Lapangan Pembebasan 2011 bisa jadi menjadi sebuah tahun momentum yang sarat catatan sejarah dunia terinspiratif. Awal Januari kita dikagetkan dengan kenaikan bahan pangan yang mengancam kebutuhan pangan dunia tidak terkecuali di Indonesia. Bahkan di akhir januari hingga menjelang akhir februari ini kita dipertontonkan adegan transformasi sejarah dunia yang baru saja “meledak”. Ibarat gunung es. Ketidak puasan penduduk dunia khususnya rakyat jazirah arab pada model modernisasi yang sejak lama di cangkokkan Barat ke dalam dunia Muslim melalui rezim-rezim Politik yang berkuasa di atas 30 tahun harus menemui jalannya mellaui sejumlah fragmen reformasi demi fragmen reformasi.

Seorang Demonstran di Bahrain menulis di posternya, “ Syukran Ya Mishr Ya Tunisia” Terima Kasih Mesir dan Tunisia. Menandakan di mana awal mula fragmen revolusi ini bergerak dan efek domino yang ditimbulkannya di seantero jazirah arab. Hosni Mubarak yang berhasil ditumbangkan oleh dua minggu aksi massa rakyat Mesir di Maydan Tahrir dirayakan dengan Sujud Syukur umat muslim dan Doa Syukur umat Koptik, seolah mengindikasikan spirit beragama menjadi cambuk  reformasi Mesir yang berdampak komprehensif ke seantero jazirah arab. Al Jazair, Yaman, dan Bahrain juga menandai peristiwa jatuhnya Mubarak ibarat sekelompok tahanan yang selama dalam tahun-tahun pedih di bawah pemerintahan tua tiba-tiba “kerasukan” spirit pembebasan dari Maydan Tahrir yang artinya sendiri “Lapangan Pembebasan “ untuk melepaskan diri dari gaya pemerintahan arab yang kental dengan spirit modernism dibandingkan reformasi jazirah arab untuk kembali ke ashalahnya sebagai bangsa Arab sebagaimana yang dulu digaungkan oleh para pemimpin Arab sebelum pecah perang enam hari Arab-Israel. Sebagaimana pula dulu seorang pemimpin partai Ba’ath, mengakui akan Keislaman sebagai elemen penting dalam dunia Arab yang tidak mungkin dilepaskan begitu saja sekalipun dunia Arab hidup dalam aroma modernisasi

Maka,jadilah kita pada hari-hari ini seolah disuguhkan sebuah drama kolosal tentang akhir dari kehidupan rezim-rezim politik yang kenyang dicangkokkan idea-idea modernisasi dari Barat dan memisahkan peran strategis dunia Arab untuk berkontribusi dalam dunia Muslim pasca runtuhnya Khilafah Islamiyah tahun 1924. Dulu Anis Matta, sebagaimana analisis kebanyakan pengamat politik Timur Tengah lainnya, motif yang terjadi di Mesir dan Tunisia lebih banyak diwarnai oleh kesenjangan sosial dan rendahnya taraf kesejahteraan mayoritas rakyat Mesir dan Tunisia selain tentunya demikian tua nya rezim politik berkuasa melebihi usia wajar kepemimpinan di dunia Arab. Namun setelah tergulingnya Zainal Abidin dan Husni Mubarak, ternyata model yang terjadi dalam proses demokratisasi berikutnya di Aljazair, Yaman, Libya,Bahrain,  bahkan sejumlah negara Teluk dalam bentuk aksi unjuk rasa dan sebagainya sama sekali memiliki motif yang berbeda.

Sebagai contohnya Libya yang berada dalam rezim Muammar Qaddafi sejak 1969 dalam sebuah aksi revolusi yang dipelopori oleh Gerakan Perwira Bebas di bawah pimpinan Muammar Qaddafi, mengalami gejolak yang tak kalah parahnya dengan apa yang kita saksikan di Mesir dan Tunisia. Hingga tulisan ini ditulis oleh saya sudah sekitar 100 korban berjatuhan dari kalangan demonstran dan pemerintah Libya telah menutup semua media jejaring sosial di seantero Libya. Padahal sejak berakhirnya Embargo Amerika Serikat pada tahun 2003, Libya sempat menghirup udara kebebasan dalam menggerakan roda perekonomiannya dan kembali mendayagunakan sumber daya alam utama yang selama ini menjadi cadangannya yaitu minyak. Pasca pencabutan Embargo Ekonomi, PDB Libya tumbuh secara luar biasa tercatat PDB Libya pada tahun 2009 9,1 % dan cadangan minyak yang dimiliki oleh negara tetangga Mesir ini mencapai 39 Milyar Barrel. Sedangkan cadangan gas bumi Libya mencapai 1  % . Bahkan Cadangan Energi AS menunjukkan pasca pencabutan embargo ekonomi, Libya berada di urutan ke-12 sebagai negara eksportir  minyak terbesar di dunia dengan total produksi mencapai 1,34 barel/hari.

Kemudian, kalau juga banyak dianalisis oleh para pengamat politik Timur Tengah sebagaimana yang kerap kita dengar saat terjadi proses demokratisasi di Mesir dan Tunisia dalam bentuk fragmen-fragmen reformasi salah satu faktor terkuat kedua selain kesenjangan sosial dan rendahnya taraf kesejahteraan masyarakat juga kental di warnai oleh rezim politik yang otoriter dan membungkam kebebasan berbicara masyarakatnya. Justru di Timur Tengah, Demokrasi telah lama sekarat di tangan para penguasa yang ditanamkan oleh Barat yang menawarkan modernisasi itu sendiri namun sekarang sejarah hendak menunjukkan kepada kita, para pemuda Indonesia, model welfare state secara empiris hanyalah bentuk dari teknik rezim politik untuk memberi wajah akan kesetiaanya pada Demokrasi.

Libya adalah salah satu di sejumlah negara berpopulasi muslim yang kental dengan  nuansa sufi dan agamis. Bahkan Muamar Qaddafi memberikan akses dan dukungan yang sangat luas kepada sejumlah lembaga da’wah. Seperti membentuk World Islamic People’s Leadirship yang dibentuk oleh pemerintah Libya pada tahun 1972. Pembentukkan WICS juga sebagai Think Tank untuk mempelajari setiap persoalan umat Islam. WICS bergerak di bidang pendidikan dan sosial serta banyak memberikan beasiswa kepada mahasiswa Akademi Da’wah Islam sebesar 30 Dinar atau sekitar 250 ribu.

Pergolakan yang sampai saat ini masih memanas di Timur Tengah juga memicu Bahrain,negara yang hanya berpopulasi 544.000 jiwa pada tahun 1995. Salah satu negara teluk yang menurut Anis Matta, satu cluster dengan sejumlah negara teluk dengan populasi di bawah satu juta jiwa dan memiliki cadangan minyak surplus yang diindikasikan tidak mendapatkan dampak serius dari fragmen reformasi Mesir dan Tunisia. Even, Bahrain merupakan salah satu Hub Keuangan Islam yang paling serius menjadi hub Keuangan Islam terbesar di Dunia Internasional dengan menjamurnya lembaga keuangan Islam mulai dari Perbankan Syariah hingga Reksadana Syariah. Dengan adanya pergolakan ini banyak pelaku pasar yang mengkhawatirkan adanya gangguan terhadap aktivitas keuangan islam di Bahrain. Dan di Kuwait, yang hanya berpopulasi 1.461.000 jiwa dan income per capita $23,350 dengan pendapatan rata-rata penduduknya sekitar Rp 2.000.000an dilanda aksi demonstrasi yang dipicu ketidakpuasan golongan Bedouin yang belum diakui sebagai bagian warga negara Kuwait.

Mengenai dampak langsung secara garis politik, saya teringat dengan apa yang di ungkapkan Azyumardi Azra dalam salah satu kolomnya di Republika, beliau menulis bahwa adalah sangat terlalu sederhana juga apa yang terjadi di Mesir dan Tunisia akan segera diikuti oleh Indonesia. Karena kondisi makro negara ini secara diametral dengan berbeda dengan kondisi yang dialami oleh Aljazair, Yaman,Bahrain, Mesir dan Tunisia. Secara situasi politik juga sangat jauh dengan yang dialami negara Timur Tengah yang masih dikangkangi oleh rezim politik sekuler yang otoriter dan mengancam kestabilan Demokrasi. Mereka, tulis Azyumardi Azra, memperlakukan Demokrasi hanya sebagai lips service belaka. Akibatnya kemarahan itu berakumulasi dan terjadilah fragmen-fragmen reformasi yang membentuk wajah revolusi di jazirah Arab. Dan saya sepakat dengan apa yang ditulis oleh Azyumkardi Azra tersebut Israel, dalam situasi ini sedang dalam keadaan siaga satu. Hampir  bisa dipastikan setiap saat PM Israel memantau tiap detik gerak yang terjadi di jazirah arab. Kalau Yaman dan Al Jazair bisa terdongkel bukan tak mungkin posisi Israel di ujung bibir jazirah Arab semakin terjepit. Namun sebaliknya jika Mesir yang diserahkan kepada Dewan Militer Mesir menetapkan Omar Sulayman sebagai Presiden Mesir, setidaknya Israel masih berada dalam tahap ‘aman” sambil tetap siaga melihat kondisi makro negara-negara arab. Kita terus dalam posisi Wait and See. Apakah ini berarti janji Tuhan akan akhir dunia sudah semakin dekat dengan gejolak yang berputar tak jauh dari Masjid Al Aqsha, Al Quds tersebut ??

Jakarta

16 Mulud 1432 H

Ditemani senandung nasheed Athyafu Al Istisyhadu dan Sami Yusuf “ Lan Nakdha, Lan Narhal Lan Naskut “