kurmaImam Abu Ubaid pernah meriwayatkan hadits mengenai sedekah Abdurahman Ibn Auf. “Dari Atha bin Farukh bahwa ada seseorang yang meminta-minta kepada Abdurahman Ibn Auf, sedangkan di sisi Abdurahman ada satu biji kurma, dia pun memberikannya kepada orang yang meminta-minta kepadanya. Lalu sang peminta-minta marah kepada pemberian satu biji kurma itu kepadanya. Sang peminta-minta itu berkata kepada Abdurahman Ibn Auf, “apa yang dapat dilakukan dengan ini ? “ Abdurahman menjawab, “ Allah mau menerima sedekah, walaupun hanya seberat biji sawi, sedangkan kalian tidak mau rela dengan pemberian ini. “

Dalam hadits yang dipaparkan tadi. Ada sejumlah hikmah yang harus kita ambil sebagai seorang muslim. Dalam perspektif sekular, seolah-olah ingin menunjukkan Abdurahman Ibn Auf yang hanya bersedekah dengan sebutir kurma adalah orang yang bakhil padahal di saat yang sama dalam pelbagai atsar Abdurahman Ibn Auf juga seorang pengusaha yang sukses dan memiliki harta yang melimpah. Namun tidak demikian dari kacamata Islam. Justru sebenarnya Abdurahman Ibn Auf tengah menguji seorang pengemis yang datang kepadanya seberapa bersyukurnya sang pengemis dengan pemberian dari Allah. Karena, seperti yang diajarkan oleh Baginda Nabi SAW, barangsiapa yang tidak mensyukuri yang sedikit tidak akan mensyukuri yang banyak. Dan, sambung Baginda Nabi SAW. Orang yang tak mampu berterima kasih kepada manusia maka ia tidak akan bersyukur kepada Allah.

Jadilah kufur ni’mat. Apa yang nampak lalai namun bila sudah lenyap baru akan menyesal dan memang dimanapun menyesal selalu ada dibelakang. Sebab bersyukur atas ni’mat sesederhana apapun adalah di awal yang membuka pintu-pintu rezeki yang lebih baik lagi berlipat ganda. Maka seperti yang diajarkan oleh Baginda Nabi SAW, “bila kamu mendapat kebaikan dari orang lain, maka balaslah. Bila tidak bisa, maka berdoalah untuknya ( jazakumullah ) hingga kamu tahu bahwa kamu telah berterima kasih. Sebab Allah adalah Dzat Yang Maha Tahu Berterima Kasih dan sangat cinta kepada orang-orang yang bersyukur “ ( HR Thabrani )

Hikmah kedua, sang pengemis yang ternyata tidak lulus dari “ujian “ Abdurahman Ibn Auf dengan anggapan bahwa Abdurahman Ibn Auf tengah mempermainkannya. Dan inilah yang tidak disukai Baginda Nabi SAW. “barangsiapa yang tidak mampu mensyukuri yang sedikit tidak akan mampu mensyukuri yang banyak. Karena masalahnya bukan sekedar mengucapkan syukur ketika tengah berada dalam kelapangan namun berapa banyak yang tidak mampu sabar ketika berada dalam keadaan terhimpit dan kondisi yang serba terbatas. Padahal Allah hampir tiap detik memberinya nikmat tanpa bayaran. Berapa banyak darah yang dipompamkan ke tiap aliran darah kita. Berapa banyak nafas yang masih sanggup kita hirup tanpa bayaran sesen pun. Dan itulah sunnatullah dalam kondisi seburuk apapun selalu ada celah untuk memperlihatkan rasa berterima kasih  kepada Dzat Yang Maha Berterima Kasih

Hikmah ketiga, Baginda Nabi SAW juga mengajarkan kepada kita untuk berdoa sebagai bukti penting bahwa berterima kasihnya kita kepada manusia tidak serta merta dan selalu melibatkan peran Allah, Dzat Yang Maha Pemberi. Itulah sebabnya Baginda Nabi SAW mengajarkan doa sederhana “ Jazakumullah “ atau bagusnya “Jazakumullah Khairan Katsira” , semoga Allah mengampunimu, dan semoga memberikan balasan yang setimpal dan lebih baik. Terima Kasih kepada sesama juga bermakna investasi kebajikan yang diberikan orang pada kita. Penerimanya pun harus selalu siap memberi dan mengasih sebagai manifestasi dari rasa berterima kasih. Berterima kasihlah, karena ucapan “Terima Kasih” itu lebih dari sekedar basa-basi melainkan penghargaan manusia yang ikhlas kepada usaha sesamanya.

Jakarta

10:11 PM