keresahan dalam sunyi“Ada manusia berjumlah seribu,tetapi mereka tak ubahnya seperti satu orang
Namun ada pula satu orang tapi ia laksana seribu, jika ia menguasai seuatu perkara “
( Ibnu Duraid Al Urdiy )

Ada banyak kegelisahan yang belum terjawab. Dan masih ada pertanyaan yang menggantung di langit-langit ini. Kegelisahan dari mereka yang mencintai negeri ini. Tetpi seolah semua unsur lebur dalam sederet kegelisahan yang menyibak diam dan keheningan menjadi bahan diskusi. Tetapi ketika semua cara ditempuh, ketika semua periode waktu hampir telah terlewati, kita kembali menjadi hening dan sunyi seakan semua persoalan telah selesai. Mahasiswa, sesuai kapasitasnya hanya mampu mencoba ikhtiar yang mampu diwujudkan. Dengan idealismenya, mereka dalam gelap, bergerak dan terus berjalan mengabarkan pada dunia tentang kesempatan hidup yang masih tersisa. Mengabarkan pada relung hati mereka, bahwa perlawanan masih sanggup terus diwujudkan.
Kegelisahan sahabat-sahabatku di KAPMI, Kegelisahan sahabat-sahabatku di FoSSEI. Dan mau tidak mau mau aku harus menampung semua jenak-jenak keresahan mereka . banyak kata yang bisa diungkapkan untuk djawab tetapi kita semua masih berat untuk memaafkan tapak-tapak masa lalu dan melihat Indonesia, sebuah negeri berpopulasi 230 juta ljiwa dari sisi lain. Atau melihat dan memperlakukan orang lain di sekitar kita bukan lagi sebagai rival yang harus dimusnahkan. Masih terlalu banyak yang dilalaikan sebagai bagian yang paling penting internalisasi nilai dalam jiwa mahasiswasebelum kita merasa sudah saatnya untuk berontak dan mengkritik system.

Apakah kita selama ini sudah banyak dan menyediakan jeda waktu yang lebih banyak untuk hanya sekedar mendengar tiap butir benturan kehidupan?. Mendengar suara mereka yang kalah dan termaginalkan di pinggir laju peradaban. Menjadi kenikmatan tersendiri bagiku ketika mampu menjadi pendengar yang baik dari tiap benturan nereka yang mencari tempat berlindung. Seperti itu juga yang kulakukan pada sejumlah sahabat-sahabatku yang datang kepadaku untuk menumpahkan sejuta kegelisahan mereka pada kegelisahan zaman.

Saat mendengar kegelisahan seorang sahabat yang juga berprofesi sebagai seorang DJ untuk bisa keluar dri alam jahiliyahnya, saat mendegar kegelisahan seorang sahabat ketika SMA untuk bisa berhenti mempermainkan orang lain dalam sebuah organisasi, mendengar keluh kesah seorang sahabatku sendiri yang bahkan sangat tergolong aktivis da’wah tentang perubahan zaman yang membuat kita tidak siap mengantisipasinya. Yang terakhir membuatku sadar tidak ada manusia yang diciptakan semourna di dunia ini. Kesalahan bukan hanya monopoli mereka yang lalai tetapi bahkan sejarah menunjukkan kesalahan juga dialami oleh mereka yang sudah berpengalaman. Sebagaimana Muhammad Al Ghazali,atau Sayyid Quthb juga pernah melakukan kesalahan kecil namun tertutupi dengan kebaikan-kebaikan yang mereka miliki.

Namun persolannya adalah tidak hanya cara kita menyikapi kegelisahan itu. Tetapi juga menyiapkan bekal agar kegelisahan tidak melampaui cara pola pikir kita menjawab permasalahan. Itu sebabnya Imam Hasan Al Banna, mengedepankan Rukun Al Fahmu, derajat kefahaman bagi seseorang yang bergerak untuk melakukan perubahan . tidak hanya kefahaman pada ilmu. Kalau kefahaman ilmu membuat kita semakin arif maka kefahaman pada gerak laju zaman membuat kita semakin hati-hati sekaligus cermat membaca siapa kita dan sedang berhadapan dengan siapa.

Terkadang, aku hanya tersenyum membaca dan mendengarkan keluh kesah mereka. Dan untuk persoalan da’wah dan tarbiyah, almarhum ustadz Fathi Yakan, hingga Syaikh Dr Muhammad Ali Shalabi bahkan dari mulai Muhammad Natsir, Buya Hamka hingga Ustadz Rahmat Abdullah sudah menjelaskan panjang lebar kaidah-kaidah asasi dalam Da’wah dan isyarat membaca perubahan. Tetapi itu semua kini dipersoalkan lagi bahkan secara ektrim mereka mempersoalkan hal tersebut tanpa etika dan adab. Jadinya majelis Ghibah,hasad,iri. Mereka pun akhirnya tidak lagi pure ashalah sebagai jargon yang didengung-dengungkan.
Ada lagi yang merasa miris lalu tiba-tiba rindu dengan tahun 2000an hingga tahun 2004. Masa-masa ketika kita berada dalam mihwar tanzhimi dengan pelbagai suasana di dalamnya yang aku juga ikut pernah merasakannya. Daurah Tarbawi di Mushallah terpencil di ujung gank. Masing-masing kit dengan mushaf Qur’an Resleting dan serius melihat sang murabbi dengan papan berwarna putih asik menyilang-nyilang dan memberi tanda panah sampai aki di kelas 3 SMA masih merasakan jenak-jenak tarbawi ini. Kemudian zaman pun berubah seiring masa kuliah, peta politik pun telah bergerak anomali tapi aneh dan meninggalkan luka bagi dinamika demokrasi Indonesia ke depan. Ancaman Demokrasi justru bukan segolongan mereka yang dicap gerakan transnasionalis tetapi di tangan segelintir elit istana, kita jadinya seolah diputar bailk kembali ke era Demokrasi Terpimpin made in Bung Karno, dengan perubahan itu semua , kita selalu masih yakin bahwa ini yang terbaik di antara semua fase yang telah kita lalui dengan akses yang terbuka lebar.

Tetapi, tanpa bisa dipungkiri juga,perubahan berefek pada lingkungan sosiologis kita, Kalau dulu setiap daurah tarbawi,setiap kita memegang mushaf Qur’an resleting dan mencatat tiap anak panah yang dijelaskan dengan jiwa jiddiyah oleh sang murabbi, Kini di setiap daurah tarbawi atau mentoring gabungan dalam sebaris ada hinga 3-5 orang yang khusyuk dengan notebooknya. Murabbinya hanya tinggal membacakan materi di PDA atau di notebooknya. Sesi bedah buku yang dulu menjadi forum tradisi keilmuan bagi para aktivis da’wah sudah kehilangan ruhnya hanya tinggal sang pemateri membacakan seluruh isi buku dari bab pertama hingga akhir. Duh Gusti !!. di saat yang sama permasalahan bangsa lebih kompleks dan rumit. Apakah mampu kita memberikan jawaban yang sistematis dan komprehensif denga cara seperti tadi ??. Namun kita juga lupa, di tengah pelbagai suasana kerinduan itu kita juga lupa harus bertumbuh dan berkembang. Bak peluru yang mampu menembus dinding tembok dan hitungan waktu. Maka menemukan metode yang menyiapkan kita lebih siap dengan masalah adalah satu problem penting yang masih kita harus hadapi di Mihwar Aulamah ini.

Imam Abu Hanifah, adalah salah satu Imam Mazhab Keempat yang pemikirannya di duga sebagai peletak dasar rasionalisme di dunia Islam, suatu ketika ia menjelaskan sebuah permasalahan yang objek dari masalah itu sendiri belum pernah ada. Murid-muridnya pun hanya mengawang-ngawang tentang apa yang sedang diajarkan oleh Imam Abu Hanifah. Imam Abu Hanifah lalu menjelaskan “Kita membahas hukum masalah ini secara fikih,padahal belum ada kasusnya, agar bila nanti benar-benar ada kasusnya, kita mengerti bagaimana masuk ke masalah itu dan mengerti pua jalan keluarnya “ kalau kita benar rindu menemukan kembali mutiara hati yang mampu menjawab tiap jengkal kegelisahan kita, rinduilah sosok seelegan Imam Abu Hanifah ini hadir di zaman ita atau teladani sikapnya membaca perubahan zaman

12 Muharram 1432 H
Jakarta