di Kantor MESAku benar-benar merindu. Merindu wajah-wajah itu berlalu lalang dalam kehidupanku kembali. Wajah-wajah sarat kehangatan dan kesederhanaan. Tetapi juga mewakili generasi perubahan yang hidup dan bergerak di era liberalisasi. Aku menjadi rindu serindu-rindunya dengan mereka yang istiqamah dalam senyawa keshalihan dan keadilan dalam bersikap.

Dalam kesendirian hari ini menjelang ujian, aku dilanda kerinduan itu. Aku tahu di semua jalan pertemuan pastilah ada perpisahan. Perpisahan tanpa perpisahan formalitas. Seiring sejalan dengan usia dan gerak zaman. Satu per satu dari mereka meninggalkanku disini. Dan aku pun tidak ada pilihan lain melanjutkan kembali perjalananku. Masih ada Allah Yang Maha Melihat.

Aku,sejatinya tak mampu mengatakan apapun tentang kerinduan itu. Saat SMA berpisah dengan sahabat-sahabat terbaik yang pernah kukenal sepanjang sejarah hidupku dengan masing-masing jalan hidupnya. Dan sekarang di penghujung dunia kuliah, aku harus merasakannya kembali. Entah dimana mereka sekarang dengan masing-masing amal shalihnya. Ada yang S2 ke IIUM, ada yang sudah menikah, ada yang sudah menjadi Presnas, ada yang sudah jadi anggota DPM, atau ada lagi yang sedang sibuk dengan Forum Riset, namun masih banyak lagi yang tidak pernah kuketahui keberadaannya. Untuk mereka yang dengan amal shalihnya aku hanya bisa mengeja doa-doa dan zikir rabithah agar lingkaran ukhuwwah ini tetap menyala sepanjang hayat walau tak pernah bertemu muka. Diam-diam diiringi senandung dari Ahmad Bukhatir “Ya Akhi” dan tanganku masih asyik mengetik huruf-huruf ini aku menatap bayangan lain di langit sana yang betapa cerahnya selepas hujan.

Pada akhirnya aku tak bisa berkata banyak lagi hanya untuk sekedar melukiskan betapa rindu itu begitu indah. Rindu dengan nyokap di rumah di Jakarta, rindu dengan kawan-kawan seperjuangan semasa SMA, rindu dengan kawan2 seperjuangan SPMB, rindu dengan mereka yang telah banyak menularkan nilai-nilai positif dan kebiasaan yang baik dalam perjalananku selama ini. aku ingat apa salah satu pelajaran yang pernah diberikan Bang Fauzul, “Will, cobalah banyak mendengar walau kita berada di pihak yang benar”. Atau pelajaran adab yang selama ini aku banyak mempelajarinya dari brother ardiansyah selo yudha, bagaimana bisa di era kiwari seperti ini ada sesosok seperti beliau. Ah, tiba-tiba aku tersadar bukan saatnya lagi terlalu banyak membayang-bayang. Karena, seperti yang diajarkan oleh Imam Hasan Al Banna, bahwa pekerjaan dan kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang kita punya !!

Mmm Bismillah …….

Bumi Sentul

11 Safar 1432 H