Ukhuwwah

 

 

 

 

 

 

 

Tingkatan Ukhuwwah yang paling rendah adalah salamatus shadr ( bersihanya hati dari buruk sangka ) dan yang tertinggi adalah itsar ( mengutamakan orang lain ) karena itu berupayalah untuk membersihkan hatimu dari pelbagai prasangka buruk dan perasaan tidak enak terhadap saudaramu, dan berjihadlah terhadap jiwamu untuk mencapai tingkatan itsar. Sebab kelengahan atau pelanggaran pada rukun ukhuwwah ini sama dengan kelengahan atau pelanggaran pada rukun jihad, yakni dapat mengantarkan akibat yang buruk “ Imam Hasan Al Banna

 

Ada sebuah kerinduan, kerinduan bagi seorang mu’min untuk berjumpa dengan Allah Yang Maha Pengasih, kerinduan untuk bisa bertatap muka dengan Baginda Nabi SAW yang merindu ummatnya d akhir zaman atau bahkan kerinduan-kerindun yang berwujud menjadi Cinta. Cinta, menurut Ustadz Anis Matta, terbagi menjadi dua Cinta Jiwa dan Cinta Misi. Cinta Misi yang mewujud konkret sebagaimana cinta seorang Guru kepada para muridnya. Sebagaimana Cinta seorang Ulama kepada umatnya dan Cinta Sang Rasul kepada mereka yang menjalani sunnahnya. Atau ada lagi apa yang disebut oleh Anis Matta sebagai Cinta Jiwa, bertemunya dua manusia hamba  Allah dalam ikatan suci nan fitrah. Bertemunya  dua orang yang sama-sama mengikatkan diri untuk membangun keluarga yang terbina asas Cinta.

Terlepas dari segala jenis cinta di atas, adalagi cinta yang mengekal bagi seorang mu’min. saat kita bertemu dalam ikatan taqwa. Saat kita berjanji sama-sama berdiri di atas syariatNya. Atau saat kita bertemu dalam rangka menjalankan dan melengkapi ketaatan. Seraya diiringi senandung nasyid Daud Wharnsby Ali feat Zain Bikha, kerinduan itu terus mengukir lukisannya yang paling agung dan membuat kita semua terpana. Alangkah jauhnya perjalanan kita dan alangkah jenuhnya sepanjang perjalanan maka tak mungkin kita sendiri. Betapa terlalu banyaknya bongkah-bongkah batu di tengah jalan dan waktu yang amat panjang melebihi usia manusia terlalu aneh rasanya perjalanan ini kita tempuh dengan seorang diri. Jadilah kita merasa sebagai pejuang yang kesepian dan terasingkan.

Padahal Allah SWT takkan pernah mengabaikan amal yang paling sederhana apalagi mengabaikan hambaNya yang berjalan menuju redhaNya. Padahal dalam pelbagai ayat dalam Qur’an “rukuklah bersama orang-orang yang rukuk” dan sirah Baginda Nabi SAW juga menunjukkan perjalanan Baginda Nabi SAW selalu ditemani oleh para sahabatnya yang setia menjaga dan melindungi kemuliaan Sang Rasul Pilihan. Tercatat para sahabat sepanjang sirah yang berguguran untuk melindungi Baginda Nabi SAW dari hinaan dan serangan kafir Quraysi. Begitu pula para sahabat dalam fase-fase yang berbeda tak pernah merasakan kesunyian dalam perjalanannya kecuali Allah lah yang membela mereka dan menemani perjalanan mereka dengan cahaya iman.

Namun tak bisa dipungkiri juga dalam sirah, kerap para sahabat terlibat konflik internal sesame mereka sebagaimana yang kita saksikan dalam tragedy perang jamal dan perang siffin namun tengok apa yang dikatakan Muawiyah tentang Ali Ibn Abi Thalib saat Ali berpulang ke rahmatullah. Semuanya mencerminkan proporsi kebaikan dan keburukan yang ada pada tempatnya. Karena menurut Syed Muhammad Naquib Al Attas, Filosof Islam asal Malaysia, yang tidak pada tempatnya itulah ketidakadilan. Dan ketidakadilan,lanjut Filosof yang lahir di kota Bogor ini, adalah menzalimi diri pribadi dan menzalimi perjanjiannya dengan Allah saat di alam azali. Begitu juga dengan perjalanan ukhuwwah kita yang kerap dilanda ketegangan. Kita mengkritik mungkin bukan pada tempatnya yang mengakibatkan salah paham dan akhirnya berujung pada kebencian. Pun yang dikritik hanya melihat segi kebaikan yang diklaim telah dimilikinya sehingga tidak terima kalau ada keburukan yang ia lakukan. Atau menganggap kritik kita mengada-ngada, sehingga ditanggapi dengan semangat emosional dan menunjukkan arogansi.

Suatu ketika dalam episode perjalanan kita, menjadi tua dan lemah. Menjadi berkerut dan kadang berjalan dengan tongkat tetapi sejatinya lingkaran persaudaraan itu tetap berputar bahkan saat kita telah tiada. Karena ada amal yang sudah kita persembahkan. Ada seberkas ukhuwwah yang telah kita berikan sebagai pemenuhan hak ta’akhi kepada saudara-saudara kita. Menjauhi ghibah, menjauhi banyak spekulasi tentang jamaah, membuang jauh-jauh hasad dan riya. Menumbuhkan semangat berkorban dibandingkan semangat mencari gelar dan kedudukan. Berusaha menjawab sms atau mengangkat telepon dari saudara kita atau membalas posting wall di facebook dan twitter. Mungkin urusannya sederhana tetapi justru disitu banyak berkecamuk provokasi syaithan yang ingin mencerai beraikan hubungan silaturahim yang telah terjalin. Juga berusaha lebih banyak mendengar sekalipun kerap kita berada di pihak yang benar. Apalagi dalam masalah yang sejatinya teknikal dan tidak menyangkut prinsip. Para ulama salaf terdahulu dengan amat rendah hatinya selalu mengingatkan “inilah pendapat kami, jika benar silahkan ikuti dan jika sala silahkan tinggalkan.” Atau kaidah emas para ulama “pendapat kami benar namun kemungkinan salah, pendapat mereka salah namun kemungkinan benar “.

Dan akhirnya kerinduan kita menjadi begitu bermakna. Karena kita sama-sama rindu untuk dipertemukan lagi dalam amal-amal shalih selanjutnya yang tidak mungkin diangkat seorang diri. Kita rindu untuk bertemu lagi dalam kerja-kerja berjamaah selanjutnya yang tidak mungkin hanya tergantung pada satu orang. Beban kita angkat menjadi ringan bukan lantaran banyaknya orang yang mengangkat namun seberapa jauh kita telah mengikis virus-virus ukhuwwah di antara kita. Agar tidak ada lagi prasangka. Agar tidak pernah lagi ada curiga yang tidak beralasan dan mengedepankan perasaan. Belum ditambah spekulasi tentang jamaah atau organisasi tempat selama ini kita berbakti. Presnas 1 FoSSEI, akhina Imam Punarko pernah mengingatkan bahwa buruk dan baiknya pergerakan kita dalam jangka waktu pendek tergantung dari perspektif atau bahkan worldview kita dalam keyakinan pada Yang Maha Menentukan. Ia menjadi semakin buruk bila sudut pandang dan pola pikir serta paradigma masih dihiasi paradigma konvensional yang belum teruji kebenarannya. Sebagaimana yang kerap saya dengarkan dari kawan-kawan di daerah tentang Da’wah hari ini. dan kerap saya harus beradu argument hanya untuk membenarkan kembali paradigma kita tentang amal jama’I dan sebagainya.

Ala Kuli Hal, Imam Hasan Al Banna juga pernah mengatakan bila ia tidak bersama mereka, maka ia tidak akan mendapatkan pengganti selain mereka. Sementara mereka,apabila tidak bersamanya, maka mereka akan bersama yang lain.”karena itulah seorang mu’min yang tulus akan beranggapan bahwa saudara-saudaranya lebih berhak terhadap dirinya daripada dirinya sendiri. Inilah kerinduan. Pada Cinta yang bukan dibatasi Cinta Jiwa ataukah Cinta Misi. Ana uhibbuka fillah akhi, sebuah ungkapan yang kita mulai jarang dengar. Lalu ia buktikan dengan pengorbannnya dalam banyak hal untuk kita. Dan hari-hari ini Cinta itu harus terus membumi pada amal-amal jama’I dalam bingkai keshalihan. Dalam bingkai kesederhanaan atau dibingkai dengan janji bahwa masih ada haraoan untuk hari esok bagi dunia yang lebih baik.

“Tiga Hal; siapa yang memilikinya maka akan merasakan lezatnya keimanan, yaitu mencintai Allah dan RasulNya melebihi kecintaan kepada selain keduanya, tiada mencintai seseorang kecuali karena Allah dan benci kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan darinya sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam api neraka “

( HR Bukhari Muslim, Fathul Bari 1/7 Nomor Hadits 16)