Mirza Ghulam Ahmad dan para pembesar Inggris Dalam sebuah diskusi sederhana di kawasan Kalibata Utara, ada hal penting dan krusial menyoal status ajaran yang didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad ini. namun hal krusial inilah yang paling banyak disederhanakan oleh banyak orang tidak terkecuali mereka yang bertitel sarjana atau cendekiawan muslim akhirnya terjebak dalam penyakit penyederhanaan yang efeknya jauh melebihi “sederhana”nya masalah.

Let’s say  menyoal Kenabian, Mirza Ghulam Ahmad yang secara jelas dalam kitab Tadzkirah mengaku Nabi  secara sederhana diperlakukan sebatas keyakinan penganut Ahmadiyah bahwa yang berbeda hanyalah pengakuan Mirza Ghulam sedangkan, kata mereka, shalat dan ibadah masih sama. Saya jadi teringat dengan analogi menarik seputar mata uang yang dikemukakan oleh Imam Ghazali. Bahwa uang itu tidak merefleksikan sesuatu tetapi mencerminkan segala hal. Dan itulah mata uang memang tidak seberapa tetapi bayangkanlah semua transaksi dan kegiatan ekonomi bila tidak ada mata uang yang ditetapkan sebagai standar pengukuran apa yang akan terjadi. Ketidakadilan dan ketimpangan. Sebagaimana yang kita lihat dewasa ini di bawah kendali mata uang kertas.

Karena epistemologinya yang terlalu disederhanakan tanpa melihat substansi kebutuhan masyarakat dan itu juga yang menimpa kalangan cendikiawan dan media dewasa ini menyikapi isu Ahmadiyah. Analoginya sederhana, ada dua orang mahasiswa, dalam kapasitasnya sebagai mahasiswa tingkat akhir, keduanya dalam bimbingan dosen yang sama, jatah bimbingan yang sama, jurusan yang sama,jumlah SKS yang diambil sama,  ketua prodi yang sama, angkatan yang sama bahkan kontrakan yang sama di kamar yang sama pula. Yang membedakan mahasiswa yang satu tidak lulus dalam ujian sidang skripsi dan gagal dalam ujian komprehensif sedangkan yang satu lulus cum laude. Sebabnya bisa banyak kalau ditelusiri mulai metodologinya yang salah hingga malas belajar sedangkan yang satu sebabnya juga berderet mulai dari rajin mengulang kuliah hingga rajin bimbingan. Apakah kita akan protes ??

Maka  diskusi hakikat ahmadiyah tidak pernah terungkap secara akademis dan ilmiah. Masyarakat hanya dicekoki oleh pengakuan kalangan ahmadiyah yang bisa jadi tidak pernah mengenal teologinya sendiri bahkan siapa Mirza Ghulam Ahmad dan obsesinya untuk meraup profit dari pemerintah Inggris saat menjajah India tidak pernah terbayang. Jadinya kita dibawa kabur pada persoalan substansi masalah yang harus dihadapi dan ditangani oleh Negara. Karena tidak pernah ada referensi mendalam dan kajian komprehensif akar dan pengalaman Ahmadiyah bersinggungan dengan keyakinan umat muslim sedunia melainkan hanya merujuk pada keyakinan yang belum lagi teruji secara ilmiah.

Dalam sebuah Debat yang diselenggarakan tahun 1933 di Jakarta antara pihak Ahmadiyah Qadiani yang diwakili oleh Abu Bakar Ayub dengan Pembela Islam yang diwakili oleh Ust Ahmad Hassan atau Hassan Bangil  dan dihadiri lebih dari 2000 orang, secara jelas Ahmadiyah mengakui dengan terang bahwasanya Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi setelah Baginda Nabi SAW dengan sejumlah argument baik mengutip dari sejumlah kitab hadits dan tidak tanggung-tanggung dari kitabnya sendiri :Tadzkirah. Sementara Ust Ahmad Hassan juga mengeluarkan dalil dari kitab tadzkirah sendiri dan membawakan sebuah hadits yang keshahihannya bukan lagi mengundang perdebatan. “sekiranya ada nabi setelahku maka ia adalah Umar Ibn Khattab, namun tidak ada sebarang nabi setelahku “ akhirnya argument kalangan Ahmadiyah Qadiani hanya mendasarkan pendapat mereka pada ulama-ulama yang tidak jelas kapasitasnya.

Karena sejatinya tidak ada lagi perlu diperdebatkan seputar Surah Al Anbiya :40, sebagaimana bertumpuk hadits yang diriwayatkan dari Nabi SAW sebagaimana yang kita dengarkan dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad ini “Aku, Muhammad seorang nabi yang ummi dan tidak ada sebarang nabi sesudahku”  atau yang paling tegas yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Imam Ahmad “Jika ada nabi sesudahku, niscaya adalah ia Umar Ibn Khattab akan tetapi tidak ada nabi sesudahku “

Saya melihat, bahwa mereka yang berdebat pada tahun 1933 sekalipun mewakili kalangan Ahmadiyah adalah langkah berani yang patut diapresiasi. Jadinya jelas siapa kawan siapa lawan. Dan jelas dimana posisinya. Dalam keadaan seperti ini Negara pun bisa bertindak baik dengan membekukan asset dan organisasinya ataupun melarang penyebarannya. Namun sayangnya ketika itu Indonesia masih berada dalam cengkraman kolonial Belanda, namun langkah umat Islam juga sudah terbilang berani dan menanganinya dengan gaya elegan dan akademik. Tinggal perkara taufik yang ditentukan oleh Allah SWT.

Bertahun-tahun lamanya pasca kemerdekaan Indonesia dan menginjak masa lokomotif reformasi menggejala, bangsa ini masih tertatih menentukan arah hidupnya. Bahkan memutuskan yang terbaik untuk kasus Ahmadiyah seolah sedang akan di peti es-kan atau hanya diserahkan kepada media untuk menggiring substansi persoalan pada persoalan kekerasan yang terlanjur mendapat cap “kekerasan atas nama agama “ akhirnya yang terjadi the clash of instrusion. Public pun dibuat bingung menentukan pilihan, mendukung ahmadiyah dijadikan aliran kepercayaan takut dicap radikal atau antek FPI bahkan mengkritik teologi Ahmadiyah bisa disebut teroris seperti yang menimpa seorang blogger di twitternya, hanya membuat kultwit tentang #MenyikapiAhmadiyah dicap anggota FPI. Kalau sudah begini apa bedanya dengan gaya Nabinya kaum liberal sedunia, George W Bush “Either Us or Against Us” . Demokrasi pun bisa terancam dengan gaya bertipikal seperti ini, alih-alih menyelamatkan demokrasi malah merusak dan menyelewengkan esensi demokrasi itu sendiri agar berharap publik bisa mendukung pembubaran ormas seperti FPI sekalipun komnas HAM telah membuktikan bahwa yang terjadi di Cikeusik sarat dengan rekayasa

Barangkali kita perlu bertanya kepada para muhadits bagaimana pongahnya Musailimah Al Kadzab yang mengklaim sebagai Nabi sesudah Baginda Nabi SAW.  dalam suratnya kepada Rasulullah SAW untuk berbagi kekuasaan dan tidak kepalang tanggung, Musailimah Al Kadzab juga mensyaratkan kepada Rasulullah SAW  “Aku bersedia menjadi pengikutmu, kalau Engkau wariskan kenabianmu kepadaku setelah engkau wafat “ . apakah Baginda Nabi SAW yang ketika itu juga berkedudukan sebagai kepala negara di Madinah memberikan respon tegas “ kalau bukan kesepakatan yang disepakati oleh semua kabilah, sudah kepenggal lehermu “ kata Nabi SAW kepada pembawa surat yang diutus oleh Musailimah Al Kadzab. Dari redaksi yang disampaikan Musailimah Al Kadzab dalam surat yang ditulisnya sudah jelas bahwa misinya hanya berkutat soal kekuasaan.

Pantas ! itu juga  sebabnya kita memahami yang mempropagandakan tidak ada   persoalan fundamental yang serius antara Ahmadiyah dengan umat pengikut Nabi Muhammad SAW pun misi hidupnya tak lepas dari lingkaran kekuasaan dan tumpukkan dollar sudah menunggu di rekening. Ajiibbb😀

Jakarta

24 Mulud 1432 H

Dalam alunan Al Qur’an Surah Al Baqarah by Syaikh Muhammad Jibreel