Membaca Gejolak Ekonomi di Awal Tahun 2011

 

Kelangkaan PanganJanuari  2011 ini setidaknya ada sejumlah fenomena penting yang berlalu lalang dalam perjalanan globalisasi dan bahtera Indonesia melabuhkan cita-citanya. Pergantian tahun 2010 ke tahun 2011 bukan semata-mata memberikan harapan dan cita-cita sebagaimana yang dibaca oleh banyak orang. Tetapi justru kita tengah menuju pada sebuah gelombang resesi yang paling tajam sepanjang sejarah.

 

Ichsan Fauzi (2011) dalam tulisannya di harian Bisnis Indonesia,17 Januari 2011, mencatat sejumlah gejolak penting di awal tahun 2011 berikut dampaknya bagi perekonomian Indonesia. Yang antara lain gejolak perekonomian dimulai dengan adanya inflasi global yang dipicu sejumlah akar masalah panjang dan belum lagi usai. Seperti krisis keuangan Eropa yang sejak bulan Mei 2009 belum lagi pulih diakibatkan negara-negara seperti Portugal,Irlandia, Yunani, dan Spanyol kembali mengalami masalah pembayaran utang. Bahkan Yunani telah surat utangnya telah diberikan predikat “sampah” oleh Fitch Rating.sebelumnya Moody’s Investor Service kemudian Standard & Poor’s telah juga memberikan predikat “sampah” pada surat utang Yunani. Kemudian yang kedua, inflasi pangan yang sedang melanda hebatnya dengan ditandai kelangkaan stok pangan di pasaran dan kebutuhan pangan dunia yang sedang meningkat dengan cepat. Dan ketiga, Ekonomi US yang sedang terpuruk dalam resesi pada 2009 dan pemulihannya yang lamban pada triwulan I,II,III, pada 2010 ternyata berangsur-angsur pulih. Hal inilah yang menyebabkan The Fed mengeluarkan kebijakan kebijakan Quantitatif easing yaitu memompa dana segar ke perekonomian secara agresif yang sama dengan kembali mencetak uang sekitar US$ 700 Milliar.

Di Indonesia, yang paling banyak mendapatkan dampak dari gejolak pasar awal tahun 2011 ini. negara-negara yang dimasukkan oleh World Bank sebagai The Emerging Markets seperti halnya India mampu bertahan dari krisis kelangkaan pangan dengan tidak terlalu bergantung pada ekspor dan fokus membesarkan konsumsi domestic yang porsi untuk negara seperti India sangat besar akibatnya inflasi bisa ditekan dalam titik yang lebih rendah daripada yang seharusnya berjalan di lingkungan global.

 

Di Indonesia, sejumlah Ekonom memberikan prediksi Inflasi dari sejak tahun 2010 ke awal tahun 2011 mencapai angka 7 % ( Sugema :2011 ) yang dominan didorong dengan adanya kelangkaan pangan dan khusus di Indonesia tiga komoditas utama menjadi penyumbang terbesar inflasi yaitu cabe, beras, dan cabe rawit. Yang namanya inflasi memang tidak selalu identik dengan gejolak moneter dengan persepsi uang yang beredar lebih banyak daripada di pasar. Selain itu dalam perekonomian modern, inflasi dilambangkan sebagai pertumbuhan ekonomi yang seiring sejalan dinamis. Namun permasalahannya adalah bagaimana agar inflasi itu tidak mematikan daya beli masyarakat secara makro dan menurunkan gairah dalam memproduksi atau disebut juga dalam kajian Ekonomi Makro sebagai Cost Plus Inflation. Untuk menghadang kelangkaan pangan itu, Pemerintah telah memberikan sejumlah kebijakan pembebasan bea masuk bahan baku,memastikan cadangan pangan di tangan pemerintah, kucuran dana Rp 1 Trilyun untuk stabilisasi pangan, perluasan lahan pertanian,dan fleksibilitas pembelian beras petani oleh Bulog.

 

Sementara Abimanyu (2011 ) hampir senada dengan Ichsan Fauzi, Iman Sugema ( 2011 ) bahwa perekonomian Indonesa dibuka dengan ancaman naiknya tingkat inflasi yang mencapai 7 %. Kenaikan inflasi ini dipicu ketidakpastian perkembangan global,kenaikan harga beras, dan berbagai komoditas pangan serta respons dari melonjaknya harga minyak dunia. Namun menurut Abimanyu ( 2011 ) melonjaknya harga beras jauh lebih dominan. Di tahun 2010, kenaikan harga beras telah mencapai hampir 20 % dan paling tinggi sejak tahun 2006. Paradoks di saat beberapa negara tetangga, harga beras mengalami penurunan, di Indonesia malah sebaliknya paling tinggi dan sangat riskan bagi keamanan cadangan beras pemerintah dan di tahun 2011, harga beras melonjak 30 % dan paling termahal di pasar Internasional.

 

 

Baik diantara ketiga  analisa para ekonom diatas, kita menemukan salah satu akar utama dari kelangkaan pangan yang menjadi penyumbang terbesar inflasi global. Pemerintah kita kini tengah kelabakan membuat sentral produksi pertanian di saat inflasi ini memerah semerah harga cabe di pasaran yang mencapai angka Rp120.000/kg. dan saya teringat oleh tulisan kawan saya yang kuliah di pertanian. Dengan kenaikan harga cabe, semua orang tidak terkecuali wakil presiden kita yang terhormat panik dan menjerit bahwa akhirnya Pertanian menjadi salah satu tulang punggung perekonomian bangsa yang baru disadari demikian vitalnya dan demikian gawatnya kalau kelangkaan pangan sudah terjadi. Menurut Nurman ( 2011) kenaikan harga cabe di Indonesia lebih banyak disebabkan oleh adanya penyakit kuning yang disebabkan oleh merebaknya virus gemini. Masih menurut Nurman (2011 ) kerusakan yang terjadi di daerah Bojonegoro, Jawa Timur mencapai 30 % dan saat ini penyakit yang sama ditemukan di Jawa Barat, Jogjakarta, dan Kalimantan Selatan. Selain itu kenaikan harga cabe juga disumbang oleh penyakit yang disebut oleh petani sebagai penyakit patek yang disebabkan oleh Virus Colletotrichum capsici.dan dapat menimbulkan kerusakan hasil panen produksi sebesar 20-90% dan banyak berkembang pada musim hujan. Selain antraknosa, ada lagi yang disebut oleh para petani sebagai penyakit Hawar. Penyakit Hawar berjangkit disebabkan oleh merebaknya virus Phytophthora Capsici. dan mampu bertahan dalam tanah selama 8 tahun juga mampu menyebabkan daun dan buah mengalami kebusukan.

 

Memang tidak bisa dipungkiri akan terjadinya ulah Bandar yang memainkan harga sepetti yang dianalisi oleh Nurman (2011 ) namun kebijakan Price Determination oleh Regulator juga tidak akan menyelesaikan masalah karena bukan disitu akar masalahnya. Yang jadi masalah bagi kita sebagai seorang muslim adalah ketidakramahan dan penghilangan etika terhadap alam membuat persoalan perekonomian semakin blunder. Saya teringat dengan tulisan Prof Adi Setia (2005 ) gejala masyarakat modern semakin mampu mengembangkan teknologi untuk alam malah semakin merasa mampu telah menaklukan alam dan makin sedikit yang tersisa untuk disyukuri. Akibatnya timbal balik dari ketidak ramahan terhadap ala mini berdampak demikian besar dan berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi domestik dan menurunkan daya beli petani dalam konsumsi.

 

Perspektif Umar Ibn Khattab Dalam Pengembangan Ekonomi Berbasis Lingkungan

tidak bisa dipungkiri, bahwa dalam pelbagai literature terutama literature yang ditunjukkan oleh DR Jaribah Ibn Ahmad Al Haritsi, menunjukkan bahwa Umar Ibn Khattab yang namanya masuk dalam buku 100 Tokoh Berpengaruh dalam Sejarah, karya Michael Hart, tidak hanya seorang Negarawan yang mumpuni juga seorang Ekonom yang melihat sejumlah gejolak perekonomian di zamannnya dari pelbagai aspek dan tidak pernah melepaskan aspek Syariah dari semua gejolak yang pernah ada. Seperti halnya Krisis Ramadah, sikap yang pertama diambil Umar Ibn Khattab adalah melakukan internalisasi nilai rabbaniyah kepada para pelaku pasar agar perilakunya tidak merugikan hajat hidup orang banyak dan memperoleh keuntungan di tengan kesempitan. Kemudian dalam hal lingkungan sedari dini Khalifah Umar Ibn Khattab mengingatkan sejumlah kebijakan yang harus dijalankan oleh segenap jajarannya demi kesejahteraan rakyatnya dan demi ketahanan pangan untuk antisipasi krisis yang bisa terjadi datang akibat perubahan cuaca.

 

Sebagaimana yang terjadi dalam Krisis Ramadah,Policy Khalifah Umar Ibn Khattab dalam mengantisipasi perubahan cuaca yang kemudian berakibat pada kelangkaan pangan adalah melakukan internalisasi nilai dengan sejumlah peringatan-peringatan dasar (Al Haritsi :2006 ) kemudian melakukan penyeimbangan antara tujuan pertumbuhan ekonomi dan kepentingan menjaga lingkungan, menumbuhkembangkan sumber daya alam, memerangi pencemaran, dan menjaga keseimbangan ekosistem.

 

Dalam memberikan internalisasi nilai, Umar Ibn Khattab mengeluarkan sejumlah kebijakan yang antara lain pelaku industry harus terikat dengan aturan-aturan produksi agar mengarahkan produksi sesuai dengan kebutuhan hajat hidup orang banyak dengan demikian alam bisa terlindungi dari eksploitasi sumberdaya alam akibat produksi barang-barang yang hanya menjadi pemuas nafsu hedon manusia. Adalah Peter Senge, seorang Professor di Massachusets Institute of Technlogy, dalam bukunya yang baru dilaunching tahun 2010, The Necesaary of Revolution, mengatakan bahwa akhirnya kita baru menyadari kehilangan yang luar biasa akibat kita tidak pernah mendasarkan gaya berekonomi kita pada kebutuhan mendasar manusia memenuhi hajat hidupnya. GNP dan GDP,menurut Peter Senge,hakikatnya sangat abstrak dan tidak mencerminkan pendapatan negara yang sebenarnya.  Selain itu Umar Ibn Khattab juga mengkritik diantara penyebab pencemaran lingkungan dan eksploitasi alam adalah distribusi yang buruk dan meluasnya kemiskinan. Hampir sama seperti poin analisis mazhab Al Iqtishaduna, yang menekankan persoalan ekonomi modern dalam sudut pandang Islam terletak pada pola distribusi ekonomi modern yang buruk dan cenderung mengabaikan keadilan

 

Dalam menjaga keseimbangan antara tujuan pertumbuhan ekonomi dan tujuan menjaga lingkungan, Umar Ibn Khattab selalu meminta penguasa setempat untuk mencarikan lokasi dan dataran yang bersih untuk dijadikan pemukiman penduduk sebagaimana dalam sebuah riwayat “Satu Rumah di Rakbah lebih saya sukai daripada sepuluh rumah di Syam “ karena Rakbah adalah daerah yang bersih sedangkan syam daerah yang berpenyakit (Al Haritsi :2006 ) hal ini mengingatkan kita pada gairah investasi di Indonesia awal tahun ini yang menurut harian Bisnis Indonesia, 18 Januari 2010, bahwa RI akan raih level investasi tahun 2011 kelevel Investment Grade setelah mendapat rating dari perusahaan pemeringkat Moody’s Investor, namun tidak bisa dipungkiri pula produktifitas investasi di Indonesia yang sedang bergairah diwarnai sejumlah aksi penggusuran perumahan warga tidak terkecuali penggusuran masjid oleh sejumlah Developer. Bahkan menurut Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum dari 3000 buah Masjid yang ada di DKI Jakarta 700 diantaranya memiliki masalah dengan penggusuran (Republika, 18 Januari 2011 )

 

Kemudian dalam menjaga sumber daya alam, Umar Ibn Khattab tidak pernah memperbolehkan ekspl;oitasi apapun terhadap sumber daya alam dan menganggap sumber daya alam sebagai milik generasi yang akan datang dari umat Islam. Penulis jadi teringat dengan sikap kearifan lokal sebagian masyarakat sunda yang membangun perkampungannya dengan mensyaratkan sejumlah bahan yang tidak boleh dipakai dari alam. Sederhana alasannya, alam sekalian akan diwariskan dari Inohong untuk Incu atau generasi selanjutnya yang akan datang. Sikap kearifan lokal inilah yang salah satunya sejalan dengan  inspirasi Islam di masa Umar Ibn Khattab. Agar tidak terjadi apa yang disebut oleh Al Attas sebagai Dischanment of Nature. Atau penghilangan hormat terhadap alam.

 

Dari tiga poin tadi kita bisa melihat bahwa menjaga lingkungan dan hubungan yang baik dengan alam merupakan bagian dari menjaga Maqashid Shariah. Agar pemerintah kita bisa berpikir ulang dalam menata keseimbangan aspek non ekonomi ternyata berdampak sistemik terhadap perekonomian makro. Kenaikan harga cabe belum ada apa-apanya dibandingkan dengan kelangkaan bahan pangan pokok seperti beras. Harga cabe naik 1000 kali lipat mungkin sementara menahan selera  konsumen kuliner pedas walaupun juga merugikan petani tetapi kenaikan harga beras akibat kelangkaan stock di pasar membuat 230 juta rakyat Indonesia menjerit dan saat ini masih memungkinkan Pemerintah berfikir ulang that Economic and Environment should goes hand on hand !

 

Makbatah El Cordova, STEI Tazkia

14 Safar 1432 H

Sambil diiringi senandung lembut dari Sami Yusuf