Semua harap-harap cemas. Apa yang sedang berlaku bak bola salju di Timur Tengah tidak ikut merembet ke negaranya. Bahkan kalau perlu tidak ikut menggoyangkan roda pemerintahan seberapa pun tuanya roda itu telah bergulir. Semua harap-harap cemas, berharap masih ada kasih sayang Tuhan terhampar di bumi para anbiya akan perubahan dan taraf kehidupan kea rah yang lebih baik. Bebas dari genggaman tangan besi sang Tiran yang telah berkuasa lebih dari 30 tahun. Kecemasan itu menjadi-jadi setelah melihat perilaku brutal Muammar Khadaffi melakukan provokasi untuk membantai rakyatnya sendiri. Muammar Khadaffi yang selama ini dipuji-puji oleh sebagian ormas islam dan majalah islam di Indonesia sebagai Kekuatan Baru Dunia Islam atau juga disebut sebagai Singa Afrika.

 

Semua Harap-Harap Cemas, apa yang menimpa Bahrain tidak segera menganggu  industry keuangan syariah yang sejak tahun 2007 menikmati berkah dari kolapsnya lembaga keuangan di Amerika Serikat dan menyebarnya cap junk terhadap surat utang negara Yunani,Spanyol,dan Portugal. Sejak tahun 2007-2010, Lembaga Keuangan Islam di Timur Tengah terutama di Kuwait dan Bahrain tampil sangat atraktif dalam mengambil kesempatan melimpahnya surplus industry minyak. Tidak terkecuali di Dubai, keadaan surplus dari industry minyak tersebut ternyata disikapi dengan semangat hedonitas, sebutlah Buruj Al Arab, Pulau Kurma, dan sebagainya yang dibalas oleh skenario Allah oleh kegagalan bayar Sukuk Nakheel, sebuah subsidiary Dubai World, dan diketahui sebab kegagalannya adalah selain adanya off balancing sheet juga manipulasi akad jual beli. Yang seharusnya dalam akad jual beli memiliki apa yang disebut sebagai ma’qud alaih atau objek jual beli yang ada, Nakheel hanya menyediakan asset yang belum lagi jadi atau sempurna. Mirip dengan transaksi muzabanah yang dilarang oleh Baginda Rasulullah, menjual buah yang masih berada di pohonnya.

Namun Goyangnya tampuk kekuasaan sang Tiran Tunisia, Zainal Abidin, telah meruntuhkan impian-impian emas para Tiran di Timur Tengah. Mereka bangun dalam keadaan gelagapan dan berusaha berdamai dengan rakyatnya yang selama ini dibekap dalam ketakutan. Dan itulah yang mulai dilakukan oleh Bahrain, membebaskan sejumlah tahanan politik dan Muammar Khadaffi sekarang dilanda paranoid terhadap rakyatnya sendiri dengan mengklaim masih mampu menyejahterakan rakyatnya. Semua harap-harap cemas, seandainya Raja Hammad Bin Isa Al Khalifa benar-benar jatuh, seperti apa masa depan keuangan syariah di Bahrain, seperti apa juga masa depan hubungan Timur Tengah dengan AS especially dengan Israel seandainya Bahrain jatuh di tangan oposisi Syiah. Dan semua kembali merangkai kecemasan,  Timur Tengah yang tadinya welcome dengan Amerika Serikat dan Israel berubah radikal di tangan kaum ‘Islamis” sebagaimana yang dikhawatirkan kalangan liberalis.

 

Di Bahrain juga, sejumlah ekonom muslim dan bankir mulai mencari jalan keluar yang memungkinkan perusahan-perusahaan besar mempertahankan pembayaran kreditnya di masa krisis. Salah satunya kembali menerbitkan sukuk dalam skala yang sangat massive. Skema penerbitan sukuk untuk menghimpun dana segar ini memang tidak sama dengan skema pembiayaan oleh bank. Dalam skema penerbitan sukuk, pemilik sukuk memiliki hak pada ma’qud alaih atau dalam istilah keuangan disebut sebagai underlying asset dan perlakuan sukuk dalam akuntansi syariah berbeda dengan perlakuan obligasi. Para investor dalam perlakuan sukuk hanya akan mendapatkan ujrah jika akadnya ijarah atau profit jika dalam akadnya profit loss sharing sementara pemilik sukuk bisa memiliki underlying asset jika terjadi gagal bayar atau default. Meskipun demikian, Studi Kelayakan tetap diperlukan dalam penerbitan sukuk. Selain itu hakikat sukuk adalah surat kepemilikan sebagaimana yang ditegaskan oleh Standar AAOIFI. Tidak seperti di Dubai, yang menurut Syafii Antonio, murni  strukturnya obligasi konvensional. Tidak heran para investor merasa perlu untuk diperlakukan sebagaimana jika mereka berinvestasi dalam bentuk obligasi

 

Semua harap-harap cemas, kecemasan para penguasa di Rabat dan Fez. Ditambah sejarah Tunisia,Mesir,Maroko, AlJazair adalah sejarah perjuangan para aktivis muslim kembali menegakkan dan mengembalikan Islam sebagai identitas di sana. Dan itulah yang dicemaskan oleh kalangan liberal. Jatuhnya Hosni Mubarak di Mesir memang tidak serta merta membangkitkan gerakan Al Ikhwanul Muslimin yang selama bertahun-tahun dalam penjara Tiran. Karena untuk mengendalikan negara sebesar Mesir diperlukan tenaga internal yang lebih handal dan siap. Dan Ikhwanul Muslimin belum siap untuk itu. Tetapi tidak bisa dipungkiri juga sosok Hasan Al Banna telah memberikan inspirasi ke semua rakyat mesir baik yang membenci atau mendukungnya. Itulah sebabnya, mengapa pendapat yang mengatakan IM tidak berperan sebenarnya tidak tepat dan terlalu meminggirkan realitas. Bouazizi memang bisa tampil di Tunisia tanpa melibatkan Oposisi Tunisia yang berbackground Keislaman namun tidak bisa dipungkiri bahwa rakyat Tunisia menilainya sebagai wajah usang rezim Zainal Abidin. Hasilnya Reformasi Tunisia boleh jadi jalan di tempat untuk sementara sebagaimana sangat mungkinnnya Omar Sulayman  di Mesir yang diangkat Mubarak sebagai calon penguasa di negeri seribu satu tersebut. Dan perubahan Bahrain menentukan seperti apa wajah karakter ekonomi-politik negara yang luasnya tidak lebih dari DKI Jakarta tersebut terhadap Keuangan Syariah. Semakin Pragmatis ataukah kembali ke Shariah Compliances ?? itulah kecemasan kita, mahasiswa ekonomi Islam !

 

Bogor,

Desa Cadas Ngampar

20 Mulud 1432 H

Dalam senandung Ilir-Ilir by Emha Ainun Nadjib