati Malam Gathering

FoSSEI Gathering Night

Sekembalinya dari “refreshing “ saya dan saddam kembali ke kampus unlam, tepatnya ke gedung aula rektorat. Dan saya melihat suasana rektorat seolah disulap menjadi sebuah pesta walimatul ursy dengan makanan yang sudah ditata sedemikian rupa, sayangnya saya sudah kenyang jadinya aku hanya bersalaman dengan beberapa pembicara yang berada di kursi paling depan, dari mulai Pak Agustianto, dan sejumlah pembicara dari kalangan HT termasuk Ust Hidayatullah Muttaqin, walaupun berbeda pandangan dan perspektif atau bahkan fikrah tetapi silaturahim merupakan hal yang wajib ditradisikan di FoSSEI, karena Imam Syafii mengajarkan “Pendapat Kami Benar, namun kemungkinan salah, Pendapat Mereka salah namun kemungkinan benar “ apalagi masalah muamalah merupakan masalah yang paling banyak terbuka ruang khilaf. Saat suasana ibarat sebuah pesta besar, aku sempatkan diri berdiskusi dengan salah seorang pembicara dari Malaysia mengenai perbedaan kasus dan pengalaman Islamic Finance Institution antara yang ada di Malaysia dengan Indonesia. Oleh karena itu, dalam pandanganku kita tidak bisa memukul rata begitu saja Perbankan Syariah tidak sesuai Syariah karena bisa jadi yang menuduhnya lebih-lebih jauh dari nilai-nilai syariah.

Saat pertunjukkan kesenian Banjar berlangsung, saya berjumpa dengan akhi Syam, salah seorang pengisi di event Dialog Mahasiswa dari KAMMI, saya mengucapkan rasa terima kasih sebesar-besarya atas kesediaan beliau menjadi pengisi event sekaliber Temilnas, karena teman-teman KAMMI juga telah memberikan warna tersendiri bagi terselenggaranya event sekaliber Temilnas.  saya banyak berbincang-bincang dengan akhi syam mengenai peta dakwah di kampus Universitas LambungMangkurat dan memang kita dapat membaca begitu rumit peta dakwah di kampus Unlam. Dan teman-teman LDK dan KAMMI harus berjuang lebih gigih menunjukkan bahwa islam sebagai agama fitrah sejatinya bersifat pertengahan dan syummul juga wudhuh. Islam menghindari dua jalan ekstrimitas yang kerap melanda pemikiran umat manusia, liberalis tanpa batas dan fundamentalisme yang banyak ditunjukkan oleh gerakan Zhahiriyah baik bersifat politik seperti Hizbut Tahrir dengan bersifat keagamaan seperti salafy. Aku berbincang-bincang juga dengan ketua LDKnya, Akhi Jaky, dan sejumlah awak LDK yang menunggu di luar. Karena aku tahu tidak mungkin berbicara tentang hal-hal seperti ini di dalam maka aku mengajak mereka keluar agak jauh dari tempat acara. Dan disanalah kami berbincang hingga pukul 22.00 WITA karena sayalihat dari riuh rendah acara di dalam akan berakhir. saya mohon diri kepada mereka dan berharap Allah akan mempertemukan lagi lain waktu di marhalah dan fase yang lain.

Sekembalinya ke dalam gedung,rupanya telah ada penganugrahan untuk para juara temilnas dan kampusku, STEI Tazkia mendapatkan juara 2 dan 3 sedangkan LKTEInya juara 2. Prediksiku tepat. Inilah juara umum yang lama dirindukan oleh kampus para pejuang ekonomi Islam ini. sebagaimana kerinduan umat islam untuk menaklukan Konstantinopel selama delapan abad baru pada masa Mehmed El Fatih, sang pahlawan muda yang umurnya baru 21 tahun dengan perjuangan keras dan loyalitas prajuritnya, Konstantinopel akhirnya berhasil ditaklukan. Ada sejumlah suara sumbang di milist yang mengatakan kalau mereka yang menang artinya tidak ada pemerataan keilmuan lagi pula mereka juga terbiasa dengan kemenangan. Inilah pendapat aneh yang pernah saya dengar, selama ini Progres bukan sekali mengalami kekalahan bahkan berturut-turut Temilnas Bali dengan Temilnas di Medan.ditambah sejumlah temilnas lainnya kecuali temilnas di UGM.  Belum event yang lain tidak semuanya mendapatkan juara satu. Karena kami meyakini masih ada yang jauh lebih agung daripada soal kalah dan menang. Masih ada yang jauh lebih mulia daripada sekedar mengalahkan dan memenangkan yaitu izzah dan tadhiyah yang menjadi syarat kebesaran jiwa sebuah kaum atau individu serta meyakini bahwa semua telah ditetapkan oleh Allah Yang Maha Mengatur. Lagi pula yang menjadi keheranan saya kalau temilnas kemarin yang menang adalah selain STEI Tazkia mengapa tidak dipersoalkan juga pemerataan keilmuan bukankah yang menang juga hanya dari satu pulau ???  saya sendiri dari departemen nasional riset dan pengembangan ekonomi islam menganalisis faktor kesiapan dan kekuataan jiddiyah dari teman-teman KSEI itu sendiri yang menentukan keberhasilan mereka bukan setiap saat mereka harus “disuapi “ oleh regional dan ditambah dari nasional.

Akhir acara ditutup dengan evaluasi oleh seluruh peserta dan panitia dan ini yang menjadi bagian menegangkan. Teman-teman KSEI yang sedari lebih memilih diam saat konferensi dan symposium akhirnya satu per satu angkat bicara. Dan salah satunya yang kukagumi seorang adik kelas dari UI berani berjalan ke depan dengan almamater yellow jacketnya dan berbicara penuh keberanian akan adanya ketidakadilan dan pemaksaan “faham” ke teman-teman FoSSEI seluruh Indonesia yang sangat beraneka latar belakangnya. Beliau mempertanyakan mengapa panitia begitu nekad memaksakan ide-ide yang mereka yakini kalangan lain yang belum tentu setuju dengan pandangan panitia dan para pembicara. Dari STEI Tazkia, juga ada yang berani maju ke depan. Kali ini menggugat ketepatan waktu menunaikan shalat yang nampak diabaikan begitu saja dari perhitungan panitia. “kita ini calon ekonom rabbani, namun mengapa berani mengabaikan perintah Allah yang paling asasi seperti shalat ?? “ protes akhwat dari STEI Tazkia tersebut.

Kemudian panitia diberikan kesempatan untuk membela diri, awalnya para panitia tidak ada yang berani di ikhwannya sekalipun termasuk,Presnas sempat memberikan kesempatan kepada akhi zainal mantan koreg fossei kalsel dan akhi usman namun tak juga nampak di muka. Akhirnya ada juga seorang akhwat yang mau dan menjawab semua kritik dan pertanyaan. Anehnya perwakilan panitia ini malah terkesan apologetik daripada menyempatkan diri meminta maaf atas penyajian materi yang mirip proses indoktrinasi dan sempat juga mengakui kelalaian mereka atas ketepatan waktu shalat yang terkesan terabaikan. Selama perjalanannya temilnas memang dirasa sebagain orang penuh keterbatasan mulai dari terlambat penjemputan hingga terabaikan waktu shalat secara teknis namun tak bisa dipungkirijuga dalam masalah-masalah seperti ini panitia sejatinya telah berjibaku mencoba memberikan yang terbaik. Ada yang hingga pukul 3 malam masih menyempatkan diri menjemput peserta di bandara hingga paginya ngantuk-ngantuk. Ada juga yang kerepotan mencari agent travel untuk mengakomodasi peserta yang belum dapat tiket pesawat. Untuk di Biuti, kamarnya memang kecil tetapi jauh lebih nyaman, tidak ada nyamuk dan toiletnya masih bisa dipake. Pada saat-saat seperti inilah kita harus berlaku adil terhadap mereka yang telah mencoba memberikan waktu yang terbaik. Dan semoga saja yang namanya Ukhuwwah masih ada di tengah kita. Sebagaimana yang kusadari, antara saya dengan akhi William bisa jadi berbeda afiliasinya walau namanya sama namun satu hal yang kuyakini yang menyatukannya adalah ikatan akidah. Ikatan yang menghumaniskan manusia ke asalnya sebagai makhluk Allah yang tumbuh dengan insane lainnya dan inilah Ukhuwwah Islamiyah.

Ya Allah, Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui hati-hati ini berhimpun dalam Cinta kepadaMu, telah berjumpa dalam taat kepadaMu, telah bersatu dalam da’wah padaMu. Telah berpadu dalam membela syariatMu.teguhkanlah kiranya Ya Allah, ikatannya. Kekalkanlah cinta kasihnya. Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati tersebut dengan cahayamu yang tidak pernah hilang . lapangkanlah dada-dada kami dengan kelimpahan iman kepadaMu dan indahnya bertawakal padaMu, hidupkanlah hati ini dengan ma’rifat kepadaMu. Matikanlah ia dalam syahid di jalanMu. Engkaulah sebaik-baiknya Pelindung dan sebaik-baiknya penolong

Desa Cadas Ngampar, Bumi Sentul

12 Silih Mukud 1432 H

Diiringi senandung Rabithah by Izziz