Deliberalisasi Alangkah Lucunya ( Negeri ) Ini. mungkin itu yang bisa kita katakan pada keadaan republik ini pada hari-hari yang sangat menggelikan. Dan itu juga yang menjadi sebuah judul film besutan Deddy Mizwar tahun 2010 untuk menggambarkan pelbagai fragmen-fragmen paradoks dan gokil namun merupakan cerminan dari dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara. Berapa kali kita akan tertawa terbahak-bahak dalam film tersebut namun di waktu yang sama kita juga ingat bahwa yang ditertawakan juga realitas masyarakat kita dan bukan tak mungkin yang kita tertawakan adalah wajah keseharian diri kita sendiri. Berapa kali kita akan mengkritik sejumlah perilaku sosial di film tersebut namun di saat yang sama kita baru sadar bahwa itu juga terjadi di Republik Indonesia, negara yang kita cintai, para pencopet yang dalam film tersebut ternyata juga memiliki cita-cita sebagai koruptor. Atau wajah masyarakat yang gemar dalam pelbagai jenis undian dan untung-untungan yang penuh gharar dan maysir. Kemudian belum ditambah sesosok wajah sarjana pendidikan ternyata ikut bingung luar biasa dan mempersoalkan apakah pendidikan itu penting atau tidak.

Alangkah Lucunya Negeri Ini, juga bisa kita sebutkan untuk menggambarkan realitas dan gejolak di tengah masyarakat kita bulan februari ini. disamping penerbitan sukuk ritel yang disambut dengan gairah oleh para investor hingga Ahmad Ghazalli di twitternya merasa perlu untuk membuat kultwit tentang serba-serbi sukuk dan pertimbangan serta perbandingan sukuk dengan instrument investasi lain. Bulan February 2011 juga menampilkan kepada kita kerancuan pemahaman masyarakat atas kemanusiaan dan humanism untuk menghujat nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh agama. Kemudian dibuat dan ditawarkan logika kepada publik. Jauh lebih manusiawi menjadi atheis daripada seorang shaleh namun tak jua menoleh. Bahkan baru-baru ini seorang pengamat politik menganalisis bahwa tingkat penolakan warga muslim di Indonesia terhadap keberadaan tempat ibada umat agama lain sangat tinggi.

Latar belakang survey yang diambil oleh sang pengamat politik ini saya kira berlatar belakang perusakan rumah ibadah seperti Gereja di sejumlah wilayah pada tahun 2009/2010 atau bahkan 2007/2010. Saya tidak ingin terjebak pada diskusi peran Negara yang semakin melemah namun titik poin dari serangkaian masalah pengrusakan rumah ibadah umat agama lain adalah dari penyebaran missi dari agama itu sendiri yang tidak mengindahkan kearifan lokal warga setempat. Tidak ada bedanya apa yang terjadi di temanggung hari ini dengan kasus di Ciketing. Warga sekitar yang notabene beragama Islam bukan benci atau menyimpan phobia terhadap keberadaan rumah ibadah agama lain sebagaimana yang dianalisis oleh sang pengamat politik namun sikap sejumlah jamaah gereja tersebut yang tidak hormat dan meminggirkan kearifan lokal yang ada dan itu adalah fakta berdasarkan kesaksian warga setempat sebagaimana yang dilansir oleh Dakwatuna.com. kemudian di waktu yang sama di media publik, beragam cercaan dan tudingan miring dialamatkan kepada umat muslim oleh para pengamat dan para cendekiawan yang telah terjebak dalam The Clash of Instrusion ini. dengan penuh semangat dan tumbuh dari persepsi simplicity lahirlah solusi yang ditawarkan kepada public oleh mereka: Pluralisme Agama !

Kemudian menginjak February 2011, kita kembali dibuat bingung ketika permasalahan yang sama kembali terjadi. Seolah-olah zaman hendak memberikan pelajaran pahit untuk kita sebagai bangsa yang gemar terjatuh dalam lubang yang sama dan mempeti eskan kasus yang sudah terjadi. Disebabkan menyerahnya kita pada ketidakberdayaan berfikir yang cermat juga membuat kita sedikit mengangguk-angguk dengan hasil analisis oleh para pengamat itu. Kasus Cikeusik terjadi, menurut penuturan warga sekitar bermula dari provokasi salah seorang jamaah ahmadiyah yang menantang warga sekitar dan seolah sedang show on force terhadap warga sekitar desa cikeusik. Karuan saja, tipikal masyarakat Banten yang dikenal dengan kebudayaan Jawara nya segera tersulut oleh provokasi tersebut dan terjadilah serangkaian aksi penyerangan brutal ke markas penganut ahmadiyah. Pemerintah kita tiba-tiba baru saja sadar dari hilang ingatannya. Dan segera akan mengkaji dan mengevalusi SKB 3 Menteri dengan kemungkinan salah satu opsi untuk mencabutnya. Apakah pelajaran dengan kasus yang sama konflik dengan pemeluk Ahmadiyah tidak pernah menjadi pelajaran.

Bukan Negara tidak pernah berpihak justru dalam keadaan seperti inilah Negara harus memperlihatkan kelayakannya sebagai pengayom dan pelindung masyarakat bukan hanya stabilator dan dramatisir dari penyakit yang malah bisa jadi sangat parah. Gokilnya kembali Media memprovokasi publik, untuk segera menentukan sikap yakni mengutuk umat muslim dan meradikalisasi sejumlah ormas tertentu yang juga terbukti pernah terlibat dalam aksi kemanusiaan di beberapa bencana.

Saya jadi teringat dengan pemeo jurnalistik barat yang pernah diungkapkan oleh Mbak Sirikit Syah “ Journalis get Religion but don’t get it’s understanding. Jadinya kabur mana entitas, mana individu dan mana konsep ajaran agama itu sendiri yang didakwa sebagai tersangka dan layak dikecam oleh publik. Tentu masing-masing tiga aspek menimbulkan konsekuensi dan implikasi vitalnya tersendiri. Jurnalistik memotret dari kaca mata entitas, Kementrian Agama dituding sebagai penyebab masalah karena berperan dalam menerbitkan SKB Tiga Menteri akhirnya ditemukan kesimpulan bahwa Pemerintah tidak perlu campur tangan dalam urusan beragama masyarakatnya. Akhirnya Departemen Agama tidak diperlukan lagi. Kemudian Jurnalis berasumsi bahwa tindakan –tindakan yang mengatasnamakan agama lahir dari sejumlah individu tertentu yang mempunyai keyakinan yang salah akhirnya keluar kesimpulan pelaku kekerasan tidak bisa digenelisir ke semua pemeluk agama namun asumsi semacam ini tentu saja merugikan salah satu entitas dalam tubuh sosial umat Islam. Belum ditambah predikat-predikat seperti Fundamentalis atau radikal yang semakin kabur ditambah datangnya dari pengalaman barat dengan problema kalangan konservatif dan liberalnya. Kemudian yang paling parah adalah “memvonis” salah satu konsep ajaran agama. Kemudian kepada public diajarkan bahwa konsep tersebut tidak lagi relevan dalam kehidupan modern dan akhirnya jurnalis ini memerlukan “pembenar” untuk “membenarkan “ tindakan yang salah kaprah tersebut. Jadinya kalangan yang selama ini rajin mempromosikan pluralism agama dan hermenutika diundang sebagai pembicara atau narasumber. Tentu saja dampaknya kepada public lebih besar lagi dengan model seperti ini. Hasilnya hampir setiap hari publik dibombardir dengan opini yang menyesatkan betapa kejamnya dan intolerannya umat Islam dan agama yang dianutnya itu.

Hamid Fahmy Zarkasy dalam salah satu kolomnya di jurnal Islamia, tentang Worldview, menulis andai ia setuju dengan gagasan The Clash of Civilazation sebagaimana yang digagas oleh Huntington maka ia hanya akan setuju bahwa pada istilah The Clash of Instrusion. Sebab pertentangan yang terjadi bukan antar peradaban yang selama kurun waktu sejarah terjadi proses pinjam meminjam antar peradaban. Mengadopsi dan menyeleksi satu produk peradaban oleh tradisi keilmuan peradaban lain sebagaimana produk peradaban Islam yang cemerlang di masa Dark Ages Barat dipinjam untuk mengembangkan kembali bangunan peradaban Barat yang beku. Akan tetapi pertentangan yang terjadi sebenarnya ada pada pandangan hidup atau worldview yang menyebabkan perang pemikiran dan keyakinan bathin. Korbannya memang tidak pernah terlihat bergelimpangan namun nampak dalam kebingungan dalam beropini. Dengan serta merta leluasa menghujat di twitter “This is The Wrong Religion !!” padahal dulu ia yakin bahwa salah dan benar itu relatif. Yang menghujat pemerintah dengan argument seolah-olah “membiarkan “ juga memutar balik keyakinannnya  selama ini bahwa pemerintah tidak berhak campur tangan dalam urusan masyarakatnya tidak terkecuali kalau bicara pasar Biarkan pasar mengkoreksi dirinya sendiri, kata Adam Smith yang diamini oleh berjuta-juta pengikut kapitalisme klasik dan liberalnya di seluruh dunia. Lebih parah lagi ada yang jejingkrakan beruntung dirinya tidak beragama. Inilah Spritual Suicide, bunuh diri spiritual. Hidupnya bak mayat berjalan tanpa ruh tanpa jiwa. Memang Alangkah Lucunya Negeri Ini. !!

Jakarta, 4 Mulud 1432 H